
Minggu pagi Mona merengek ingin pergi jalan-jalan ke taman dengan Arska, tapi Arska sudah berjanji dengan Violla untuk menjaga Clara sepanjang minggu ini.
"Aku main ke rumah kamu ya, bete ni di rumah sendirian" ucap Mona melalui sambungan telefon.
"Terserah...." ucap Arska dengan malasnya.
"Ya udah kalau terserah aku, aku pengen jalan-jalan sama kamu kalau gitu" ucap Mona.
"Terserah lo... tapi gue ajak adik gue!!" tegas Arska.
"Emangnya kamu baby sister apa?, masak adik kamu di ajak juga" protesnya.
"Dia nggak ada teman di rumah. Gue nggak tega ninggalin dia sendirian di rumah, lagian gue udah janji sama nyokap buat jagain dia!" tegas Arska.
"Iya... iya beb, gitu aja ngambek" ucap Mona mencebirkan bibirnya. Sebenernya ia malas untuk menyetujui keinginan Arska, ia hanya ingin menghabiskan harinya berdua saja dengan Arska tanpa ada yang mengganggu.
"Lo... nggak usah ke rumah, langsung aja ketemuan di taman deket sekolah" ucap Arska yang langsung mematikan ponselnya.
"Iya.... beb.." belom selesai melanjutkan ucapnya Mona langsung menarik ponselnya, ia menatap ke layarnya. "Sialan langsung di matiin lagi, nggak sopan banget, belom juga selesai ngomong" cetusnya. "Em... lumayan lah.. deketin adiknya dulu, sisanya baru kakaknya" ucap Mona pelan, senyum licik terlukis di wajahnya. Ia benar-benar menginginkan rencananya berjalan sesuai rencana. "Hari ini gue harus dandan secantik mungkin, biar kak Arska terpesona sama kecantikan gue!!". Lagi-lagi Mona tertawa seperti orang yang tak waras, dengan segera ia melangkahkan kakinya ke toilet, ia tak mau membuang waktunya terlalu lama.
Di sisi lain, Arska malas sekali untuk pergi menemani Mona jalan-jalan, lain halnya jika ia menemani Fella, pasti ia sudah loncat saat ini juga untuk menemani kekasihnya itu. Muka malasnya terlihat sangat jelas, segera ia menuruni anak tangan tanpa ada semangat sedikit pun. Hingga akhirnya ia melihat Clara melintas di depannya. "Dek, ikut kakak jalan-jalan yuk" ucapnya dengan muka datarnya.
Senyum ceria terpancar di wajah cantik Clara. "Ye... jalan-jalan, sama kak Cantika kan kak?" ucapnya penuh harapan.
Arska menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan....kak Cantika masih banyak tugas dari sekolah, jadi belom ada waktu buat jalan-jalan bareng kita".
"Yah...cuma berdua dong kak" ucap Clara manyun.
Lagi-lagi Arska menggeleng, saat ini ia malas untuk banyak berbicara. Clara mengerutkan keningnya, rasa ingin taunya muncul kembali. "Terus.. yang satunya lagi siapa dong kak?, kalau bukan kak Cantika".
"Nenek lampir" ucap Arska ngawur.
"Nenek lampir?, emang ada ya kak, Nenek lampir sungguhan?".
"Ada... entar kamu juga liat" jawab Arska malas. "Ya udah kamu siap-siap dulu ya, kakak tungguin di depan".
"Kakak nggak ganti baju?, cuma mau pakai celana pendek sama sendal jepit kaya gitu?" ucap Clara yang langsung menunjuk ke arah Arska.
Arska menggeleng pelan. "Kan perginya sama Nenek lampir, jadi nggak perlu rapi kan dek".
"Biasanya kalau main sama kak Cantika selalu rapi, sampai parfum satu botol di habisin" ucap Clara menyelidik.
