
Siang itu Aldy tak sengaja bertemu dengan Zea saat melintasi toko bunga, lelaki itu langsung menghampiri Zea dan menyapanya. Hanya sekedar basa-basi karena semenjak lulus SMA mereka tak lagi saling bertemu.
"Lama nggak ketemu ya Ze," ucap Aldy dengan menepuk bahu Zea pelan.
"Eh.... elo Dy, gue pikir siapa? Hahaha... lama juga nggak ketemu sama lo. Makin ganteng aja lo," balas Zea menepuk pundak Aldy balik.
"Hahaha... bisa aja lu Ze, ow iya, lo ngapain disini?"
"Ini toko nyokap gue, jadi wajar aja kan, kalau gue ada di sini," jelasnya dengan tangan yang masih sibuk menata bunga mawar.
Aldy hanya manggut-manggut, merasa paham dengan ucapan Zea. Lelaki itu tak langsung membuka suara, ia menciumi bunga-bunga yang ada di hadapannya saat ini, hingga suara Zea mengalihkan pandangannya.
"Dimana cewek lo? Tumben nggak ikut?" tanya Zea dengan kepala celingukan mencari sosok Faya.
"Dia, baru beli minuman," jawab Aldy dengan santai.
"Ow... kirain lo cuma sendirian. Jadi sedih kan gue setelah denger lo dateng sama cewek lo itu. Btw langgeng banget ya lo sama dia," ucap Zea mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha.... muka lo kenapa jadi kaya gitu sih Ze? Lagian kenapa? Kalau gue datangnya sama cewek gue?" tanya Aldy dengan jari telunjuk mengarah ke pipi Zea dan menyentuhnya pelan.
"Tau gitu gue dulu langsung nembak lo aja, pasti nggak akan sesakit ini," kata Zea dengan wajah tertekuk-nya, kali ini gadis itu menatap lurus ke arah Aldy, hingga Aldy terpaksa memundurkan tubuhnya selangkah, karena memang jarang mereka begitu dekat.
"Nyesel gue, dulu nggak nembak lo duluan." Lanjutnya.
Aldy menelan saliva-nya, sambil melihat ke sembarang arah agar tak merasa iba jika melihat wajah memelas Zea saat ini.
"Yang lalu, biarin aja berlalu Ze. Dulu gue emang nggak tau tentang perasaan lo ke gue kaya gimana? Yang gue tau, lo cuma jadiin gue tempat curhatan elo, sewaktu lo nggak bisa move on dari Brayu." Aldy mengusap wajahnya dengan pelan.
Zea mendekati Aldy kembali, wajahnya terlihat sedih. Gadis itu langsung meraih kedua tangan Aldy. "Gue masih berharap sama lo Dy, sampai kapan pun perasaan gue ke lo itu nggak bakalan berubah." Suara Zea terdengar serak.
Aldy memberanikan diri untuk menatap Zea, lelaki itu tahu jika Zea memang tulus mencintainya. Tapi ia juga tak mungkin mengkhianati Faya, ia sudah terlanjur mencintai gadis manja itu terlebih dahulu.
"Maaf Ze, hati gue udah ada Faya, gue nggak mungkin khianati dia," ucapnya pelan, lelaki itu langsung melepaskan tangan Zea dengan pelan.
Zea hanya menundukkan kepalanya, merasa sedih sudah pasti. Butiran air mata mulai menetes. Aldy memegangi kedua pundak Zea, mencoba menguatkan dan mengatakan jika ini bukan akhir dari segalanya.
"Lo gadis kuat, banyak kok cowok yang suka sama lo, lo mandiri, lo cantik, pengertian. Lo bisa dapetin yang lebih dari gue Ze."
Isak Zea semakin kencang, gadis itu mengangkat kepalannya, air mata sudah membasahi pipinya. "Lo gampang ngomong kaya gitu, karena lo nggak ada di posisi gue Dy. Gue ini korban dari kebaperan yang lo sebabin."
