Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Tak Ada Kabar


__ADS_3

Sudah beberapa hari terakhir ini tidak ada keterangan atau pun kabar dari Salsa, bahkan ponsel gadis itu pun juga tidak aktif. Leon membanting tubuhnya ke atas ranjang, lelaki itu menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru tua. Menghela napasnya berkali-kali, nampaknya ia sedikit frustasi dengan tidak adanya kabar dari gadis bertubuh mungil yang selalu saja cerewet itu.


"Elo kemana sih Sal? Bahkan elo sampai nggak masuk sekolah, apa perkataan gue terlalu ngeselin waktu itu, sampai elo marah sama gue atau gara-gara gue tinggal, makanya elo ngambek." gumam Leon yang langsung mengusap wajahnya dengan kasar.


Leon kembali merai benda pipih yang ada di sampingnya itu, menatap ke arah layar ponsel yang masih kosong melompong tanpa ada panggilan atau pun pesan masuk untuknya. Lagi dan lagi, Leon membuang napasnya dengan kasar.


Dretttt...drettt.... dretttt...


Drettt....drettt..dret....


Satu pesan di terima.


Leon melebarkan matanya, dan menoleh kesamping.


"Eh, akhirnya pesan dari Salsa. Gue tau elo nggak mungkin bisa marah sama gue Sal, elo pasti takut sama ancaman gue." lelaki itu buru-buru mengambil ponselnya dengan sudut bibir terangkat sebelah.


Saat melihat ke layar ponselnya, seketika wajah Leon yang ceria mendadak masam.


'Kuota bulanan kamu sudah habis. Beli paket kuota tambahan di *123#, atau langsung beli di website bmax++. Klik link : http//isikoutasaya.cus'


Leon mengernyitkan keningnya, lelaki itu masih tak percaya jika Salsa benar-benar mengabaikannya. Bahkan ancamannya pun tak membuat gadis itu segera membalas pesannya, biasanya saat dia sudah mulai mengancam Salsa akan dengan sendirinya menurut dan menjadi pacar yang baik.


"Hahaha, astaga! Lebih perhatian Operator di banding pacar sendiri." ucapnya menertawakan diri sendiri. Lelaki itu terlihat begitu melas.


Bangkit dari ranjang dan menyambar jaket yang ada di kepala kursi. Leon segera keluar dari kamarnya.


"Mau kemana?" tanya Tantin saat melihat putranya melintasi dirinya dan sang suami.


"Mau nangkap ubur-ubur bu, Ibu mau ikut?." balasnya ngasal.


Seakan tak paham dengan ucapan anaknya itu, Tantin hanya melihat kearah suaminya dengan mata melebar, tak sedikit keriput yang menghiasi wajah wanita setengah paruh baya itu.


"Biarin aja sih bu, pusing kalau ngeladenin Leon ngomong. Yang ada Ibu entar di buat muter-muter sama ucapan dia." sahut Damar.


Leon sudah menyalakan mesin motornya, kali ini ia bener-benar berharap jika Salsa ada di rumahnya dan bisa mendengarkan penjelasnya.


"Semoga dengan kehadiran gue, elo bisa langsung maafin gue, Sal." kata Leon pada dirinya sendiri.


Lelaki itu langsung menjalankan motornya, ia tak ingin membuang waktunya terlalu lama dengan berdiam diri di rumah dan menunggu Salsa untuk membalas semua pesan atau pun mengangkat telponnya, Berdiam diri tanpa bertindak sama saja dia menyerah secara perlahan.


Setengah jam setelah melewati macet yang cukup padat, akhirnya lelaki itu sampai di halaman depan rumah kekasihnya itu. Dengan hati yang tak karuan disertai dengan debaran jantung yang siap melompat, lelaki itu untuk pertama kalinya berkunjung ke rumah Salsa. Menekan bel beberapa kali.


Ting... Tong...


Ting...Tong..