Arska tertawa kecil setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut adiknya yang terlalu jujur itu. "Itu beda sayang, kan perginya sama orang yang spesial, jadi harus rapi. Kan ini mainnya sama Nenek lampir jadi gini aja, tapi kakak kan masih keliatan gantengnya" ucap Arska mencolek pipi Clara pelan, tampang narsisnya selalu ia lihat kan di hadapan sang adik.
Clara yang melihat sikap narsis kakaknya segera menjulurkan lidahnya. "Kakak narsis" ucapnya segera berlari.
"Untung aja ada kamu dek, jadi kakak masih bisa terhibur" ucapnya pelan sesekali ia menghela nafasnya yang berat, sambil melangkahkan kakinya ke ruang tamu.
...•°©inta Untuk Fella°•...
Di taman Mona sudah menunggu kedatangan Arska, ia sengaja datang lebih awal karena tak mau membuang-buang waktu untuk berlamaan dengan Arska.Tak lama kemudian Arska dan Clara menghampiri tempat duduk Mona.
"Gue udah di sini, nggak usah telfon-telfon lagi, berisik..." ucap Arska ketus.
__ADS_1
Mona langsung memalingkan wajahnya, ia tersenyum lebar setelah mendapati Arska sudah berdiri di sebelah tempat duduknya. "Ya ampun baby, aku udah nungguin kamu hampir setengah jam tau" rengek Mona yang langsung memandangi penampilan Arska dari atas sampai bawah. "Kok kamu nggak dandan rapi sih baby?" protes Mona dengan tatapan tak menyenangkan.
"Gue males dandan rapi-rapi cuma buat nemenin elo jalan" ketus Arska.
"Ya ampun Baby.... kok gitu sih" ucap Mona yang langsung meraih lengan Arska, Mona menempel di lengan Arska dengan eratnya.
Clara yang melihat sikap centil Mona segera membuka suara. "Nenek lampir nggak boleh pegang-pegang kak Arska, kak Arska udah ada yang punya" ucapnya dengan suara membentak.
Mona yang mendengar kata-kata Nenek lampir yang di tujukan untuk dirinya, dengan berat hati terpaksa tersenyum kaku di hadapan Clara. "Ya.... ampun kakak hampir lupa, ada malaikat cantik yang dateng bareng pangeran ganteng" ucap Mona yang langsung berjongkok.
"Clara nggak suka sama Nenek Lampir" ucap Clara ketus, ia melihat ke arah Mona dengan tatapan tak bersahabat.
"Ya ampun sayang, kita kan baru ketemu, masak kamu langsung nggak suka sih sama kakak" ucap Mona yang langsung mengelus rambut Clara.
"Aku sukanya sama kak Cantika!!!" tegasnya.
"Emang apa sih kelebihan kak Cantika di banding kakak?" ucapnya menyelidik.
"Banyak.... dan pastinya kak Cantika nggak manfaatin anak kecil untuk deketin kak Arska" ucapnya yang langsung menepis tangan Mona.
"Ya ampun sayang, nggak boleh gitu ya, kakak beliin es krim ya" rayu Mona, sesekali Mona melirik ke atas untuk mengisyaratkan kepada Arska agar adiknya tak membuat onar.
Segera Arska menarik lengan Clara agar tak terlalu dekat dengan Mona, ia tak mau jika sesuatu yang tak di inginkan menimpa sang adik, ia takut jika sifat gila Mona tiba-tiba muncul.
"Jangan paksa adik gue kalau dia nggak mau" tegas Arska.
"Gue nggak maksa kok, gue cuma mau nawarin es krim dong sama adik lo, biasanya kan anak kecil suka es krim" ucapnya yang langsung berdiri menyejajarkan tubuhnya di samping Arska. "Dek Clara yang cantik, kakak beliin es krim dulu ya, kamu tunggu di sini sama kak Arska" ucapnya dengan suara yang di buat-buat agar terkesan lembut.
"Kenapa kakak yang nyebelin sih dek" ucap Arska yang langsung mengusap-usap kepala Clara.
"Kenapa harus ajak kakak genit itu sih...Clara pengennya kan sama kak Cantika" protesnya.
