
Mereka memutuskan untuk pergi ke danau yang tak jauh dari villa yang mereka tinggali. Pemandangan di sana sungguh masih asri tanpa ada polusi seperti di kota, bunga teratai yang menghiasi tepi danau semakin membuat takjub danau tersebut dan terlihat ada beberapa perahu yang masih terawat di sana.
Faya yang melihat pemandangan tersebut loncat-loncat kegirangan sampai ia mendorong Bella yang ada di sebelahnya. Faya mendorong Bella tepat ke arah Brayu, entah sengaja atau tidak dan itu membuat Bella kesal.
"Alhamdulillah ada yang mau peluk gue juga," Brayu merasa senang dengan tindakan Faya.
Mata sinis Bella kini menatap ke arah Brayu, secepat kilat ia mendorong dada bidang lelaki itu dengan sangat kasar. "Siapa juga! Yang mau meluk elo," ketus Bella sambil memalingkan wajahnya. "Faya nggak usah rese ya! Gue nggak suka sama cara lo!" seru gadis itu dengan tampang kesalnya.
Faya yang menutupi mulutnya pun segera membuka suara. "Sorry bel, gue nggak sengaja, saking senengnya jadi khilaf," kata Faya yang langsung menggelayut di lengan Bella.
"Gue maafin kali ini, lain kali nggak ada kata maaf buat elo!" wajah Bella terlihat datar ketika mengucapkan kata-kata tersebut.
Regina menepuk pundak Bella pelan. "Lucu, di saat semua orang tertarik sama Brayu. Elo malah nolak dia. Yang lain berlomba-lomba mencari perhatiannya, tapi elo. Sama sekali nggak tertarik. Hidup lo terlalu datar Bel," celoteh Regina saat Brayu dan Dilan sudah pergi meninggalkan mereka.
"Gue nggak tertarik sama yang namanya cintanya! Terserah, elo mau bilang gue datar atau apa kek," ucap Bella sambil melangkahkan kakinya, meninggalkan Regina dan Faya.
"Sabar Gin, Bella emang gitu orangnya, keras kepala... keras hati..." Faya menepuk-nepuk pundak Regina pelan.
"Hem.... menarik, gue suka sama temen lo itu," senyum sinis menghiasi wajah Regina, pandangannya pun tak beralih dari punggung Bella.
"Elo kan baru jadian sama Dilan?" Faya menutup mulutnya sesaat setelah terlintas di pikirannya.
Regina mengernyitkan dahinya. "Apa hubungannya sama gue yang baru jadian sama Dilan?"
__ADS_1
"Kecuali, kalau elo jadian sama Dilan buat nutupi, kalau sebenernya elo itu suka sama cewek!" ceplos Faya dengan jari telunjuk menunjuk ke arah Regina.
Regina membuang nafasnya secara sembarang, ia benar-benar bertemu dengan gadis yang sangat bodoh. Ia pasti akan terlihat semakin bodoh jika terus bersama Faya. "Maksud gue! Suka sebagai temen. Lagian gue ini cewek tulen. Mana ada gue suka sesama!" tegasnya yang langsung memilih untuk berlalu lalang.
"Hehehe... sorry Gin, gue yang terlalu mikir kejauhan ternyata, otak gue lola kalau buat mikir." Faya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, sambil mengikuti Regina yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya.
Bella duduk di tepi danau sambil memainkan air, seulas senyum muncul di wajah cantiknya. Hingga muncul sebuah niat iseng yang melintas di kepala Regina. Tanpa nanti-nanti Regina melemparkan sesuatu ke arah Bella yang sedang duduk seorang diri di sana. Ia buru-buru kabur setelah melakukan hal isengnya tersebut. Mata Bella beralih memperhatikan sesuatu berbentuk kecil berwarna hijau yang bergerak-gerak di bahunya. Merasa ada ulat di lengannya, gadis itu langsung berdiri dan berlari ke sembarang arah, hingga menemukan lengan seseorang yang di percaya dapat mengusir ulat tersebut.
"Aarrrgkkhh!!!!" Bella mencengkram kuat lengan seseorang itu dari samping dan mengguncangnya. "Apaan itu? tolong singkirin!" teriaknya sambil menutup rapat kedua matanya.
Bella membuka matanya lagi dan melihat hewan kecil di bahunya mulai merembet naik ke rambut lurus miliknya. "Brayu gue tau kalau itu elo! Tolongin, Brayu.... Gue alergi sama ulet!" teriaknya semakin menjadi. Bella tak berani lagi membuka matanya. Permintaannya kepada Brayu untuk membantu menyingkirkan hewan menggelikan itu rasanya percuma. Brayu tidak juga menolong walau Bella sudah panik bukan main, ia tau kalau Brayu masih jengkel dengan bentakannya tadi. Bella melepas cengkeramannya di lengan Brayu dan berniat meminta bantuan kepada temannya yang lain. Namun, baru juga ia berbalik, Brayu menahannya. "Peluk gue! Gue baru mau bantuin elo!" perintah Brayu.
Tak mau ambil pusing dengan tindakan yang membahayakan dirinya itu, Bella segera menuruti perintah Brayu, ia memeluk lengan Brayu dengan eratnya. Beberapa saat kemudian, Bella merasakan ada jemari yang menyentuh rambut dan bahunya sekilas.
"Masih aja takut. Uletnya udah nggak ada. Ternyata, cewek jutek dan keras kepala kaya elo! Bisa takut juga sama ulet!" seru Brayu dengan senyum sinis nya.
Bella membuka matanya. Gadis itu menghela napas lega berkali-kali, setelah melirik bahunya. Buru-buru ia menarik tangannya dari lengan Brayu. "Thanks!" seru Bella datar.
Brayu memperlihatkan ekspresi cengar-cengirnya. "Lo kelihatan cute kalau panik kaya gitu Bel."
Alis Bella bertaut, ia jengkel dengan ucapan cowok yang ada di depannya saat ini. "Lo gila ya! Gue hampir mati ketakutan. Dan elo malah nyari kesempatan buat nyuruh gue meluk elo! Sekarang gue panik, elo bilang cute. Bener-bener nggak waras lo ya."
Kata-kata pedas Bella sukses membuat Brayu tersenyum kecu. Brayu sudah sangat terbiasa mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut bibir Bella.
Regina yang menyaksikan rencananya berhasil hanya cekikikan sambil bersedekap dada. "Lumayan juga buat ngisengin mereka. Tau gini dari tadi aja gue ngelakuinnya."
__ADS_1
Dilan yang mendengar ucapan kekasihnya itu segera membuka suara. "Kamu ngapain sih yang? Ketawa-ketiwi nggak jelas gitu".
"Gue tuh.. ketawanya jelas tau Lan, gue pengen bikin kedua makhluk itu biar bisa rukun," celotehnya sambil menunjuk ke arah Bella dan Brayu dengan dagunya.
Dilan terdiam sesaat sebelum akhirnya membenarkan ucapan Regina. "Manggilnya aku, kamu sekarang yang. Dan satu hal lagi panggil aku sayang! Bukan Dilan." jelas lelaki itu, yang kini beralih memegangi dagu runcing milik Regina.
"I-iya.... gue, eh aku, a-aku paham," ucap Regina terbata, gadis itu merasa grogi saat di tatap Dilan seperti itu.
"Sayangnya mana? Aku belum dengar kamu bilang sayang tadi," kata Dilan yang sengaja.
Muka Regina merah padam atas tindakan lelaki yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu. "S-sayang," ucapnya dengan bibir bergetar.
Dilan tersenyum puas. "Masih kaku kata-katanya, masih perlu belajar lagi," ucap Dilan yang langsung mengacak-acak rambut Regina.
"Jangan ngacak-acak rambut aku dong!" berontak nya.
"Kamu itu bikin aku gemes tau yang." kata Dilan yang langung mencubit pipi Regina dengan sangat gemasnya.
"Oh.... iya yang. Aku pengen ngasih tau kamu, kalau mereka itu udah gede. Udah bisa ngurus masalah mereka sendiri, jangan terlalu ikut campur sama urusan mereka. Nggak baik," kata Dilan yang mulai menasehati.
"Tapi, kalau nggak di bantu, kapan yang satunya luluh yang?" tanya Regina dengan nafas tersengal, rasanya gadis itu mulai memiliki perasaan ke Dilan.
"Semua itu butuh proses, kaya aku, yang butuh proses buat berani-in diri bilang sayang sama kamu!" seru Dilan yang langsung memeluk Regina dari samping.
Mereka berdua tersenyum, sungguh hari bahagia untuk Regina dan Dilan di pagi ini. Baru beberapa jam yang lalu mereka jadian, tapi Regina sudah mendapatkan sisi hangat dari seorang Dilan.
__ADS_1