
Di dalam ruangan Fella dan Arska hanya mendengarkan ucapan Hendry dengan seksama. "Maafin Om yang belom bisa jenguk kamu waktu di rumah sakit, sampai kamu udah pulang, Om juga belom sempet nengok-kin."
"Nggak papa kok Om, Fella pahaman sama kondisi Om yang selalu sibuk di sekolahan, lagian Fella juga udah sembuh kok Om."
"Lain kali kamu harus jagain Fella jangan sampai hal ini terjadi lagi, Papa nggak mau kalau calon mantu Papa kenapa-napa lagi," Hendry menunjuk ke Arska.
Arska mengangguk pelan. "Arska janji buat jagain Aya kok pa."
"Papa pegang janji kamu, kalau ke jadian ini terulang lagi Papa sama Mama nggak bakalan maafin kamu," tegasnya.
Fella menelan saliva nya, calon mertuanya begitu tegas mendidik anaknya pantas saja jika Arska sikapnya sedikit kaku kalau dengan orang lain.
"Jangan terlalu keras sama Arska Om, kasihan Arska kalau terlalu banyak tuntutan, lagian semua juga bukan kesalahan Arska kok Om, ini semua juga salah saya."
Kini mata Hendry beralih menatap Fella. "Sebagai seorang laki-laki, Arska wajib buat ngejaga kamu Fella, biar dia ada rasa tanggung jawab buat ngejaga miliknya."
"Fella ngerti maksud Om, Om nggak perlu khawatir lagi, Arska pasti jagain Fella dengan baik, kali ini," ucap Fella sambil melihat ke samping, senyum manis ia perlihatkan di depan tunangannya itu. Mereka saling tatap mata hazel coklat milik Arska dan mata bulat hitam milik Fella kini saling menatap. Hendry yang tak mau berlama-lama menjadi obatnya nyamuk segera berdehem. Fella dan Arska kompak menoleh ke sumber suasana. "Papa ganggu aja," protes Arska.
Mata Hendry menyipit ketika anaknya berucap hal tersebut. Fella yang menyaksikan hal tersebut segera membuka suaranya. "Om sama sekali nggak ganggu kok, omongan Arska jangan di dengerin ya Om," ucap Fella melerai agar suasana ruangan tak menegang.
Hendry tersenyum sesaat. "Kamu anak yang baik, Om suka sama kamu."
"Papa nggak boleh suka sama Aya, Aya udah milik Arska," celetuk Arska yang langsung memeluk Fella dari samping.
"Arska... nggak sopan di depan orang tua mesra-mesran," protes Hendry terhadap anaknya.
"Kaya Papa nggak pernah muda aja."
Fella yang merasa risih dengan sikap kekanak-kanakan Arska segera pamit karena tak enak jika berlama-lama di dalam ruangan yang sama dengan calon mertuanya. "Kalau nggak ada hal lain lagi yang mau Om omongin, Fella pamit ke kelas duluan ya Om," ucapnya yang berusaha melepaskan pelukan Arska.
Hendry mengangguk, seulas senyuman muncul di sudut bibirnya. "Selamat kembali lagi ke sekolahan ya Fel."
"Siap.... Om," ucap Fella memberi hormat dan langsung beranjak dari kursinya tanpa berpamitan dengan Arska.
Arska memajukan bibirnya, ia masih ingin berlama-lama dengan kekasihnya itu, sejak Fella berpura-pura amnesia ia tak mendapat cela untuk bermesraan dengannya. Melihat tingkah konyol anaknya Hendry segera melemparnya mengunakan pulpen yang ia pegang dari tadi. Secara spontan Arska menoleh ke arah Hendry. "Papa apa-apaan sih."
"Kamu yang apa-apaan. Buruan kejar," perintah Hendry sambil menunjuk ke pintu keluar menggunakan dagunya.
Tanpa menunggu lebih lama, Arska langsung berlari mengikuti Fella. "Dasar anak zaman sekarang, nggak ada sopan-sopan nya sama orang tua. Main nyelonong tanpa pamit, dan bodohnya itu adalah anak ku sendiri," gerutu Hendry yang langsung mengambil lembaran kertas di dalam map.
