
Arska dan Mona berjalan berdampingan. Mereka datang ke kafe yang sama dengan Fella dan kedua sahabatnya itu, langkah kaki Arska terhenti tepat di samping Fella. Sesekali Arska melirik ke arah Fella dengan tatapan lesu, ia ingin sekali memeluk Fella saat ini juga, ia benar-benar rindu dengan kekasihnya itu. Sudah beberapa minggu mereka tak saling menyapa, untuk saling berkomunikasi melalui ponsel pun sudah sangat jarang mereka lakukan. Itu semua karena ulah Mona. Arska ingin sekali mengelus rambut Fella seperti biasanya, tapi Mona segera menarik tangannya dengan cukup kuat dan mengajak Arska pergi dari tempatnya berdiri. Wajah Fella terlihat pucat pasif, matanya sayu, ia hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di hadapannya tanpa ada niatan untuk memakannya. Faya dan Bella saling sikut, sesekali Bella mengusap-usap lengan Fella pelan. "Kalau lo sakit, mending istirahat di rumah aja fel, nggak usah maksain buat dateng kesini, kan kita bisa main ke rumah lo" celetuk Bella.
"Bener fel, lo harus jaga kesehatan jangan terlalu banyak pikiran, jangan kecapekan. Ingat kaya yang udah-udah, anemia lo kambuh lagi, kita nggak mau ngeliat lo kaya gini terus. Makan yang banyak jangan sampai kurus, kurus-kurus nggak baik loh... elo kelihatan lebih tua dari gue entar" lanjut Faya menasehati.
"Lo dengerin tuh... omongannya Faya fel, meskipun dia telmi tapi kadang omongan dia ada benarnya juga".
Faya melihat ke samping tatapannya begitu sinis. "Telmi nya jangan di bawa-bawa kenapa sih bel. Nggak usah keras-keras juga ngomongnya, gue lagi ngomong serius ini, nggak becanda tau" tegas Faya seraya memajukan bibirnya.
"Gue ngomong dua rius fay, lo kan emang telmi, tapi otak lo tumben encer banget kali ini" ucap Bella menahan tawanya.
"Terserah lo deh... mau ngomong apa, tapi gue nggak minat buat becanda" tegasnya. Kini mata Faya beralih menatap ke arap Arska, tatapan penuh kekesalan. "Gue kesel sama Arska, cuma ngeliatin aja nggak ngajakin ngobrol, seenggaknya tanya kabar kek apa gimana, jadi tunangan nggak tanggung jawab banget" ucap Faya melirik ke arah Arska dan Mona.
"Udah... biarin aja mereka itu nggak penting buat kita saat ini, yang terpenting sekarang kesehatan Fella nomor satu" tegas Bella masih memandang Fella dengan raut wajah cemasnya.
Dari kejauhan nampak Arska sedang melihat ke arah Fella, wajahnya tak bersemangat seperti hari-hari biasanya, ia nampak murung sekarang, senyum pun jarang sekali ia tampakkan, moodnya benar-benar hancur karena ulah Mona.
"Baby liatin apaan sih?" ucap Mona manja seraya melingkarkan tangannya di sela-sela lengan Arska. Arska melirik kesamping sambil menyingkirkan tangan Mona dari lengannya dengan cepat. "Mau lo apaan sih, kenapa setiap kali cewek gue makan, di mana aja, lo selalu ikutin dia" ucap Arska melotot ke arah Mona.
Mona tersenyum sinis, ia menaruh tangan kanannya di meja agar bisa menopang dagunya. "Mau aku simpel kok, aku pengen kalian jauh, sejauh-jauhnya. Ngertikan maksud dari ucapan aku barusan" tegas Mona dengan menaikan satu alisnya.
"Lo emang picik ya. Dasar cewek nggak punya perasaan. Mau lo paksain gimana aja, gue tetep nggak mungkin suka sama lo. Hati gue cuma ada satu cewek, yaitu Fella!!" ucap Arska kesal sambil menunjuk ke arah di mana Fella duduk.
__ADS_1
"Terserah kamu, mau kamu bilang sayang, suka sama siapa, nggak penting, yang penting aku bisa jatuhin kamu dari cewek itu" ketus Mona.
Fella masih terdiam, ia tak bersuara sama sekali, mukanya makin pucat, hingga membuat Bella dan Faya kebingungan. "Fel, gue anterin lo kerumah sakit ya, muka lo makin pucat, tangan lo juga dingin kaya gini" ucap Bella panik sambil mengusap-usap telapak tangan Fella.
Fella hanya menundukkan kepalanya, hidungnya mulai mengeluarkan darah, sesekali ia mengusapnya, Bella dan Faya makin panik, sampai membuat heboh di kafe, Arska yang melihat kepanikan itu segera berdiri, tapi Mona segera menghalanginya. "Kamu mau kemana, kita baru mau makan" tegasnya.
"Gue mau samperin cewek gue" tatapan Arska dingin tanpa ekspresi, ia sudah menahan emosinya sejak tadi.
"Kamu maju satu langkah, aku bakalan hancurin hidup Fella sehancur-hancurnya" ancam Mona.
