
Bella kini sudah berada di halaman rumah Brayu, gadis itu memajukan bibirnya, merasa kesal dengan ucapan Brayu tadi.
"Hemzt.... kok gue bego banget sih, gue kan bisa bela diri, ngapain gue ngerasa takut sama ucapan Brayu tadi." Gadis itu memukul kepalanya pelan.
"Tau ah... kenapa gue harus mikir soal itu lagi sih, aduh Bella kamu ini kenapa sih." Bella kini menghentak-hentakan kakinya sambil menggigit-gigit ibu jarinya, ia merasa bodoh atas tindakannya sendiri.
"Tau ah... mikirin apa ini otak, mending gue balik," lanjutnya.
Di dalam mobil. Bella belum juga menyalakan mesin mobilnya, pikirannya menjadi lebih tak karuan. "Kenapa hati gue nggak bisa tenang, Brayu nggak lagi frustasi kerena mikirin orang tuanya yang udah nggak peduli lagi sama dia kan?" celotehnya pada diri sendiri.
"Dia nggak mungkin mau coba buat bunuh diri kan? Mana mungkin juga? Pasti nggak mungkin lah. Dia kan masih ngejar-ngejar gue! Pasti dia mikir seribu kali buat ngelakuin hal itu." Dagu Bella manggut-manggut merasa perkataannya itu benar.
"Ah.... tuh anak bikin gue nggak tenang aja kalau ninggalin dia sendirian." Bella memukul setir mobilnya pelan.
"Gue telfon aja kali ya, buat pastiin dia baik-baik aja."
Gadis itu terus berucap pada diri sendiri, ide terakhir mungkin cukup masuk akal di banding dia tak memastikan keadaan lelaki itu sama sekali. Meraih ransel yang ada di samping kursi kemudinya, tangannya sibuk membolak-balik isi di dalam tasnya itu.
"Loh.... ponsel gue kok nggak ada?" Bella mencoba mengingat-ingat di mana terakhir kali dia menaruh ponselnya itu.
"Astaga.... masih ada di meja deket ponselnya Brayu tadi, belom sempat gue masukin ke tas," ucap Bella seraya menepuk keningnya pelan. Gadis itu buru-buru keluar dari dalam mobilnya. "Untung aja gue masih disini, coba kalau gue udah sampai di rumah, kan males mau ambilnya."
Membuka pintu ruang tamu dengan pelan, mengamati sekelilingnya yang masih terasa sepi. "Ck... rumah segede ini penghuninya cuma ada dua orang. Hemm....
bener-bener serem," katanya pelan dengan kedua tangan mengelus-elus lengannya.
"Bray......gue balik lagi, buat ambil ponsel!" Teriak Bella dengan suara lantang, hingga memenuhi seluruh ruagan.
Tak ada suara dari lelaki itu. Bella tak peduli, setidaknya ia sudah permisi terlebih dahulu meskipun tak ada tanggapan dari sang pemilik rumah. Gadis itu mulai mencari ponselnya, langkahnya tertuju ke arah ruang keluarga. "Loh.... kok nggak ada? Perasaan tadi ada disini." Nampak kening Bella mulai berkeriput, karena mengingat-ingat dimana ia meletakan ponselnya terakhir kali.
"Lo nyari ini?" tanya Brayu dengan suara yang terdengar sangat jelas di telinga gadis itu.
Gadis itu tanpa berpikir panjang langsung saja menoleh, dalam pikirannya sejak kapan Brayu datang? Sedangkan dirinya tak menyadari lelaki itu datang dan berdiri di sampingnya seperti saat ini. Namun karena jarak yang sangat dekat di antara keduanya. Bella tanpa sengaja mencium pipi kanan Brayu. 'Astaga.... apa ini?' pikirnya sejenak.
Brayu masih di posisi berdirinya, dan memegang ponsel milik Bella. Lelaki itu sedikit terkejut tapi jantungnya berdetak dengan sangat kencang.
"Betah banget bibir lo nempel di pipi gue." canda Brayu di iringi senyuman.
