
Saat Fella dan Arska sedang menuangkan kebahagiaan mereka hari ini. Di tempat lain Brayu dan Bella sibuk mempersalahkan hal yang tak terlalu penting. Meskipun mereka sudah cukup dekat, tapi Bella meminta Brayu untuk merahasiakannya. Bella tak mau, jika orang lain tau apalagi teman-teman dan kedua sahabatnya yang tau, bisa habis kena ledekan dia.
"Harusnya lo lebih hati-hati dong Bray," ujar Bella dengan bibir mengomelnya.
"Maaf Bel, gue nggak sengaja pecahin itu piring." Muka Brayu murung saat di bentak oleh gadis tersebut.
"Kalau lo nggak bisa cuci piring! nggak usah sok-sokan cuci piring!" seru Bella sambil membersihkan pecahan piring tersebut.
"Gue grogi waktu lo liatin terus, jadinya konsentrasi gue ilang deh."
"Alasan! Bilang aja lo nggak terbiasa."
"Kenapa lo jadi marah-marah kaya gitu sih? Padahal itu kan piring gue."
"Iya... ini emang piring punya lo! Tapi seenggaknya lo harus pikirin keselamatan lo terlebih dahulu." Bella kini meraih tangan Brayu dan membilasnya di wastafel.
"Lo kalau ngomel-ngomel udah mirip kaya kak Jasmin tau."
"Jadi..... lo pikir, gue lebih tua dari lo gitu!" Bella tak terima jika dirinya di samakan dengan orang yang lebih tua.
"Hahaha.... mana ada lo lebih tua daripada gue Bel, kuliah aja lo masih di bawah gue. Watak lo yang gue maksud samaan kaya kak Jasmin." Lelaki itu mengamati setiap gerak-gerik yang Bella lakukan, senyumnya mengembang. Setidaknya gadis itu sedikit simpatik dengan dirinya.
"Udah bersih tuh.. tinggal lo kasih plester aja," ucap Bella yang kini sudah melepaskan tangan Brayu dari genggamannya.
"Thanks ya Bel, udah mau perhatian sama gue," kata Brayu dengan senyum mengembang di sana.
"Sama-sama," balasnya singkat. Gadis itu masih saja terlihat jutek, entah sampai kapan raut wajahnya akan berubah menjadi ramah.
Bella kini meninggalkan Brayu sendirian di dapur, gadis itu memilih menonton televisi sambil menunggu Jasmin pulang dari tempat kerjanya. Walaupun mereka baru bertemu beberapa kali, tapi Bella sudah sangat nyaman dengan kakak perempuan Brayu itu. Gadis itu hampir setiap hari pergi ke rumah Brayu hanya untuk bertemu dengan Jasmin.
"Bray.... kak Jasmin kapan pulangnya. Udah jam berapa ini?" tanya Bella dengan wajah cemberutnya.
"Paling bentar lagi pulang, kayaknya dia nggak lembur hari ini," jawab Brayu yang kini memilih untuk duduk di samping Bella.
__ADS_1
"Ck... lama banget sih," keluhnya.
"Nggak usah ngeluh kaya gitu Bel, gue juga nggak bakalan gigit elo kok."
"Bisa nggak! Kalau lo ngomongnya nggak horor kaya gitu."
"Darimana kedengaran horornya?"
"Lo pikir aja sendiri."
Brayu menggaruk kepalanya yang tak gatal, mungkin rambutnya banyak yang rontok akibat sering menggaruknya tanpa alasan seperti saat ini.
"Kepala lo kutuan ya? Gue liatin dari tadi lo garuk-garuk kepala mulu."
"Gue pusing ngomong sama lo! Dari semua omongan gue, nggak ada satu pun yang bener di mata lo."
Bella mengernyitkan keningnya, merasa cukup kejam juga bila ia terus menerus menyalahkan setiap ucapan Brayu.
"Gue ngawur juga cuma sama orang yang gue sayang," ucap Brayu dengan polosnya.
"Ck...... gue nggak suka! Sama kata-kata lo yang kaya gitu Bray. Gue lebih nyaman kalau kita temenan aja." Bella memalingkan wajahnya, menatap ke layar televisi dengan mulut mengunyah cemilan yang di bawakan oleh Brayu tadi, berpura-pura tak mendengar setiap kata yang Brayu ucapkan.
