Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Terjebak Di Perpustakaan


__ADS_3

Faya mencoba memutar handle pintu perpustakaan. Aneh, saat memutar gagang pintu tersebut, pintu itu tak bisa dibuka. Meskipun sudah melakukannya berkali-kali, tampaknya perpustakaan telah terkunci dan Faya tak mengetahuinya.


Dari kaca jendela, Faya melihat petugas kampus yang sudah meninggalkan ruangannya.


"Pak! Pak!" teriak Faya sambil melongok dari jendela perpustakaan.


Percuma! Petugas itu sudah menjauh. Tak tinggal diam, Faya pun mencoba menggedor-gedor pintu tersebut berharap ada orang di luar sana yang melihatnya terkunci di dalam perpustakaan.


Bella yang memang memiliki rencana iseng pun terus menguarkan senyumnya, sepertinya ini akan menjadi hal yang baik untuk keduanya. Mereka bersekongkol kepada penjaga perpustakaan untuk mengunci ruangan itu lebih awal. Mereka mengunci Aldy dan Faya di ruangan yang sama. Membantu lelaki itu untuk mendapatkan cinta dari mantan kekasihnya. Bella, yang begitu semangat melakukan rencananya dengan girang, langsung memanjat dinding yang jaraknya lumayan dari tempat mereka saat ini. "Berhasil, nggak ya kira?" tanyanya kepada dengan kepala mendongak.


"Sayang, turun! Jangan suka manjat-manjat kaya gitu!" seru Brayu dengan tangan yang masih senantiasa memegangi kursi yang di jadikannya untuk mengintip istrinya.


"Diem Brayu! Baru seru ini. Kamu jangan ganggu dong." balasnya.


"Astaga sayang, ingat. Kamu ini baru hamil, aku nggak pengen kamu sama anak kita kenapa-napa." jelas Brayu dengan nada pelan.


Ucapan Brayu sukses membuat orang yang ada di sana menatap ke arah Bella dengan tatapan siap menyelidik.


"Elo udah hamil, Bel?" tanya Fella tak percaya.


Bella hanya menggigit bibir bawahnya, ekor matanya melihat ke arah mereka berempat secara bergantian.


"Kalau udah, nggak papa kan. Justru malah bagus." sahut Regina.


Bella yang tadinya petakilan di atas kursi, langsung saja turun di bantu oleh Brayu yang masih setia memegangi tangan sang istri.


"Mommy sama Daddy pengen cepat punya cucu. Makanya kita nggak nunda dulu." balasnya, dengan sikut kiri yang sengaja di arahkan ke perut Brayu, karena lelaki itu sudah bicara blak-blakan tanpa meminta izin kepadanya terlebih dahulu.


Brayu masih menahan rasa sakit yang di timbulkan karena ulah istrinya. Setidaknya, lelaki itu sangat senang, karena Bella tak menyangkal ucapannya.


"Terus, jatah kalian mau jadi mahmud sama pahmud, kapan dong, Ka?" tanya Dilan dengan spontan-nya.


Arska tersenyum, sambil meraih lengan Fella agar istrinya itu berdiri tepat di sampingnya. "Gue, nanti dulu. Masih nunggu Aya siap," jawabnya.


Brayu ikut tersenyum, lelaki itu langsung memeluk istrinya dari belakang, menaruh dagunya di bahu Bella. "Anak itu, rezeki Ka, nggak usah takut. Semua udah ada yang ngatur." ucapnya santai.


"Gue tau Bray. Tapi, gue pengen dia yang minta duluan, masak iya. Yang min....." Arska tak melanjutkan ucapannya, karena tangan Fella terlebih dahulu membekap mulut bibir suaminya itu.


"Jangan di bahas lagi!" Bisik Fella dengan berjinjit. Wajah perempuan itu sudah merah merona akibat ucapan suaminya itu.


Mata mereka langsung memusat kearah Fella. Mereka masih menantikan kelanjutan dari ucapan Arska yang tertunda karena ulah Fella.


"Kalian, ngapain ngeliatin gue!" serunya dengan ekspresi datar.


"Kenapa? Elo bekap, mulut suami elo. Dia belum selsai ngomong. Kita masih penasaran." protes Dilan.


Perempuan itu dengan perlahan menurunkan tangannya dari sana, dengan tampang tertekuk-nya yang pastinya.


"Lanjutin, Ka!" pinta Brayu.


