Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Kesialan Kevin


__ADS_3

Alina melangkahkan kakinya melewati orang-orang yang sedang duduk di taman dengan candaan yang mereka buat. Gadis itu melihat sosok Faya yang sedang mengobrol dengan seseorang dan membelakangi dirinya dan Aldy. Karena tak ingin melihat kakaknya lebih lama mengejar mantan kekasihnya itu, Alina segera menghampiri Faya.


"Lin, kamu mau kemana?" tanya Aldy saat melihat adiknya mulai berjarak dengannya.


"Udah, Abang diem aja. Nungguin Abang yang gerak, sampai lebaran monyet juga nggak bakalan dapet." ketus Alina yang langsung melanjutkan langkah kakinya.


Lelaki itu tak tau maksud dari ucapan Alina. Bahkan ia tak menyadari jika ia satu taman dengan Faya saat ini.


"Terserah kamu!" gumam Aldy yang langsung menundukkan kepalanya seraya memilih tempat duduk untuk menghirup udara segar siang itu.


Alina tak menggubris ucapan Aldy, gadis itu kembali melangkahkan kakinya. Hingga ia berhenti tepat di depan Faya dan Kevin.


"Kak Faya, lama nggak jumpa ya, Alina kangen tau." sapa Alina dengan tubuh yang langsung duduk di antara Kevin dan Faya.


Dih, siapa sih cewek ini. Ganggu aja! Jangan bilang dia cewek rese yang bakalan gangguin gue dan Faya. batin Kevin yang langsung berwajah masam.


Mengembangkan senyumnya, dengan tangan yang langsung merangkul lengan Alina dari samping. "Aku juga kangen banget tau sama kamu." balasnya.


"Siapa, sih. Ganggu aja." celoteh Kevin bernada kesal.


Menoleh sesaat, dengan herdik mata yang tak bersahabat. "Siapa sih kak, cowok ngeselin ini?" tanya Alina kepada Faya. Gadis itu menunjuk Kevin.


"Cowok ngesih apanya? Elo yang ngeselin, dateng-dateng main gusur orang aja!" kesal Kevin.


"Siapa suruh duduknya nempel kaya ulet keket." ejek Alina mulai menjadi.


"Lo tuh anak bau kencur, kalau ngatain orang jangan semena-mena dong!"


"Kamu juga, orang lebih tua. Tapi nggak mau ngalah sama anak bau kencur." Alina beranjak dari tempat duduknya, gadis itu nampak menantang Kevin, dagunya sedikit terangkat.


Kevin yang tak mau tinggal diam, juga melakukan hal yang sama, keduanya saling cek cok, membuat orang-orang yang ada di sekitarnya melihat kelakuan kedua remaja itu. Faya menghela napasnya beberapa kali, gadis itu memilih meninggalkan kedua orang itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia juga tak ingin mendapat tatapan aneh dari orang-orang yang masih ada di sana.


"Dasar Kevin, kenapa nggak ngalah aja sih. Alina kalau di ajak debat bisa seharian penuh nggak kelar-kelar." keluhnya dengan langkah kaki yang entah akan membawanya kemana.


Penasaran dengan apa yang menjadi pusat perhatian saat ini, Aldy langsung bangkit dari duduknya. Lelaki itu ingin memastikan jika adiknya tak membuat masalah kali ini.


"Jangan sampai lo bikin masalah Lin." gumamnya yang langsung berlari.


Aldy terlalu terburu-buru hingga ia tak melihat sekelilingnya, bahkan ia tanpa sengaja menabrak Faya yang berjalan dengan kepala menunduk.


"Ah, maaf ya Mbak. Saya nggak sengaja." ucap Aldy dengan kedua tangan memegangi kedua lengan gadis tersebut.


Faya mengangkat kepalanya perlahan, rambutnya yang terurai mulai tertiup angin.


"Faya?"


"Hem.." balasnya dengan wajah murung.


"Kenapa murung sih? Lagi ada masalah?" tanya Aldy yang langsung menuntun Faya agar duduk di bangku yang tak jauh dari tempatnya berdiri itu.


"Adik kamu tuh sama Kevin," ucapnya.


"Dia bikin masalah apa?"


Faya tak mengindahkan ucapan Aldy, gadis itu justru berdiri sambil menarik tangan Aldy cukup kuat. "Anterin aku balik ya kak." pintanya.


