Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Rasa Cemburu Arska


__ADS_3

Saat sudah sampai di kediaman Aregan, Fella dan Salsa segera memarkirkan motor metic-nya di halaman depan rumah Arska. Suasana yang sunyi membuat Fella mengernyitkan keningnya karena benar-benar tak ada satu orang pun disana. "Pada kemana sih sal? kok sepi banget?" tanya Fella seraya celingukan melihat sekeliling halaman depan.


"Kalau di jam-jam segini, biasanya Tante sama Clara masih sibuk di butik kak. Kalau Om, kakak pasti udah tau sendiri kesibukannya kaya apa?" kata Salsa yang langsung membuka pintu ruang tamu, saat pintu sudah terbuka cukup lebar dan Salsa masih diambang pintu, ia mendapati sosok yang sudah menunggu ke datangan Fella ya sosok itu adalah Arska. "Ya ampun... bikin iri aja, pulang-pulang udah di tungguin sama pangerannya." celoteh Salsa yang kini melebarkan langkah kakinya, ia tak mau jika harus menjadi obat nyamuk untuk kedua kakaknya itu.


Wajah masam terlihat jelas saat Fella memasuki ruang tamu, ia menatap ke arah Arska dengan tatapan mengintimidasi siap melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi terus melintas di pikirannya.


"Kamu kenapa sih yang? ngeliatin aku kaya nggak suka gitu? kaya lagi ngeliatin musuh aja." tanya Arska saat melihat ekspresi wajah dan tatapan Fella yang begitu masam dan sinis.


"Iya! aku emang nggak suka ngeliat kamu yang!" seru Fella seraya duduk sedikit menjauh dari tempat duduk Arska, ia benar-benar masih sangat kesal.


"Emangnya aku punya salah apa sih yang sama kamu, sampai kamu nggak suka ngeliat aku?" tanya Arska seraya menggeser duduknya agar lebih dekat dengan kekasihnya itu.


"Salah kamu banyak!" seru Fella dengan muka datarnya.


"Kok bisa ay?" Arska memasang muka memelas nya hingga kini alisnya terpaut.


"Sengaja banget ya mau mata-matain aku lewat Salsa, pakai nyuruh Salsa buat satu sekolahan sama aku lagi, kan bete!" ucap Fella seraya mengerucutkan bibirnya.


Arska menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia tak mungkin memberitahu hal yang sebenarnya kepada Fella, bisa ngambek berbulan-bulan kalau Arska berbicara dengan jujur.


"Enggak sayang.. itu kemauan Salsa sendiri, Salsa udah ngincer SMA Gabriel Sanjaya dari dulu. Kamu ini terlalu berpikiran negatif tentang tunangan kamu sendiri." jelas Arska.


"Terus kenapa? Salsa selalu nemplok kemana aja kalau aku pergi! kan aku ngerasa nggak bebas yang, kaya ada yang selalu mata-matain aku. " seru Fella yang sibuk menjelaskan.


"Salsa emang gitu orangnya yang, kamu maklumin aja ya. Dia kalau suka sama orang maunya nemplok terus." Arska memutar otaknya agar Fella tak terus mencurigainya.


Fella mengerucutkan bibirnya seraya bersedekap dada, ia tak puas dengan jawaban yang di berikan oleh kekasihnya saat ini.


Fella melamun cukup lama, hingga sebuah jari-jari mengelus pipi mulusnya dengan sangat lembut dan itu membuat Fella sedikit tersentak hingga ia harus memundurkan tubuhnya agar sedikit menjauh dari Arska.


"Kamu ngapain sih yang? bikin aku kaget aja." ujar Fella seraya memegangi pipinya, mukanya kini sudah memerah seperti tomat karena malu.


"Kaget apa deg-degan sih yang sampai muka kamu merah gini? Jadi gemes kan aku ngeliatnya, coba nggak ada Salsa udah aku cium.." ucap Arska masih dengan tatapan yang sama.


"Aku bersyukur karena ada Salsa." kata Fella mulai meledek.


"Kok bersyukur sih yang?" Arska terlihat sedih mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Ya... iya lah aku bersyukur, coba kalau nggak ada Salsa pasti kamu udah modus duluan!" seru Fella menjulurkan lidahnya. Fella sangat senang karena berhasil meledek kekasihnya.


"Kamu nantangin aku! aku bisa berubah pikiran kapan aja kalau aku mau!" jelasnya dengan wajah yang di buat seserius mungkin.

__ADS_1


"Berubah pikiran? coba aja kalau berani!" ucap Fella bersedekap dada ia mencebirkan bibirnya tak percaya kalau Arska akan berani melakukannya.