Lelaki itu baru saja bernapas, wajahnya napak memerah, akibat ulah Fella. Arska baru akan melanjutkan perkataannya kembali. Namun ekor mata Fella, lurus menatap kearahnya dan tanpa ekspresi. Membuat Arska mengembangkan senyumnya semakin lebar, 'Bagus juga, kalau ngerjain Aya,' pikirnya sejenak. "Jadi gini..."


Arska tak melanjutkan ucapannya lagi, lelaki itu merintih dan mengaduh, akibat cubitan kecil di area perutnya. Tanpa nanti-nanti istri Arska itu langsung mencubitnya, dengan begitu Arska tak akan mempermalukannya di depan teman-temannya.


Tawa mereka pecah, saat melihat kelakuan kedua pasangan yang begitu mengemaskan itu. Sampai mereka melupakan akan hal tentang Faya dan Aldy yang memang sengaja di kurung di dalam perpustakaan.


Di dalam perpustakaan.


"Ya ampun, kenapa di saat seperti ini ponsel gue malah mati, sih." keluh Faya, dengan menyandarkan punggungnya ke rak buku yang ada di belangnya. 'Dan, kenapa harus terjebak di dalam satu ruangan yang sama. Sama kak Aldy.' pikirnya dengan ekor mata melirik ke arah Aldy.


"Kak, bawa ponsel nggak? Pinjem bentar kalau bawa."


Jangut Aldy naik turun seakan menelan sesuatu, bahkan lelaki itu sedikit gagu ketika di tanya oleh Faya seperti ini. "A-anu, A-ku lupa bawa ponsel, Fay. Ketinggalan di kelas." ucapnya dengan nada grogi.

__ADS_1


Faya mendengus kesal, mendengar jawaban Aldy yang tak memuaskan itu. 'Dih, kenapa ngomongnya jadi grogi kaya gitu, sih!' keluh Faya dalam hati.


Gadis itu kembali menyandarkan punggungnya di antara rak-rak buku. Hingga, terlintas ide konyol yang menurutnya akan berhasil saat melihat kaca jendela yang sedikit terbuka di atas sana. Faya segera menarik kursi, ia berinisiatif untuk keluar dari perpustakaan dengan cara memanjat jendela yang jaraknya cukup tinggi itu.


"Kamu mau ngapain, Fay?" tanya Aldy sambil memperhatikan aktifitas Faya.


"Keluar kak." balasnya.


"Itu tinggi, Fay. Nanti kalau kamu jatuh gimana?"


Faya berdecak, Aldy sejak tadi masih santai tanpa memikirkan cara untuk keluar, sedangkan dirinya berusaha berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar dari ruangan tersebut.


"Kakak, emang nggak mikirin gimana caranya keluar? Kalau ini satu-satunya cara. Kenapa nggak kita lakuin," ucapnya dengan tampang kesal.


"Tapi, itu tinggi, Fay. Kalau kamu jatuh gimana?" Aldy mengulangi perkataannya lagi.


"Kalau jatuh kan tinggal berdiri lagi. Kenapa ribet, sih!" serunya dengan tampang jutek.


Faya mencoba untuk mendorong kaca jendela yang cukup tinggi itu. Namun, keseimbangannya tak terlalu bagus, hingga ia nyaris terjatuh.


"Aw." pekiknya saat sepatunya terjepit di antara sela-sela kursi.


Aldy langsung membantu gadis itu untuk turun dari kursi tersebut. "Kan udah aku bilang, kita nunggu aja. Sampai ada orang yang nemuin kita di sini." kata Aldy yang langsung melepas sepatu Faya. Lelaki itu dengan hati-hati melepaskan sepatu yang masih menempel di kaki Faya.


"Nggak papa, cuma lecet dikit. Nanti sampai rumah kasih salep juga sembuh," ucapnya dengan ekor mata yang menatap lurus kearah Faya.


Faya menghembuskan napasnya, gadis itu merasa kesal saat mendengar ucapan Aldy itu. 'Nggak ada apa? Niatan dia buat mikir. Capek tau, gue mikirin jalan keluarnya, dia malah kaya nggak mikir sama sekali. Sampai rumah dengkulnya, apa? Keluar aja belum bisa, malah ngomongin sampai rumah, kesel banget gue jadinya!' gumam Faya dalam hati.


Aldy menggeser duduknya agar bersebelahan dengan mantan kekasihnya itu. "Ada niatan buat kita balikan nggak, sih?" tanyanya dengan tiba-tiba.


Menundukkan wajahnya sesaat, "Kakak, kenapa tiba-tiba ngomongin masalah itu? Yang lalu, biarin aja berlalu, kenapa masih di ungkit, sih." Faya membalikan ucapan Aldy.


