
Waktu terus bergulir, hari demi hari terlewati, bulan demi bulan telah di jumpai hingga kalender pun telah berganti. Tak terasa dua bulan lamanya telah terlewati.
Di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, ia menjadi satu-satunya lelaki yang sudah memiliki jiwa pembisnis sejak ia duduk di bangku SMA. Meskipun hanya memiliki sebuah distro, dan yang kedua masih dalam pengembangan, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat kedua orang tuanya dan kekasihnya sangat bangga dengan upaya yang di lakukan oleh Arska, setidaknya ia mampu membiayai kuliahnya dengan uangnya sendiri dan membangun distro pun dengan hasil tabungannya.
Hubungannya dengan Fella pun tak terasa sudah berjalan hampir tiga tahun. Meskipun banyak rintangan yang harus mereka hadapi, akhirnya mereka bisa untuk melanjutkan kejenjang yang lebih serius.
Arska mengajak Fella untuk pergi ke taman yang menjadi kisah di mana mereka pernah beradu mulut karena Arska terus menguntit kemana sana Fella pergi.
"Ingat nggak? Waktu kamu ngehindarin aku, dan kita ngobrol di sini?" tanya Arska dengan melirik ke arah Fella.
"Ingat. Waktu itu kamu ngeselin banget."
"Dan kamu tau nggak? Dari situ aku belajar tentang banyak hal, seperti aku mulai ingin dekat dengan kamu, jantung aku yang mulai kacau tak beraturan dan masih banyak hal lain lagi."
Fella tersenyum mendengar hal tersebut, setidaknya ia jatuh di tangan orang yang tepat. Sambil terus mendengarkan cerita Arska mengenai perjalanan cinta dengannya, gadis itu melihat sekelilingnya yang nampak mulai terlihat sepi. Mengeluarkan ponselnya dan berkata. "Tadi wedding organizer hubungin aku. Mereka bilang akan mengirim foto-foto contoh konsep outdoor," kata Fella.
"Ku serahin semuanya sama kamu," balas Arska sambil tersenyum dan mengacak rambut Fella.
"Aku boleh kan, undang temen-temen alumni SMA aku yang?" tanya Fella.
"Boleh, kecuali mantan terindah kamu," ledek Arska.
Fella merengut, mendengar hal tersebut. "Idih.... mulai lagi kan," ucapnya memukul lengan Arska pelan, lelaki itu berlari menghindari pukulan Fella yang kian menjadi.
Arska terus tertawa sambil menggoda kekasihnya itu. Bagi Arska, melihat ekspresi wajah dan kelakuan Fella, saat cemberut seperti ini, adalah anugrah luar biasa, gadis itu terlihat semakin mengemaskan jika cemberut. Setelah puas menggoda Fella, Arska menuntun tangan gadis itu agar mengekor di belakangnya. Mereka duduk di ayunan kursi besi sambil menikmati udara malam, dengan langit pekat bertaburkan banyak bintang di atas sana.
Arska menoleh ke arah Fella sambil berkata. "Nggak terasa, tiga hari lagi kita udah mau nikah."
Fella melempar senyumnya. "Alhamdulillah, meskipun sempat di undur dua bulan, akhirnya kita bisa menantikan hari itu juga. Kesabaran tak akan mengkhianati upaya, jadi percaya aja kalau hari itu, akan lebih indah dari rencana sebelumnya."
Arska mengambil tangan Fella lalu menggenggam tangan putih mulus itu dengan lembut. Arska menyunggingkan bibirnya membentuk senyum hangat. "Aku selalu bersyukur sama Tuhan. Karena Tuhan telah memberikan ku bidadari yang cantik bukan hanya dari luarnya saja. Dia selalu mengerti situasi dsn kondisi ku."
"Aku juga bersyukur sama Tuhan, karena Dia kamu ada buat aku." Fella mengerjapkan matanya beberapa kali sambil tersenyum. Arska meraih kepala gadis itu lalu menciumnya dengan lembut.
...°•°Cinta Untuk Fella°•°...
Keesokan harinya, Arska meminta tolong kepada Brayu untuk mengantarkan kekasihnya itu mencoba gaun pengantin yang sudah di pilihnya beberapa hari yang lalu. Karena urusan mendesak membuatnya harus meminta tolong kepada sahabatnya itu.
Brayu mengendarai mobilnya dengan santai. Tanda rambu-rambu lalu lintas membuat Brayu menghentikan sejenak kendaraannya. Di tengah kebosanannya menunggu rambu berjalan, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengambil ponselnya dan menatap nama Arska di panggilan telponnya saat ini.
__ADS_1
"Hallo."
"Elo nyampe mana?"
"Gue masih di jalan, nungguin lampu hijau."
"Oke gue tunggu."
Brayu memutuskan sambungan telponnya. Lelaki itu mengendari mobilnya saat lampu sudah hijau. Saat Brayu dan Fella sudah sampai di tempat tujuan, Brayu belum juga mendapati batang hidung Arska berada di tempat Desainer baju pengantin.
"Calon pengantin perempuan, silahkan kemari! Kita coba baju dulu," ucap seorang wanita menuntun Fella untuk masuk ke fitting room.
Fella masuk untuk mencoba baju pengantinnya. Sementara Brayu menunggu di luar, tepat di depan ruang fitting room. Sambil menunggu kedatangan Arska. Tak lama kemudian Arska datang menghampiri Brayu.
"Mana Aya?" tanya Arska yang melihat Brayu hanya berdiri sendiri.
"Tuh... ada di dalam! Sementara cobain gaunnya," tunjuk Arska.
"Lo! Jangan coba-coba ngitip, awas aja kalau sampai ketauan gue!" seru Arska.
