
Brayu terbangun karena alarm ponselnya terus berbunyi nyaring. Mengumpulkan nyawanya yang masih tercecer di alam mimpi, lelaki itu mengulet untuk merenggangkan ototnya yang terasa kaku.
Bangun dari ranjangnya, disambarnya handuk yang ada di sandaran kursi, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket itu.
Selanjutnya, dia menjalankan kewajiban untuk sholat asar, kemudian merapikan pakaiannya dan keluar kamar. Jaket dan kunci motornya sudah di dalam genggaman. Menuruni anak tangga dengan ekspresi datar, ketika Jasmin keluar dari dapur, Jasmin melirik ke arah Brayu yang kini nampak terlihat rapi, namun wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.
"Mau kemana kamu?" tanya Jasmin dengan tangan yang membawa semangkuk mie, yang asapnya masih mengepul.
"Jalan. Suntuk di rumah terus," Begitu saja jawaban Brayu. Tak merasa perlu mengatakan panjang lebar tentang tujuannya kali ini, karena lelaki itu memang sudah sangat jenuh jika terus berlama-lama di rumah.
Dan itu membuat Jasmin komat kamit karena merasa sebal dengan sikap adiknya tersebut. Meskipun mereka adalah saudara kandung, tapi tak bisa di pungkiri kalau ikatan kakak beradik itu memang sangat kuat, jadi Jasmin mampu memahami setiap perubahan sikap yang di tunjukan oleh adiknya itu.
Brayu menyalakan mesin motor sportnya, memacu kuda besinya dengan kecepatan penuh, karena pikirannya saat ini sedang kacau. Berpikir jernih pun rasanya percuma, jika hatinya tak sinkron seperti saat ini.
Brayu tak tau arah dan tujuannya kali ini, hingga ia memilih memarkirkan motornya di sebuah kafe, yang kerap ia datangi bersama ketiga sahabatnya itu, berharap hatinya akan membaik jika ia memesan makan atau minuman favoritnya.
Sepeti biasa, ia memilih duduk di bangku paling pojok kanan. Di sana ia dapat melihat ramainya kendaraan yang berlalu-lalang, menurutnya tempat tersebut tak terlalu ramai dan jarang sekali ada pengunjung lain yang menyambahnya.
Menghela napasnya kembali, mencoba menetralkan setiap emosinya yang akan meluap. "Kenapa gue harus peduli!" gumamnya dalam keheningan.
Tak berselang lama, pelayan pun datang membawakan pesanan Brayu. Setelah mengucapkan 'terimakasih' pelayan itu pergi.
"Kenapa gue jadi nggak selera makan," ucapnya pada diri sendiri, lelaki itu kembali meletakan sendok yang tadi di pegangannya, bersandar di antara sandaran kursi, dan mulai meraih ponselnya.
Notifikasi chat, dan telpon, sudah banyak menumpuk di sana, yah... itu bukan dari Bella atau yang lainnya. Melainkan dari mantan kekasih lamanya yang beberapa hari ini terus mengganggu hati dan pikirannya.
"Gue udah bisa lupain lo! Kenapa lo harus hadir lagi, lo nggak capek apa? Gangguin gue mulu," gumam Brayu pelan sambil mengacak rambutnya karena merasa frustasi. Kini manik matanya melirik ke arah makanan yang hampir dingin itu, selera makannya makannya tiba-tiba menghilang.
"Buat apa gue mikirin dia lagi, lebih baik gue makan yang kenyang," ucap Brayu pada dirinya sendiri, merapikan rambutnya sejenak, dan meraih kembali sendok yang tadi sempat ia letakkan.
Suapan demi suapan, masuk ke dalam mulutnya. Memberi semangat untuk dirinya sendiri, agar tak larut dalam pikirannya yang kalbu.
Hingga sebuah kata-kata, terlontar dari mulut bibir gadis-gadis yang juga sedang menikmati makanan di tempat yang sama, mereka melihat ke arah Brayu dengan tatapan girang dan penuh minat mereka.
"Ganteng banget sih, gue pengen kenalan," kata gadis itu dengan kedua tangan berada di kedua pipinya.
__ADS_1
"Udah punya cewek belom ya? Kok gue pengen samperin ke sana, terus minta nomor ponselnya, kan lumayan kalau belom punya cewek. Bisa gue jadiin gebetan," lanjut teman yang satunya.
"Aduh... kalian tuh pada ngeributin apaan sih? Nggak bisa apa! Kalau nggak tenang sebentar aja. Kepala gue sakit, dengerin kelian ribut terus dari tadi." ucap salah seorang gadis yang duduknya membelakangi Brayu.
"Lo harus lihat itu, jangan asal ngomel kalau lo, belum liat yang satu ini," ucap salah seorang gadis yang menguncir rambutnya itu kesamping. Sambil mengarahkan tangan kanannya untuk memalingkan wajah gadis yang ada di depannya itu, ke arah Brayu.