Merasa mendapat lampu hijau dari Faya, lelaki itu langsung setuju dan mengikuti langkah kaki Faya, Ia melupakan akan adiknya yang membaut ulah itu.


Di atas motor, Aldy melihat Faya dari pantulan kaca spionnya. Rasanya ia tak pernah merasakan kebahagian setelah putus dari gadis itu. Debaran jantungnya mulai terasa menyelimuti hatinya yang menghangat.


"Kita nggak makan dulu?" tanya Aldy sedikit menoleh kebelakang.


Menggeleng pelan, "Aku masih kenyang kak, kita pulang aja." balasnya masih merasa canggung.

__ADS_1


"Tapi aku lapar Fay." rengek Aldy yang mulai terlihat seperti bocah.


Faya menelan saliva-nya beberapa kali, gadis itu merasa jika Aldy memanfaat situasi yang ia alami saat ini.


Kak Aldy kayaknya sengaja deh, pengen berduaan sama aku! batin Faya.


"Gimana Fay, aku lapar banget nih." lelaki itu kembali membuka suaranya.


"Lapar tinggal makan kenapa ribet sih kak."


Mengembangkan senyumnya, dan tanpa bertanya lagi Aldy segera memarkirkan motornya di sebuah kafe.


Sedangkan Alina dan Kevin masih sibuk berdebat, hingga sebuah suara mengalihkan pandangan mereka berdua.


"Kenapa nggak kelar-kelar sih, dari tadi ribut tapi nggak ada ujungnya. Lebih baik kalian baikan gih." kata seorang ibu-ibu yang masih melihat ke arah mereka.


"Iya, baru pacaran sudah ribut terus, apalagi kalau sudah nikah," imbuh bapak-bapak yang juga ikut menonton.


"Siapa yang pacaran!" seru mereka berdua dengan tampang serius.


"Hah.... terserah! Lanjut aja debatnya, kita nggak mau ngasih saran lagi."


Seketika taman menjadi sepi, dan hanya menyisakan kedua remaja yang masih berhadapan.


"Loh, kenapa udah mau magrib aja, bukannya tadi masih siang ya?" ucap Alina seraya melihat sekitarnya


"Ya mana gue tau, mulut lo terlalu racun sih, sampai hari aja malas dengerin elo ngomong."


"Kamu bilang apa? Mulut aku racun? Kalau mulut aku racun, mulut kamu apa?" Alina bertanya balik, ia nampak kesal dengan lelaki tersebut.


"Terserah lo! Gue mau pulang, capek juga mulut gue ngeladenin elo ngomong, mana kerasa kebas lagi mulut gue." Kevin memegangi bibirnya yang terasa tebal.


"Dih! Padahal bibirnya emang tebal gitu, masih aja nyalahin orang lain."


Menjulurkan lidahnya. "Emang aku takut sama ancaman kacang kamu ini. Ck, beraninya sama cewek!" Alina langsung menyingkirkan jari telunjuk Kevin yang tepat berada di wajahnya itu.


"Kenapa lo ngeselin sih! Kenapa lo nggak diem dan jadi anak baik." saran Kevin.


"Dih, nggak ngaca. Kamu aja yang lebih tua parah banget ngeselin-nya, mulutnya nggak bisa di rem nyerocos terus." ejek Alina.


Kevin semakin mendelik-kan mata, entah sampai kapan lelaki itu akan berdebat dengan gadis bertubuh tinggi tapi kurus itu. "Terserah lo aja, gue mau pulang!" kesal Kevin.


Merasa tak ada seorang pun di sana, dan bahkan Aldy juga meninggalkannya Alina langsung menarik baju Kevin yang akan melangkahkan kakinya.


"Apa lagi?" tanyanya bernada tinggi.


"Lah, aku pulangnya gimana?"


"Bodo amat! Mau elo jalan kaki, mau elo terbang, mau lo ngesot sekalian. Emang gue pikirin!"


Pluk!


Tangan enteng Alina mendarat di bibir Kevin pelan. "Mulut cowok pedes banget ngomongnya."


"Lo tuh anaknya siapa sih? Enteng banget tangan lo mukul-mukul mulut orang." kesal Kevin dengan memegangi bibirnya.


"Anaknya Babah Jajang sama Enyak Miranti. Emangnya kenapa? Kamu mau ngelamar aku, sampai tanya-tanya nama orang tua ku!" balas Alina dengan PD-nya.


