
Wajah Arska pucat tak bersemangat, sudah tiga hari ia belum juga menemukan Fella. Hampir semua mata pelajaran tak ada yang masuk kedalam otaknya. Ia hanya berfikir bagaimana harus menemukan kekasihnya itu, sedangkan jejaknya tak ia ketahui. Arska sudah melapor ke kantor polisi, tapi hasilnya masih nihil. Di kantin ia tak berselera makan. Brayu mencoba menghibur sahabatnya itu, tapi hasilnya sia-sia tak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya.
Aldy yang masih mengunyah makanannya langsung bersuara. "Di makan ka, entar kalau lo sakit, gimana kita bisa nyari Fella" ucapnya melirik ke arah Arska.
"Yang di bilang Aldy barusan itu ada benernya ka, lo harus jaga kesehatan lo. Mata lo udah kaya panda karena kurang tidur" lanjut Dilan.
"Bener ka, lo harus jaga kesehatan. Nanti kita coba bantu nyari Fella lagi. Lo nggak boleh kaya gini terus, tante Merry sama om Angga juga pasti sedih. Kalau lo sakit, entar yang ngehibur mereka siapa?" ucap Brayu yang langsung menghentikan makannya.
Dari belakang Mona tiba-tiba ikut nimbrung obrolan mereka "Hay... kakak-kakak ganteng, pada ngobrolin apaan sih..... terus kenapa mukanya pada di tekuk gitu. Kak Arska juga keliatannya lagi nggak sehat" celotehnya sambil duduk di samping Aldy, wajahnya begitu sumringah.
"Yang nyuruh lo duduk disini siapa?. Kita lagi nggak mood ngundang tamu" ucap Brayu ketus.
"Ya elah kak, gitu aja ketus amat sih..." ucapnya memanyunkan bibirnya.
"Arska lagi nggak mood buat ngeladenin lo, jadi mending lo pergi deh" lanjut Dilan.
"Iya ni Monawaroh...., asal duduk aja. Kalau mau cari muka di depan kita, kapan-kapan aja deh.... Lagian kan lo udah di tolak mentah-mentah sama Arska. Kok masih punya muka sih dateng kesini" ucapan Aldy benar-benar pedas, hingga membuat darah tinggi Mona memuncak dan Brakkk......Mona mengebrak meja cukup keras hingga penghuni kantin yang tak terlalu banyak itu melihat kearahnya. "Kak Aldy nggak usah, mancing-mancing emosi aku deh, nggak usah ngungkit-ngungkit hal yang udah lampa" ucapannya ketus sambil menatap lurus ke arah Aldy. Tatapannya begitu tak bersahabat, ia sangat kesal karena ucapan Aldy, ia merasa di permalukan.
"Gitu aja emosi mon, lagian kan bener lo udah di tolak Arska tempo hari" celoteh Dilan.
"Terserah kalian mau ngeledek aku kaya gimana. Aku kesini cuma mau ngobrol berdua sama kak Arska" ucapnya sinis seraya menoleh ke arah Arska.
__ADS_1
"Ya kali Arska mau ngobrol sama lo" celoteh Dilan dengan malasnya.
Lagi-lagi Mona melotot, hari ini ia benar-benar kesal, karena harus meladeni ketiga cowok yang selalu ngomong pedes terhadapnya. "Aku kesini mau ngomong hal penting, sama kak Arska!!!. Nggak ada urusannya sama kalian bertiga!!" tegasnya.
"Gue udah nggak ***** makan, gue mau kekelas dulu" ucap Brayu yang langsung pergi meninggalkan mejanya.
"Gue mau ke toilet, jadi mules gue ngeliat mukanya si Mona" ucap Dilan yang juga ikut pergi meninggalkan mejanya.
Aldy mendengus kesal. "Gara-gara lo, ***** makan gue dan temen-temen gue jadi ilang" celotehnya yang segera menaruh sendoknya di meja. "Lo baik-baik ya ka, gue mau nyusul Brayu kekelas, kalau Monawaroh bikin lo kesel, bentak aja" lanjutnya yang langsung melangkahkan kakinya mengikuti jejak Brayu.
Mona tersenyum penuh Arti. "Akhirnya tiga pengganggu itu pergi juga" ucapnya mencebikan bibirnya.
"Gue lagi nggak mood" ketusnya. Ia melangkahkan kakinya pelan, ketika sampai di belakang Mona. Dengan cepat Mona membuka suaranya. "Ya...terserah sih...mau pura-pura nggak denger atau gimana?. Kalau nggak peduli sama nasib tunangan lo ya udah..." ucapnya dengan nada yang di buat-buat.
Seketika mata Arska melebar, ia menoleh ke arah Mona, tangan kanannya mencengkram pundak Mona cukup kencang. "Barusan lo ngomong apa?" ucapnya tak sabaran.
"Aw.... kasar banget sih jadi cowok... bisa lepasin tangan lo dulu nggak" teriaknya mencoba melepaskan tangan Arska pada pundaknya, sifat asli Mona kini telah muncul. Arska melepaskan cengkeramnya, dengan kasar ia menarik kursi yang ada di hadapnya dan duduk di sebelah Mona. "Lo barusan ngomong apa?" ucap Arska sambil menetralkan nafasnya.