Gadis itu melebarkan matanya dengan sempurna. Akhirnya, impiannya bertemu dengan Brayu terwujud juga. Sudah berhari-hari, ia terus memohon kepada lelaki itu untuk menemuinya. Namun, Brayu terus menolak, dengan berbagai alasan yang tak masuk di akal. Dan pada akhirnya, ia pun tak menyangka jika Tuhan mempertemukan mereka di tempat ini, secara tidak sengaja.
"Brayu," ucapnya dengan nada kegirangan, mata gadis itu terlihat berbinar saat menatap ke arah Brayu.
Brayu yang merasa ada yang memanggil namanya, sontak melihat ke arah sang pemanggil. Ia mengernyitkan keningnya. "Ara," ucapnya pelan, dengan tangan meletakan sendok di pinggir piringnya. Mulutnya sedikit terbuka, ia tak percaya jika gadis yang selalu di hindari-nya itu, justru akan bertemu dengan dirinya di tempat seperti ini. Gadis, yang membuat hati dan pikirannya kacau selama beberapa hari ini. Gadis, yang membuatnya dilema karena masalalu-nya yang sudah sangat lama sekali ia lupakan.
Gadis itu, menghampiri meja Brayu, dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat kegirangan. Tanpa punya rasa malu sedikit pun, ia langsung duduk tepat di hadapan Brayu. Mungkin ia lupa akan tindakannya yang dulu telah menyakiti perasaan lelaki yang sekarang ada di hadapannya itu, dengan cara berselingkuh dengan laki-laki lain, padahal Brayu sudah sangat mencintainya.
Gadis itu menopang dagunya menggunakan kedua tangannya. Mengembangkan senyum dengan ekspresi wajah sok imut, dengan di ikuti kedua temannya yang sejak tadi mengekor di belakangnya. Mereka merasa penasaran, dengan cowok yang sejak tadi mencuri pandangan mereka.
"Lo kenal cowok ini? Kenapa nggak bilang dari tadi. Gue hampir mati penasaran tau!"
"Tau nih, Ara. Punya teman seganteng ini, kenapa nggak kenalin ke kita," sahut teman yang satunya.
"Ya ampun. Kenapa kalian putus sih, sayang banget tau. Padahal kalian itu cocok loh," ucap gadis berambut sebahu itu.
"Kata Ara, lo nggak bisa move on ya dari dia," sahut teman yang satu.
Brayu masih terdiam, urung menjawab pertanyaan kedua gadis yang tak ia kenali itu. Ia melihat ke arah Ara dengan tatapan malas, selera makannya benar-benar hilang.
"Brayu.... kenapa kamu diem aja sih? Jawab dong pertanyaan mereka, jangan bikin aku malu," kata Ara, seraya menggoyang-goyangkan lengan Brayu agar segera meresponnya.
"Gue nggak kenal sama mereka, jadi buat apa gue jawab pertanyaan mereka yang nggak terlalu penting itu." wajah Brayu benar-benar datar, ucapannya pun terdengar pedas, hingga membuat kedua gadis tersebut mendengus kesal.
"Jangan gitu dong Bray, aku tau kok. Kalau kamu masih sayang sama aku, buktinya aja setelah putus dari aku, kamu frustasi dan memilih buat jadi play boy," ucap Ara, dengan bibir memaju. "Di lubuk hati kamu, masih ada aku kan Bray, jujur aja aku nyesel udah selingkuh dari kamu. Aku bener-bener minta maaf ya. Aku mau kita balikan lagi kaya dulu, please jangan tolak aku," lanjutnya masih dengan nada yang sama, raut wajah memohon-nya sangat terlihat jelas di sana.
Brayu masih terdiam, ia belum ada niatan untuk membuka suaranya. Yang ada di hatinya saat ini, hanyalah kekesalan yang kian menjadi dengan sikap menjijikan Ara yang ditunjukan dihadapannya saat ini.
Di sisi lain, Bella yang juga telah menikmati softdrink-nya di sana, tak sengaja harus melihat adegan menyebalkan itu. "Ck... kenapa gue harus lihat pemandangan kaya gini sih, ngerusak mood aja," gumamnya, tapi matanya tak mengalihkan pandangannya dari sana.
__ADS_1
Merasa tindakan gadis itu kian mengesalkan, dan terkesan memaksa Brayu agar membuka suaranya. Bella, kini menghampiri tempat duduk Brayu, dan ketiga gadis tersebut, entah sadar atau tidak dengan tindakannya itu. Yang pasti Bella melakukanya tanpa ada yang memintanya.
"Hay...lama ya nunggunya." sapa Bella, saat sudah berada di samping Brayu, dengan senyum mengembang di sudut bibirnya.