"Aku pengen, hubungan kita balik kaya dulu lagi, Fay. Pengen ngulangin masa-masa bahagia kaya dulu." kata Aldy yang langsung meraih kedua tangan Faya.


"Kamu harus, dengerin penjelasan aku dulu, semua yang kamu lihat nggak seperti apa yang ada di pikiran kamu." Aldy meraih kedua pundak Faya agar menghadap ke arahnya.


Menghela napas panjang, gadis itu tetap tak ingin menatap ke arah Aldy. Bahkan, rasa kesalnya semakin bertambah, karena ia terkunci di ruangan yang sama dengan mantan kekasihnya itu. Lelaki yang selama ini selalu ingin ia hindari. Hening tercipta sesaat Faya tak juga membuka suaranya.


"Percaya, kamu cuma salah paham!" katanya mencoba menjelaskan.


Menyingkirkan kedua tangan Aldy yang berada di bahunya. Faya masih terdiam dan enggan mengucapkan sepatah kata pun, ia memilih berdiri dengan kaki yang tertatih. Rasanya oksigen di dalam tubuhnya mulai menipis saat dia duduk bersebelahan dengan lelaki tersebut.


"Kakak, tau nggak? Beberapa bulan ini aku tersiksa karena ulah kakak!" katanya dengan membelakangi Aldy.


Mengacak rambutnya dengan kasar, lelaki itu tau akan kesalahan yang telah ia perbuat. Bahkan, ia siap mendapatkan hukuman atas kesalahannya itu, agar bisa kembali ke sisi Faya seperti semula.


Mencoba meraih lengan Faya kembali. Namun, gadis itu segera menghindar. Bahkan, jarak di antara keduanya terbilang cukup jauh. Aldy mengepalkan tangannya, ia baru merasakan rasa sakit yang begitu sesak menerpa dadanya, mungkin ini karma atas apa yang ia perbuat selama ini, atau mungkin ini sebuah penolakan dari Faya yang tak mau kembali lagi ke sisinya.


"Fay, dengerin aku ngomong." ucapnya dengan suara yang terdengar cukup serak saat masuk kedalam telinga Faya.


Gadis itu langsung menoleh dan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. "Shutttt.... kak Aldy diem bentar deh, kayaknya aku denger suara Bella sama yang lainnya, deh." katanya dengan ekor mata yang berkeliling mencari sumber suara yang di yakini memang Bella dan yang lainnya.


'****, kenapa mereka malah ribut, sih. Mereka niat bantuin gue nggak sebenernya.' gumam Aldy yang nampak kesal ketika mendengar suara teman-temannya dari balik tembok itu.


Tanpa menunggu nanti-nanti Faya langsung berteriak. "Bel, gue tau itu elo sama yang lainnya. Gue minta tolong, buat bukain pintunya sekarang, juga!" Faya nampak berjinjit-jinjit agar bisa melihat keberadaan mereka yang terhalang oleh tembok dan jendela kaca yang cukup tinggi itu. Sejenak, gadis itu melupakan akan kakinya yang sedikit lecet itu, bahkan rasa sakitnya pun tak di rasakan saat mendengar suara sahabatnya.


Di luar ruangan.


"Ya ampun, suara gue nyampek kedalam perpustakaan. Gimana ini?" tanya Bella dengan merendahkan nada suaranya, perempuan itu nampak panik.


"Gue, juga lepas kontrol, Bel. Sorry, gue juga. Lupa kalau di dalam masih ada orang." sahut Regina.


"Terus, gimana mau di bukain enggak?" tanya Fella yang nampak bingung juga.

__ADS_1


"Udah, kita pergi aja dari sini. Pura-pura nggak denger aja." kata Dilan memberi ide.


Mereka berenam akhirnya sepakat untuk meninggalkan tempat itu tanpa membuka suaranya.


Faya mengernyitkan keningnya, saat keheningan mulai terasa dan tak ada respon dari luar sana. Rasanya, ia mulai putus asa. "Astaga, mereka pada kemana? Apa teriakan gue nggak sampai ke telinga mereka." keluh Faya yang kini mem-merosot-kan tubuhnya kelantai.


Lelaki itu segera mendekatkan dirinya dan memegangi pundak Faya. "Tenang aja, sebentar lagi pasti ada orang yang bakalan buka pintunya." kata Aldy mencoba menghibur Faya.


Tak ingin melihat wajah Aldy, Faya justru menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.