__ADS_1
Aldy menghela nafasnya beberapa kali, lelaki itu tak tega juga melihat gadis yang sekarang berada di hadapannya menangis karena dirinya. "Maafin gue, gue nggak ada maksud buat nyakitin elo," ucap Aldy dengan ibu jari mengusap air mata yang terus mengalir di kedua pipi Zea itu.
Isakan tangis Zea semakin kencang, cegukannya pun makin terdengar sangat jelas. Tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada sang pemilik, Zea langsung memeluk erat tubuh Aldy dan menangis di sana.
"Kenapa lo setega ini sih Dy, gue udah berharap lebih sam lo," ucap Zea dengan suara seraknya.
Aldy mengelus pelan rambut lurus gadis itu, tanpa sadar lelaki itu mencium pucuk rambut Zea beberapa kali, mungkin saja ia terbawa oleh suasana atau mungkin ia merasa kasihan oleh Zea.
"Gue benar-benar minta maaf Ze, gue nggak ada maksud buat bikin hati lo sakit." Aldy mencoba menenangkan Zea dengan segala cara yang ia bisa, sampai ia lupa dengan siapa ia datang kemari.
Faya hanya mampu mengamati dari kejauhan, gadis itu menggenggam erat kantung plastik yang sejak tadi di genggamnya. Senyumnya memudar ketika mendapati kekasihnya sedang memeluk gadis lain di hadapannya, bahkan ia juga menyaksikan ciuman Aldy yang begitu mesra mendarat di pucuk kepala gadis tersebut. Rasanya oksigen di dalam dadanya mulai menyempit, dan berganti dengan rasa sesaknya kian menguat.
Faya merasa memergoki kekasihnya sedang berselingkuh di depan mata kepalanya, tak mau mencari keributan, gadis itu pun memilih membalikan badannya, dengan tangan kirinya memegangi dadanya yang semakin sesak. "Sesakit ini ya, ngeliat pacar sendiri pelukan di depan mata," gumamnya pelan. Faya memilih meninggalkan tempat tersebut dengan segala pertanyaan yang melintas di dalam otaknya. "Cuma pacar kan! Nggak terlalu penting juga, dia bebas pilih yang dia suka," ucapnya sekali lagi, matanya mulai memanas.
Lima menit kemudian.
"Lo udah baikan kan?" tanya Aldy saat Zea sudah berhenti menangis dan hanya suara cegukan yang masih terdengar.
Zea mendorong tubuh Aldy pelan, gadis itu mengangguk pelan. "Thanks, gue udah sedikit lega. Seenggaknya gue nggak terlalu ngerasa terbebani oleh perasaan gue saat ini."
"Gue tau, lo gadis yang kuat." Aldy menepuk-nepuk pundak Zea.
"Tapi gue masih berharap, suatu saat nanti lo bakalan tau, bagaimana perasaan gue yang sebenernya. Gue masih nungguin elo Dy."
"Beda Dy, dari semua cowok yang pernah gue kenal, lo cowok yang paling bisa ngertiin gue." Ekspresi wajah Zea terlihat begitu serius.
"Sekali lagi gue minta maaf Ze, bukan berarti gue nggak menghargai perasaan elo, tapi lo tau sendiri kalau gue udah punya Faya." Jelasnya.
"Tapi Dy." Zea mencoba mencegah Aldy, saat kaki lelaki itu akan melangkah. "Mau kemana? Gue belum selesai ngomong Dy."
"Gue mau nyari Faya, dari tadi dia belum juga ke sini," balasnya, dengan tangan mencoba melepaskan tangan milik Zea. "Lo bukan cewek over yang ngehalalin seribu cara buat ngedapetin apa yang lo mau kan?" tanya Aldy dengan tatapan tajam mengarah ke arah Zea.
Zea segera melepaskan tangan Aldy, ia tak mungkin memaksa lelaki itu untuk terus berada di sampingnya. Zea pun tau jika tindakannya tidak baik, tapi perasaannya memang murni, ia benar-benar tulus menyayangi Aldy.