Mata Bella membulat dengan sempurna, namun kata-kata Brayu membuatnya tersadar dan segera memundurkan tubuhnya beberapa langkah. "Resek lo Bray! Lo pasti sengaja berdiri di samping gue kan? Biar gue bisa cium lo!" Tuduh Bella secara terang-terangan.
__ADS_1
"Gue nggak ada maksud buat kaya gitu, kepikiran aja kagak. Tapi thanks banget karena udah bikin hati gue melunak dengan inisiatif lo ini." Baryu kembali mengembangkan senyumnya, lirikannya begitu genit.
"Gila lo ya! Siapa yang sengaja. Kalau di ulang kembali pun gue ogah ngelakuin hal yang kaya tadi itu." Saat mengatakan itu tiba-tiba Bella membekap mulutnya dengan cepat, jantungnya berdesir dengan sangat cepat seperti telah mengikuti lomba lari maraton.
"Kenapa muka lo merah kaya gitu?"
Brayu sengaja bertanya, karena memang tingkah Bella sedikit aneh dan tak seperti bisanya yang melakukan hal dengan seenak jidatnya sendiri.
"Alergi...." jawabnya kesal. "Alergi cowok aneh kaya lo!" Lanjutnya.
"Hahaha....ampun banget, gue gemes tau kalau ngeliat kelakuan lo yang kaya gini. Ternyata orang seganteng gue bisa juga bikin cewek alergi."
"Ck, nggak lucu Brayu.....! Lagian lo tuh aneh, ngapain juga tadi harus sedih, dan tau gitu gue juga nggak bakalan mau balik."
Menggeleng pelan. "Enggak, siapa juga yang sedih. Orang gue cuma ke ingat sama sesuatu yang seharusnya nggak perlu gue ingat-ingat lagi kok."
"Lagian otak lo juga aneh! Ngapain mikir hal yang nggak penting kaya gitu, kalau ujung-ujungnya cuma bikin lo jadi sedih kaya gini. Tapi syukur deh.... kalau lo udah baikan, jadi gue bisa pulang dengan tenang." Bella mengambil ponsel yang masih di pegang oleh Brayu dan berniat pergi setelah itu.
Lagi dan lagi Brayu menarik pergelangan tangan Bella. "Thanks Bel, lo emang obat mujarab buat hati gue."
Gadis itu mengernyitkan keningnya, mencoba mencerna setiap perkataan yang Baryu ucapakan seperti sekarang ini.
"Thanks juga buat ciuman yang barusan lo kasih, gue jadi semangat lagi." Lelaki itu mulai meledek Bella lagi, kedua alisnya naik turun seperti eskalator.
"Hahaha.... itu panggilan kesayangan dari lo buat gue ya?"
Bella tak menjawab ucapan Baryu, gadis itu hanya menatap pergelangan tangannya yang masih di pegang oleh Brayu. "Bisa nggak? Lo lepasin tangan gue! Gue mau pulang," ucapnya dengan muka datarnya.
Lelaki itu menghembuskan nafasnya secara perlahan, ia tak mau jika Bella berlalu begitu saja. Sampai ia memiliki ide yang dirasanya cukup untuk membuat Bella bertahan lebih lama di rumahnya.
"Tunggu.... lo nggak bisa dong pergi gitu aja, sedangkan lo tadi udah nyium pipi gue. Gue sebagai pihak cowok merasa dirugikan dong."
"Hah.... lo gila ya, mana ada gue ngerugiin elo, yang ada gue kali disini yang merasa di rugikan akibat ulah lo ini."
"Tapi kan lo udah cium gue! Gimana kalau gue cium lo juga, biar adil." Brayu mulai melakukan ide gilanya.
Bella hanya melotot, banyak keriputan yang muncul di sekitar keningnya akibat perkataan Brayu barusan. "G-gue.... bakalan tonjong muka lo, kalau lo berani maju se-inci aja," ancam Bella dengan tangan yang sudah mengepal.
"Gue rela kok, mau lo pukul seribu kali pun, asal gue bisa cium lo saat ini juga."
__ADS_1
"Brayu gila..." teriaknya dengan suara melengking.
