
Di kantin kampus nampak Aldy dan Dilan sedang mem-bully Brayu, mereka terlihat sumringah saat Aldy menceritakan hal yang di alami Brayu semasa camping. Mantan play boy itu sempat kesal mendengar ucapan Aldy yang terus-menerus menggunjingnya.
"Bisa diem nggak mulut lo Dy! Gue sumpel pakai kaos kaki kalau elo nggak juga diem!" seru Brayu dengan mata melebar, tangannya sudah gatal ingin mencekik leher Aldy sekarang juga.
"Mulut gue nggak bisa ketutup rapet kalau itu menyangkut elo Bray, bawaannya pengen ketawa kalau keinget kejadian waktu itu," balas Aldy dengan tawa mengolok.
"Ya, karena mulut elo itu ember. Udah persis kaya mulutnya Faya, makanya kalian tuh cocok banget jadi pasangan."
"Ye... nggak usah bawa-bawa nama cewek gue juga kali Bray, dia nggak ada sangkut pautnya sama topik kita."
"Kenyataannya emang gitu, kalian pasangan paling suka ghibah plus mulut ember," sahut Dilan.
"Ye... nggak ngaca, elo sendiri juga ikutan ngebully, kenapa cuma gue yang di hakimi," protes Aldy dengan tangan menyambar muka Dilan dengan pelan.
Brayu menyandarkan kepalannya di sandaran kursi, matanya menatap langit-langit kantin, hembusan napasnya menandakan cowok itu sedang dalam keadaan bingung.
"Elo kenapa lagi Bray, cerita sama gue. Gue bisa ngasih solusi ke elo, di banding Aldy," ucap Dilan seraya menepuk bahu Brayu pelan.
"Gue nggak tau harus ngelakuin cara apa lagi, biar Bella tau tentang perasaan gue yang sebenarnya ke dia itu kaya gimana?"
"Tapi elo yakin nggak? Kalau Bella bakalan nerima elo suatu saat nanti?" tanya Dilan mencoba memastikan.
"Gue nggak tau Lan, gue ngerasa bingung, kadang ada rasa pengen nyerah, tapi kadang gue masih pengen perjuangin cinta gue ke dia..." Brayu menghela napasnya sesaat sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Menurut elo ada kemungkinan dia bakalan suka sama gue nggak?" tanya Brayu dengan muka melasnya, kini ia menatap lurus kearah Dilan.
"Ya menurut gue sih ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama Bella ada rasa sama elo, tapi dia gengsi mau bilang, kemungkinan kedua Bella emang nggak punya perasaan sama elo," ucap Dilan.
"Hah....ternyata pikiran elo sama gue itu nggak jauh beda," Brayu menghela napasnya dengan berat.
"Gue punya sedikit saran buat elo, terserah mau elo pakai apa enggak."
Brayu mengernyitkan keningnya, ia berharap saran yang di berikan oleh Dilan mampu membuatnya terus bersemangat mendapatkan cinta sejatinya, meskipun itu terasa sulit.
"Buruan ngomong, gue pengen dengar sekarang apa yang pengen elo kasih tau ke gue."
"Wow.... sabar dong, mantan play boy, nggak usah buru-buru gitu," ucap Dilan sesaat sebelum matanya berkeliling mengamati sekelilingnya, ia mendekatkan wajahnya ke arah Brayu dan berkata pelan. "Gue pernah baca novel, yang menggunakan teori lima detik, ya kemungkinan kecil, itu mungkin aja berhasil elo praktek-in buat ngetes gimana perasaan Bella ke elo."
__ADS_1
"Maksud elo? Gue masih belom paham, gue nggak bisa mencerna ucapan elo barusan."
"Kalau si Bella natap elo lebih dari lima detik, cuma ada dua kemungkinan. Yang pertama, dia marah sama elo. Dan yang ke dua, dia jatuh cinta sama elo."
"Teori macam apa? Yang elo kasih ke gue? Atau jangan-jangan lo pengen ngeliat gue bonyok di hajar sama Bella!"
"Teori lima detik, yang pernah gue baca dari novel karya apit suzhi, dan gue praktek-in langsung buat luluhin hatinya Regina. Kenyataannya memang berhasil."
"Anjay... elo cowok suka juga baca novel romansa kaya gitu, kenapa gue jadi merinding dengernya," sahut Aldy seraya mengebrak meja, suaranya cukup keras hingga melengking di telinganya.
"Monyet... kalau mau jatuhin sahabat elo sendiri! Nggak perlu pakai acara teriak-teriak biar semua penghuni kantin di sini dengar. Gue nggak suka sama cara lo! Kalau elo masih teriak-terik kaya tadi, gue nggak janji bakalan bawa lakban kemana-mana buat ngelem mulut elo," balas Dilan dengan mata penuh kekesalan.
