
Bella mengejar Brayu sampai di halaman rumahnya, namun lelaki itu sudah tak terlihat batang hidungnya. Begitu cepat larinya hingga, Bella kehilangan jejak lelaki tersebut.
"Kemana sih, tuh anak," gumamnya dengan mata sibuk mengamati sekelilingnya.
"Gue harus temuin dia! Pokoknya harus! Dia pasti salah paham sama ucapan gue barusan, duh... bego banget sih, kenapa nggak mikir sampai sejauh itu!" kata-kata itu di tekankan untuk dirinya sendiri. Sambil terus mencarinya, Bella merelakan untuk berjalan kaki.
Hingga gerimis tiba-tiba datang, pandangannya menjadi kabur, karena memang sudah terlewat malam. Menelusuri jalanan, yang tersorot oleh lampu-lampu pinggir jalan. Diiringi udara dingin yang merusuk kedalam tulang-tulangnya, sambil terus memegangi kedua sikunya. Bella terus berjalan, menyusuri jalanan yang sudah teramat sepi itu.
"Astaga! Itu anak kemana? Ini mau hujan lagi," keluhnya masih dengan memegangi sisi sukunya. Sepertinya gadis itu mulai kelelahan, dan berniat mengurungkan niatnya untuk mencari Brayu. "Capek gue lama-lama, main kucing-kucingan di tengah malam. Rese banget tuh cowok," gumamnya seraya berbalik badan.
Dari arah berlawan, terlihat mobil berwarna merah telah mengarah kepadanya. Bella berteriak dengan sangat keras, sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Namun, sebuah dorongan, mendorongnya dengan sangat kuat, hingga ia bisa terhindar dari mobil tersebut.
Bella membuka matanya, merasakan tubuhnya terhuyung di dalam dekapan seseorang. "Lo nggak papa kan Bel?" tanya dengan suara serak.
Bella dapat menghafalkan suara tersebut, wajah gadis itu langsung terangkat, menatap tepat ke arah wajah lelaki yang sudah menolongnya barusan.
"Brayu..." ucapnya dengan tubuh masih menindih lelaki itu.
Mereka terguling sampai ke pinggir jalan, mungkin luka lecet yang di terima dari kedua remaja tersebut. "Iya, ini gue. Siapa lagi yang bakalan jadi dewa penolong elo, kalau bukan, calon suami lo ini!" seru Brayu.
Gadis itu melebarkan matanya, memukul pelan dada bidang milik Brayu. "Siapa juga yang mau jadi istri, elo!"
"Gue udah denger obrolan elo tadi. Kata-kata elo nggak boleh di tarik lagi, apa yang elo ucapin udah gue pegang."
"Terus kenapa elo lari! Jahat banget," katanya sambil menekan dada Brayu, membuat lelaki itu mengaduh, karena rasa sesak di dadanya mulai terasa.
"Bisa, turun dulu dari atas gue nggak Bel. Gue sesek nggak bisa napas." Brayu mencoba mengingatkan.
Menyadari maksud ucapan Brayu, gadis itu langsung berusaha berdiri, menggeser tubuhnya. "Kenapa lo lari tadi?" tanyanya sekali lagi, dengan wajah yang tertunduk. Gadis itu sudah membenarkan tubuhnya.
"Kenapa lo jadi sedih? Kalau elo, beneran sayang sama gue. Tatap mata gue!" perintah Brayu.
Bella masih menundukkan wajahnya, menelan saliva-nya beberapa kali. "Jangan lihat gue, gue, terlalu menyedihkan, buat mengakui kalau. Kalau. Kalau gue bener-bener jatuh hati sama elo! Elo pasti, kecewa kan, gara-gara keegoisan gue. Makanya elo milih lari, dari pada nyamperin gue."
Di saat Bella sedang meratapi kesedihannya, Brayu justru tertawa tanpa ada rasa bersalah sedikit pun, sampai matanya berair. Lelaki itu, memegangi perutnya. Bella benar-benar salah sangka terhadapnya.
"Kenapa elo ketawa? Nyesel gue, udah sedih kaya gini," ucapnya dengan nada sewot.
__ADS_1
Brayu menghentikan tawanya, dan berkata. "Gue beli nasi goreng kesukaan elo. Gue tau habis lo marah-marah kaya tadi. Pasti elo kelaparan." jelasnya.
Bella langsung menutupi wajahnya, di sana sudah terlihat dengan jelas, jika wajahnya gadis tersebut sudah merah merona.
"Makasih ya, elo udah mau berjuang demi gue. Gue terharu banget," kata lelaki itu sambil menarik lengan gadis tersebut. "Gue sayang sama elo, Bel."
"Gue nggak sayang sama elo! Gara-gara elo, gue hampir ketabrak mobil tadi!" serunya.
"Hehehe.... maaf Bel, nggak ada maksud, yang ada di pikiran gue tadi itu. Elo abis marah-marah pasti laper berat. Ya udah gue langsung beli nasi goreng kesukaan elo."
"Tau ah... ngeselin!" serunya, gadis itu langsung berdiri dan berjalan dengan kaki tertatih.
Brayu masih di posisinya, lelaki itu memandangi punggung Bella, seulas senyum terbit di sana. Setelah puas memandangi punggu Bella. Brayu berlari, agar tak tertinggal oleh langkah Bella yang semakin menjauh darinya, meski kakinya juga merasakan sakit. Brayu tanpa ragu-ragu langsung membopong Bella, tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadanya. Teriakan Bella meluas, membuat siapa pun yang mendengarnya, pasti akan merasakan merinding luar biasa.