Aldy segera meniggalkan Zea, lelaki itu berlari memasuki supermarket yang tadi di kunjungi oleh kekasihnya itu, mencari kesana-kemari untuk menemukan keberadaan gadis tersebut. Hingga sebuah pesan chat menghentikan aktifitas wira-wirinya. Buru-buru ia meraih ponsel dan membuka pesan tersebut.
Faya❤
"Maaf kak, aku pulang duluan. Ada urusan mendadak."
__ADS_1
Nafas Aldy sudah naik turun, merasa lelah dengan aktifitas yang baru saja ia lakukan. Jarinya kembali mengetikkan sesuatu di sana.
^^^Aldy Dut🥰^^^
^^^"Kenapa nggak langsung ajak aku balik sih yang?"^^^
Setelah membalas pesan Faya, Aldy segera memasukan ponselnya ke saku celana dan keluar supermarket. Ada perasaan mengganjal di dalam hatinya, karena Faya tak kunjung membalas pesannya. Lelaki itu segera menaiki motornya dan pergi dari tempat tersebut.
...•°•©inta Untuk Fella°•°...
Pikiran Faya benar-benar kacau, gadis itu memilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya. Ponselnya ia matikan agar Aldy tak terus menelponnya, sejak mengirim pesan singkat tadi. Faya tak ingin membahasa apa yang telah ia lihat tadi. Meskipun matanya sembab karena menangis tapi ia masih bisa berpikir jernih, semenjak pacaran dengan Aldy, sikap kekanakannya mulai berkurang. Aldy memang lelaki yang pandai menasehatinya tak seperti mantan-mantannya yang terdahulu yang hanya bisa memanjakannya tanpa memberi nasehat sedikit pun.
"Kenapa kak Aldy bisa bersikap demikian, apa mungkin rasa sayangnya ke aku udah mulai luntur," ucapnya pada diri sendiri, gadis itu mengusap air matanya untuk sekian kalinya.
Matanya memerah karena kebanyakan menangis membuatnya semakin terlihat nelangsa.
"Kalau dulu dia suka sama Zea, kenapa harus milih aku sih..." gumamnya pelan. Suara cegukannya terdengar sangat lucu.
Faya tak mempedulikan suara ketukan pintu yang sejak tadi terdengar oleh telinganya. Ia memilih menutupi telinganya menggunakan bantal, agar tak terdengar suara itu lagi.
"Kayaknya Faya tidur Dy," ucap Fani dengan melirik ke arah Aldy.
"Biar saya coba sekali lagi ya tan," pinta lelaki tersebut.
"Iya, tapi jangan di paksain. Kayaknya Faya kurang enak badan, tadi pas tante pegang tangannya agak anget soalnya," ujar Fani.
Lelaki itu hanya mengangguk, sambil melemparkan senyuman kepada wanita paruh baya tersebut.
"Kalian lagi nggak ada masalah kan?" tanya Fani menyelidik.
"Enggak tan, kita baik-baik aja, mungkin Faya cuma kecapekan jadi nggak sempet pamit sama Aldy tadi."
"Ya udah kalau gitu. Tante turun dulu, kamu yang sabar aja ngadepin Faya-nya ya." Fani menepuk pundak lelaki itu beberapa kali, setelah itu meninggalkan Aldy sendirian di sana. Mengetahui Fani sudah tak terlihat lagi, Aldy segera mengetuk pintu itu pelan.
Tuk, tuk, tuk...
"Sayang, kamu tidur ya?" tanya Aldy.
"Kamu baik-baik aja kan?"
__ADS_1
"Aku cuma mau pastiin aja, kalau kamu udah di rumah. Aku pamit pulang dulu ya, jaga kesehatan kamu. AKU SAYANG KAMU😘😘," ucap Aldy dari balik pintu.
Faya hanya bisa menghela nafasnya, gadis itu tertunduk lemas. Entah mengapa rasa sesak di dadanya semakin terasa. Ia berharap kalau itu bukan hanya bualan belakang. Setelah melihat tindakan lelaki itu tadi membuatnya sedikit meragu.