Arska yang sengaja melebarkan langkah kakinya agar tak tertinggal oleh langkah kaki Fella dengan cepat menarik pergelangan tangan Fella dengan pelan. "Buru-buru banget sih yang jalannya."
"Bentar lagi masuk kelas, aku nggak mau telat," jelasnya.
"Aku masih kangen sayang," rengek Arska.
Fella tersenyum sinis. "Kangen-kangen nya di tunda dulu ya sayang, nanti kan pulang sekolah bisa lagi."
Arska menggeleng pelan. "Ruang guru piket di mana sih yang," celotehnya celingukan.
"Mau ngapain?".
"Mau izin."
"Izin buat apa?, aku kan nggak sakit," ucap Fella pelan.
__ADS_1
"Hati aku yang sakit, kalau kamu nggak mau nemenin aku lebih lama."
Fella menatap ekspresi wajah kekasihnya yang memelas. "Ya udah... kali ini aja ya."
"Makasih sayang," kini ekspresi wajah Arska berubah menjadi senang.
Arska semakin erat menggenggam tangan Fella, hingga di persimpangan menuju ke ruang piket mereka tak sengaja bertemu dengan Andy dan ke dua sahabatnya.
"Woy...jangan mesra-mesran di sini. Di sini bukan tempat orang mesra-mesran," celoteh Andy dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.
Seketika mata elang Arska menatap lurus ke arah mantan pacar kekasihnya itu, tatapannya begitu ingin membunuh.
"Ngapain lo ngeliatin gue kaya gitu?" mata Andy tak kalah tajam menatap ke arah Arska. Alan dan Alex kompak menarik paksa lengan Arska agar terpisah oleh Fella, sedangkan Fella berusaha mendorong kedua cowok tersebut agar tak menyakiti kekasihnya. Andy yang melihat mantan kekasihnya terlalu mengganggu langsung saja menarik pergelangan tangannya cukup kuat. "Lo gila ya, ini urusan cowok entar lo kena tonjok," cecer Andy menasehati Fella.
"Yang gila itu elo sama kedua sahabat lo, ngapain kalian ganggu kita?, sampai lo nyuruh kedua sahabat lo buat nyekal tunangan gue !!".
"Dia kan bukan anak sekolahan sini, jadi gue wajib lah ngasih dia sedikit pelajaran, biar ada sopan nya sedikit kalau bertamu."
Arska yang melihat kekasihnya di tarik paksa oleh cowok lain mulai memberontak hingga satu kali tonjokan di layangkan oleh Alan, tepat mengenai ujung bibir kiri Arska.
Fella yang melihat tindakan Alan segera menampar pipi Andy cukup keras agar ia dapat melepaskan tangannya. "Gue benci sama kalian," cecernya yang langsung memberontak. Kini Alex yang mulai melayangkan tangannya di pelipis Arska cukup keras, tak mau hal yang lebih serius menimpa kekasihnya Fella segera berteriak sekuat tenaga, hingga siswa-siswi lain mulai berkerumun. Hendry yang mendengar ke gaduhan di luar ruangan segera ikut keluar menghampiri kerumunan siswa-siswi tersebut.
"Apa-apa ini?" ucapnya meninggikan nada bicaranya.
Mata Andy mulai melotot ketika di dapati kepala sekolah ikut menghampiri ke arahnya. "A-anu pak, i-ini, ada siswa lain yang masuk sekolahan kita, terus dia nggak sopan, padahal kan ini bukan lingkungan sekolahnya," ucap Andy sedikit terbata sambil menunjuk ke arah Arska.
Mata Hendry seketika membulat ketika mendapati anaknya telah babak belur. "Lalu apa perlu kalian memukulinya seperti ini?".
"Dia duluan yang nyari gara-gara pak," Alan mencoba mengelak.
Andy segera memutar otaknya agar tak terkena masalah, ya meskipun masalah itu di ciptakan oleh dirinya sendiri. "Tapi pak, dia kan cuma murid luar, kenapa harus di perpanjang masalahnya sih pak," protes Andy.
