Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Menyelesaikan Maslah


__ADS_3

Bella menyincingkan matanya, mengetahui ada beberapa mobil mewah yang sudah terparkir rapi di halaman rumah lelaki tersebut. Gadis itu buru-buru membuka pintu mobilnya. Berharap jika Brayu atau kak Jasmin baik-baik saja. Hingga ia menghentikan langkah kakinya saat melewati mobil yang tak terlalu asing baginya. "Kaya pernah lihat, tapi dimana? Terus mobilnya siapa?" gumamnya pelan. "Ck... bodoh amat ah... Apa urusannya sama gue!"


Merasa acuh tak acuh melihat mobil tersebut Bella segera melangkahkan kakinya kembali, untuk memasuki pintu utama ruang tamu. Namun, di saat Bella akan memegang handel pintu, tiba-tiba Jasmin terlebih dahulu membuka pintu tersebut dari dalam. Membuat Bella memundurkan kakinya selangkah. Jasmin yang melihat kedatangan Bella begitu terkejut, pasalnya ini sudah terlalu larut malam, dan gadis itu datang ke rumahnya dalam rangka apa?


"B-Bella, k-kamu kenapa? Kesini malam-malam," ucapnya dengan nada gugup.


"Bella, kesini buat cari Brayu kak, ada suatu hal yang pengen Bella omongin ke dia," balasnya, dengan kening mengernyit. 'Kak Jasmin kenapa kelihatan panik kaya gitu sih? Ada masalah apa? Penampilannya juga, rapi banget,' pikir Bella sesaat.


"Kakak, kenapa kelihatan gugup kaya gitu? Terus kakak mau kemana? Malam-malam dandan rapi kaya gini?" segudang pertanyaan terlontar dari mulut bibir gadis tersebut. Daripada ia hanya memikirkannya, lebih baik ia bertanya langsung, prinsip Bella selalu seperti itu.


Jasmin menoleh sesaat, memastikan situasinya aman atau tidak. Setelah merasa aman. Jasmin segera menarik tangan Bella agar menjauh dari tempatnya saat ini.


"Loh... kenapa nggak masuk aja sih kak? Kenapa harus bawa aku pergi?" tanyanya saat mengetahui Bella terus menarik tangannya agar menjauh dari depan pintu.


Jasmin menghentikan langkah kakinya. Kemudian ia membalikkan badannya, karena merasa malu dan tak tau harus berbuat apa? Gadis itu sedikit menundukkan wajahnya. "Brayu mau nikah Bel. Ini semua salah kakak yang nggak bisa ambil keputusan dengan tepat."


"Maksud kakak?" tanya Bella sedikit syok, gadis itu semakin kebingungan dengan situasi yang sedang di alami Brayu dan Jasmin saat ini.


"Brayu harus menebus, hutang-hutangnya Om Ridwan. Papa tiri aku, Bel."


"Menebus? Artinya Brayu hanya di jadiin sebagai..." Bella tak melanjutkan kata-katanya, gadis itu langsung berbalik badan dan berlari menerobos masuk kedalam rumah. Membuat Jasmin kebingungan hingga mengejarnya.


Di dalam rumah, Bella semakin melebarkan matanya, mendapati Priska di antara orang-orang tersebut. Namun, ia tak menemukan keberadaan Brayu.


Bella mengelus dadanya pelan namun berulang-ulang, mengontrol semua emosinya yang siap meluap-luap. Gadis itu berjalan dengan santainya, dan segera duduk di sofa setelah mengucapkan salam.


Membuat Ridwan dan Jeny terheran-heran dengan sikap Bella yang begitu berani. Jasmin segera menghampiri Bella, dan berniat untuk mengajaknya pergi dari tempat itu.


"Ini urusan orang tua Bel, kita ke belakang aja ya!" perintah Jasmin sambil menarik tangan Bella.


Bella masih tetap bertahan, ia justru menarik tangan Jasmin, agar ikut duduk dengannya.


"Bella nggak akan kemana-mana kak, Bella mau pertahanin Brayu!" ucapnya tak kalah tegas. Gadis itu langsung melihat ke arah Ridwan dan Jeny secara bergantian. 'Jadi mereka, orang tua yang sering di ceritain sama Brayu. Om Ridwan dan Tante Jeny,' batinya.