"Iya.... lain kali sama kak Cantika".
"Nggak mau lain kali, maunya sekarang" ucap Clara mulai merengek.
Tak lama kemudian Mona datang membawa satu katung kresek yang berisikan berbagai macam es krim. "Clara pilih sendiri ya, kakak nggak tau Clara sukanya yang mana?" ucapnya yang langsung menyodorkan katung kresek tersebut kepada Clara.
Arska yang melihat hal berbahaya mengancam adiknya segera meraih kantung kresek tersebut. "Adik gue nggak makan es krim sebanyak ini!!" ucapnya dengan tatapan sadisnya.
Mona mengekspresikan wajah cemberutnya sambil menatap ke arah Arska. "Aku nggak tau adik kamu sukanya yang mana, biar dia pilih sendiri".
"Clara nggak mau, es krim yang di beliin Nenek lampir" ucap Clara bersedekap dada.
"Ya ampun sayang, kenapa manggilnya Nenek lampir lagi sih?, nama kakak Mona bukan Nenek lampir" ucap Mona dengan tenang, sebenarnya ia sudah sangat kesal dengan sikap Clara yang menghinanya terus, tapi ia tetap berusaha tenang, ia tak mau jika Clara semakin membencinya.
"Nggak peduli" ucap Clara singkat, ia memalingkan wajahnya. Sampai ia menemukan sosok yang selalu ia rindukan, ya... sosok itu adalah Fella, dengan girang ia berlari menghampiri ke arah Fella tanpa mempedulikan Arska dan Mona.
Hingga mata Arska terbelalak saat melihat kekasihnya sedang berada di tempat yang sama dengan dirinya.
"Kak Cantika" teriak Clara yang langsung memeluk kaki jenjang milik Fella.
Fella sedikit terkejut dengan kehadiran Clara saat ini. "Loh... sayang, kesini sama siapa?" ucap Fella yang langsung duduk mensejajarkan tubuhnya agar seimbang dengan Clara.
__ADS_1
"Sama kak Arska, orangnya di sana" ucap Clara yang langsung menunjuk ke arah di mana Arska dan Mona berdiri.
Fella melebarkan matanya saat melihat Arska bersama wanita lain, pikirannya begitu kacau saat menyaksikan hal tersebut. Ia berdecak kesal, tapi ia masih bisa menutupinya di depan Clara. "Clara pergi bertiga" selidik Fella yang langsung mengelus-elus kepala Clara dengan lembut.
Arska sudah tak bisa berkutik saat Fella mengetahui hal yang selama ini ia tutupi dari kekasihnya itu. "Mampus... gue harus jelasinnya gimana, Aya pasti mikir hal negatif tentang gue" batin Arska.
"Tadi kesini nya cuma sama kak Arska" ucap Clara jujur. "Tapi sampai disini ketemuan sama Nenek lampir itu" lanjutnya sambil sesekali melihat ke arah Arska dan Mona.
Mona yang sangat bahagia menyaksikan kepanikan yang muncul dari diri Arska, segera menarik tangan Arska dengan paksa dan berjalan mendekati tempat Clara dan Fella yang tak jauh dari dirinya. "Kamu harus nurutin kata-kata aku, kalau nggak mau cewek kamu aku lukai lagi!!" bisiknya.
"Hay...." sapa Mona dengan tangan yang masih menempel di lengan Arska.
Arska sama sekali tak memandang ke arah Fella, ia justru membuang mukanya sikapnya begitu dingin.
"Hay... juga..." balas Fella dengan senyum sinis, segera ia berdiri.
"Clara deket banget ya sama kamu" ucap Mona basa basi.
"Ya... kita emang deket kok, Clara udah kaya adik gue sendiri" ucap Fella sambil menarik nafasnya.
"Ow... iya sampai lupa, baby kenapa nggak kenalin aku sih sama cewek cantik yang deket sama adik kamu ini" ucap Mona dengan gaya bicara yang di buat-buat manja.
"Lo.... bisa kenalan sendiri kok" ucap Arska tanpa ekspresi.
