
Sabtu sore Mona menampakkan diri di kediaman keluarga Aregan, alasannya karena ia kesal dengan sikap Arska yang tak bisa ia temui waktu di sekolah, tanpa sabara Mona memencet bel rumah Arska hingga berkali-kali.
ting-tong..... ting-tong..... ting-tong ...
Violla yang mendengar suara bel dengan pelan membuka handel pintu rumahnya dengan pelan, ia nampak jengah dengan suara bel yang di pencet dengan tak sabarannya. "Maaf cari siapa ya?" ucap Violla menyelidik.
Mona tersenyum senang, seketika ia menjawab dengan sembrono. "Hay... tante... nama saya Mona, pacar barunya kak Arska" ucapnya dengan ekspresi bahagianya.
"P-pacar, b-barunya Arska?" ucap Violla sedikit syok.
"Nggak langsung di izinin masuk ni tante?".
Sejenak Violla melihat penampilan Mona dari atas hingga bawah. "Ya udah... masuk".
"Makasih tante" ucap Mona yang langsung melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
"Kamu tunggu sini, tante mau panggil Arska dulu" kata Violla yang sedikit tak suka dengan sikap tak sopan Mona. "Bi Darsi, tolong bikinin minuman buat temennya Arska ya" perintah Violla yang tak sengaja melihat bi Darsi melintas.
"Pacarnya kak Arska tante bukan temennya" jelas Mona.
Violla tak menggubris ucapan Mona, ia masih berbincang dengan bi Darsi.
"Saya pergi ke dapur dulu ya nyonya" ucap bi Darsi sopan dan segera meninggalkan tempatnya. Violla hanya mengangguk, ia segera menaiki anak tangga tanpa melihat ke arah Mona lagi.
Sampai di depan kamar anaknya, Violla menghela nafasnya dengan pelan, segera ia membuka handel pintu kamar Arska dan masuk dengan wajah yang tak menyenangkan. Arska yang melihat ke hadiran sang Mama di kamarnya segera menaruh ponselnya di laci samping dekat tempat tidur. "Mama tumben kesini?".
"Di tungguin sama pacar baru kamu di luar" jawab Violla yang langsung duduk di tepi ranjang.
Segera Arska mendekat dan duduk di samping Violla. "Pacar apanya sih ma, Arska nggak punya pacar" cecer Arska yang menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Jangan pura-pura kaget, dia yang bilang kalau pacar kamu!!" tegas Violla dengan wajah yang masih datar.
"Tapi Arska beneran nggak punya pacar ma".
" Mona... dia bilang ke Mama namanya Mona".
Arska mengusap wajahnya dengan kasarnya. "Ya Allah kenapa tuh anak kesini, sampai kapan dia bakalan ganggu hidup gue" ucap Arska sedikit frustasi.
Mata Violla membulat. "Kenapa kamu ketakutan ka, waktu Mama bilang nama cewek itu?".
"Dia itu monster buat Arska ma".
"Monster yang kamu pacarin maksudnya" tatapan Violla masih kesal. "Mama nggak suka sama cewek yang namanya Mona itu, nggak ada sopan-sopan nya".
"Yang bilang suka sama dia juga siapa ma, Arska aja males ngeliat mukanya".
Violla menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia sedikit berdecak sebelum akhirnya membuka suara. "Ingat ya ka, kamu itu udah punya tunangan, jangan kecewain Mama, Mama nggak enak sama tante Merry, kalau sampai tante Merry denger gimana Mama mau ngejelasinnya".
"Kamu punya masalah apa sih ka, sampai harus berurusan sama cewek bernama Mona itu?".
"Arska bingung jelasinnya ma, pokoknya orang itu bahaya. Arska turun duluan ma" ucapnya dengan wajah kusut, segera ia turun dari ranjangnya. Violla melihat punggung Arska yang kian menghilang dari tatapannya. Dengan sedikit bernafas Violla akhirnya memutuskan untuk mengikuti Arska.
Sampai di ruang tamu, ia melihat Clara yang berteriak-teriak menyuruh Mona untuk segera pulang. Dengan cepat Arska menarik tangan adiknya pelan. "Nggak bisa ngalah sama anak kecil ya" bentak Arska.
Mona memanyunkan bibirnya, di tatapnya wajah Arska dan Clara secara bergantian. "Baby... jangan galak-galak dong, lagian adik kamu ini nyuruh aku pulang terus" protesnya yang langsung memeluk lengan Arska dengan eratnya.
