Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Kekonyolan Fella


__ADS_3

Fella dan Arska berjalan beriringan di koridor kampus. Berjalan sambil bercanda seperti biasa yang mereka lakukan, ada saja bahan yang menjadi pembahasan sepasang kekasih itu jika mereka bertemu, meskipun banyak mata yang melirik ke arah mereka, tak membuat mereka canggung, toh mereka sudah resmi bertunangan, dan jika ada suara yang tidak enak untuk di dengar anggap saja sebagai angin lalu.


Sebetulnya Arska tak memiliki jadwal kuliah pagi, hari ini. Tapi Fella minta di temani berangkat kuliah. Jadi mau bagaimana lagi, laki-laki itu memilih menurut, walaupun sebenarnya ia juga bahagia bisa menemani kekasihnya itu, meskipun seharian full cowok itu tak akan mengeluh.


"Aku kemarin di omeli sama Bunda," adu Fella kepada Arska saat mereka sudah berada di depan kelas Fella. Keduanya bersandar di tembok dan saling berhadapan.


"Bagus kalau gitu," ucap Arska menyeringai.


Fella mencubit perut Arska karena jawaban ringan dari kekasihnya itu. Bagus dari Hongkong, mana ada diomeli adalah hal yang bagus kalau bukan pemikiran dari seorang Arska.


"Kok bagus?" Mata Fella memicing karena sebal


"Biar kamu sadar, tindakan kamu yang kaya kemarin itu tidak akan menghasilkan apapun. Kamu tahu apa sebutannya?"


Fella menggeleng. "Enggak."


"Namanya kebodohan yang hakiki."


"Jahat." Teriakan Fella membuat mahasiswa l lain yang sedang berlalu lalang menjadi menoleh kearahnya. Baru saja muncul kembali ke kampus, gadis itu langsung membuat gaduh.


"Tapi sayangnya yang kamu sebut jahat ini mencintai kamu." Wajah Arska lempeng sekali mengatakan hal tersebut. Tak ada senyuman ataupun cubitan gemas seperti di dalam drama korea.


Fella bisa apa? Kalau mendengar ucapan cinta dari Arska kepadanya, selain mengurungkan niatnya agar tak marah dengan ledekan yang keluar dari mulut bibir kekasihnya itu.


"Sumpah ya yang. Bisa banget buat orang berbunga-bunga." Fella menarik tangan bebas Arska dan menggenggamnya. Membuat beberapa orang yang melihatnya merasa iri.


Fella sadar akan tindakan konyol yang di lakukan-nya kemarin, membuat orang semua orang menjadi khawatir terutama Arska. Saat mereka masih asyik mengobrol, tiba-tiba Faya berteriak memanggil sahabatnya itu. "Fella." Suara Faya terdengar nyaring sekali.


Baik Fella maupun Arska menoleh dan mendapati Bella dan Faya tengah mendekat. Keduanya tersenyum dan tangan Faya langsung mencubit pipi Fella.


"Gue kangen banget sama lo fel, hari-hari gue sepi tanpa elo dan Bella," kata Faya.


"Bella? Lo juga sakit?" Kini Fella beralih pandang menatap kearah sahabatnya itu, seraya merangkul lengan Bella dan menyadarkan kepalanya di sana.


"Iya fel, gue sakit. Liat aja ni kulit gue masih kelihatan lebamnya." Bella memperlihatkan bekas luka yang masih sedikit gosong.


"Sakitnya aja barengan sama Brayu fel, nggak tau mereka beneran sakit atau cuma pengen berduaan," mulut ember Faya kini mulai beraksi.


"Anjir lo! Siapa juga yang pengen berduaan sama tuh cowok!" Bella meninggikan nada bicaranya.


"Nah.... berarti emang kalian lagi berduaan kan, ngaku loh...." Faya mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Bella, gadis itu tak henti-henti mengintrogasi Bella.


"Capek gue ngomong sama lo fay," ucapnya seraya masuk ke kelas dengan tampang suramnya.


"Elo sih Fay, pagi-pagi udah bikin mood orang jelek aja."


"Ya ampun Fel, kan gue ngomong sesuai kenyataan kalau nggak percaya. Lo tanya aja sama Arska."


"Jangan kaya gitu lagi ya Fay, kasihan Bella."


"Idih.... lo kenapa sih Fel, habis sembuh dari sakit tumben nggak mau ikut ngebully si Bella dan malah nyeramahin gue." Kata-kata Faya terdengar sangat sewot, gadis itu langsung masuk kelas tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

__ADS_1


"Huft.... emang harus belajar ekstra sabar kalau ngadepin Faya," ucapnya dengan mata yang kini menatap lurus ke depan.


Arska hanya tersenyum, melihat kekasihnya yang justru di tinggal begitu saja oleh kedua sahabatnya itu. "Buruan gih... masuk keburu dosennya dateng," kata Arska mencoba mengingatkan.


