Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Demam


__ADS_3

Bella terburu-buru menuruni anak tangga dengan wajah yang terlihat sangat panik. "Ada yang bisa bantuin gue nggak, badan Faya demam, dia ngigo terus, gue bingung harus gimana, karena gue nggak pernah ngerawat orang sakit sebelumnya" ucap Bella yang terus nyerocos tak terhenti.


"Lo tenang dulu bel, jangan panik gitu" ucap Fella menenangkan.


"Yah...itu anak orang gimana? orang tuanya udah nitipin ke gue, entar gue di bilang nggak tanggung jawab, gara-gara gue nggak bisa jagain Faya".


Fella mengelus pundak Bella beberapa kali. "Lo tenang aja biar gue yang jagain Faya, dia kan sahabat gue juga" ucap Fella yang mulai berdiri dari duduknya.


"Si Aldy belum bangun apa? biasanya dia cepat tanggapnya kalau ada orang sakit" seru Brayu.


"Tau tuh anak, nggak biasanya begadang semalam malah begadang" balas Dilan.


"Gue ke atas dulu ya, mau lihat ke adaan Faya" ucapnya sambil membawa baskom berisi air dan waslap untuk mengompres.


"Aku ikut yang" kata Arska yang langsung mengekor di belakang Fella.


"Tuh anak makin hari makin nempel aja, bikin iri aja" celoteh Regina yang melihat kepergian Fella dan Arska.


"Nggak usah iri yang, kita bisa lebih romantis dari mereka" sahut Dilan.


"Woy.... dilarang romantis-romantis-an di depan para jomblo" protes Brayu.


"Makanya buruan jadian gih... biar nggak iri kalau ngeliat orang pacaran" sindir Regina sambil melirik ke arah Bella dan Brayu secara bergiliran.


Bella dan Brayu saling pandang sebelum akhirnya Bella mencibir tak mau. "Nggak mau !!! suruh jadian aja sama Aldy sama-sama jomblo kan" ucap Bella ketus serambi berlari menaiki anak tangga.


Regina dan Dilan tertawa jahat. "Elo masih normal kan bray" Regina mulai meledek.


"Tau... lo pada pasangan baru udah ngeselin" ucap Brayu meninggalkan tempat duduknya.


"Semangat bray, anggap aja dia pilihan terbaik elo makanya elo harus berjuang extra buat dapetin hatinya" teriak Dilan memberi semangat.


"Mau tengok-kin Faya nggak yang?" tanya Regina menghentikan teriakan Dilan.


Dilan mengangguk dengan segera ia mengandeng tangan Regina dan mengajaknya naik anak tangga.


Fella dengan sabar mengompres kening Faya sesekali ia beralih mengelap area leher dan sekitarnya. "Kenapa bisa sepanas ini sih, perasaan kemarin masih baik-baik aja, jangan-jangan kamu nyiksa Faya keterlaluan lagi ya yang" ucap Fella sambil melirik ke arah Arska.


"Ya ampun sayang, cuma nyuruh cuci piring aku nggak ngasih hukuman yang lain, kalau Faya sakit berarti daya tahan tubuhnya yang lemah" balas Arska dengan wajah memelas nya.


"Gimana ke adaan Faya fel? gue takut dia kenapa-napa" seru Bella yang masih duduk di tepi ranjang.


"Masih panas banget bel, elo punya cadangan obat parasetamol atau apa gitu biar panasnya cepat turunya?".


"Gue mana ada obat kaya gitu fel".


"Gue punya fel, biar gue ambil-lin dulu" tawar Regina yang langsung keluar dari kamar.

__ADS_1


Bella yang mengamati wajah Faya sekilas menemukan bekas luka di sudut bibir sahabatnya itu. "Eh... fel lo liat nggak ini kok bisa kaya gini" ucap Bella yang menunjuk sudut bibir Faya.


"Bibir pecah-pecah itu bel" ucap Fella polos.


"Mana sih coba gue ikutan liat" celoteh Dilan yang langsung melirik ke sudut bibir Faya.


"Kalau nggak pecah-pecah ya di gigit orang itu".


"Hus.....ngawur lo lan" seru Bella memukul kepala Dilan pelan.


"Coba... kaya apaan sih jadi penasaran" Arska juga ikut melihat ke arah bibir Faya karena kepo-nya.


"Bener kan ka, di gigit orang ini" ucap Dilan seraya mengelus-elus kepalanya yang masih terasa ngilu karena ulah Bella.


"Paling juga Faya sendiri yang gigit, soalnya Aya juga sering gitu kalau gugup" jelas Arska.


Dilan menaruh jarinya ke dagu nampak mencerna ucapan Arska tadi. "Bisa jadi gitu ya ka?".


Bella memukul lengan Dilan untuk ke sekian kalinya. " Dasar cowok... mikirnya ngeres mulu".


"Ya....elah bel, bukannya ngeres ya aneh aja ngeliatnya" celoteh Dilan.


"Ya...ya.. terserah, tapi mana Regina tuh lama banget ambil obatnya" kepala Bella celingukan menatap ke arah pintu masuk.


Tak lama kemudian dari arah pintu Regina masuk. "Maaf lama, gue lupa taruh jadi nyari dulu makanya lama" ucap Regina seraya menghampiri Fella duduk.


"Ow... ya udah gue turun duluan ya, semoga Faya cepat sembuh, nggak asyik kalau dia sakit" kata Regina yang langsung menarik tangan Dilan untuk beranjak dari duduknya.