Arska yang mulai jengah dengan tindakan Mona segera menepis tangan Mona cukup keras seraya mendorongnya cukup kuat. "Berani lo nyakitin Fella, seujung kuku pun, gue bakalan bikin perhitungan ke elo berkali-kali lipat" tegas Arska segera pergi meninggalkan Mona.
Arska menghampiri tempat duduk Fella, ia segera mengambil posisi jongkok, di tatapnya dengan penuh kecemasan dari wajah Arska, ia mengangkat dagu Fella pelan, tapi tubuh Fella terlalu lemah hingga Brakk... Fella jatuh pingsan. Dengan cepat Arska mengangkat kekasihnya itu untuk segera membawanya ke rumah sakit. Kedua sahabatnya mengikuti langkah kaki Arska dari belakang. "
Pakai mobil gue aja ka, biar lebih cepat kerumah sakitnya" ucap Bella sambil berlari ke parkiran. Sesekali Arska menatap wajah Fella, matanya mulai memanas, ia sedikit frustasi melihat kondisi kekasihnya yang sangat menyedihkan saat ini. Niat ingin melindungi ke kasihnya justru ia menyakiti Fella dengan perlahan. Sampai di parkiran Bella segera membuka pintu mobilnya agar Arska dapat segera masuk kedalam mobil dan membawa Fella pergi kerumah sakit terdekat. Sesekali Bella melirik ke kaca spionnya ia mengamati kalau Arska begitu mengkhawatir keadaan Fella, ia melajukan mobilnya cukup cepat. Faya menoleh ke belakang dengan muka cemasnya. "Fella harusnya nggak kaya gini kalau nggak kebanyakan pikiran sama kecapekan, semenjak lo jauhin Fella, penyakit lamanya kambuh lagi" celetuk Faya yang masih menoleh kebelakang.
Mata Arska segera mengarah ke sumber suara. "Semua gara-gara tindakan bodoh gue, coba aja kalau gue nggak bertindak terlalu bodoh, mungkin Aya nggak bakalan kaya gini sekarang" ucapnya lirih.
Faya menatap Arska dengan mata melotot. "Iya.... semua ini salah lo. Kenapa lo tega sih... sama Fella, padahal dia bener-bener tulus sayang sama lo" celetuk Faya manyun.
"Lo nggak tau aja fay, gue ngelakuin ini juga karena gue sayang sama Aya, gue nggak pengen Aya kenapa-napa, gue pengen Aya tetep dalam keadaan aman. Tapi gue justru buat Aya menderita secara perlahan" cecer Arska kembali menundukkan kepala, ia mengusap-usap pipi Fella dengan lembut, sesekali ia menyeka air matanya yang akan menetes.
__ADS_1
"Kenapa lo nggak ngomong jujur ke kita sih ka, siapa tau kita bisa bantuin lo, jadi kita nggak mikir negatif terus tentang lo" ucap Faya dengan paksa.
"Gue punya alasan kenapa gue nggak ngasih tau ke lo pada, gue harap kalian jangan ngasih tau hal ini ke Aya. Gue mau coba nyari jalan keluarnya" ucapnya.
"Udah....jangan paksain Arska buat cerita, kasihan dia kalau lo paksa terus fay. Sorry ya ka, gue bener-bener nggak tau kalau ini semua lo lakuin buat jagain Fella, gue pikir lo sama kaya mantan-mantannya Fella. Udah bener-bener buat Fella jatuh cinta, tapi akhirnya ninggalin juga" ucap Bella sesekali ia menoleh kebelakang.
"Santai aja bel, gue nggak nyalahin lo kok, ini semua salah gue yang nggak jujur sama kalian" ucapnya menghela nafas. "Lagian siapa sih... cowok bodoh yang bisa ninggalin cewek secantik dan sebaik Aya, kalaupun gue suruh milih gue nggak bisa jauh-jauh dari dia, ini semua juga terpaksa gue lakuin" lanjutnya memaksakan senyumnya.
"Ya... sorry ka, kira cuma menduga-duga tanpa tanya ke elo nya langsung" ucap Bella.
"Nggak papa bel, wajar aja kalau lo mikirnya sampai segitunya" ucap Arska sambil beralih memandangi wajah kekasihnya seraya mengelus pipinya dengan lembut.
"Ow iya ka, terus temen-temen lo pada tau nggak?, masalah lo saat ini?" selidik Faya.
"Mereka udah tau semuanya, gue yang nyuruh mereka diem buat nggak ngebocorin rahasia ini, sampai gue nemuin waktu yang tepat buat bilang sejujurnya sama kalian" ucapnya pelan.
"Oke... oke... kita nggak nanya-nanya lagi. Tapi kita janji bakalan bantuin lo buat keluar dari permasalahan ini" cecer Bella. "Btw muka lo jelek banget tau ka, gue saranin buat lo, banyakin senyumnya biar gantengnya balik lagi kaya biasanya" ledek Bella.
"Gimana gue nggak murung bel, gue harus jauh-jauh dari orang yang paling gue sayang" ucap Arska memandangi wajah Fella yang masih ada di pangkuannya itu, sesekali Arska mengelus-elus rambut Fella.
Bella dan Faya saling tatap, mereka dapat merasakan bagaimana perasaan Arska saat ini.
__ADS_1