Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Baku Hantam


__ADS_3

Udara dingin kian menusuk kulit, walau hujan sudah berhenti beberapa menit yang lalu. Arska mengulum senyum saat mendengar sesuatu yang berbunyi dari perut Fella, membanting setir kemudi dan menepi di depan rumah makan pinggir jalan.


"Kamu lapar yang?" ujar Arska melepas seat belt.


Fella nyengir kuda hingga gigi putihnya kini dapat terlihat dengan jelas. "Tau aja kamu yang, aku jadi malu," ucap Fella sambil mengelus perutnya.


"Suara cacing kamu udah demo, kalau lapar kenapa nggak bilang dari tadi si yang?" ledek Arska.


Fella tak menjawab ledekan dari kekasihnya itu, ia mencebirkan bibirnya seraya melepas seat belt dan keluar dari mobil. Setelah memesan makanan, Arska ikut duduk berhadapan dengan Fella. Mereka sengaja memilih tempat yang sedikit jauh dari pengunjung lain.


"Nggak papa kan yang makan di pinggir jalan?"


"Emangnya kenapa? bukannya sama aja ya makan di mana aja yang penting kita nyaman."


"Ya takutnya kamu nggak biasa makan di pinggir jalan kaya gini, secara cewek cantik mana mau di ajakin makan di tempat kaya gini," jelas Arska.


Fella tersenyum kecil mendenagar celotehan kekasihnya itu. "Aku udah biasa makan di tempat kaya gini yang, malah sering banget sama Bella dan Faya mereka nggak pernah protes."


Selang beberapa menit pesanan mereka datang. Mie ayam plus bakso makanan favorit Fella. Makan mie ayam malam-malam seperti ini sangatlah nikmat, di tambah udara dingin di luar sangat mendukung.


Selesai makan Arska segera mengantar Fella pulang, ia tak mau jika mendapat predikat calon mantu yang kurang ajar karena memulangkan anak gadis orang tidak tepat waktu. Sampai di persimpangan Arska dan Fella tercengang melihat ada segerombolan preman yang menghalangi jalan mereka, jumlah meraka yang lumayan banyak membuat Fella semakin takut. Suara telakson berbunyi begitu nyaring di telinga mereka tapi mereka tak mempedulikannya, mereka hanya melihat sekilas dengan sinis nya.


"Sayang tahan emosi kamu," suara Fella terlihat sedikit panik.


"Aku nggak mau kalau nanti kamu pulang telat terus Om sama Tente marahin kamu sayang," jelas Arska yang langsung melepas seat belt dan turun dari mobil.


Fella yang mulai panik segera mengambil ponsel yang berada di dalam tas. Ia ingin membantu kekasihnya tapi ia masih ragu dengan kemampuan beladiri nya yang payah. Tatapan mereka begitu tidak bersahabat. Fella sadar jika jalan yang mereka lewati tak jauh dari rumah Bella, dengan cepat ia mencoba menghubungi Bella.


"Bang bisa minggir nggak? saya mau lewat," suara Arska masih terdengar santai tapi hatinya tidak.

__ADS_1


"Ya... elo tinggal lewat aja ngapain ribet!!!" cetus salah seorang pria berambut gondrong itu.


"Masalahnya mobil saya nggak bisa lewat, abang-abang ini nutup jalannya, tunangan saya keburu malam sampai rumahnya," jelas Arska.


"Kalau kita nggak mau minggir elo mau apa?" ucap pria dengan tato yang hampir memenuhi badannya.


"Maaf ini bang.... saya nggak mau ribut."


"Tapi kita disini pengen cari ribut sama elo, kita udah di bayar mahal sayang kalau nggak mukulin elo," ucap pria botak dengan tubuh kekar itu.


Alis Arska terpaut saat mendengar ucapan pria botak tersebut. "Setau saya, saya nggak kenal sama abang-abang ini dan nggak pernah punya masalah sebelumnya."


"Elo emang nggak punya masalah sama mereka, tapi elo punya masalah sama gue," suara cewek tiba-tiba muncul dari belakang preman tersebut.