Tak berselang lama, muncul sosok Arska di balik pintu. "Eh, elo ngapain di sini?" tanya Arska sedikit terkejut melihat kehadiran Leon yang tiba-tiba bertamu di rumahnya.


"Harusnya gue yang nanya, elo ngapain di rumah pacar gue? Setau gue kan elo udah nikah sama Fella." Leon juga melemparkan kata-kata serupa.


Memalingkan wajahnya sesaat. "Ini rumah gue, jadi wajar aja kalau gue di sini." balasnya cepat.


"Btw, pacar yang elo maksud itu siapa?"


"Salsa." balasnya singkat.


Arska melebarkan matanya, mungkinkah ia yang salah mendengar. "Salsa. Sejak kapan dia ganti pacar." gumamnya pelan, namun tetap saja suara Arska sampai ke telinga Leon.


"Daripada lo mikirin itu semua, mending lo nyuruh gue masuk. Masak iya tamu di suruh jagain pintu." sindir Leon, saat Arska tak juga mempersilahkan dirinya untuk masuk kedalam kamar.


Akhirnya Arska mempersilahkan Leon untuk masuk kedalam rumahnya. Saat sudah di dalam ruangan Leon mulai celingukan.


"Ngapain lo celingukan udah kaya maling aja." kata Arska.


"Salsa mana? Kayaknya udah semingguan ini dia nggak masuk sekolah?" tanyanya tiba-tiba.


"Salsa ke bandung, seminggu yang lalu orang tuanya jemput."

__ADS_1


"Kenapa dia nggak ngabarin gue."


"Mana gue tau."


"Dia ke bandung ada acara apa Ka? Kok mendadak?" pikiran lelaki itu penuh dengan pertanyaan.


"Salsa mau dijodohin," ucap Arska ngasal.


Leon tersedak sambil mendelik ke arah Arska. "Lo jangan becanda dong Ka, masak gue endingnya di tinggal nikah mulu." katanya dengan pandangan masih menatap lurus kearah Arska.


Arska terkekeh, suami Fella itu seperti orang jahat yang sedang mempermainkan mangsanya. "Habisnya dia pergi sampai nggak bawa ponselnya, lah pikiran gue kan nyampai sana." balasnya.


membanting tubuhnya kebelakang, sambil mengacak rambutnya kerena frustasi. "Gue tau, gue salah tapi jangan hukum gue kaya gini dong. Nyiksa banget." keluh Leon.


"Lo baru ada masalah sama Salsa. Saran gue, mending elo omongin baik-baik sama dia."


"Gue tadinya juga mau nyelesain masalah sama Salsa, makanya gue kesini. Berhubung orangnya nggak ada di rumah, sia-sia juga gue ke sini, yang ada cuma dapet ceceran dari elo!"


"Hahaha... Gue becanda Le, lagian nggak ada yang sia-sia kalau elo mau berusaha." lelaki itu menepuk pundak Leon beberapa kali.


"Apa ada kemungkinan, Salsa bakalan maafin gue?" tanya Leon memasang ekspresi memelas.


"Lo tenang aja, sepupu gue itu orangnya pemaaf kok. Dia beda sama cewek-cewek lain, ya meskipun gampang baperan." tutur Arska.


Keduanya saling mengobrol hingga waktu mulai menunjukkan petang. Entah apa yang di bicarakan oleh kedua lelaki tersebut.


...~Cinta Untuk Fella~...


Dua hari setelah Leon mengunjungi rumah Arska, lelaki itu kembali menginjakkan kakinya di kediaman Moregan, setelah mendapat kabar dari Arska jika Salsa sudah kembali kerumahnya.


"Salsa kemana?" tanya Leon to the point' saat Arska sudah membukakan pintu rumahnya.


"Nggak sabaran banget sih," ucap Fella yang sudah berdiri di sebelah Arska.


"Maklum Ay, seminggu lebih nggak ketemu. Mungkin dia kangen." sahut Arska menyeringai.