Memukul kepalanya pelan. "Amit-amit jabang bayi, nggak mau gue ngelamar cewek modelnya kaya elo. Yang ada perut gue mules duluan." ejek Kevin.


Mengambil botol yang ada di kursi, dan melemparkannya tepat ke kepala Kevin.


"Kamu tuh ngeselin ya!" ekspresi wajah Alina terlihat murung.

__ADS_1


"Elo yang ngeselin! Tangan lo juga enteng banget main lempar, main pukul emangnya nggak sakit apa!" ketusnya.


"Habisnya kamu ngatain aku terus!"


"Habisnya lo jadi cewek nggak ada manis-manisnya!" kesal Kevin yang langsung melangkahkan kakinya.


Alina mengekor di belakang Kevin dengan bibir mengerucut. Kevin memutuskan untuk berlari, namun Alina tetap mengejarnya.


"Astaga, elo tuh makhluk alien darimana sih! Nggak ada kerjaan apa kalau nggak ngikutin gue!" seru Kevin, saat ia sudah menghentikan larinya.


"Wuhaha.... aku pengen pulang tapi nggak punya duit buat naik taksi, aku juga takut karena ini udah mau malam. Kalau aku di culik gimana?" Alina mulai menangis tersedu.


"Yang ada penculiknya males mau culik cewek kaya elo. Udah mulutnya nyerocos mulu, pasti makannya juga banyak."


"Kenapa mulut kamu itu cabe banget sih." Alina memukul-mukul lengan Kevin.


"Astaga! Badan gue bisa remuk kalau kelakuan elo kaya gini."


"Biarin remuk, ini semua salah kamu. Gara-gara kamu aku di tinggal Abang pulang."


"Terus mau elo gimana?" tanya Kevin.


"Anterin aku balik."


"Bocah." gumam Kevin yang langsung menyodorkan helm. "Buruan naik! Gue nggak mau sampai rumah kemalaman."


Alina menuruti perintah Kevin, walau pun bibirnya tak berhenti bergerak untuk menirukan ucapan lelaki yang sekarang ada di depannya itu.


"Lo udah naik?" tanyanya tanpa menoleh.


"Udah." balasnya cepat.


"Kenapa nggak berasa sih, apa karena elo terlalu kurus."


"Udah deh, nggak usah ngeledek."


"Kenapa lo nggak pegangan?"


"Mana? Gue nggak ngerasain tangan lo pegang perut atau bahu gue?"


"Dih maunya." desis Alina pelan.


"Berasa bawa karung beras kalau kaya gini, udah persisi kaya engkong kalau gue bonceng-gin." sindir Kevin saat mengetahui gadis di belakangnya itu memegang bagian belakang motornya agar tak terjatuh.


Alina hanya menirukan ucapan Kevin, tanpa ada niatan untuk membalas ejekan lelaki tersebut. Di sepanjang jalan tak ada yang mengeluarkan suara, kecuali Alina memberi arahan jalan menuju rumahnya. Alina takut jika mulutnya tak bisa terkontrol dan justru ia di turunkan di tengah jalan. Tak sampai satu jam Alina sudah sampai di depan rumahnya. Gadis itu mengembangkan senyumnya, buru-buru ia turun dari atas motor Kevin, melepas helm dan memberikannya kepada lelaki tersebut.


"Makasih." ucapnya dengan tampang datar.


Kevin tak menyahuti ucapan Alina, lelaki itu hanya membenarkan helm yang telah di berikan oleh Alina.


"Ck, aku harap kita nggak pernah ketemu! Dasar batu!" kesal Alina.


"Gue udah mau ngomong itu, tapi lo udah nyolong star duluan." balasnya


datar.


Saat Kevin memutar motornya, Alina mengayunkan kakinya hingga sepatu yang ia pakai pun terlepas dan mengenai punggung Kevin.


"Woy! Gue udah baik hati mau nganterin lo balik. Kenapa lo nimpuk gue pakai sepatu jelek lo ini." teriak Kevin seraya menoleh.


"Aduh... kelepasan, sepatu aja bisa tau isi hati aku kalau lagi kesal!" gumam Alina yang justru ngeluyur masuk kedalam rumah tanpa mempedulikan celotehan Kevin.


"Sial." umpatnya saat mengetahui Alina sudah kabur, lelaki itu langsung melajukan motor sportnya. Hari ini benar-benar sial melanda dirinya.

__ADS_1


__ADS_2