"Wow... berani sekali kamu nak! Kamu tidak tau mereka dari keluarga terpandang," sambung Ridwan, yang sejak tadi memperhatikan kelakuan Bella, sedangkan gadis itu terus menatap kearahnya.


"Untuk apa saya takut dengan mereka. Toh... mereka juga manusia seperti saya, sekalipun mereka dari keluarga terpandang pun, saya tetap tidak akan takut," balas Bella dengan bersedekap dada, dan melihat ke arah Priska dan Rio.


"Kamu lancang sekali ya nak. Sama seperti anak tiri saya yang tak tahu diri itu! Yang sebentar lagi akan segera menikah dengan nona Priska," kata Ridwan, dengan menunjuk kearah gadis tersebut dengan wajah bangganya.


Bella tersenyum sinis, tak ada rasa takut sedikit pun di dalam matanya. "Brayu, tidak akan menikah dengan siapa pun! Kecuali dengan saya!" serunya sedikit membentak, kali ini dia tidak akan melepaskan Brayu begitu saja. Gadis itu benar-benar sudah mencintai lelaki itu.


Priska mengepalkan tangannya, ia sudah tidak tahan dengan segala ucapan yang terlontar dari mulut bibir, saingannya itu.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu! Mereka adalah pemilik perusahaan Alves, jika Brayu tidak menikah dengan nona Priska. Maka Jasmin harus rela menikah dengan tuan Rio, serta rumah ini harus di jual! Apa kamu tidak memikirkannya terlebih dahulu sebelum berucap!"


"Ini harusnya tanggung jawab Om kan! Kenapa harus di limpahkan kepada mereka. Kalau Om punya kaca di rumah, sebaiknya Om mulai berkaca dan introspeksi diri!"


Ridwan ternganga, mendengar sikap berani gadis yang sekarang ada di hadapannya itu. Sedangkan Rio masih tertunduk, mendengarkan setiap ucapan Bella. Lelaki paruh baya itu menelan saliva-nya berkali-kali. Ia tak akan pernah menyangka jika anak Rahendra itu, akan dengan mudahnya memergoki kelakuan liciknya seperti ini.


Ridwan menggebrak meja dengan sangat kerasnya, sehingga menimbulkan bunyi yang terdengar sampai ke dalam kamar Brayu, membuat lelaki itu harus keluar kamar dan turun dengan tergesa-gesa, ia takut jika Ridwan melakukan sesuatu dengan sang kakak. Karena sejak tadi dirinya tak mau turun untuk menemui Priska. Sampai diakhir tangga, Brayu menghentikan langkahnya, ketika mendengar suara yang sangat ia kenali telah berdebat dengan Ridwan.


"Percuma kamu ngotot inginkan Brayu! Karena anak itu akan segera menikah dengan nona Priska!"


"Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi! Jadi bermimpi-lah. Tuan Ridwan yang terhormat!" Gadis itu masih dengan santainya berbicara, sedangkan Jasmin masih tertunduk karena takut.


Priska yang sudah tersulut emosi sejak tadi pun, akhirnya membuka suaranya. "Cukup! Untuk, omong kosong elo yang nggak penting itu! Mereka punya hutang banyak sama Ayah! Dan mereka sebagai jaminannya!" serunya dengan nada tinggi, jari telunjuknya menunjuk lurus ke arah Bella. Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga otot-ototnya terlihat sangat jelas.


Bella beralih padang, menatap lurus ke arah Priska. Ia bertepuk tangan dengan tindakan Priska yang begitu berani. "Wow.... Tuan Rio, akhirnya putri anda membuka suara juga, saya sejak tadi menginginkan hal itu," ucapnya dengan nada mengejek.


Sekali lagi Ridwan tercengang. Bahkan Jeny dan Jasmin pun juga harus mengangkat kepala mereka agar bisa menatap kearah Bella.


"Tutup mulut lo! Gue yang ngomong sama elo! Bukan bokap gue!" seru Priska.