Telinga Brayu dapat mendengarnya, meski matanya masih melihat lurus ke arah Ara, tapi ia yakin betul kalau itu benar-benar suara Bella. Gadis yang selama ini telah mencuri hatinya. Gadis yang selalu ia kejar tanpa kenal lelah. Ia takkan pernah salah mengenali suara tersebut.
Ara mengernyitkan keningnya, matanya menyipit secara tiba-tiba, ekspresi wajahnya kini telah berubah menjadi sinis, saat melihat Bella berdiri tepat di samping Brayu. "Lo siapa? Dateng-dateng bikin mood orang rusak aja, sok-sokan kenal lagi," ucap Ara dengan ketusnya.
Bella tersenyum dengan manisnya, gadis itu tak mempedulikan tatapan ataupun ucapan Ara, yang ia tahu, Brayu saat ini sedang dalam keadaan tidak nyaman, kerena ulah gadis tersebut.
Bella tak menjawabnya, ia justru menyingkirkan tangan Ara dari tangan Brayu. Ekspresi cemberut di perlihatkan di depan Brayu, lelaki itu menyadari, jika Bella berniat untuk membatunya agar keluar dari cengkraman makhluk ya tak tau diri ini.
"Sayang, Jangan marah ya, karena aku telat datangnya," ucap Bella dengan ekspresi wajah yang sengaja di buat cemburu.
Brayu tersenyum dengan lebar, mendengar ucapan itu keluar dari mulut bibir Bella. "Kamu nggak perlu minta maaf sayang, harusnya aku yang minta maaf karena udah bikin kamu cemburu kaya gini," kata Brayu yang kini memilih untuk berdiri mensejajarkan dirinya dengan Bella.
"Sayang!" seru Ara, tak terima dengan panggilan tersebut.
"Dia cewek gue, gue udah lama move on dari lo. Jadi gue harap, lo jangan pernah ganggu gue lagi, karena gue nggak mau, kalau cewek gue ini ngambek!" jelas Brayu, yang kini berkesempatan untuk merangkul pinggang ramping milik Bella.
'Anjir... ini anak nggak tahu diri banget, udah gue bantuin malah nyari kesempatan, nyesel gue udah bantuin dia,' batin Bella, dengan memaksakan senyumnya.
Ara melebarkan matanya, tak percaya dengan ucapan Brayu barusan. Rasa percaya dirinya sungguh berlebihan.
"Tapi Bray, aku...." Ara tak sempat melanjutkan ucapannya, karena Bella terlebih dahulu memotongnya.
"Pacar gue, udah nggak mau denger kata-kata lo lagi! Kalau elo masih punya malu. Gue harap lo jangan ganggu hubungan orang lain, kecuali kalau elo emang mau jadi pelakor!" seru Bella, dengan nada mengejek.
Ara mulai geram, dengan ucapan pedas yang di lontarkan oleh Bella, sedangkan kedua temannya yang tak tau apa-apa hanya bisa berdiam diri tanpa ada niatan untuk membantu Ara.
"Kita, pulang aja yuk yang. Mood aku udah rusak, gara-gara ngeliat cewek ini terus gangguin kamu," ucap Bella, mulai merajuk. Sebenarnya ia sudah sangat risih dengan situasi ini, karena Brayu tak kunjung juga melepaskan tangannya dari pinggangnya. 'Rasanya, gue pengen nonjok muka ini orang, udah gue bantuin, malah makin jadi aja,' batin Bella, yang masih memaksakan untuk tersenyum.
Ara mengepalkan tangannya, saat di lihat Brayu benar-benar hanya melihat kearah gadis yang ada di sampingnya itu, tak ada cela untuk dirinya, dilirik oleh Brayu meski hanya sesaat saja.
Entah apa yang ada di otak Brayu saat ini, cowok itu terus menerus mengembangkan senyumnya, hati dan pikirannya terasa damai saat gadis itu terus menerus berpura-pura menjadi pacarnya. 'Gue harap suatu saat lo beneran jadi cewek gue Bel, bukan pura-pura kaya gini yang gue harap,' batin Brayu lagi. Hingga ia tanpa sadar mendaratkan bibirnya di kening Bella, dan membuat ketiga gadis itu irip setengah mati karena ulah lelaki tersebut.
__ADS_1
Bella melebarkan matanya, saat melihat tindakan tak senonoh Brayu terhadap dirinya, ia buru-buru menarik tangan Brayu agar meninggalkan tempat tersebut, tanpa sepatah kata pun ia lontarkan untuk berpamitan kepada ketiga gadis itu. Pikiran Bella saat ini adalah bagaimana cara ia menghukum Brayu atas tindakan tak terpujinya di depan umum. Niat baiknya justru di manfaatkan oleh lelaki tersebut.