Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Balik Jakarta


__ADS_3

Liburan telah usai mereka mempersiapkan untuk pulang ke jakarta. Rasa yang berubah kini di alami Aldy dan Faya saat liburan, mereka mengalami masa-masa yang cukup sulit. "Bel, gue gue duduk sama elo ya" pintanya dengan tangan yang menggelayut di lengan Bella.


Bella melihat ke arah Aldy wajahnya terlihat masam. "Elo nggak duduk sama Aldy lagi?".


Buru-buru Faya menggeleng. "Gue lagi nggak pengen ngobrol gue pengen istirahat" jelasnya.


"Ya udah kalau itu mau elo" ucap Bella yang langsung masuk ke dalam mobil, ia memilih duduk di belakang kemudi agar lebih nyaman.


"Elo duduk sama gue dy, nggak usah ngeliatin Faya terus. Dia udah duduk sama pujaan hati gue" cetus Brayu yang langsung menepuk bahu Aldy pelan.


Senyum masam di tunjukan di hadapan Brayu. "Sesama jomblo ya gini duduk aja nggak ada pasangannya, di mana-mana selalu sama elo" jelasnya seraya masuk ke dalam mobil dengan malasnya.


Setelah mendapati semua penghuni mobil sudah lengkap. Arska segera melajukan mobilnya agar tak terlalu malam sampai di jakarta.


"Tumben masih sepi gini penghuninya pada kemana ini?" tanya Arska memecah keheningan.


"Kita capek ka, butuh istirahat besok udah mulai masuk sekolah gue nggak mau tidur di kelas" balas Regina.


Setelah mendengar jawaban dari Regina Arska kini beralih melirik ke arah Fella di dapati kekasihnya sedang asyik menikmati pemandangan dari balik jendela. "Bagus banget ya pemandangannya" ucap Arska membelai rambut halus Fella.


Fella hanya tersenyum, ia mengangguk pelan seraya melihat ke arah Arska. "Tapi masih indah ciptaan Tuhan yang ada di hadapan ku saat ini" celetuk Fella sambil memegangi pipi Arska.


Arska memajukan bibirnya. "Em..... sayang ku kamu sweet banget sih".


Para penumpang kini protes dengan hal yang di lakukan oleh sepasang remaja di depannya. "Woy.... woy.... nggak ada yang boleh pacaran selama kita istirahat" protes Dilan.


"Iya ni bikin mata sakit" celoteh Brayu.


"Gue kan jadi iri ka, ngeliat kalian makin nempel kaya gitu" ucap Regina.


"Nggak cukup apa? di Villa udah mesra-mesra-an sekarang di mobil juga tebar kemesraan" protes Bella.


Lain halnya dengan Aldy dan Faya yang hanya sibuk memejamkan matanya tanpa mempedulikan celotehan dari teman-temannya.


"Hidup kalian kurang happy kalau masih ngurusin hidup orang lain" ledek Arska di balik kemudi.

__ADS_1


Kini keadaan mobil mendadak berubah menjadi pasar, mereka sudah tak lagi mempedulikan badannya yang lelah.


...•°©inta Untuk Fella°•°...


Pukul 17:45 mereka sampai jakarta, Arska melihat sekilas ke belakang ternyata teman-temannya sudah terkapar tak berdaya. "Payah banget kata mau nemenin ngobrol sampai jakarta nggak taunya udah pada tepar".


"Biarin aja sayang mereka juga butuh istirahat, di Villa meraka main terus tanpa ada waktu" jelas Fella dengan mata sayu-nya.


"Untung aja ada kamu yang nemenin aku sayang, jadi nggak terlalu bosen nyetirnya" ucap Arska seraya mencium kening Fella.


Bella yang mulai membuka matanya segera memukulkan tangannya ke kursi kemudi. "Jangan siksa mata gue sama tingkah alay kalian, sakit tau mata gue!!".


Yang lain mulai terbangun karena suara Bella yang cukup keras. "Apa-apaan sih bel, gue kaget denger suara nyaring elo" ucap Dilan sambil mengucek matanya.


Di susul yang lain masih sibuk menguap tanpa ada niatan untuk membalas celotehan Dilan. Regina keluar terlebih dahulu disusul oleh Dilan dan yang lain, hanya tersisa Faya dan Aldy di dalam mobil. Mereka masih engan beranjak dari tempat duduknya, tanpa mereka sadari jika di dalam mobil hanya tersisa mereka berdua. "Huft.... sungguh perjalanan yang melelahkan" ucap Faya dengan dirinya sendiri, sambil memandangi jam tangannya.