Nampak Hendry hanya mengangguk-anggukan kepala, Andy sedikit lega melihat ekspresi kepala sekolah yang sepertinya tak akan memperpanjang masalah tersebut. "Ya... ya... saya paham maksud kamu Andy. Tapi yang kamu maksud murid dari sekolah lain, yang sekarang babak belur karena ulah kamu dan ke dua teman kamu ini. Dia adalah anak saya," tegas Handry.
"Mampus...." umpat Andy yang langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Alan dan Alex juga melakukan hal yang sama. "Masalah besar," ucap mereka kompak tapi dengan suara lirih.
Semua siswa-siswi yang berada di tempat sempat syok setelah mendengar ucapan kepala sekolah. Fella yang masih mengandeng lengan Arska, menatap sinis ke arah Andy dan ke dua sahabatnya itu.
"Sepertinya saya sudah sangat baik mendidik anak saya, jadi saya tidak bisa percaya begitu saja jika anak saya membuat ulah."
Arska yang memegangi sudut bibirnya segera membuka suara. "Masalah ini nggak usah di perpanjang pa."
Andy, Alan dan Alex sedikit bernafas lega setelah mendengar ucapan itu keluar dari mulut anak kepala sekolah tersebut.
"Langsung aja bawa ke ruang BP, kasih poin biar mereka jerah," lanjut Arska sambil melirik ke arah Andy.
Andy mengepalkan tangannya. "Sial dia bikin gue malu di hadapan orang banyak, gue bakalan balas ini suatu saat nanti," batin Andy yang kian mengepalkan tangannya.
"Kalian bertiga ikut saya keruang BP, dan Fella tolong kamu obati luka Arska di UKS," perintah Hendry.
"Baik pak," ucap Fella pelan.
Andy, Alan dan Alex mengikuti langkah Handry dari belakang, tapi mata mereka tak henti-hentinya melihat ke arah Fella dan Arska secara bergantian. Fella segera memapah Arska dan membawanya ke ruang UKS. "Kenapa nggak ngelawan sih yang tadi?" tanya Fella saat sudah berada di ruang UKS.
Arska tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Fella. "Percuma kalau aku ngelawan mereka sayang, yang ada Papa dapat pandangan buruk dari guru-guru dan siswa-siswi di sini karena nggak bisa ngedidik anaknya."
__ADS_1
"Kamu mikir sampai segitunya yang?".
"Sebelum bertindak kita harus mikir konsekuensi akhirnya, kalau di luar sekolahan. Oke nggak masalah, ini masih di lingkungan sekolah. Aku nggak mau ngerusak pamor Papa," ucap Arska bijak.
Fella yang mendengar kata-kata bijak dari kekasihnya itu dengan spontan mengusap-usap pucuk rambut Arska. "Um... sayang aku hatinya lapang banget sih, padahal udah bonyok gini tapi masih bisa mikir jernih," puji Fella.
"Tunangan siapa dulu sih yang."
"Narsisnya keluar lagi," ucap Fella menjulurkan lidahnya. "Ya udah... aku ambil kotak obatnya dulu, buat ngobatin luka kamu," kata Fella yang langsung berdiri dari ranjang.
Fella sedikit kesulitan saat akan meraih kota obat yang berada di atas lemari, sedikit berjinjit tapi ia tak juga dapat mengambilnya. Arska yang melihat kekasihnya kesulitan mengambil kotak obat segera berinisiatif untuk membatunya. Tepat di belakang Fella, Arska meraih kotak obat tersebut dengan mudahnya, Fella yang sedikit terkejut dengan kedatang Arska di belakangnya segera berbalik badan dan kini wajah mereka sangat dekat. Ini kali pertama mereka bisa saling tatap hingga sedekat ini setelah beberapa minggu mereka melakukan drama panjang yang sangat menjengkelkan. Jantung Fella berdetak dengan cepat, hingga wajahnya memerah saat mata hazel milik Arska terus menatapnya dengan lekat. Arska yang gemas melihat wajah Fella yang memerah segera mendaratkan bibirnya, satu kecupan mendarat di bibir milik Fella. Arska tersenyum puas dengan tindakannya itu.