"Hay kak Arska... gimana kabarnya? masih ingat sama gue !!!" ucap cewek itu dengan bersedekap dada ya cewek itu tak lain adalah Mona.


"Ingatan yang sangat bagus... tapi sayangnya ingatan gue tentang elo! tidak terkesan bagus, elo sia-siain rasa sayang gue begitu aja dan gue sakit hati !!!" Mona memegangi dadanya. "Sakitnya nggak akan pernah hilang kak Arska, hati gue udah tergores."


"Terus sekarang mau elo apa?" Arska mengepalkan tangannya.


"Hahaha.... elo tau kan gue sayang sama elo," Mona menyeret balok kayu yang dari tadi di pegangannya, ia mendekati Arska dengan senyum sinis nya. "Gue pengen elo balik ke sisi gue!"


"Sampai kapan pun gue nggak akan pernah suka sama cewek iblis kaya elo! apa lagi balim ke sisi elo dan nyakitin orang yang gue sayang!" teriak Arska dengan lantang, emosinya kini memuncak.


"Gue paling nggak suka kalau keinginan gue di bantah, apa lagi di tolak" suara Mona mulai meninggi. "Gue pengen mereka berdua ngerasain rasa sakit yang gue alami saat ini!!!" teriak Mona yang langsung menunjuk ke arah Fella berada, tatapan membunuh terlihat jelas di sana.


Mata Fella membulat sempurna, kepanikan mulai melanda, dan kekasihnya dalam bahaya saat ini. "Bella please angkat telfon gue!" tubuh Fella bergetar cukup hebat.


Beberapa menit kemudian Bella mengangkat telfon Fella. "Iya fel...ada apa? malam-malam gini elo telfon gue?" ucap Bella dari seberang telfon.

__ADS_1


"Bella tolongin gue sama Arska..... kita di keroyok sama preman di deket rumah elo !!!" teriak Fella dengan suara histeris, kini Fella tak bisa konsen dengan ponselnya lagi, ia mengkhawatirkan kekasihnya.


Suara ricuh tertangkap oleh pendengaran Bella. "Fella elo dimana?" teriak Bella tak kalah panik.


Tak ada lagi tanggapan dari Fella. Bella segera memutuskan sambungan telfon ,ia mengajak beberapa pengawal khusunya untuk membantunya. Tak butuh waktu lama untuk menemukan keberadaan Fella dan Arska. Bella melihat Arska dengan sisa tenaganya menghajar preman-preman tersebut meskipun dirinya sudah babak belur tapi ia masih bertahan untuk melindungi Fella.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Di tendangnya beberapa preman hingga terjungkal, tengkurap di atas aspal. Bella sudah lama tak melakukan pemanasan hingga mengeluarkan begitu banyak keringat. Pengawalnya begitu sigap mengajar preman yang masih tersisa. Hingga mata Bella beralih menatap ke arah Mona.


Bugh!


Satu pukulan melayang ke wajah Mona hingga darah segar mengalir di hidungnya. "Gue pernah ingatin elo buat nggak ganggu sahabat dan teman gue. Tapi peringan gue nggak pernah elo denger!!!" teriak Bella yang kini masih menjambak rambut Mona dengan kasarnya.


"Non, semua sudah beres apa perlu panggil polisi?" ucap salah satu pengawal kepercayaan keluarga Moregan.


Bella menoleh ke sumber suara. "Nggak perlu Pak Udin... ini hanya peringatan semata, tapi lain kali jangan harap!!" Bella kembali menatap Mona dengan tatapan membunuh.


"Siapa elo sebenernya?" teriak Mona dengan sisa tenaganya.


"Elo nggak tau siapa gue!" ucap Bella seraya melepaskan tangannya dari rambut Mona dengan kasarnya.


Bella segera membantu Fella dan Arska yang sudah bonyok. "Elo itu aneh fel, udah tau bela diri lo payah masih aja maksain diri buat berantem."


Bella tak henti-hentinya mengomel, ia memutuskan untuk mengobati Fella dan Arska di rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2