"Salsa ada di belakang." kata Arska.


"Oke makasih," balasnya cepat dengan kaki yang sudah melangkah jauh meninggalkan Arska dan Fella.


"Emangnya dia tau, taman belakang ada di mana?" tanya Fella dengan kening mengernyit, matanya masih melihat tubuh Leon yang sudah lenyap dari pandangannya.


"Biarin aja Ay, paling kalau capek dia balik lagi kesini." sahut Arska yang langsung menutup pintu ruang tamu.


Tak sampai lima detik, Leon kembali dengan tampang masamnya. "Pintu ke arah taman belakang di mana sih, Ka? Gue udah muter-muter keliling rumah tapi nggak tau pintunya dimana." keluhnya.


"Lagian siapa suruh main jalan aja, tanpa nanya dulu." ucap Fella dengan melipat kedua tangan dan menaruhnya di depan dada.


"Ck. Sorry, habisnya gue udah nggak sabar pengen cepat-cepat jelasin semua ini ke Salsa."


Kedua pasangan suami istri itu nampak saling memandang, dan Arska langsung melangkahkan kakinya untuk menunjukan pitu ke arah taman belakang kepada Leon.


"Salsa masih ada temennya, terserah lo. Masih mau di sini atau ikut gue sama Fella ke ruang tamu lagi."


"Gue di sini aja, pengen dengerin mereka ngobrol." balas lelaki tersebut.


Arska segera menggandeng tangan Fella, meninggalkan Leon sendirian di sana. Leon nampak mengamati keduanya yang nampak asyik mengobrol, hingga sebuah obralan membuat Leon memasang telinganya dengan benar.


"Lo yakin nggak papa?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah Rey.


"Aku nggak papa, lagian kamu juga sih. Ngapain harus ingetin aku sama ucapan dia yang nyebelin itu!" Salsa nampak mengerucutkan bibirnya, membuat gadis bertubuh mungil itu terlihat semakin imut.


"Kalau elo ragu sama itu cowok, gue harap lo langsung putusin dia!" tegas Rey dengan nada yang sedikit keras.


Suara Rey langsung menyeruak ke telinga Leon, lelaki itu mengepalkan dua tangannya. Entah mengapa rasa kesalnya mulai muncul saat ucapan Rey yang menyuruh Salsa untuk putus darinya, membuatnya sedikit emosi, bahkan lelaki itu menggenggam erat kedua tangan Salsa saat ini, membuat matanya semakin sakit.


Salsa mengernyitkan keningnya seraya menarik kedua tangannya dari genggaman Rey.

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Kalau elo kesel sama tindakan konyol dia, yang cuma anggap elo sebagai temannya di depan orang lain. Apa nggak mending elo putus aja sama dia." jelas Rey.


Menghela napasnya dengan perlahan, Salsa melihat ke arah Rey dengan wajah yang masih tertekuk.


"Tapi dia kan.."


Salsa tak jadi melanjutkan ucapannya, karena Rey sudah terlebih dahulu menempelkan jari telunjuknya di bibir gadis tersebut.


"Elo takut sama dia? Kalau lo takut, gue bisa bantu lo ngomong sama dia. Elo tau kan, perasaan gue ke elo itu gimana? Gue..."


"Rey!" sentak Salsa yang langsung menarik jari telunjuk lelaki itu dari bibirnya.


"Jangan di lanjutin lagi." pinta Salsa.


"Oke, gue nggak akan lanjutin ngomong lagi, gue tau kok lo bakalan nolak gue untuk kesekian kalinya." kata Rey mengacak rambutnya sendiri.


Memegang lengan Rey pelan. "Ih... kamu tuh ngeselin, kita kan sahabatan udah lama. Nggak mungkin kan kita jadian." tutur Salsa mencoba mencairkan hati Rey yang sedang galau itu.