"Iya... gue emang udah gila, gila karena lo nggak terima pernyataan cinta gue."
Lelaki itu kini memberanikan dirinya untuk memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah Bella, namun yang namanya Bella tak mungkin menyerah begitu saja. Dia memilih membungkam mulut Brayu dengan sangat kuat.
"Biar lo nggak bisa napas sekalian," celoteh Bella dengan wajah mengejeknya.
Meskipun kemampuan bela diri Brayu terlihat sangat payah jika di bandingkan dengan Bella, tapi secara fisik tetap Brayu yang lebih kuat. Lelaki itu terus saja memajukan wajahnya, hingga kaki Bella tak mampu lagi menjaga ke seimbangan-nya untuk menahan badan Brayu yang lebih berat darinya.
"Brayu.... udah dong bercandanya, gue nggak sanggup kalau harus nahan badan lo yang seberat gajah ini." Suara Bella terengah-engah.
"Napas lo udah berat gitu, mending lo nurut aja, cuma cium pipi dong, nggak bakalan ilang kan pipi lo."
"Gue nggak mau di cium sama kutu kampret kaya lo!" Bella masih menahan badan Brayu agar tak semakin dekat dengannya.
Saking semangatnya Brayu pun mulai meraih pinggang Bella dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang, membuat Bella melebarkan matanya kembali. "Singkirin tangan lo, atau beneran gue tonjok," ancamnya sekali lagi.
Karena tubuh mungilnya tak mampu menahan tubuh Brayu lebih lama lagi, gadis itu pun memilih menjatuhkan dirinya di atas sofa yang memang terletak di belakangnya. Brayu kini berada di atas Bella, senyumnya mengembang dengan sangat sempurna. Mimpi apa dia semalam hingga ia bisa sedekat ini dengan Bella, gadis yang selalu membuat hatinya gelisah.
"Aduh... nggak usah buru-buru kaya gitu Bel, atau lo pengen gue cium di bagian bibir biar..."
Brayu tak bisa melanjutkan ucapannya lagi, karena tangan Bella dengan cepat membekap mulut bibir lelaki itu dan mendorongnya dengan sisa tenaga yang masih ada.
"Gue bilang, gue nggak mau!"
"Bentar aja...." pintanya.
Saat posisi Brayu tidak begitu baik, tiba-tiba terdengar sebuah suara teriakan dari ruangan yang tak terlalu jauh dari tempat mereka saat ini. "Astaga.... kalian pada ngapain?" tanya Jasmin dengan mulut terbuka, kakak perempuan Brayu pun syok dengan apa yang di liatnya.
Bella dan Brayu pun kompak menoleh ke sumber suara. "Kak Jasmin..." ucap mereka bersamaan.
Melihat posisi Brayu yang sedikit lengah karena kedatangan Jasmin, Bella pun langsung mendorong tubuh kekar lelaki itu, dan berlari menghampiri Jasmin.
"Untung... kak Jasmin udah pulang, kalau enggak. Brayu udah cium aku kak, si makhluk ekstrim itu sungguh mengerikan," ucap Bella dengan memasang wajah memelas-nya kedua tangannya sudah memeluk tubuh gadis yang lebih tua darinya itu. Suara Bella masih terdengar berantakan.
Jasmin hanya melotot ke arah adiknya, tanpa sepatah kata pun ia ucapkan. Mungkin setelah Bella pulang baru ia kan menghukum adiknya yang kurang ajar itu. Jasmin mengelus pucuk kepala Bella dengan pelan dan mengajaknya untuk pergi mengikutinya.
Bella menoleh sekilas, menjulurkan lidahnya ke arah Brayu dan bersikap seperti anak kecil ketika Jasmin sudah berada di sampingnya.
__ADS_1
Brayu hanya bisa menatap punggung Jasmin dan Bella saat kedua gadis itu menaiki anak tangga.
Menarik sisi kanan bibirnya, hingga tercipta senyum sinis lelaki itu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Dasar.... si mulut manis, awas aja kalau ada lain waktu," ucapnya dengan senyum yang semakin mengembang.