"Ups .... sorry Lan, gue cukup syok, setelah tau kalau elo demen banget baca-baca novel ke cewek-cewek-an kaya gitu," balas Aldy yang segera menutup mulutnya rapat.
Brak.....
Suara tangan Brayu mengebrak meja. Membuat mata Dilan dan Aldy mengarah ke pada dirinya.
"Kesambet setan apa lo Bray? Ikutan gebrak-gebrak meja?" tanya Dilan, lelaki itu cukup terkejut dengan apa yang di lakukan Brayu, tangan kanannya terus memegangi dadanya yang bidang.
"Itu mantan play boy, nggak bisa-biasanya pakai saran dari orang lain, apa mungkin dia udah putus asa sampai dia mau nurutin saran dari elo," ujar Aldy sedikit terheran.
"Ya, setiap orang pengen ada perubahan di dalam hidupnya, mungkin aja itu berlaku juga buat Brayu."
Aldy manggut-manggut memahami ucapan Dilan yang baru saja ia dengar, tak mau terlalu lama meladeni kekonyolan Aldy, Dilan segera pamit.
"Gue cabut dulu, takutnya Regina kelamaan nunggu gue," kata Dilan seraya meninggalkan tempat duduknya.
"Ya..." jawaban singkat yang di berikan oleh Aldy, sebelum akhirnya ia menyadari jika kedua sahabatnya itu belum ada yang membayar makanan dan minuman yang mereka pesan tadi.
"Lan.... elo belom bayar," teriaknya memenuhi seluruh kantin yang cukup luas.
Dilan tak menoleh, ia justru semakin mempercepat langkahnya.
"Sial... duit gue buat traktir Faya malah berkurang gara-gara dua mahluk yang nggak bertanggung jawab itu," gerutu Aldy pelan, sambil memandang uang yang sekarang berada du tangannya itu.
__ADS_1
...°•°Cinta Untuk Fella°•°...
Sesampainya di kelas, Brayu buru-buru menghampiri Arska.
"Dari mana aja lo? Kenapa baru nongol?" tanya Arska, saat melihat Brayu baru memasuki kelas dan duduk di sebelahnya.
"Dari kantin, ngisi tenaga," balasnya.
"Muka lo, keliatan seneng banget? Abis dapet gebetan baru?" tanya Arska sekali lagi, lelaki itu sempat melirik kearah Brayu, sebelum matanya kembali di sibuk oleh buku-buku yang sejak tadi di bacanya. Tangannya aktif membolak-balikan buku tersebut.
"Nggak ada gebetan baru! Gue masih setia sama Bella, gue cuma mau praktekin teori yang di kasih sama Dilan."
"Teori yang di kasih Dilan? Tumben elo mau denger nasehat sahabat elo."
"Siapa tau teori yang di kasih Dilan mujarab, jadi nggak ada salahnya gue coba teori dari dia."
Arska menghentikan aktifitas membacanya, ia menoleh ke arah Brayu. Begitu ingin taunya dia akan teori yang di berikan oleh Dilan, hingga Brayu mau memakai teori tersebut.
"Teori apa yang di kasih Dilan?" tanya Arska masih dengan rasa penasarannya.
"Teori lima detik," jawabnya singkat.
"Teori lima detik," ulang Arska merasa tak mengerti.
"Kata Dilan, kalau Bella tatap gue balik selama lima detik lebih. Ada kemungkinan kalau dia juga jatuh cinta sama gue. Sebenernya gue juga nggak terlalu yakin, tapi gue juga penasaran sama teori lima detik yang di kasih tau sama Dilan."
"Gue nggak perlu pakai teori itu buat dapetin Fella," ucap Arska dengan sombongnya.
"Anjir... elo ngeledek gue, Fella sama Bella itu beda, Fella lebih ke feminim jadi gampang dapetin hatinya. Lah Bella, dia lebih keras kepala, dia tomboi," jelas Brayu.
"Ya... ya... gue tau akan hal itu, dan gue juga heran kenapa elo bisa suka sama cewek keras kepala itu. Dan biasanya lo itu ngincer cewek yang lebih feminim."
"Masalah hati mana gue ngerti Ka, perasaan itu muncul dengan tiba-tiba. Dan gue juga ngerasa Bella itu cewek yang beda dari semua cewek yang pernah gue pacarin, walau pun di tomboi ada sisi spesialnya."
"Semoga lo beruntung, semoga si batu akik cepat luluhnya, gue cuma bisa kasih doa." Arska kembali meneruskan aktifitas membacanya, yang tadi sempat tertunda.
__ADS_1
Brayu menggaruk kepalanya yang tak gatal, cukup lucu jika di pikirkan. 'Teori lima detik, apa mungkin,' pikir Brayu dengan senyum sinis-nya. Jika di pikir-pikir memang lucu teori tersebut, namun apa salahnya mencoba, toh... siapa tau berhasil.