"Fay, kasih kesempatan buat aku, sekali aja. Aku mohon." suara Aldy terdengar serak kembali. Bahkan, lelaki itu sedikit memiringkan kepalanya, agar Faya dapat mendengar dengan jelas segala ucapannya.


Langit semakin menunjukan sore, gelap mulai terasa menyelimuti kedua insan yang tengah terjebak di dalam perpustakaan itu. Mungkin hanya suara jangkrik yang terdengar saat ini. Faya semakin meringkuk-kan tubuhnya.


"Sampai kapan kita harus nunggu di sini, kak. Apa mungkin sampai besok?" tanya Faya dengan segala keputusasaannya.


"Mungkin, sebentar lagi petugas penjaga kampus datang."


"Kita nunggu udah berapa jam di sini, kak? Nggak ada orang yang lewat. Bahkan, orang yang tadi ada di balik jendela aja nggak peduli. Aku sumpahin aja dia, biar kena sial terus." ucapnya kesal.


Lelaki itu menelan saliva-nya sambil menggaruk kepalanya yang mungkin tak gatal. "Sabar ya. Pasti ada jalan keluarnya kok."


Aldy melihat sekelilingnya yang memang sudah menunjukkan akan datangnya malam. 'Mereka sengaja ngurung gue sama Faya. Atau niat mau ngerjain gue, sih? Kalau kaya gini caranya bisa habis di makan nyamuk.' keluh Aldy yang masih melihat sekelilingnya.


Menggenggam erat tangan Faya sesaat, "Jangan takut, aku bakalan jagain kamu."


"Aku, malah takut kalau satu ruangan sama kak Aldy." balasnya dengan memalingkan wajahnya.


"Kenapa? Tampang aku serem, apa gimana?" tanya Aldy yang langsung memegangi wajahnya.


"Biasanya, kalau cuma berdua itu. Yang ketiganya setan, aku takut habis ini setannya pada dateng kesini." kata Faya ngasal.


Aldy terkekeh, bahkan lelaki itu sempat memegangi perutnya. "Ya ampun, tinggal bacain ayat kursi aja, Fay. Kalau nggak mempan ya tinggal kita lempar aja pakai kursi."


Mengernyitkan keningnya, seraya menatap ke arah Aldy dengan tatapan sinis. "Idih, yang ada kak Aldy, udah di lempar duluan sama setannya!"


Lelaki itu menepuk-nepuk kakinya, bahkan tawanya kembali menguar sampai ia lupa akan caranya keluar dari rungan tersebut. Hingga, sebuah suara mengangetkan keduanya.


Kret... Kret.... Srak.........Srakkk...


"Apa itu, Fay?" tanya Aldy yang langsung memeluk lengan Faya cukup kuat.


"Palingan itu cuma suara meja ke seret aja, kenapa mesti takut, sih. Katanya kalau ada setan tinggal lempar pakai kursi!" sindir Faya dengan ekor mata melirik Aldy.


Sedangkan lelaki itu hanya komat-kamit menghafalkan ayat kursi yang cara membacanya pun, terbolak-balik karena ketakutan yang melandanya.


"Ya ampun kak, payah banget, sih. Baca ayat kursi aja sampai ke bolak-balik, gimana setannya mau takut kalau kaya gitu caranya."


"Fay, kenapa suaranya makin deket, sih." lelaki itu memejamkan matanya.


"Penjaga kampus dateng bukain pintu kak, kak Aldy mau ikutan keluar apa mau tetep di sini?" tanya Faya saat mengetahui pintu perpustakaan sudah terbuka cukup lebar.


Aldy langsung membuka matanya dan berlagak sok cool, lelaki itu langsung menarik tangan Faya. Ia mengucapkan terimakasih saat melintasi penjaga kampus.


"Udah nggak takut lagi?" tanya Faya yang masih mengekor di belakang Aldy.


"A-a-apa, sih Fay. Siapa yang takut."


"Dih, masih aja ngelak. Padahal takutnya udah kelihatan jelas." cibir Faya dengan bibir terangkat sebelah.


Aldy terdiam sampai menggigit bibir bawahnya. 'Awas aja kalian. Beraninya bikin gue malu di depan Faya.' gumam Aldy dengan segala keresahan yang menyelimuti hati dan pikirannya.


Kedua remaja itu langsung menuju parkiran, siap meninggalkan kampus dengan bulu kudu yang sudah berdiri tegak. Aldy benar-benar merasa ketakutan karena memang hari sudah petang.

__ADS_1


__ADS_2