
Sudah seminggu lebih Fella dan kedua sahabatnya telah selesai mengikuti kegiatan Ospek. Banyak keluhan yang terlontar dari mulut bibir mereka saat mengikuti kegiatan tersebut, khusunya Faya dan Bella yang selalu mencibir Fella karena semua kegiatan Ospek murni dari otak kekasihnya. Hingga sebuah desas desus bermunculan tentang kabar Fella dan Arska yang sudah resmi bertunangan pun tersebar di seluruh kampus.
Saat akan memasuki ruang kelas tiba-tiba Fella di hadang oleh Cherry, ia benar-benar kesal saat membaca berita gosip dari salah satu dari grup kampus yang diikutinya. Jika di luar sana ada akun gosip yang selalu memberitakan tentang artis indonesia, maka di kampus tersebut pun memilikinya. Hanya saja, gosip maupun pemberitahuan tersebut hanya seputar tentang mahasiswa kampus yang bisa di katakan 'populer' untuk kalangan mahasiswa lain. ang selalu mengganggu pendengarannya sejak kemarin, hari ini ia berencana untuk menanyakannya langsung dengan gadis yang sekarang menjadi trending topik kampus itu.
"Gue denger, lo itu tunangannya Arska?" Cherry, senior rese yang memang sudah lama mengincar Arska bertanya dengan nada sewot yang biasa ia lontarkan itu.
Fella mengernyitkan keningnya, ia menatap ke arah Cherry dengan sinis. "Kak Cherry berharapnya gimana?"
"Gue harap itu cuma gosip belakang, karena Arska cuma pengen ngelinduling elo dari cowok-cowok yang terus ngedeketin lo!"
Fella membuang nafasnya secara perlahan, ternyata gadis yang ada di depannya ini memang memiliki minat lebih terhadap kekasihnya. "Maunya sih, aku nggak percaya kak. Tapi mau gimana lagi, Tuhan udah mempertemukan kita. Lagian mau di lihat dari sudut mana aja kita kan emang pasangan serasi, udah banyak yang bilang kok," ucap Fella dengan senyum mengembang. Ia merasa masa bodoh dengan perasaan gadis yang ada di depannya saat ini.
Nampak Cherry yang mulai kebakaran jengot, dari gerak-geriknya ia masih menahan emosi, meskipun sudah sangat terlihat jelas jika dirinya benar-benar tak terima.
"Kak Cherry sabar ya, Fella sama Arska kan emang udah lama tunangannya, udah dari SMA pula, jadi kita mah nggak ngerasa kaget. Lagian kan mereka emang serasi banget, cocok lah kalau di jodohin sama Tuhan," kata Faya seraya menepuk bahu Cherry pelan.
Cherry menatap ke arah Faya dengan sinis-nya, sambil menepis tangan Faya dari bahunya. Ia bener-benar kehilangan kesabarannya.
"Nggak usah sok akrab," cetus Cherry yang kini memilih berlalu lalang. Dengan seribu kekesalan yang mendarat di dalam hatinya, ia benar-benar kalah telak oleh Fella.
"Cih.... senior aneh," gumam Bella seraya melangkahkan kakinya masuk kelas.
"Dia kan sering bentak-bentak kita semasa Ospek, biar mampus gue cibirin," kata Faya yang masih memandangi punggung Cherry yang kian menjauh.
"Biarin aja, dia butuh udara segar buat ngademin hati sama pikirannya," ucap Fella yang langsung menarik tangan Faya agar mengikutinya masuk ke dalam ruang kelas.
Di dalam ruangan nampak seluruh mahasiswa menatap ke arah meja Fella. Saling bergosip sudah pasti mereka lalukan, tapi Fella nampak biasa saja, tak merespon sudah pasti ia lakukan.
"Lo cuma mau diem, jadi patung tanpa ngasih kejelasan ke mereka fel?" tanya Bella dengan menyeringai.
"Males banget gue bel, kalau di suruh ngeladnin omongan mereka yang nggak jelas."
"Tapi kalau nggak lo jelasin mereka makin ngegosip-pin lo yang enggak-enggak," sambung Faya.
"Ya... namanya mereka punya mulut, jadi wajar aja kalau kerjaannya cuma buat hal-hal yang nggak penting. Biarin ajalah...hitung-hitung dosa gue berkurang."
"Santai banget sih ngomongnya, nyesel gue udah ngasih saran," ucap Bella yang kini meletakan kepalanya di atara kedua tangannya yang terlipat di atas meja.
"Ketimbang lo, susah-susah ngasih saran buat Fella, mending lo pastiin hati dulu deh bel, biar Brayu nggak kasihan ngejar lo muluk." Faya yang sejak tadi melihat keberadaan Brayu yang menatap Bella dari kaca jendela sedikit iba.
"Apaan sih... fay, kenapa jadi ke gue," gumam Bella masih dengan posisi yang sama.