Mona tersenyum saat mendengar jawaban Arska, ia tersenyum sinis sambil mengulurkan tangannya. "Nama gue Mona, cewek barunya kak Arska" ucapnya sambil melirik ke arah Arska senyum puas terpancar dari raut wajahnya.
Mata Arska membulat saat Mona berbicara hal yang tak nyata kepada kekasihnya, begitu pun Fella, ia tak percaya jika kekasihnya tega mengkhianatinya. Dengan sikap yang sedikit gugup Fella berusaha tersenyum. "Ow.... pacar barunya Arska, selamat ya, semoga kalian langgeng" kata-kata itu keluar dari mulut Fella sambil melihat ke arah Arska sebelum akhirnya pamit, Fella tak ada niatan untuk menjabat tangan Mona.
"Tentu ya baby, pastinya langgeng" ucap Mona dengan senangnya.
"Kalian... lanjut jalannya, gue nggak bakalan ganggu kok" senyum getir ia tunjukan di depan Arska rasa kecewanya sungguh mendalam terhadap kekasihnya itu. "Kakak pulang dulu ya sayang, kamu baik-baik sama P A C A R baru kak Arska" ucap Fella mengelus-elus kepala Clara pelan sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan tempatnya berdiri. Matanya yang mulai memanas tak sanggup lagi menahan air mata yang akan menetes, ia benar-benar kecewa dengan tindakan Arska, Fella berlari mencari tempat sepi untuk meluapkan kekesalannya.
"Tunangan lo nggak sopan banget sih... gue udah baik-baik ngulurin tangan gue, tapi nggak di respon sama sekali".
Arska tak menghiraukan ucapan Mona, ia sibuk melihat kepergian Fella dan hanya bisa memandangi punggung kekasihnya yang kian menjauh dari dirinya. "Lo keterlaluan, bicara hal yang nggak bener sama tunangan gue!!" ucap Arska yang langsung mengibaskan tangan Mona yang melingkar pada lengannya.
"Ya ampun baby, sakit tau.. bisa nggak sih nggak kasar sama aku" ucap Mona memanyunkan bibirnya. "Lagian bagus juga kalau tunangan kamu tau, jadi nggak perlu repot-repot buat sembunyi kalau kita mau jalan lagi" ucapnya dengan senyum piciknya.
Clara yang emosi melihat Arska yang tak mengejar Fella segera berteriak tak karuan. "Kak Arska jahat banget.... kenapa nggak kejar kak Cantika...." ucapnya sambil menitihkan air mata.
"Ya ampun Clara gitu aja cengeng sih... ngapain juga nangis, kan masih ada kak Mona" ledek Mona dengan bersedekap dada.
"Mulut lo... diem ya, cewek kaya lo mana ngerti perasaan anak kecil" bentak Arska yang mulai tak tahan dengan sikap Mona yang semakin menjadi.
"Ya ampun baby, jangan marah dong" ucap Mona memajukan bibirnya.
"Jangan panggil gue baby, gue jijik denger ucapan lo barusan!!" tegas Arska. "Dan satu hal lagi. Mending lo pulang, adik gue nggak suka sama lo!!".
Mona yang kesal dengan sikap kasar Arska segera berucap. "Oke...kalau itu mau kamu!! . Aku pulang!!! . Tapi kamu harus ingat aku nggak bakalan nyerah gitu aja" ucap Mona yang langsung meninggalkan Arska dan Mona.
"Clara benci Nenek Lampir...." teriak Clara yang masih menangis. Arska segera memeluk adiknya dengan erat. Mona yang mendengar teriakan Clara hanya tersenyum sinis, tanpa ada niatan untuk menanggapi gadis kecil tersebut.
Arska benar-benar bingung harus berbuat apa?, ingin rasanya ia menjelaskan hal yang tak benar ini kepada Fella, tapi ia juga tak mungkin bicara hal yang sejujurnya. Arska tak mau jika hal yang lebih buruk menimpa kekasihnya lagi.
__ADS_1