"Lagian lo ngapain kesini?" tanya Arska masih dengan tatapan yang sama.
"Aku kan kangen kamu" ucap Mona yang mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Lo emang harusnya pergi, gue nggak suka ngeliat elo, jangan pikir lo bisa deketin gue sesuka hati lo, setelah lo ngejauhin gue dari cewek yang gue sayang" ucapnya yang berusaha melepaskan pelukan Mona yang berada di lengannya.
Violla berdehem karena melihat tingkah Mona yang benar-benar membuat matanya sakit.
"Eh.... tante, maaf ya Mona kelepasan soalnya Mona kangen sama kak Arska" ucap Mona yang masih memegangi lengan Arska.
"Arska.... Mama nggak mau liat ada wanita lain di antara hubungan kamu dan Cantika. Paham kan maksud dari ucapan Mama" ucap Violla bersedekap dada, ia benar-benar tak suka dengan kehadiran Mona.
Setelah mendengar perkataan Violla, Mona yang tadinya memeluk erat lengan Arska segera melepaskan pelukannya tersebut, ia sedikit menggigit bibir bawahnya, ia masih tak terima dengan ucapan Violla yang menyinggung hatinya, sedikit tertawa kecil sebelum akhirnya membuka suara. "Maksud ucapan tante apa ya?" tanya Mona dengan santainya.
"Maksud saya, Arska itu udah punya tunangan, dan saya sangat menyukai tunangannya Arska" jelas Violla.
"Kenapa nggak di batalin aja sih tan, mendingan juga sama Mona" ucap Mona sedikit meninggikan cara bicaranya.
"Itu sudah mutlak keinginan keluarga, mereka berdua saling mencintai kedua keluarga sudah merestui, dan kamu tolong jangan suka merusak hubungan orang lain, masih kecil sudah jadi perusak hubungan orang, nanti kalau sudah dewasa kamu mau jadi apa?".
Ucapan Violla benar-benar menusuk ke dalam hati Mona, Mona yang merasa di permalukan seketika membuka suaranya kembali. "Aduh... tante Mona minta maaf banget kalau Mona nggak sopan, tapi Mona cuma mau ngingetin aja. Kalau papa tau pasti tante dalam masalah besar" ancamnya.
Violla mengerutkan keningnya hingga alisnya menyatu. "Maksud ucapan kamu, kamu mengancam saya" ucap Violla yang yang langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Bukannya ngancem tante, tapi Mona cuma ngingetin, Papa saya kerja di Antero group sebagai manager di sana, alangkah baiknya jika tante ngasih restu sama saya dan kak Arska" ucapnya dengan senyum sinisnya.
Violla yang mendengar ucapan Mona segera mengepalkan tangannya, benar-benar anak dari seorang pecundang yang hanya bis mengandalkan kekuasaan.
Arska yang melihat sang Mama terdiam sejenak segera menarik tangan Mona dengan kasarnya. "Udah cukup lo nyakitin orang yang gue sayang, dan sekarang gue nggak bakalan lagi ngizinin lo buat nyakitin nyokap gue!!" tegas Arska yang menarik paksa Mona untuk keluar dari rumahnya.
"Nenek lampir jahat nggak punya perasaan, udah jahatin kak Cantika sekarang nyakitin Mama ku" teriak Clara yang langsung memeluk Violla dengan erat.
Violla hanya memikirkan bagaimana mungkin anaknya bisa berurusan dengan wanita gila yang mengandalkan kekuasan orangtuanya bahkan ia terlihat sangat angkuh.
__ADS_1
Saat sampai di teras rumah Mona segera menarik tangannya. Nampa sangat jelas jika ia sangat marah oleh perlakuan Arska terhadap dirinya. "Aku nggak bakalan kaya gini kalau kamu nggak ngehindar terus dari aku, setiap kali aku nyari kamu di sekolahan kamu selalu nggak ada. Kalau kamu terus-terusan kaya gini dan nggak mau nurutin kata-kata aku, aku bakalan tiap hari kesini dan ngebikin tante ngerasa tiap hari ke ancem" teriaknya.
"Terserah.... tapi sampai terjadi sesuatu sama Nyokap gue dan itu karena ulah lo, gue nggak bakalan ngelepasin lo!!, udah cukup lo bikin cewek yang gue sayang menderita!!" ucap Arska yang langsung membanting pintunya, ia tak lagi mau mempedulikan Mona, saat ini yang ia rasakan hanyalah kekesalan yang mendalam. Segera Arska menghampiri Violla yang terlihat sangat syok.