"Mending lo keluar bentar deh bel, kasihan tuh Brayu udah kaya cicak, nemplok terus di kaca jendela, karena pengen ngeliat lo," kata Fella terus terang.
Bella mengangkat kepalanya menatap ke arah Fella dengan kening mengkerut.
Tanpa membuka suara, Fella menunjuk kearah Brayu yang masih berdiam diri di jendela sambil terus menatap ke arah Bella dnegan harapan gadis itu segera menghampirinya.
__ADS_1
"Ck.... suka banget, bikin sensasi," gumam Bella dengan mata yang sudah melihat ke arah Brayu.
"Buka sensasi bel, itu namanya perjuangan," ujar Fella seraya menyenggol lengan Bella pelan.
"Perjuangan apanya?" nada suara Bella mulai meninggi.
"Pejuang cinta," ucap Fella secepat kilat.
"Ah.... jangan galak-galak gitu bel, gue kan jadi takut." ekspresi wajah Faya sengaja di buat menyedihkan.
Bella mendengus kesal, ia benar-benar salah berucap jika berhadapan dengan kedua sahabatnya itu. Bella mengeluarkan ponsel dari ranselnya, ia memainkan jari-jarinya di sana, bukan tanpa alasan Bella melakukannya, ia mengirim pesan singkat kepada Brayu agar tak terus-terusan berdiri mematung di sana. Bella cukup risih dengan tindakan konyol yang di lalukan Brayu itu.
Fella dan Faya nampak kepo dengan apa yang di lakukan oleh Bella, mereka terus menyelidik hingga akhirnya paham, karena Brayu sudah tidak berada di tempatnya tadi.
"Idih.... encer banget sih itu otak, sekali ketik tuh cowok entak kemana," cecar Faya.
"Emangnya otak lo... yang loading-nya lama banget," ucap Bella seraya mengeloyor pelan bahu Faya, ia tertawa jahat setelah melakukan hal tersebut kepada Faya.
"Dasar sahabat nggak ada akhlak, sakit tau." Faya mengerucutkan bibirnya dengan mata yang menatap tajam kearah Bella.
Fella juga ikut menertawakan Faya yang nampak seperti bocah ingusan, yang kalah dalam bermain. Namun saat mereka sedang asyik tertawa, dosen tiba-tiba muncul di kelas tersebut. Membuat ketiga gadis itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Sepanjang pelajaran mereka masih saja melirik ke arah Fella, rasa penasaran pun bermunculan di dalam otak taman-teman sekelas Fella, ingin bertanya namun takut jika akan membuat Fella tersinggung hingga akhirnya jam pelajaran pun telah usai.
Membuat semua penghuni ruang bergegas meninggalkan ruang kelas, namun belum sempat seluruh penghuni kelas keluar sepenuhnya, seseorang yang sedang menjadi bahan gosip hangat itu muncul. Mereka yang sudah sangat kepo pun segera mengalihkan pandangannya, menyaksikan bagaimana Arska dan Fella berinteraksi layaknya sepasang kekasih.
Fella yang heran bercampur kaget karena kedatangan kekasihnya di kelas, membuatnya mengangguk pelan. "Masih ada dua. Kenapa?"
Fella cukup grogi karena tatapan mata dari teman-teman sekelasnya tak sekalipun beralih padang darinya dan Arska. 'Apa mungkin Arska memang sengaja membeberkan hubungannya.' pikir Fell sejenak.
"Kita pergi dulu."
"Tapi kan...." tatapan tegas Arska menghentikan kalimat Fella yang belum terselesaikan. Meskipun berdecak, gadis itu hanya mengatakan "Iya." kemudian berdiri dan berjalan lebih dulu, membiarkan Arska berjalan di belakangnya.
Sampai keduanya berjalan di balik pintu, teman-teman Fella hanya bisa saling pandang. Tidak ada interaksi berlebihan di antara keduanya, meskipun gosip yang tersebar mengatakan kalau mereka sudah benar-benar bertunangan. Tapi melihat sikap Arska yang seperti itu membuat mereka yakin jika dua orang tersebut memang memiliki hubungan.
Dan pemikiran mereka terwakilkan oleh ucap Faya yang tiba-tiba nyerocos tanpa ampun. "Biasa aja yang pada ngeliatin, mereka kan emang udah dari zaman SMA tunangannya."
"Mereka emang nggak suka umbar keromantisan di depan umum takut ada yang iri," lanjut Bella.
Mereka berdua tak henti-hentinya berceloteh, Faya dan Bella ingin semuanya bersikap normal terhadap Fella dan tak menatap sahabatnya itu dengan sinis lagi.
...°•°©inta Untuk Fella°•°...
Di saat seperti ini, Fella hanya bisa menurut ketika tatapan tegas Arska sudah menatap kepadanya, dia lebih memilih untuk menyerah begitu saja.