Bella beranjak dari tempat duduknya, masih dengan bersedekap dada. Gadis itu masih menetralkan agar tak tersulut emosi. "Tuan Rio yang terhormat! Bisakah Anda, mengajari anak Anda untuk tidak bersikap angkuh! Mereka bukan barang yang dengan mudahnya di tukar dengan uang yang Anda miliki. Bahkan, harusnya Anda berkaca terlebih dahulu, Anda sudah memiliki istri lebih dari lima! Apakah masih kurang? Dan, Kak Jasmin, terpaut umur yang sangat jauh berbeda dari Anda bukan? Harusnya, Anda yang lebih tua ini tidak memaksakan kehendak Anda, untuk menikahi daun muda bukan?" tanya Bella, gadis itu terkesan sangat menghina Rio.


Ridwan menunjuk ke arah Bella dengan murkanya. "Kamu begitu berani menentang tuan Rio dan nona Priska! Memang kamu pikir. Siapa diri kamu, bisa seenaknya berbuat semacam itu! Kamu hanyalah gadis miskin yang tak tau caranya berpenampilan dengan benar.


"Ada yang salah dengan penampilan saya?"


"Tentu saja! Karena kamu tak sebanding dengan mereka!"


Bella hanya manggut-manggut. 'Jadi, dia hanya menilai orang, dari penampilan luarnya saja! Lihat saja, habis ini. Anda akan berlutut di depan saya!' batin Bella degan hati yang menggondok.


Jari-jari Rio rasanya mati rasa, keringat dingin bercucuran di sela-sela jarinya. Lelaki paruh baya itu masih tertunduk dan tak berani menatap kearah Bella.


"Cukup omong kosong kamu nak! Saya tak ingin mendengarnya lagi!" Ridwan masih dengan angkuhnya menentang Bella. "Dan untuk kalian! Seret sekarang juga gadis ini dari pandangan saya!" ucap Ridwan kepada beberapa bodyguardnya.


"Papa, jangan terlalu kasar, dia hanya gadis kecil," ucap Jeny mencoba menghalangi.


"Tante tenang saja, saya bukan gadis lemah!" serunya.


Tanpa nanti-nanti, kedua bodyguard Ridwan segera menghampiri Bella. Brayu ingin menghampiri namun kakinya tertahan. Gadis itu merenggangkan jari-jarinya, sebelum memulai aksinya. Ketika kedua bodyguard tersebut tepat di hadapan Bella, gadis itu menjauh terlebih dahulu, agar tak ada orang lain yang terluka.


Jasmin merasa jantungnya akan copot, karena ia takut Bella akan kenapa-napa. Namun anak Rahndra Moregan itu, tak pernah takut akan situasi sepele seperti sekarang ini, ia sudah sering bertarung menghadapi musuhnya. Tak perlu waktu lama untuk membereskan kedua bodyguard tersebut. Brayu masih berdiri di tempatnya, rasa kesemutan di kakinya semakin menjalar ke seluruh tubuhnya, hingga ia bingung harus berbuat apa?


"Hal kecil seperti ini, terlalu mudah untuk saya om. Saya sudah terlatih!" ucapnya dengan senyum menyeringai. Bella kembali ke posisi semula.

__ADS_1


Ridwan tak bisa berkata-kata lagi, lelaki itu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Sedangkan Jasmin memegangi Bella, ia takut jika gadis itu sampai terluka. Jika melihat postur tubuh dari kedua bodyguard yang begitu kekar itu, saat menyerang tubuh mungil gadis tersebut, mungkin akan meninggalkan luka lebam di sekujur tubuh, namun luka itu tidak ada sama sekali di tubuh Bella.


Sejenak Bella melihat kekhawatiran Jasmin dari sikapnya yang terus memeriksa seluruh tubuhnya dengan teliti.


"Bella nggak papa kak, kakak nggak perlu khawatir," ucapnya. Kemudian beralih pandang menatap Rio. "Tuan Rio yang terhormat, bolehkan saya berunding sejenak dengan anda."


"S-saya... m-minta maaf, dengan semua kekacauan ini non Bella. Saya, juga meminta maaf akan kelancangan anak saya," suara Rio terdengar gagap, bahkan Badannya sudah mengeluarkan keringat.