Gadis itu memajukan bibirnya, merasa Arska begitu sangat menyebalkan, langkah kakinya sudah berada di ambang pintu. Sampai salah seorang pria menarik lengan Fella cukup kuat dan membuat gadis itu gagal masuk kedalam kelas, dengan posisi menghadap ke arah cowok asing tersebut.


"Akhirnya, gue bisa ngeliat lo lagi," ucapnya dengan wajah girangnya.


Fella mengernyitkan keningnya merasa tak mengenali pemuda tersebut, bahkan ia merasa bingung atas tindakan yang di lalukan cowok tersebut.


"Gue Daeran," ucap pemuda itu mencoba mengenalkan diri. "Senior lo. Cowok yang suka ngeliat lo wira-wiri kalau lagi di perpustakaan."


Gadis itu membuka mulutnya hingga gigi putihnya pun terlihat. "Maaf kak, bukannya nggak sopan, tapi aku beneran nggak kenal sama kakak."


"Nama lo Fella kan? Tadi gue juga udah ngasih tau nama gue ke elo," ucapnya dengan santai.


Arska masih berdiri di tempatnya, menyaksikan fenomena yang menurutnya jarang sekali terlihat oleh mata elangnya. Pemuda itu masih belum bereaksi, entah menunggu atau memang sengaja ingin menjadi penonton untuk menyaksikan penolakan yang akan di lakukan oleh kekasihnya.


"Iya kak, nama aku Fella."


"Oke... kita udah saling kenal kan, jadi gue ada hadiah buat lo." Pemuda itu langsung mengeluarkan sekuntum bunga mawar putih dan sebatang coklat berserta amplop dari ranselnya. "Ini buat lo. Dan selamat bergabung kembali di kampus tercinta kita ini peri cantik ku." Pemuda itu langsung menarik tangan Fella dan meletakkan semuanya di tangan Fella.


"Ta--tapi kak." Suara Fella terdengar gagu. Ia ingin menolaknya, tapi pemuda itu langsung pergi dengan wajah bahagianya.


"Apa-apaan ini, huft...." Keluh Fella dengan mata yang masih melihat kearah tangannya.


Gadis itu kini mengangkat kepalanya sesaat, menatap langit-langit atap kampus dengan nafas yang menghembus.


"Pegang erat aja terus! Buat tunangan kamu darah tinggi sekalian kalau perlu," kata Arska dengan tampang masamnya.


Fella melebarkan matanya, menoleh ke sumber suara. Ia lupa jika Arska sejak tadi belum juga beranjak dari tempatnya berdiri.


"A----apaan sih yang, mana ada aku pegang erat."


Arska mendekat dengan langkah pelan, tangannya langsung merampas benda yang ada di tangan Fella. "Nggak boleh terima barang dari cowok lain!" Tatapan Arska begitu serius, hingga membuat Fella mendengus karena perbuatannya itu.


"Udah tau kan kalau tunangan kamu ini cantik, jangan sampai gara-gara sikap kamu yang cuek beberapa hari ini ngebuat aku berpaling." Fella sengaja mengucapkan hal tersebut, agar Arska bisa berpikir akan hal yang beberapa hari ini sudah ia lakukan.


"Peri cantik cuma boleh buat Arska." Jelasnya.


Serasa mendengar bisikan dari makhluk halus hingga bulu kudu Fella berdiri setelah mendengar ucap tersebut untuk kedua kalinya. Gadis itu tak mau lagi mendengar kata-kata aneh yang keluar dari mulut kekasihnya, tanpa pamit Fella langsung masuk ke dalam kalas dengan bibir mengerucut.


Mata kuliah pertama, berjalan tanpa kendala. Keluar kelas, Fella langsung menghubungi kekasihnya untuk menanyakan keberadaan cowok tersebut. Tapi sejak tadi, tak ada panggilannya yang di terima oleh Arska.


"Sarapan yuk!" Ajakan itu keluar dari mulut bibir Bella.


Fella menoleh. "Gue mau ketemu sama Arska," jawabnya.


"Emang Arska di mana?"


"Nggak tau, dari tadi gue hubungin nggak diangkat." Kalau sudah seperti itu gadis itu wajahnya sudah seperti air empang yang keruh.

__ADS_1


"Ya udah, Ke kantin aja dulu. Lo bisa hubungin Arska sambil makan." Sebetulnya Fella malas, karena merasa badannya masih belum fit di tambah ia ingin sekali di temani oleh Arska saat di kampus. Tapi mau bagaimana lagi, menunggu dengan purut kosong juga tak terlalu bagus, mendengarkan ajakan dari Bella juga tak ada salahnya. Fella hanya mengangguk.


Sampai di kantin, Fella masih dengan wajah malasnya. Mendengar setiap celotehan yang keluar dari mulut bibir kedua sahabatnya itu.