"Nggak ada yang nggak mungkin, kalau elo mau ngebuka hati elo buat gue. Kasih cela untuk gue, meskipun cuma sedikit." balasnya memasang ekspresi serius.


Salsa menggigit bibir bawahnya seraya menundukkan kepalanya. Otaknya mulai berpikir bagaimana caranya agar Rey tak membahas hal itu lagi.


"Tapi, kita udah sahabatan dari kelas satu Rey." ucapnya masih dengan wajah tertunduk.


Meraih tangan sebelah kanan Salsa, "Gue tau itu. Dan gue juga udah suka sama elo semenjak hari dimana elo ngobrol pertama kali sama gue. Sahabat jadi pacar, banyak kok. Sahabatan yang langsung nikah juga banyak kok. Apa salahnya kalau kita nyoba."


"Ucapan kamu terlalu berat Rey, otak aku nggak bisa nampung semua perkataan kamu." Gadis itu mulai memberanikan diri mengangkat kepalanya.


Rey terkekeh mendengar ucapan gadis yang ada di sebelahnya itu, "Astaga, kenapa elo mikir seserius itu sih, Sal. Jangan bilang habis ini otak lo jadi lemot." ejek Rey.


Salsa semakin mengerucutkan bibirnya, bahkan Leon dapat melihat betapa mengemaskan pacarnya itu ketika berekspresi seperti itu.


"Lo jangan terlalu berpikir berat Sal, gue cuma nggak mau aja ngeliat elo lagi-lagi di sakiti sama cowok."


Menepuk tangan Rey yang masih menggenggam tangan sebelah kanannya. "Kamu tenang aja, lagian aku tuh belum terlalu mikir sampai kesitu. Ya kali, aku langsung jadian sama kamu sehabis putus sama Leon. Aku nggak mau lah, dikatain cewek nggak bener." Salsa mulai memperlihatkan senyumnya.


Krek....


Suara pintu terbuka cukup lebar, membuat kedua remaja itu menoleh ke sumber suara secara bersamaan.


"Dan gue nggak akan izinin elo putus dari gue!" seru Leon yang langsung memperlihatkan ekspresi seriusnya.


Mulut Salsa terbuka cukup lebar. Mimpi apa gadis itu semalam, sampai Leon memergoki dirinya yang sedang berduaan dengan Rey. Bahkan tangan Rey masih menggenggam erat tangan miliknya.


Menelan saliva-nya beberapa kali. Salsa langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Gue nggak akan pernah mau putus dari elo, Sal," ucap Leon sekali lagi. Lelaki itu mulai melangkahkan kakinya untuk mendekati tempat Salsa berdiri. Sedangkan Salsa masih berdiri dengan tatapan lurus menatap ke depan.


"Sal," ucap Leon pelan.


"Sejak kapan kamu jadi tukang nguping?" tanyanya sedikit menyentak.


"Sejak elo susah di hubungi."


Menoleh ke arah Rey. "Rey, kayaknya aku perlu istirahat dulu. Ngobrolnya lanjut besok aja ya." kata Salsa yang langsung melangkahkan kakinya, gadis itu memperlihatkan wajah datarnya di hadapan Leon.


"Sal, gue perlu jelasin kesalahpahaman kita yang kemarin." kata Leon mencoba menahan Salsa agar tak pergi dari pandangannya.


"Aku capek dan butuh istirahat!" jelasnya.


"Tapi gue ini pacar elo! Bahkan, gue lebih berhak ngobrol sama elo, di banding dia!" Leon menunjuk ke arah Rey dengan dagunya.


"Pacar atau teman? Bukannya tempo hari kamu bilang kalau kita cuma temen, lagian status temen sama sahabat itu lebih deket sahabat. Jadi aku mohon maaf, aku pengen istirahat. Kamu tolong pulang." balas Salsa dengan santai.


Melepas tangan Leon dengan kasar, Salsa segera meninggalkan kedua lelaki itu dengan berlari, gadis itu merasa kesal saat melihat Leon berada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2