"Ck.... nggak ada sejarahnya gue ngembat calon istri sahabat gue sendiri."
"Btw.. gue kaget waktu denger lo mau nikah, kenapa buru-buru banget?"
"Ow, ya! Masak iya lo kaget, bukanya lo juga ngarep nikah cepat?" tanyanya dengan
Brayu tersenyum sinis, tak menjawab pertanyaan Arska, lelaki itu hanya mensejajarkan tubuhnya di sebelah Arska. Sedangkan Arska mengerutkan keningnya, matanya berputar keatas. Dengan senyum malu-malu, ia berbisik kepada Brayu. "Gue udah nggak sabar!"
Brayu menatap wajah Arska yang terpancar rona kebahagiaan. Ponsel Arska berdering seketika. Ia mengambil ponselnya dari saku celana.
"Lo, tunggu sini ya Bray. Gue angkat telpon dulu," pinta Arska.
Arska meninggalkan Brayu untuk menerima panggilan telepon. Brayu masih berdiri di ruang ganti. Matanya nampak berkeliaran ke sana kemari sambil melihat baju-baju pengantin yang terpajang di setiap ruangan.
Pintu di ruang ganti telah terbuka. Brayu yang melirik ke sana kemari tiba-tiba melebarkan mata saat pandangannya tertuju pada ruangan yang baru saja terbuka. Mantan play boy itu terpana ketika melihat Fella begitu cantik nan anggun memakai gaun pengantin, lengkap dengan hiasan kepala dan buket bungan pengantin yang di pegangannya.
Matanya tak berkedip ketika melihat sosok cantik gadis yang pernah menjadi incarannya sewaktu SMA itu, tengah berada di hadapannya dalam balutan gaun putih nan indah. Seketika, jantungnya kembali berdetak kencang tanpa sebab. 'Sadar Bray, dia calon bini sahabat lo,' batin Brayu dengan tangan memukul pelan kepalanya.
Fella sedikit malu, melihat sikap Brayu yang tadi sempat terpukau saat melihatnya bahkan lelaki itu langsung bertindak aneh dalam seketika. Mata Fella berkedip beberapa kali, wajahnya terlihat kaku dengan tubuh yang tak bisa ia gerakkan.
__ADS_1
Seorang Asisten desainer mendekati Brayu dan berkata. "Calon pengantin pria? Ayo ikut saya! Giliran anda untuk mencoba jas pengantin."
Brayu melihat ke arah asisten tersebut dengan wajah terkejut. Lelaki itu tak bisa mengatakan apa-apa.
"Ayo Mas, ikut saya keruang ganti untuk tes jas pengantinnya." Asisten itu mengulang ucapannya sekali lagi.
"Maaf Mbak, mungkin ada kesalahpahaman, dia bukan calon saya." Fella membuka suaranya saat asisten tersebut sudah mengandeng tangan Brayu untuk masuk keruang ganti. Brayu menoleh kembali ke arah Fella yang masih berdiri dengan gaun yang begitu cantik.
"Oh, maaf saya kira Mas calon pengantinnya. Kalau begitu mana calon pengantin prianya?" tanya asisten tersebut.
"Dia baru di luar. Tunggu sebentar," jawab Brayu.
Tak lama kemudian Arska masuk menghampiri Brayu. Mata lelaki itu langsung mengarah pada Fella. Untuk beberapa detik mata itu masih memandang sosok cantik hingga tak berkedip sedetik pun. Fella tertunduk malu mendapati dua lelaki tampan memandang kearahnya seperti itu.
"Dia pengantin prianya," ucap Brayu pada asisten tadi.
Asisten tersebut hanya mengangguk pelan. "Mas silahkan keruang ganti untuk tes bajunya," pinta asisten tersebut mengarahkan Arska masuk kedalam ruang ganti.
Selang beberapa menit kemudian, Arska keluar dengan jas pengantin berwarna putih.
"Wah.... elo nampak keliatan lebih dewasa banget!" puji Brayu menepuk-nepuk pundak Arska.
Arska melihat penampilannya di cermin besar lalu ia menghampiri Fella yang juga masih mengenakan gaun pengantin.
"Hay, kalian, ayo liat kesini!" seru Braya.
Brayu mengarahkan kamera ponselnya ke arah Arska dan Fella. Ia mengambil beberapa pose foto calon pengantin tersebut. Setelah selesai fitting baju, Arska menghampiri Brayu. "Kenapa lo diem aja waktu asisten tadi narik tangan lo! Lo nggak ada niatan buat nikung sohib lo sendiri kan?" tanya Arska dengan suara pelan, lelaki itu merangkul bahu Brayu dengan kencangnya.
"Habis lo nggak masuk-masuk! Kalau tadi gue khilaf, gara-gara ngeliat penampilan Fella yang beda kaya tadi, bisa gagal nikah kan lo!" Brayu mencoba menggoda lelaki tersebut, alisnya naik turun, mengetahui kecemburuan sahabatnya itu kembali muncul.
"Kalau lo sampai berani, udah gue jadiin pepes ikan," ucap Arska dengan memperkuat rangkulannya.
"Kalian pada ngapain sih? Bisik-bisik sampai harus belakangin aku kaya gini." Ekspresi wajah Fella berubah menjadi datar.
Arska dan Brayu kompak menoleh, mereka hanya cengengesan. "Maaf sayang, bukan maksud mau main rahasiaan sama kamu tapi ini rahasia sesama cowok," katanya dengan langkah menghampiri Fella.
"Tau ah.... tiba-tiba jadi lapar," kara Fella yang kini meninggalkan Arska lebih dahulu.
"Haha.... di tinggalkan," ledek Brayu sambil mengekor di belakang Fella.
__ADS_1
Setelah keluar dari tempat tersebut, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang.