
Arska sudah memikirkannya dengan matang, tekatnya sudah bulat untuk segera menikahi Fella. Arska juga sudah berdiskusi dengan Hendry dan Violla tentang rencana menikah mudanya. Tentu saja kedua orang tuanya mendukung, mereka akan pergi kekediaman Rangga malam ini untuk menentukan waktu dan tentu saja merundingkan segalanya.
"Mama salut sama kamu Ka, akhirnya kamu ambil keputusan untuk nikah cepat."
Arska tersenyum mendengar perkataan Violla. "Mungkin cara ini bisa bikin kita saling percaya dan nggak ada orang lain lagi yang ganggu hubungan kita kalau udah berstatus suami istri ma."
"Mama cuma pengen ngasih tau kamu, kalau di dalam sebuah pernikahan itu nggak ada yang mudah. Banyak perselisihan di dalam rumah tangga, apa lagi jika kamu nggak bisa jaga pandangan, Cantika akan berpikir kalau kamu bukan laki-laki baik."
"Arska ngerti ma, Arska juga udah mikir sampai ke sana, jadi mama nggak perlu khawatir. Lagi pula Arska nggak mungkin lirak-lirik wanita lain, sedangkan Arska udah cinta mati sama Aya."
"Bagus kalau kamu udah tau, jadi mama dan papa nggak perlu khawatir lagi."
Violla tersenyum mendengar hal tersebut, setidaknya bukan hanya ucapan saja, ia yakin jika anak lelakinya itu pasti bisa melakukannya dengan baik, karena Hendry telah mendidiknya sejak kecil.
"Kalau gitu, mama keluar dulu, kamu siap-siap, satu jam lagi kita berangkat ke rumah Cantika." Violla mencoba mengingatkan kembali anaknya untuk tidak membuang waktu dengan percuma.
Arska hanya mengangguk dengan senyuman yang masih terlukis di wajahnya dan merapikan pakainya kembali, sampai Clara pun datang mengendap-endap masuk kedalam kamar sang kakak.
"Kakak sama kak Cantika bentar lagi tinggal satu rumah dong?" tanya Clara dengan polos.
"Kamu seneng nggak? Kalau kak Cantika tinggal di rumah ini?"
"Itu yang selalu Clara inginin kak, jangan tanya lagi."
Arska menarik tangan adiknya agar bisa memeluknya. Clara kini telah berusia tujuh tahun, jadi ia sedikit mengerti apa yang di lakukan oleh orang lebih dewasa darinya, setidaknya hal-hal yang baik-baik saja.
"Kakak harus berterimakasih sama kamu, berkat kamu, kakak bisa bertemu dengan kak Cantika." Lelaki itu mencium pucuk rambut adiknya.
"Sama-sama kak, Clara juga seneng banget Akhirnya impian Clara buat punya kakak cewek segera tercapai." Di dekapan Arska, gadis kecil itu dapat merasakan bagaimana bahagianya sang kakak.
...°•°™©inta Untuk Fella°•°...
Arska mencoba menetralkan detak jantungnya yang sejak tadi bergemuruh, rasanya ingin sekali jantung itu copot dari tempatnya. Menghadap calon mertua, membuatnya panas dingin apalagi Angga menatapnya begitu dalam, lelaki paruh baya itu selalu saja membuatnya tak bisa berkutik jika menghadapi masa serius seperti sekarang ini.
"Kedatangan saya ke sini untuk membahas masalah pernikahan om." Arska menelan saliva-nya.
"Saya sudah tau semuanya, Aya sudah memberi tahu akan hal ini terhadap kami." Angga menanggapinya dengan tenang, karena memang ini yang di harapkan-nya. "Om dan istri om setuju dengan keputusan kalian, tapi apa kalian sudah pikirkan akan apa yang akan terjadi selanjutnya? Menikah mudah itu tidak semudah yang kalian bayangkan."
__ADS_1
"Arska sudah mengerti om, Arska juga sudah memikirkannya dengan sangat matang."
"Kamu yakin bisa bikin anak om bahagia dan jangan buat dia bersedih, karena dia anak om satu-satunya."
"Arska janji, akan selalu bahagiain Aya om."
"Kamu lelaki gentleman, om percaya sama kamu. Setelah menikah pun om juga berharap kamu bisa memberi nafkah kepada Aya dengan hasil jerih payah kamu sendiri, tanpa meminta bantuan dari kedua orang tua kamu." Lelaki paruh baya itu sedikit menasehati Arska, agar kelak tak merepotkan kedua orang tuanya.
Hendry dan Violla saling lirik, mereka engan menyela percakapan dari kedua orang tersebut. Mereka yakin jika anak lelakinya itu mampu menyelesaikan urusannya sendiri. Arska mencoba menghela nafasnya kembali. "Tekat saya sudah bulat dan matang om, saya memilih menikahi Aya lebih cepat karena saya tidak mau melihat Aya di ganggu terus oleh lelaki lain. Saya memeng belum kerja om, tetapi saya memiliki distro yang Insyaallah uangnya cukup untuk biaya saya dan Aya. Masalah tempat tinggal, mungkin saya dan Aya bisa tinggal di sini atau di rumah orang tua saya dulu. Sambil ngumpulin uang buat beli rumah sendiri." Jelas Arska.