Arska yang tak mau terlihat cemen di depan kekasihnya itu segera menarik tangan Fella cukup kuat hingga Fella kini berada di atas tubuh kekarnya, sedikit memeluk karen memang refleks.


"Arska...." teriaknya seraya memukul dada bidang milik kekasihnya itu.


"Kenapa? tadi nantangin aku, sekarang kamu takut." senyum sinis Arska terlihat jelas di sana.


Arska mengangkat dagu Fella dengan pelan, ia memandang lekat wajah kekasihnya sambil terus mendekatkan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah Fella, hanya tersisa satu inci jarak di antara mereka.


Baru beberapa detik Arska mendekatkan wajahnya, suara teriakan yang sangat nyaring memenuhi ruang tamu, siapa pun yang ada di sana pasti sudah budek mendadak. "Aaaaaaaaaaa....." teriak Salsa saat melihat dua remaja yang ada di hadapan hendak berciuman, pikirnya.


Fella dan Arska kompak menoleh ke sumber suara, betapa terkejutnya Fella saat mendapati Salsa yang tengah melihat dirinya berada di atas tubuh Arska. Malu sudah pasti karena memang posisi Fella yang di bilang cukup memalukan, ia tak mau jika Salsa berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.


"Elo ngapain teriak-teriak sal? bikin gue jantungan aja gara-gara denger suara teriakan elo! mending kalau merdu, lah ini cempreng!" seru Arska dengan muka datarnya.


"Kakak yang ngapain?" tunjuk Salsa dengan jari telunjuknya, ia sedikit syok melihat fenomena langka bagi dirinya.


Arska terus menatapnya dengan tatapan dingin, seakan ingin menelan Salsa hidup-hidup saat ini juga. Salsa menelan saliva-nya sepertinya tindakannya saat ini tak akan mendapat ampun dari Arska, kenapa ia harus berteriak tadi jika ia bisa membungkam mulutnya, tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur kini ia harus menerima kemurkaan Arksa karena tindakan bodohnya.


"Tadi ada kecoa lewat kak, terus aku kaget jadinya teriak." elak Salsa dengan muka memelas nya, ia kembali merapat bibirnya takut salah berucap lagi.


"Elo pikir gue sama Aya itu kecoa?" tanya Arska tak percaya dengan ucapan Salsa.


Fella yang masih ateng di atas tubuh Arska segera membenarkan posisi duduknya, ia merasa kasihan terhadap Salsa yang terus di pojokan oleh kekasihnya itu. "Nggak pa-pa kok sal, gue malah seneng karena elo dateng, jadinya Arska nggak berani bully gue lagi."


Salsa sedikit bernafas lega mendengar pembelaan yang di tunjukan untuk dirinya. "Ow... iya kak Arska, aku mau ngasih tau kalau ternyata kak Fella itu di sekolahan banyak yang godain loh....tadi aja kak Fella tangannya di pegang sama cowok yang tempo hari kasih kado. Kak Arska banyak saingannya, hati-hati." jelas Salsa memperingatkan kakak sepupunya.


Muka datar Fella kini menatap lurus ke arah Salsa. "Nyesel gue udah belain Salsa, tau gitu tadi gue diem aja. Ternyata ini anak sama aja kaya Faya mulutnya ember." batin Fella dengan tatapan masih mengarah ke arah Salsa.


Salsa mengutuki dirinya sendiri, ia baru sadar jika tatapan Fella begitu dingin. "Ya Allah... kenapa ini mulut nggak bisa di rem sih... asal nyerocos aja, pasti sekarang kak Fella marah banget sama aku!" batin Salsa seraya memukul-mukul mulutnya pelan.


Suasana yang begitu mencekam membuat Salsa ingin melarikan diri dari tempatnya saat ini, ya meskipun itu adalah ulahnya sendiri tapi ia tak mau jadi amukan untuk kedua kakaknya itu.


"Ow... iya kak... aku izin balik ke kamar dulu ya kak, baru ingat kalau ada PR yang belom aku kerjain." kata Salsa yang langsung membalikan badannya dan berlari kecil.


Kini Arska beralih menatap ke arah Fella, tatapan menyelidik siap menerkam gadis yang ada di hadapannya saat ini. Fella menelan saliva-nya saat Arska meletakan tangan kanannya di bahunya. "Tangan yang mana yang tadi di pegang Andy?"


Fella masih membisu, tak berani menatap Arska meski mata hazel-nya terus menatap ke arahnya. Fella hanya mengangkat mengangkat tangan kananya.