"Gue pikir lo nggak mau denger" sindirnya sedikit mengejek.
"Hal sekecil apa pun, yang menyangkut tunangan gue. Gue selalu peduli" tegasnya.
__ADS_1
"Hahaha...lo tuh cowok paling ganteng di sekolahan ini, mau nyari cewek bentuk apa aja, lo bisa dapetin dalam hitungan detik, kenapa lo harus galau kaya gini, kalau cuma kehilangan satu cewek aja" ucapnya dengan ekspresi wajah menyebalkan.
"Lo.... jangan bikin emosi gue makin naik. Lo nggak usah ngalihin pembicaraan!!!. Dan lo nggak usah banding-bandingin cewek gue sama cewek lain. Dia itu berarti banget buat gue!!. Dia spesial di hidup gue, nggak ada satu cewek pun yang bisa gantiin dia di hati gue. Termasuk lo!!" tegas Arska yang langsung mengebrak meja, ia sudah lepas kontrol.
Mona yang tak terima dengan ucapan yang keluar dari mulut Arska, segera membuka suara. "Gue suka sama lo !!. Kalau lo jauhin tunangan lo, dan jadian sama gue. Gue jamin nyawanya dia dalam ke adaan aman" celetuknya dengan ekspresi marah.
Arska menyipitkan matanya, dahinya mulai berkerut. " Maksud ucapan lo barusan apa?" selidik Arska dengan kesal. "Lo gila udah ya, mana bisa gue jauhin orang yang paling gue sayang!!!".
"Ya itu semua terserah lo sih, kalau lo nggak mau nurutin omongan gue, ya jangan harap tunangan lo balik!!" ucapnya sambil menaruh tangannya keatas meja jarinya mulai mengetuk-getuk meha, ia mengekspresikan wajah senangnya. "Ya itu terserah lo, di sini cuma ada dua pilihan. Lo jauhin tunangan lo dan jadian sama gue, atau lo kehilangan dia buat selamanya" ancamnya di sertai tawa licik.
Arska mengusap wajahnya dengan kasar, sekarang ia baru mengerti, kejadian yang sering ia alami adalah perbuatan cewek yang sudah ia tolak waktu itu. "Jadi selama ini, yang sering teror gue. Yang sering ngelukain cewek gue. Itu elo!!!" ucap Arska dengan tatapan mematikannya.
"Yap.... gue yang ngelakuin itu semua, lagian siapa suruh lo nolak gue!!. Gue paling nggak suka di tolak!!. Sejak kecil apa yang gue inginin selalu gue dapetin dengan mudahnya, entah gimana pun itu caranya" Mona menghela nafas pelan sebelum melanjutkan ucapannya. "Lo tau kan.. siapa bokap gue?, dia Manager di Antero group, dan perusahan itu terkenal sebagai perusahan yang di takuti oleh semua perusahaan mana pun. Dan pastinya bokap gue nggak bakalan tinggal diem kalau itu semua menyangkut harga diri gue!!" Mona tersenyum sinis setelah melihat ekspresi wajah Arska yang mulai panik. Suasana kantin yang sepi membuat Mona semakin ingin mengancam Arska. "Jam 16.40 gue tunggu lo, di Gudang pembakaran jerami, ya itu pun kalau lo masih mau ngeliat tunangan lo sih. Ow iya jangan bawa-bawa polisi, gue paling nggak suka kalau harus main petak umpet sama polisi" bisiknya dengan nada yang sedikit di buat-buat. "Ow... iya, kak Arska jangan terlalu banyak pikiran ya. Entar kalau kakak sakit, kan aku... ehh.. gue ikut sedih" ucapnya sambil mengangkat dagu Arska pelan, senyum puas terlukis di wajahnya. Hal yang selama ini ia inginkan akan segera dia dapatkan. Mata Arska penuh kemarahan, ia menepis tangan Mona dengan kasarnya. "Kalau lo sampai nyakitin tunangan gue sedikit pun, gue nggak akan pernah maafin lo" tegasnya.
Mona makin tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Arska. "Gue suka.... cowok pemberontak kaya lo kak, impian gue banget".
"Gue.... nggak sudi.... di puji sama cewek iblis kaya lo!!!".
"Thanks pujiannya kak Arska, tersentuh bangat gue dengernya". Tawa Mona makin menjadi-jadi. "Gue balik ke kelas dulu ya kak. Ingat ucapan gue barusan. Gue nggak pernah becanda" ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Arska, segera ia melangkahkan kaki meninggalkan tempat duduknya.
"I Hate you Mona!!!, sampai kapan pun, gue nggak pernah ikhlas, lo nyakitin orang yang paling gue sayang. Gue bakalan bales perbuatan lo!!!. Gue nggak peduli lo anaknya siapa!!". Arska mengepalkan tangannya ia mengebrak meja cukup keras dan segera meninggalkan kantin dengan hati yang gelisah.
__ADS_1