Hendry dan Violla begitu bangga memiliki anak seperti Arska, ia mempu membangun bisnisnya sendiri di umurnya yang masih terbilang sangat muda. Sedangkan Fella terteguh mendengar hal tersebut, selama menjadi tunangannya Arska tak pernah bercerita tentang usahanya tersebut.
Angga dan Merry saling lirik, terlihat Merry menepuk-nepuk tangan suaminya sambil tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, om dan tante mengerti. Kami merestui keinginan kalian."
Fella dan Arska main mata, mereka tersenyum bahagia mendengar hal tersebut.
"Satu minggu ya om," ucap Arska.
Siapa yang tidak terkejut mendengar ucapan Arska, bahkan orang tuanya sendiri pun ikut melongo mendengar kata-kata tersebut dari mulut bibirnya.
"Ngebet banget kamu tuh Ka," sahut Violla.
Hendry dan Angga tertawa ringan, benar-benar anak zaman sekarang memang tak sabaran jika menginginkan suatu hal. Baik kedua keluarga pun tan mempersalahkannya, lebih cepat juga lebih baik agar tak menimbulkan fitnah berkepanjangan.
"Aduh... jeng, anak muda sekarang mana bisa nahan," celoteh Merry.
Fella melirik ke arah Merry, menepuk pundak bundanya cukup keras. "Bunda malu-maluin." Wajah Fella sudah merah padam karena hal tersebut, bibirnya sengaja di majukan.
Violla menutupi mulut bibirnya, karena tak bisa mengontrol tawanya. "Kalau udah ngerasain kamu pasti minta nambah Cantika."
"Mama...." Arska tersentak mendengar ucapan Violla yang cukup vulgar tersebut.
Tawa mereka kompak memecah melihat anak-anaknya menjadi bahan bullyan, kedua remaja itu merasa sedang dipermainkan oleh orang tua mereka sendiri.
...°•°©inta Untuk Fella°•°...
Fella memeluk Arska sambil duduk di sofa. Mereka sedang berada di teras belakang rumah Fella untuk sekedar mengobrol, gadis itu tak henti-hentinya mengembangkan senyumnya. Arska mengelus kepala Fella pelan. Sedangkan Fella seakan tak ingin lepas dari Arska dan ingin terus menempel kepada lelaki itu.
__ADS_1
"Sayang."
"Hemm...."
"Boleh tanya sesuatu nggak?"
"Tanya aja selagi aku mampu menjawab."
"Kok kamu nggak pernah cerita kalau kamu punya usaha sendiri?" gadis itu menatap mata Arska dengan lekat.
"Sebenarnya udah lumayan lama aku buka usaha itu, belom sempet ngasih tau ke kamu, karena emang akhir-akhir ini aku terlalu capek dan sibuk sama urusan kampus dan distro yang semakin hari semakin ramai." Arska mencoba jelaskan-nya secara rinci. "Makanya aku jarang banget ada waktu buat kamu, kasih kabar pun juga belum sepat karena emang benar-benar padat jadwalnya."
Fella merasa bersalah karena menuduh Arska yang tidak-tidak di belakangnya, gadis itu masih terdiam dalam pelukan Arska.
"Kamu udah ngerti kan, segala kesibukan aku sekarang. Jangan pernah mikir hal yang enggak-enggak tentang aku ya."
Gadis itu mengangguk dengan cepat dan mengurai pelukannya menatap Arska dan mengembangkan senyumnya. "Aku masih nggak percaya, dalam seminggu ini aku bakalan jadi Nyonya Aregan."
"Maaf... mungkin terlalu mendadak juga permintaan aku ini, aku juga belum sempat mempersiapkan segala sesuatunya. Kedepannya mungkin hidup kita akan sedikit pas-pasan karena tabungan ku juga tak terlalu banyak. Tapi aku akan berusaha untuk bisa mencukupi hidup kita setelah menikah nanti."
"Aku bakalan dukung kamu, kalau bisa aku juga kerja biar nggak terlalu membebani kamu."
Arska memegang kedua pipi Fella dengan pelan, menatapnya dengan lekat. "Aku nggak akan pernah rela negeliat calon istri aku kerja, aku akan berusaha semampu dan sebisa aku. Biar kita bisa hidup bahagia dan buktiin kalau aku mampun."
"Jantung aku serasa mau copot, kalau yang lain tau pasti pada syok," tutur Fella.
"Hahaha.... biar mereka juga ikutan nyusul."
"Jadi ingat perjalanan cinta kita dulu yang."
"Pura-pura nggak mau, tapi sekarang udah mau nikah."
"Sayang!"
"Hahaha.... kenyataannya kan emang gitu sayang," Arska mengeratkan pelukannya.
Tak ada yang tak bahagia saat mengetahui keputusan kedua remaja tersebut.
__ADS_1