Aldy belum juga membuka suaranya, ia masih melihat pergerakan Faya yang lamban dan engan turun dari mobil. Hingga ponsel Faya yang berbunyi membuatnya fokus menatap ke arah layar.


Drett....Drett....Drettt...


"Udah sampai jakarta? perlu gue jemput" tawarnya di seberang telfon.


"Gue...balik sama Bella kayaknya vin. Tapi kalau elo maksain buat jemput.....".


Belom sempat melanjutkan kata-katanya Aldy langsung menyambar ponsel Faya dan itu membuat Faya sedikit kaget dan menoleh ke belakang.


"Kakak masih di sini? sejak kapan?" ucap Faya melotot.


"Nggak penting..." balas Aldy sambil mematikan telfon dari Kevin.


"Balikin ponsel aku kak, kakak nggak ada hak buat nyita ponsel aku!!" seru Faya yang mencoba meraih ponsel yang masih berada di tangan Aldy namun karena masih di dalam mobil hal itu pun susah di dapatnya, justru kepalanya terbentur langit-langit mobil karena ia memaksakan untuk berdiri. "Aw..... sakit" ucapnya sambil memegangi pelipisnya.


"Hati-hati fay" kata Aldy yang mulai panik.


"Ini semua gara-gara kakak, coba kakak nggak ngambil paksa ponsel aku, nggak bakalan kaya gini jadinya" jelas Faya dengan tangan masih memegangi pelipisnya. "Lagian kakak ngapain ngurusin masalah orang sih, kakak nggak ada hak buat ngatur aku!!".

__ADS_1


"Aku berhak fay..." Aldy tak langsung melanjutkan ucapannya.


Faya mengernyitkan dahinya. "Kakak nggak berhak, itu privasi aku".


"Aku berhak karena aku pacar kamu sekarang!!" Aldy melanjutkan ucapnya tadi.


"Kakak adik nggak pernah jadi pacar dan nggak akan pernah!!" tegas Faya.


"Tapi aku yang ambil ciuman pertama kamu, berati aku yang berhak jadi pacar kamu!!".


"Kak Aldy gila".


"Iya... aku gila karena kamu. Kamu terus buat hati aku gelisah".


Faya menggelengkan kepalanya pelan. "Kakak nggak boleh ngomong gitu kalau kakak nggak beneran sayang sama aku" mata Faya mulai memanas, ia tak mampu menatap ke arah Aldy lagi.


"Jangan nangis aku beneran sayang sama kamu" bibir Aldy bergetar hebat ia mencoba menyadarkan dirinya agar tak kalut oleh suasana.


Faya mengigit bibir bawahnya, ia tak mengerti dengan sikap Aldy yang selalu berubah-ubah. "Tapi hati aku bertolak belakang, kakak cuma kasihan kan sama aku terlihat jelas dari cara bicara kakak dan aku nggak suka sama sikap kakak yang kaya gini" ucap Faya yang langsung menepis tangan Aldy ketika akan menyentuh tangannya. Faya memegang pintu mobil ia ingin segera keluar dan meninggalkan Aldy, namun tangan kekar Aldy menarik kembali pergelangan tangan Faya cukup kuat.


"Kak Aldy mau ngapain lagi? aku nggak mau nyari ribut kak. Di luar ada teman-teman".


Aldy mengusap wajahnya dengan kasar, ia bingung bagaimana cara menghadapi gadis yang ada di hadapannya saat ini. Rasanya percuma saja meskipun ia sudah bicara jujur mengenai isi hatinya tapi Faya juga tak menganggap ucapnya serius.


"Fay.... dengerin aku ngomong dulu".


"Buat apa aku dengerin kakak ngomong?".


"Biar kamu tau isi hati aku yang sebenernya fay".


"Kakak cuma mau menghibur aku aja kan, makanya kakak ngomong kaya gitu tadi. Kakak kasihan kan sama aku!!" suara Faya terdengar serak.


Aldy tak juga membalas ucapan Faya, ia menundukkan kepalanya sejenak. "Jadi kamu cuma anggap aku bercanda? kalau pun Kevin ngajak balikan, kamu juga bakalan terima?" ucap Aldy yang kini mengangkat kepalanya.


"Seenggaknya Kevin nggak kaya kakak, yang suka tarik ulur perasan orang tanpa ngasih kejelasan. Suka ngasih perhatian lebih abis itu nggak guna karena cuma di anggap adik".

__ADS_1


Ucapan Faya sukses membuat Aldy terdiam seribu bahasa, ia tak dapat mencerna kata-kata dengan baik karena otaknya memang sedang kacau. Sering bercanda membuatnya tak di anggap serius saat mengucapkan hal-hal serius menyangkut hatinya dan itu kesalahan yang sering ia alami.


__ADS_2