"Elo mah enak... nggak ada rasa sama gue. Lah.. gue hampir tiap hari baper gara-gara lo sering main ke rumah gue." Lelaki itu berucap dengan begitu polosnya. Seperti sedang menyatakan cinta untuk pertama kalinya.
Gadis itu melirik kearah samping, mengamati raut wajah Brayu yang kini berubah menjadi masam, lelaki itu hanya menundukkan kepala. "Lo tau kan, kepribadian keluarga gue kaya gimana?"
"Hemm... iya gue tau."
"Gue nggak mau lo kenapa-napa."
"Tapi gue sayang sama lo, sampai kapan lo mu gantungin perasaan gue kaya gini." Brayu menapakkan wajah seriusnya, ia memegangi kedua pundak Bella tatapannya begitu dalam.
"Stop! Jangan bikin gue ilfil karena kelakuan elo yang kaya gini. Please kasih gue waktu buat mikir."
__ADS_1
Brayu mengangguk. "Oke, tapi gue minta lo tepatin janji lo yang satu ini. Karena itu penting banget buat gue." Lelaki itu langsung melepaskan pegangannya dari bahu Bella.
Sekitar sepuluh menit kedua remaja itu terdiam, hening mulai terasa. Tak ada yang memulai percakapan terlebih dahulu. Jasmin juga tak kunjung pulang, mungkin gadis yang di tunggu kepulangannya oleh Bella itu sedang lembur saat ini.
"Gue pulang dulu ya, kayaknya kak Jasmin lembur deh." Bella sudah berdiri.
Tapi Brayu sepertinya tak rela jika Bella harus pulang lebih cepat dari biasanya. "Tunggu," katanya dengan tangan menarik pergelangan tangan Bella.
"Apa lagi?" tanyanya dengan mata mengarah ke bawah, wajahnya begitu datar.
Entah apa yang di pikirkan oleh Brayu saat ini, lelaki itu tak menjawab pertanyaan Bella.
Justru, ia semakin menarik tangan Bella dengan sangat kuat, membuat keseimbangan gadis itu tak stabil dan terjauh menimpa Brayu.
"Lo apa-apaan sih!" teriak Bella dengan mata melebar.
Baryu masih dalam keadaan diam, entah diam karena apa? Yang pasti lelaki itu menampakan wajah sedihnya, perlahan ia memeluk tubuh Bella. Membuat mata Bella semakin terbuka dengan lebarnya.
"Izinin gue buat peluk lo, sebentar aja." Pinta Brayu dengan suara seraknya.
Tadinya Bella ingin memberontak, tetapi gadis itu memilih untuk menurut saja. Secara perlahan, Brayu melepaskan pelukannya, mengingat ucapannya yang hanya ingin memeluk gadis itu sebentar.
"Thanks." Baryu kembali menundukkan kepalannya, tenaganya tiba-tiba melemas.
"Lo kenapa?"
"Gue ngerasa, udah lama nggak di peluk sama nyokap. Bahkan kak Jasmin aja udah nggak pernah peluk gue lagi. Gue ngerasa kesepian."
"Apa hubungannya sama gue." Bella menunjuk dirinya sendiri, merasa tak mendapat jawaban yang cukup masuk akal dari Brayu.
"Karena lo, udah sedikit ngobatin rasa rindu gue terhadap nyokap. Sorry kalau gue keterlaluan, biar giman pun gue ini juga laki-laki normal, gue takut kelewat batas kalau ngeliat lo terus." Brayu mulai berdiri, lelaki itu tak menatap ke arah Bella lagi. Ia melangkahkan kakinya dengan pelan, mungkin ia ingin menenangkan pikiran sejenak.
"Yang bilang lo bukan laki-laki juga siapa? Aneh lo!" Teriak Bella seraya menyambar tasnya, gadis itu langsung pergi tanpa pamit lagi kepada Brayu. Gadis itu tau jika Brayu sedang sedih saat ini, tapi ia juga tak mau jika suatu hal terjadi terhadap dirinya, mengingat ucapan Brayu yang sedikit ngawur membuatnya merinding seketika.
__ADS_1