"Tuan Rio. Kenapa anda bersikap sopan terhadap gadis miskin ini?" tanya Ridwan, merasa heran dengan sikap tunduk Rio.


Rio tak menjawabnya, justru Priska semakin menjadi-jadi dengan mencaci Rio sesuka hatinya. Melihat tindakan ayahnya yang begitu lemah jika di hadapan Bella.


"Priska, nggak ngerti sama jalan pikiran ayah!" sentak-nya.


"Percuma, kita menentang keluarga Rahendra! Kita tidak akan menang melawan mereka! Yang ada hanyalah perusahaan ayah akan hancur dalam hitungan detik!" seru Rio, dengan menatap tajam ke arah Priska.


Bella melihat kedua anak dan ayah tersebut saling beradu mulut, sedangkan Ridwan dan Jeny masih mencerna semua ucapan mereka, karena mereka memang tak mengetahui apa-apa.


"Tuan Rio, saya tidak ingin berbicara panjang lebar mengenai masalah ini. Yang saya minta hanyalah rumah ini tidak akan di jual, kak Jasmin tidak akan menikah dengan anda! Dan Brayu akan tetap menjadi milik saya! Karena saya akan menikah dengan dia secepatnya! Jadi untuk lebih lanjutnya, biarkan Daddy berunding dengan anda lain waktu. Saya tidak ingin semua masalah ini selesai dengan tidak baik!" seru Bella menekankan setiap perkataannya. Ucapan yang katanya tak akan panjang lebar pun, akhirnya menjadi terlalu lebar.


"S-saya mengerti non, saya pamit," katanya yang langsung menarik tangan Priska agar mengikuti langkah kakinya, namun gadis itu masih tak terima dengan kekalahannya saat ini.


Setelah kedua manusia itu pergi, Jasmin mulai memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa, tuan Rio begitu sungkan sama kamu Bel?" tanyanya, karena memang penasaran.


"Maaf ya kak, jika aku nggak jujur sama kak Jasmin masalah identitas asli aku. Aku anak dari Rahendra Moregan kak."


Jasmin memundurkan tubuhnya sedikit, gadis itu nampak terkejut. Pasalnya Bella terlihat hanyalah seorang anak orang kaya yang biasa saja, bahkan hampir setiap hari Bella meminta makan di rumahnya, sampai setok beras di rumahnya pun habis karena kerakusan gadis tersebut. Jasmin benar-benar tak menyangka-nya.


"Kak Jasmin nggak perlu takut, Daddy orangnya baik kok. Nggak seperti apa yang di beritakan, bahkan Brayu udah deket banget sama Daddy and Mommy."


Jasmin mengangguk. Wajahnya masih terlihat syok. "Lalu, kenapa kamu ingin menikah dengan Brayu, sedangkan kamu nggak mencintainya? Kakak sering ngeliat kalian berantem dan nggak akur."


Brayu melebarkan telinganya, mendengarkan dengan seksama. Apa yang akan di ucapkan oleh gadis pujaannya tersebut.


"Karena aku udah mulai sayang sama Brayu kak. Beberapa hari ini, aku ngerasa kehilangan sosok dia. Ya... meskipun terlihat konyol, tapi aku nggak akan ngelepas Brayu gitu aja ke-tangan mereka kak," balasnya dengan melihat ke arah Ridwan dan Jeny.


Jasmin baru sadar, jika masih ada kedua orang tua, yang tertunduk dan mendengarkan penjelasan Bella.


"Aku harap kedepannya, om Ridwan dan mama Jeny. Tidak lagi mengganggu ketenangan Jasmin dan Brayu lagi! Karena masalahnya sudah jelas dan tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, om Ridwan dan mama Jeny. Silahkan pergi!" seru Jasmin dengan sikap dinginnya.


Merasa tak akan menang melawan Jasmin, kedua orang tua itu menurut. Mereka meninggalkan rumah tersebut, dengan segala kegelisahan yang siap menghantui.


Kedua gadis itu saling berpelukan, namun berbeda dengan Brayu yang justru berlari keluar rumah, setelah mendengar pengakuan Bella. Entah hatinya merasa bahagia atau bimbang. Membuat Bella kebingungan dan langsung mengejar lelaki tersebut.

__ADS_1


__ADS_2