Fella dan Arska yang sekarang sudah sampai di tempat makan prasmanan di dekat kampus. Mereka berdua sudah mengambil makanannya dan bersiap untuk menyantapnya. Menunggu minumannya datang Fella terlebih dahulu membuka suaranya.
__ADS_1
"Ada sesuatu apa sih yang?"
Arska yang tadinya menunduk memainkan ponsel, mendongak. Keningnya mengeriput menatap Fella.
"Sesuatu? Apa?"
"Ya mana aku tau. Kali aja kamu mau ngomongin sesuatu gitu." menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, Arska menatap Fella dengan tatapan lekat.
Setelah minuman datang dan mengatakan 'terimakasih' kepada pelayan, barulah ia menjawab. "Aku nggak ngerti maksud kamu ay."
"Sibuk sama ponsel terus... mana ngerti aku ngomong apa?" Fella sungguh kesal karena sikap tunangannya itu.
Arska gemas sekali jika melihat pemandangan yang selalu membuatnya ingin mencubit Fella karena gadis itu mengerucutkan bibirnya. Mengarahkan jari-jarinya tepat di kening Fella dan menyentil-nya pelan. "Drama banget."
"Siapa yang drama sih yang?"
"Kamu."
"Kenapa bisa aku?"
"Ya habis pakai acara ngambek-ngambek segala." Arska mendengus.
"Kamu tau nggak? Kalau kita udah kaya artis. Masuk akun gosip kampus."
Arska mengerutkan keningnya kembali. "Kita masuk akun gosip kampus?" Arska memang belum tau masalah ini. Cowok itu memang tak pernah peduli akan hal-hal semacam itu.
"Iya, emangnya kamu nggak tau? Seluruh kampus pada ngomongin kita sampai si senior rese Cherry itu pagi-pagi udah nodong pertanyaan yang ngeselin."
Arska menghela nafasnya sesaat, ia mengedikkan kepala, memberi isyarat agar Fella mulai makan, kemudian dia membuka suara. "Kamu bisa ceritain? Karena aku benar-benar nggak tau tentang masalah itu."
Sambil mengunyah makanan, Fella mulai menceritakan tentang yang ia alami, tentang masalah mereka di akun gosip kampus yang menghebohkan seluruh mahasiswi, sampai ia harus mendapatkan tatapan sinis dari seluruh mahasiswi yang memang mengidolakan Arska. Arska hanya menggeleng miris saat mendengar curhatan dari kekasihnya itu.
Arska memang pernah mendengar jika kampusnya memang memiliki akun media sosial yang berisi gosip-gosip mahasiswa. Tak menyangka jika sekarang, dirinya yang menjadi bahan perbicangan mereka, ia pikir pertunangannya dengan Fella tak akan membuat kehebohan hingga separah ini.
Fella sudah selesai bercerita, hingga kini keduanya sama-sama diam dan menikmati makanan yang ada di depannya. Waktu jeda kuliah juga akan segera berakhir, jadi mereka harus segera menyelesaikan acar mengisi perut.
Setelah selesai makan Fella dan Arska kembali ke kampus. Mereka berjalan beriringan sambil mengobrol di sela obrolannya mereka sempat bercanda.
Akhirnya mereka pun sampai di fakultas ekonomi. Sejujurnya baik Fella atau pun Arska sadar jika mereka sedang di amati oleh pandangan dari penghuni kampus. Dengan bibir menyeringai, Fella ingin membuat mereka iri dengan keromantisan yang mereka ciptakan.
Namun belum juga dia melakukan rencana di dalam otaknya, jeritan kaget keluar dari mulut bibirnya. Arska bahkan langsung memutar tubuhnya saat mendengar itu.
"Ya ampun, kamu kenapa ay? Duduk dulu." Arska langsung manarik pergelangan tangan Fella untuk duduk di kursi di bawah tangga. Bahkan mahasiswa lain yang duduk di sana menggeser tubuhnya agar mereka bisa duduk di sana.
"Sakit yang." Fella tidak berbohong mengatakan itu. Maksud hati ingin memeluk lengan Arska, tapi belum juga kesampaian, kepalanya lebih dulu mencium dinding. Iya, Fella kepentok dinding keras di kepalanya tadi.
"Ya sakit, kamu jalan nggak hati-hati, sampai merah kaya gini." Arska sudah memegangi belakang kepala Fella, dan mengusapkan telapak tangannya di dahinya yang terlihat memerah. Mata Fella bahkan sudah berkaca-kaca. Bukan karena akan menangis tapi rasa sakitnya benar-benar terasa sampai ke ubun-ubun.
__ADS_1
Semua mata yang melihatnya di buat takjub. Dalam hati mengatakan jika gosip yang mereka baca itu bukan hanya sekedar gosip, tapi fakta.