"Turunin gue! Gue kaget gara-gara ulah elo ini!"
"Gue nggak mau turunin elo! Ya kali, gue mau lepasin elo gitu aja." goda Brayu.
"Huft.... kenapa gue jadi nyesel, setelah bilang jujur ke elo!"
"Lebih nyesel lagi, kalau elo kehilangan gue buat selamanya!"
"Hemmm... iya-iya, itu nggak akan pernah terjadi. SAYANG."
"STOP! BRAYU!! Berhenti ngegodain gue!" teriaknya.
Brayu nampak bahagia, ia pikir, ini semua tak akan pernah. Namun kenyataannya ia sekarang merasakan bahagia yang luar biasa. Ya, meskipun Bella tak ingin membeberkan hubungan di antara keduanya, setidaknya ia masih mendapatkan kepercayaan Bella untuk menjaga hatinya.
Di rumah Brayu.
"Tahan sedikit, jagoan kok ngeluh," ucap Brayu saat mengobati luka kekasih barunya itu, yang sebentar lagi mungkin akan menjadi halal.
"Tapi itu, perih tau! Kalau nggak ikhlas mending gue sendiri aja yang obatin."
Jasmin di buat geleng-geleng kepala oleh keduanya. 'Sampai kapan mereka tak berlagak seperti anak kecil' pikirnya sejenak. "Kalian makan gih, kakak mau ke kamar dulu, capek," ucapnya sambil meletakkan dua piring nasih goreng tepat di depan kedua remaja tersebut.
"Bray, suapin gue dong, gue lapar banget," katanya.
__ADS_1
Brayu menuruti permintaan Bella, dengan sabarnya lelaki itu menyuapi gadis tersebut, sedangkan perutnya sendiri pun belum terisi dari siang tadi.
"Makasih ya, udah mau perhatian sama gue," ucapnya, masih dengan mulut mengunyah.
"Kenapa? Harus sungkan, lagian kita udah jadian kan."
"Kapan? Emang gue bilang setuju?"
"Ck.... ya udah, besok langsung nikah aja," ucap Brayu dengan wajah tertekuk, walaupun sebetulnya ia sangat bahagia.
Bella mencebirkan bibirnya, lagi dan lagi Brayu mengingatkan akan hal itu. Namun yang namanya Brayu, tak ada kata lain selain menggoda Bella.
...•°•Cinta Untuk Fella°•°...
Priska tak bisa membendung emosinya, gadis itu membanting semua barang-barangnya berharga milik ayahnya ketika sampai di rumah.
"Ayah kenapa diam! Dia begitu bahagianya dapetin apa yang dia mau! Sedangkan aku? Harus merima setiap kekalahan!" serunya.
"Maafin, ayah sayang, ayah bukannya tidak ingin membela kamu. Jika ayah melawannya, perusahaan akan jatuh bangkrut dalam hitungan detik, ayah nggak mau kamu hidup susah. Mengertilah dengan keadaan ayah nak."
Mendengar ucapan Rio, rasanya Priska belum puas, gadis itu terus mengamuk, dan membanting vas, vas antik milik Rio.
Prang....prang...prang...
"Ternyata ayah nggak berguna! Priska nggak pernah menang ketika berhadapan dengan Bella! Dia selalu buat aku malu!" serunya, dengan melempar guci ke sembarang arah. Napasnya naik turun hingga membuatnya semakin tak karuan.
Mungkin memang benar yang di katakan oleh mendiang istrinya terdahulu, Rio terlalu memanjakan sang anak, hingga lupa akan batasannya. Bahkan semua istrinya pun tak ada bisa mengatur tingkah buruk anaknya. Hingga dia sudah dewasa pun, tindakannya semakin ekstrim bahkan, emosionalnya semakin meningkat saat keinginannya tak bisa ia dapatkan.
"Sayang, dengarkan ayah. Turunkan tingkat obsesi kamu buat jatuhin Bella. Karena kita tak akan pernah bisa melawan keluarga Rahendra!" seru Rio sedikit menekankan kata-katanya.
"Gara-gara ayah! Rencana aku semuanya berantakan, bahkan anak mu ini di buat malu oleh gadis sialan itu! Harusnya ayah, belain anak mu ini!"
Disisi lain, dua istrinya sibuk mengintip kedua orang anak dan ayah itu. "Lama-lama, aku, pengen pergi dari rumah ini juga. Capek, tiap hari ngeliat mereka kaya gitu terus," celoteh Maya, istri kedua Rio.
"Sama, setiap hari. Pecahin barang, lama-lama bapaknya bangkrut gara-gara ulah anaknya," sahut istri termuda Rio, yang bernama Marni.
"Mending kita balik ke kamar aja, kalau anak tiri kita ngeliat, kita baru ngintip. Bisa-bisa semua prabotan di lempar ke arah kita," ucap Maya yang langsung menarik tangan Merni.
__ADS_1
Rio termenung, dengan wajah pucat pasif. Lelaki paruh baya itu bingung bagaimana cara menghadapi kelakuan buruk anaknya itu. Ia ingin sekali marah, namun ia juga tak tega. Dia anak satu-satunya yang ia miliki, karena sikap labil dan obsesinya terlalu tinggi.