Arska segera mengambil tisu basah yang ada di depannya, segera ia mengelap tangan Fella dengan perasaan memanas. "Nggak ada reunian mantan, nggak ada pegang-pegangan tangan sama cowok lain kecuali aku. Ingat kamu itu udah jadi milik aku!" jelas Arska dengan muka datarnya.

__ADS_1


"Ck.... ngeselin... posesif aja terus." ucapnya pelan.


"Kenapa?" tanya Arska sedikit membentak.


"Ah.... nggak pa-pa kok yang, kamu cowok paling ganteng."


Arska hanya tersenyum sinis, ia mengamati tindakan Fella yang terus komat-kamit tanpa henti, meskipun Fella menundukkan kepalanya tapi Arska dapat mendengarnya.


Beberapa menit kemudian....


Posisinya, Arska sedang berbaring di atas sofa dengan wajah tertekuk. Matanya melihat tv dan Fella secara bergantian dengan tatapan menyebalkan.


Sedangkan Fella? ia sibuk membolak-balikan majalah yang di pegangannya sejak tadi. Padahal, kekasihnya itu sedari tadi tak berbicara karena merasa, cemburu?


Ah, benar. Cemburu.


Lucu sekali sebetulnya, karena Fella berhasil membuat Arska merasa dikucilkan oleh kekasihnya sendiri, Arska yang mulai kesal melihat ketidak peka-an kekasihnya, Arska dengan spontan menggerakkan kakinya di lengan Fella dan menggerakkan jari-jari kakinya untuk menarik perhatian kekasihnya itu dari majalah.


Tapi sayang seribu sayang, Fella sama sekali tak menggubrisnya. Sebaliknya, Fella dengan santainya menggunakan telapak kaki Asrka sebagai sandaran untuk lengannya.


Menarik nafas lelah, Arska menarik kakinya dan memeluk bantal yang ada di atas kepalanya, tak peduli jika sang kekasih terjerambat kesamping karena ia tak memberi aba-aba terlebih dahulu ketika akan menariknya.


"Yang....." jeritan kaget dari Fella memenuhi ruang tamu. Membalas sikap tak acuh kekasihnya, Arska tak menanggapi dan malah memilih bermesraan dengan bantal yang berada di pelukannya.


"Kasih aba-aba kek kalau mau narik kaki, kaget kan aku jadinya yang." begitu kata Fella dengan menatap kekasihnya yang asyik memejamkan matanya. Dan melihat itu, Fella mengernyitkan keningnya kemudian ia mendekati wajah kekasihnya itu untuk memastikan apakah Arska benar-benar terlah tertidur atau hanya berpura-pura saja. Fella menekan-nekan pipi Arska dengan jari telunjuknya, Arska masih tak meresponnya.


"Yang..." Arska hanya diam saja merasakan goncangan kecil dari kekasihnya itu. "Masak abis ngagetin aku langsung tidur sih, kok aku nggak percaya ya." Fella menopang dagunya dagunya dengan tangan kanan, ia hanya memandangi wajah tampan kekasihnya.


"Ck....serius loh yang, kalau kamu suka pura-pura nggak denger, lama-lama kamu nggak akan denger beneran. Soalnya udah ada yang kejadian kaya gitu." Fella mencoba untuk menarik perhatian kekasihnya, tapi Arska tak mengindahkannya.


Dengan bibir yang mengerucut karena tak ada tanggapan dari Arska, Fella segera membuka suaranya kembali. "Yah... kalau kamu bener-bener tidur mending aku pulang aja!" kata Fella seraya berusaha berdiri. Tapi tangan Arska lebih dulu menarik pergelangan tangan Fella dan cup... satu ciuman manis mendarat di bibirnya.


Fella melongo sesaat seraya menyentuh bibirnya, ia sedikit malu jika saja Salsa melihatnya mau di taruh mana mukanya saat ini. Senyum menggoda siap menghujatnya karena Arska tersenyum sangat puas dengan tindakannya ini


"Arska ngeselin..."


"Yang penting aku menang banyak." katanya seraya menaik turunkan kedua alisnya.


"Ih.... nyari kesempatan terus..." kata Fella yang kini memukul-mukul lengan Arska.


"Tapi kamu suka kan, nyatanya ada semu-semu merah di wajah kamu." ledek Arska.

__ADS_1


Fella memegangi kedua pipinya, ya ampun cowok yang ada di hadapannya ini sungguh luar biasa karena tingkahnya, membuat Fella menjadi sangat di cintai.


__ADS_2