"Panasnya udah agak turunan bel, entar kalau Faya bangun suruh minum obatnya, gue sama Arska turun duluan" kata Fella yang langsung meraih tangan Arska, agar segera beranjak dari kamar Faya dan Bella.


Setelah semuanya pergi meninggalkan kamar Bella mengguncang-guncakan lengan Faya. "Bangun dong fay, dari semalam elo ngigo terus bikin gue susah tidur" keluhnya dengan wajah cemberut.


Lain halnya Brayu yang mencoba membangunkan Aldy yang tak kunjung beranjak dari kasur empuknya. "Woy....monyet bangun lo ngorok terus, nggak subuh lo" seru Brayu sambil mengguncang-guncangkan badan Aldy.


"Gue udah subuh bray, elo tenang aja, mata ku masih lengket pengen merem tadi habis subuh gue baru bisa tidur" gumangnya sambil menarik selimutnya kembali.


"Ya udah.... kalau lo kekeh masih mau tidur, gue mau nengok-kin Faya dulu" ucap Brayu yang mulai melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Aldy.


"Faya..." celotehnya pelan. "Faya kenapa bray?" seketika ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.


"Dia sakit, badannya panas".


Tanpa menunggu aba-aba Aldy langsung loncat dari ranjangnya.


"Tau gitu gue nggak perlu repot-repot bangunin elo, kalau jurus ini ampuh buat bangunin elo" teriak Brayu yang kesal dengan sikap Aldy yang menabrak dirinya tanpa minta maaf terlebih dahulu.


Aldy dengan paniknya berlari keluar kamar seraya menaiki anak tangga, padahal dirinya belom sadar sepenuhnya.

__ADS_1


"Baru bangun dy?" sapa Dilan saat berada di separuh anak tangga yang baru ia turunin.


"Faya gimana?" tanyanya sedikit panik.


"Ya elo liat aja sendiri, tadi sih masih di kompres sama Fella...." Dilan tak lagi melanjutkan ucapannya ia melirik ke sudut bibir Aldy yang mirip sepeti yang ia lihat di bibir Faya. "Tunggu dulu, bibir lo kenapa? kok sama kaya punya Faya?" selidik Dilan.


Aldy nampak berpikir sesaat, ia tak mungkin menceritakan kejadian semalam, tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan Dilan, Aldy segera melanjutkan kakinya kembali.


"Tuh... anak aneh banget kelakuannya" ucap Dilan sambil menoleh kebelakang.


"Udah ah... yang ngapain ngurusin urusan orang lain" seru Regina yang langsung melangkahkan kakinya kembali.


Di pintu masuk Aldy di sambut dengan kehadiran Arska dan Fella yang membuka pintu. "Wih... pawangnya dateng" celoteh Arska ngawur.


"Pawang-pawang emangnya Faya uler" cetusnya yang langsung masuk ke kamar Faya.


"Semoga aja dengan kehadiran elo Faya bisa langsung sembuh" seru Arska yang langsung melangkah keluar kamar.


Sampai di kamar Aldy membuka matanya lebar-lebar, dengan langkah pendek ia menghampiri ranjang. "Gimana ke adaan Faya bel?" tanya Aldy memastikan, ia segera duduk di tepi ranjang.


"Udah mendingan dy, tadi di kompres Fella".


"Syukur... kalau keadaan Faya udah mendingan".


"Elo baru bangun?".


"Hem.... semalaman gue nggak bisa tidur".


"Ow... gitu, btw bibir lo kenapa bisa kaya gitu dy, mirip kaya punya Faya" tunjuk Bella dengan jari telunjuknya.


Aldy memegangi sudut bibirnya. "Kepentok meja semalam bel, jadinya gini" elaknya.


Bella mengangguk tanda mengerti. "Gue boleh minta tolong nggak dy".


"Minta tolong apa bel?".


"Jagain Faya bentar ya, gue mau istirahat di kamarnya Fella, capek banget gue semalaman nggak bisa tidur, Faya ngigo terus".


"Gue bakalan jagain Faya lo istirahat aja".


"Oke... thanks ya dy" ucap Bella sambil menepuk-nepuk bahu Aldy dan melangkahkan kakinya keluar kamar.


Aldy tak membalas ucapan Bella yang terakhir dia menggeser kursi yang tak jauh dari tempat Faya tertidur. "Cepat sembuh ya fay, maaf aku semalam khilaf sampai nggak bisa mengontrol emosi aku" kata Aldy yang kini meraih tangan Faya dan menempelkannya di pipinya. "Aku nggak tau kalau itu ciuman pertama kamu yang udah aku ambil secara paksa" Aldy memalingkan wajahnya dan membuang nafasnya secara kasar. "Hem.... terlalu bodoh ya aku, sampai nggak tau isi hati aku yang sebenarnya ke kamu".


Faya mulai mengigau hingga membuat Aldy terperanjat kaget. "Jahat.... jahat...jahat... banget. Aku benci" kata-kata itu yang terus keluar dari mulut mungil Faya, giginya mengigit bibir bawahnya, mungkin Faya sedang mimpi buruk karena dari ekspresi wajahnya terlihat sangat ketakutan. Aldy merasa bersalah, tindakan bodohnya membuat Faya ketakutan hingga terbawah sampai mimpi.


"Maafin aku yang nggak bisa jujur sama perasaan aku sendiri fay" ucapnya dengan tangan yang masih menggenggam erat.

__ADS_1


__ADS_2