Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Belajar Bersama


__ADS_3

Wajah Faya terlihat sumringah dari tadi pagi, tatapannya terus mengarah ke layar ponsel miliknya tanpa sedetik pun mengalihkan pandangan dari sana.


"Yang punya pacar baru langsung mendadak gila," celoteh Bella yang sek dari tadi mengamati tingkah Faya.


"Nggak cuma gila bel, ini namanya bahagia yang hakiki," balasnya tanpa melihat ke arah Bella.


"Nggak bilang-bilang lagi yang udah jadian, pantesan aja kaya ada yang di sembunyi-in ternyata bener ada," lanjut Fella.


"Tau ni nggak setia kawan banget, punya berita bagus malah main rahasiaan ngeselin."


"Aduh duh..duh.. kalian tuh kenapa sih pada cerewet, susah banget apa ngeliat sahabat lo sendiri bahagia kaya gini," protes Faya.


Bella segera meraih benda pipih yang sek dari tadi memalingkan pandangan Faya.


"Yah... Bella gue belom sempet bales chat dari kak Aldy," ucap Faya dengan tangan yaang mencoba mengambil balik barang miliknya itu.


"Nggak sampai elo cerita dengan detail, kapan elo jadian sama Aldy nya. Disini jadi cuma gue yang jomblo."


"Lah... salah sendiri nggak nerima Brayu, kan lumayan elo nggak jadi obat nyamuk kalau kita lagi kumpul," cibir Faya dengan bibir bebeknya.


"Lagian Aldy emangnya nggak belajar, atau cuma ngandelin cowok gue buat nyobtek," cecer Fella meledek.


"Dia belajar kok ini.. baru pamitan."


"Jangan di ganggu fay, dia besok ujian eli nggak mau apa dia dapet nilai bagus buat ngelanjutin kuliah," ucap Bella menasehati.


Faya memajukan bibirnya ia tak puas dengan nasehat Bella.


"Tapi kita kan baru jadian kemarin... gue kan masih kangen."


"Kangen pala lu, dia kemarin ngomong sama kita mau ngejar pacarnya kok, sampai Zea di buat nangis kejer sama Aldy," jelas Fella.


"Jadi kemarin my baby sengaja ninggalin Zea demi gue, ya ampun sweet banget sih pacar aku," raut wajah Faya kini sungguh menggelikan bagi siapa pun yang melihat tingkahnya saat ini.


Bella terus saja nyinyir tanpa henti, bibirnya menirukan setiap ucapan yang keluar dari mulut mungil Faya. Fella menjadi pusing melihat kekonyolan yang di lakukan oleh kedua sahabatnya itu.


"Kenapa gue punya sahabat semacam kalian sih, ngilu banget kepala gue ngeliat tingkah kalian," protes Fella yang langung memijat pelipisnya pelan.


"Mending ngeliat muka Faya yang kaya gini fel, seenggak nya nggak kaya kemarin yan terus-terusan di tekuk, samapi kesel gue ngeliatnya kemarin."


"Kenapa harus di ingetin sih bel."


"Ya emang gitu kenyataannya."


"Jahat banget... gue kan jadi ke ingat yang enggak-enggak," celotehnya dengan tangan kiri yang membungkam mulutnya sambil matanya terus melihat ke arah Fella dan Bella secara bergantian.


Alis Fella terpaut kini matanya menatap lurus ke arah Faya tatapannya penuh intimidasi. "Keinget hal yang enggak-enggak?"


"Jelasin ke kita sampai sejelas-jelasnya, atau..." tatapan Bella begitu dingin.


"A-atau apa?"

__ADS_1


"Atau ponsel elo gue sita," ancamnya dengan terus memutar-mutar ponsel yang ada di tangannya saat ini.


"Jangan gitu dong bel, jahat banget sih elo sama gue."


"Elo lebih jahat, nggak mau jujur sama kita," tukas Fella.


"Iya... iya gue ngomong jujur sama kalian tapi kalian jangan ketawa-in gue ya."


Kini Faya menceritakan hal yang sebenarnya kepada kedua sahabatnya itu, meraka mendengarkan dengan tenang setiap ucapan yang keluar dari mulut mungil Faya.


"First kiss, elo di ambil paksa sama Aldy? pantesan aja elo paginya langsung demam gitu terus bibir kalian pada jontor," celoteh Bella tanpa bisa di rem.


"Jontor apanya sih bel, kalau ngomong pakai titik koma kenapa biar gue bisa mencernanya, elo tau kan kalau otak gue lelet."


"Terus kenapa elo nggak mau terus terang sama kita sih fay," lanjut Fella.


Faya nyengir kuda. "Gue malu sama kalian, gimana mau ngomongnya, secara gue paling cerewet soal urusan cinta tapi gue belom pernah ciuman."


"Apa hubungannya... elo juga sering gagalnya dari pada langgengnya," mulut pedas Bella lagi-lagi membuat Faya mencebirkan bibirnya.


"Ngomong-ngomong soal ciuman pertama, Fella udah pernah nyobain belom?" tanya Faya sontak membuat Fella tersedak.


"Apa-apa sih fay, tiba-tiba nanya kaya gitu,"


"Tau ni orang abis punya pacar baru ngomongnya jadi nggak beres. Tapi gue juga penasaran sih fel."


"Dasar kalian tuh... sama aja, anak kecil ngomongnya pada ngawur," cetus Fella.


"Itu rahasia gue, gue nggak mau kasih tau kalian," ledek Fella balik.