"Lo mau pesan apa?" Tanya Bella.


Fella menggeleng. "Gue minum aja. Air mineral." Jawabnya.


"Udah. Nggak usah di pikirin, kepala lo sakit entar." Intrupsi Faya.


"Gue belum bisa tenang kalau belum tau Arska di mana? Kalian tau sendiri-kan gimana nyebelinnya dia sehabis masuk kampus. Dia jadi cuek banget sama gue." Meletakan ponselnya di meja, Fella menatap kedua sahabatnya secara bergantian.


"Lo mau ngelakuin hal gila apa lagi?" Tanya Bella dengan muka sinis.


"Jangan yang aneh-aneh deh Fel, lo baru aja sembuh."


"Lo masih waras kan Fel." Lanjut Bella dengan tatapan menginterupsi.


"Lo nggak mungkin jadi cewek posesif karena keinginan lo nggak terpenuhi kan Fel." Faya memegang tangan Fella dengan erat.


"Gue yakin seyakin-yakinnya kalau Arska nggak mungkin cari cewek lain, percaya sama omongan gue! Mungkin aja dia sibuk sama hal lain." Bella mencoba menghibur Fella dengan segala hal yang melintas di dalam otaknya.


"Stop!" Fella berdiri dengan suara yang cukup keras. Membuat orang-orang yang ada di sana memandang ke meja Fella dan kedua sahabatnya.


Segerombolan pemuda yang berada di meja paling pojok. Dengan Arska yang berada di sana bersama dengan teman-temannya untuk mengerjakan persentasi, terpaksa harus ikut menoleh ke sumber suara.


"Fella," cicit Bella agak malu dengan tindakan Fella barusan.


Arska menyeringai melihat pemandangan itu. Meletakkan pena yang sejak tadi di pegangannya, tangan lelaki itu bersedakap di dada. Tak ingin melewatkan sedetikpun kekonyolan yang akan di lakukan oleh kekasihnya itu.


"Bodo amat. Kalian dari tadi terus cerewet, dan buat gue mikir sampai kepala gue jadi sakit. Kalian mau tanggung jawab kalau gue kebanyakan mikir dan tiba-tiba gue hilang ingatan. Dan semua memori ingatan gue tentang Arska tiba-tiba hilang?"


Tidak ada yang tidak melongo mendengar ucapan ajaib dari Fella. Bukannya semakin sering otak untuk berpikir bukannya semakin bagus. Dan lagi pula, penelitian mana jika terus berpikir akan menghilangkan ingatan. Sepertinya apa yang di katakan Arska tadi tentang kebodohan yang hakiki sudah mulai terlihat.


Sebenarnya Fella tak sebodoh yang terlihat, di bandingkan dengan Arska, otak Fella juga mumpuni jika di ajak bersaing.Tapi kecerdasan otak kadang tak berpengaruh jika bahas cinta mulai bicara. Dan itu terbukti dengan adanya Arska yang beberapa hari ini terlihat cuek, semakin membuat otak Fella ambyar.


"Jadi tolong.... kalian jangan ngomong yang aneh-aneh lagi tentang Arska, dia itu calon iman aku. Mana ada di gandeng cewek lain, dia kan sayangnya cuma sama aku." Padahal kedua sahabatnya tak menjawab perkataan Fella, tapi seolah mereka menanggapi ucapnya.


Dengan dramatis Fella berucap. "Gue hampir masuk rumah sakit lagi, karena kebanyakan mikir." Gadis itu sama sekali tak memperhatikan sekelilingnya, ia saat ini tengah menjadi pusat perhatian.


"Kalau seandainya Arska sampai tau, dan gue sempet mikir yang enggak-enggak tentang dia, terus dia marah sama gue, bisa sekarat gue. Cinta gue kan mentok banget ke dia."


"Aku juga cinta sama kamu kok Fella Anastasia Cantika." Seperti sudah terkoneksi dengan baik, mata Fella langsung bisa menemukan keberadaan pemilik suara yang mengatakan cinta kepadanya.


Di sana Arska masih dengan gaya santainya menatap Fella dalam-dalam. Sontak saja mata Fella melotot dan kemudian berkedip pelan.


Suara Sorakan 'Cie-cie' di iringi siulan sudah memenuhi kantin, tapi seolah semua itu tak berpengaruh dengan telinga Fella. Gadis itu masih menatap fokus ke arah Arska.


Tapi setelah kesadarannya kembali hadir, Fella langsung mengambil tasnya dan berlari meninggalkan kantin. Tentu saja ia bukan malu kepada orang-orang, lebih tepatnya ia malu kepada Arska.


Arska geleng-geleng kepala melihat hal tersebut. Tapi setelah itu berkekeh. Dia harus menggigit bibirnya agar tawanya tak keluar.

__ADS_1


Sungguh Fella benar-benar konyol dengan segala tindakannya.


__ADS_2