"Arska..." ucap Fella yang masih memegangi bibirnya.
"Apa sayang?" suara Arska terdengar lembut.
"Nggak boleh lain kali kaya gitu."
"Itu hadiah buat aku karena udah bantuin kamu ambil kotak obat ini," tunjuk Arska menggunakan dagunya.
Fella melirik ke arah kotak obat yang masih di pegang Arska, segera ia mengambil alih dan menarik tangan Arska agar mengikutinya duduk di ranjang. "Nyari kesempatan banget sih" celoteh Fella.
"Tapi kamu nggak nolak," ledek Arska.
Fella memajukan bibirnya sambil mengobati luka di bagian pelipis Arska, dengan sangat hati-hati ia menempelkan kapas yang telah ia beri alkohol.
"Aw....pelan-pelan ya sayang," Arska mencoba memperingatkan kekasihnya.
"Ini udah pelan-pelan sayang," ucap Fella yang kini beralih fokus mengobati bibir Arska. "Bibir bagus kaya gini kenapa harus luka sih, dasar Alan sama Alex ngeselin. Wajah ganteng Arska harus bonyok gara-gara ketiga makhluk menyebalkan itu," batin Fella, sesekali ia meniup bibir Arska dengan pelan, hembusan demi hembusan terasa hangat keluar dari mulut Fella. Arska mencoba mengontrol detak jantungnya, mata yang tadinya menatap ke langit-langit ruang UKS sekarang beralih menatap ke arah Fella. "Mikirin apa sih yang?" tebaknya asal.
Fella segera mengangkat kepalanya. "Sayang banget kan ganteng-genteng gini harus bonyok," ucapnya dengan jujur, Fella segera membungkam mulutnya karena ia terlalu jujur.
"Ternyata kamu terpesona sama ketampanan aku," ledek Arska yang kini mendekatkan wajahnya ke depan wajah Fella.
"Stop...jangan ngeledek lagi, aku ngambek" ancamnya dengan kedua tangan yang mencoba mendorong dada bidang Arska agar wajahnya tak terlalu dekat lagi.
"Ia... ia sayang maaf.... jangan ngambek lagi ya," pinta Arska.
Fella tersenyum sinis mendapati kekasihnya begitu penurut, sebelum akhirnya ia melanjutkan mengobati kembali bibir Arska.
"Pelan-pelan sayang itu ada darahnya," rengek Arska.
Lagi-lagi Fella meniup pi sudut bibir Arska dengan pelan, Arska dapat merasakan hangatnya nafas Fella yang berada di bibirnya. Tak tahan dengan godaan tersebut Arska segera mengangkat dagu Fella dan mendaratkan ciuman di bibir Fella.
Dengan spontan Fella mendorong pelan dada bidang Arska karena kaget, tapi Arska tak rela melepaskan ciumannya hingga ia menarik paksa leher Fella agar bisa melanjutkan ciumannya. Sekitar lima menit Arska baru melepaskan ciumannya. "Maaf sayang khilaf," celoteh Arska.
Fella masih mematung dan memegangi bibirnya. "Tadi itu apa yang?" pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Fella.
Arska tersenyum simpul, sebelum akhirnya mengecup kening Fella. "Bukan apa-apa kok yang, vitamin buat aku biar cepat sembuh."
"Vitamin?".
"Kan bibir aku luka, jadi perlu vitamin ciuman dari bibir kamu biar cepat sembuhnya sayang."
"Itu mah alasan kamu buat nyari kesempatan lagi."
__ADS_1
Arska tersenyum lepas karena alasannya tak bisa di terima Fella. "Hehehe.... abisnya aku gemes ngeliat kamu, dan terlebih lagi aku kangen sama kamu sayang jadi nggak bisa ke kontrol," ucap Arska yang langsung mengusap-usap pucuk rambut Fella. Fella tersenyum simpul, Arska yang melihat seulas senyum muncul di bibir kekasihnya segera memeluk tubuh ramping Fella dengan eratnya.