"Huw... pelit," seru mereka hampir bersamaan.


"Coba lo tanya ke Bella pasti juga jawabannya sama kaya gue."


Buru-buru Faya melihat ke arah Bella. "Ngapain elo ngeliatin gue kaya gitu, gue juga sama kaya Fella, rahasia pribadi," jelas Bella.


"Kalian curang... gue udah jujur giliran kalian yang nggak setia kawan," protes Faya dengan muka kesalnya.


"Hahaha... kita mana tau kalau masalah elo menjerumus ke arah situ fay," ledek mereka berdua yang tak mau di salahkan.


...°•°©inta Untuk Fella°•°...


Rambut Aldy sudah serasa ingin rontok karena tumpukan soal yang di berikan oleh Arska terlalu sulit untuk ia kerjakan. "Ka, ini gimana sih caranya, otak gue udah buntu nggak bisa buat mikir lagi."


"Dari tadi elo ngeluh terus tanda ada soal yang elo kerjain dengan bener. Ujian tinggal besok," jelas Arska.


"Tau ini anak ngeluh mulu dari tadi, belom dapet semangat dari Faya makanya elo nggak mood," lanjut Dilan.


"Otak elo pacaran muluk sih isinya," tukas Brayu.


"Iya... iya gue nggak ngeluh lagi, gue konsentrasi ni," cicit Aldy yang langsung mengambil selembaran kertas yang ada di depannya.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian di saat mereka sedang serius dengan kertas-kertas yang ada di depannya. "Suek. Nggak belance," Aldy berteriak sambil melemparkan kertas yang ada di tangannya.


"Elo kenapa lagi sih dy?" sahut Arska sedikit kesal dengan celotehan Aldy yang terus menggangu konsentrasinya.


"Serius deh. Kepala gue hampir gundul rasanya," kata Aldy sambil melihat ke arah ketiga sahabatnya.


"Kalau gundul yang tinggal di reboisasi aja dy, gitu aja sudah amat," sahut Brayu dengan ngawur nya.


Dilan dan Arska sontak tertawa menyadari ucapan Brayu. "Mana bisa rambut di reboisasi? elo pikir hutan gundul," celoteh Aldy dengan tawa yang makin mengeras.


"Ya elah... apes benar punya tiga sahabat yang selalu ngebully tanpa ada abisnya," ucap Aldy dengan wajah nelangsanya.


Arska merasakan tenggorokannya begitu kering segera ia berdiri untuk mengambil minuman dingin di dalam kulkasnya.


"Mau kemana lo ka? ini masih ada soal yang belom gue ngerti !" seru Dilan.


"Mau renang. ikut lo?" sahut Arska dengan muka yang tiba-tiba masam karena otaknya terus di paksa untuk mengajari ke tiga sahabatnya yang susah memahami soal terutama Aldy. Arska paling pusing jika memberi rumus kepada Aldy, tak pernah paham tidak tau otaknya terbuat dari apa?.


"Eh, renang? tapi jangan renang di empang sebelah ya ka, entar elo di kira ikan paus," ledek Dilan.


"Sialan lo... awas aja kalau elo bunyi sekali lagi, gue siram pakai air kloset."


"Galak banget anaknya pak Hendry," celoteh Dilan dengan nyinyirnya.


Tak lama setelah Arska meninggalkan ruang tamu, mereka bisa bernafas dengan lega. "Akhirnya tuh anak pergi juga, otak gue di suruh mikir terus kepala gue jadi sakit. Gue nggak mau kebanyakan mikir, takutnya entar gue ilang ingatan dan semua memori ingatan gue tentang my baby Faya hilang dengan sia-sia," tidak ada yang tidak melongo mendengar ucapan ajaib Aldy.


Bukannya semakin sering otak dibuat berpikir bukannya semakin baik. Dan lagi pula, penelitian mana yang menemukan banyak berpikir bisa menghilangkan ingatan. Sepertinya yang Arska bilang tentang kebodohan hakiki kepada Aldy sudah mulai terlihat.


"Anak monyet mana? yang bilang sering berpikir bisa hilang ingatan," ucap Arska yang keluar dari arah dapur.


Brayu dan Dilan langsung menunjuk ke arah Aldy.


"Gue bilangin emak gue loh ka," ancam Aldy.


"Bilangin aja.. gue nggak takut sama tante Ajeng. Kalau di tanya kenapa? gue tinggal jawab kaya yang elo bilang tadi," celetuk Arska seraya menaruh nampan berisikan cemilan dan jus jeruk.


"Lah... elo kan udah ngatain emak gue kaya monyet."


"Siapa yang ngatain?"


"Elo barusan."


"Gue nggak ngatain tante."


"Tapi elo ngatain gue anak monyet."


"Ya kan monyetnya elo bukan tante Ajeng."


Adu mulut di antara Arska dan Aldy tak juga usai, mereka menjadi tontonan gratis bagi kedua sahabatnya. "Kalian berdua sama-sama monyet udah nggak usah berantem," tukas Brayu seraya mengambil jus jeruk yang ada di depannya.


"Elo berdua berarti juga monyet, karena temenan sama monyet," seru Arska dan Aldy serempak.

__ADS_1


Mereka terlalu banyak berpikir tentang ujian besok sampai tak sempat merilekskan pikiran. Mereka sudah tek peduli dengan lembaran kertas yang berserakan dimana-mana yang terpenting saat ini adalah bercanda, urusan ujian pikir besok jika soal sudah mendarat di hadapan mereka.


__ADS_2