Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
SAH!!


__ADS_3

Jangan tanyakan proses lamaran. Atau jangan tanyakan bagaimana mereka mempersiapkan acara pernikahan dari orang ternama dan memiliki perusahaan terbesar di kotanya yang sekarang baru memiliki hajatan.


Yang pasti, semua itu tak hanya melibatkan satu atau dua orang saja. Namun banyak. Entah berapa orang yang terlibat dalam mempersiapkan pesta pernikahan Bella dan Brayu.


WO ternama, khatering yang tak diragukan lagi kemampuan masaknya, designer pakaian ternama, dan cindera mata yang akan di berikan untuk tamu undangan, semua begitu apik.


Brayu, menerima syarat apapun yang di berikan kepadanya dari keluarga Moregan. Usianya yang masih sangat muda, tapi beban yang akan dipikulnya begitu berat. Tapi, dia adalah cucu Ganendra, dan putra mendiang dari Dirgantara, jadi, mundur tak akan pernah ia lakukan.


Mobil yang di tumpangi keluarga Ganendra sudah sampai di gerbang gedung yang akan di adakan pesta. Awalnya kakek Brayu sangat terkejut, mengetahui jika cucu laki-lakinya akan menikah muda. Namun pemilik perusahaan Alextati itu, memaklumi dengan apa yang sedang terjadi kepada kedua cucunya tersebut, makanya ia menyetujuinya. Demi ketentraman sang cucu. Acara ijab qobul pun akan di mulai beberapa menit lagi.


Brayu turun di iringi Kakek, Nenek dan Jasmin tentunya. Keluarga besarnya pun juga ikut mengiringi kedatangan Brayu kali ini.


Lelaki itu begitu tampan dengan pakaian pernikahan yang senada dengan kebaya yang di pakai Bella nanti. Langkahnya begitu pasti untuk masuk kedalam gedung tersebut. Di depan gedung juga sudah di hiasi beberapa bunga yang begitu cantik.


Brayu duduk di depan penghulu. Bisa dia lihat, Rahendra sudah berada di sana bersama kedua saksi nikah.


Hatinya, terasa deg-degan tentu saja. Tapi dia berusaha tetap tenang dan tak terlihat gugup di depan orang lain.


Setelah penghulu menanyakan persiapan hati Brayu, lelaki itu mengangguk dengan pasti dan mengatakan jika dia sudah siap melakukan ijab qobul.


Rahendra menjabat tangan Brayu dan melantunkan kalimat ijab, dan Brayu menjawab dengan pasti.


"Saya terima, nikah dan kawinnya, Bella Sandrica Moregan, binti Rahendra Morega, dengan mas kawin uang sebesar dua puluh lima juta rupiah, perihasan seberat dua puluh lima gram, dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!"


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah," ucap mereka serempak.


Seluruh ruangan melafalkan 'Alhamdulillah' bersama. Karena kini, Brayu sudah menyandang sebagai suami dari Bella, dan Bella sudah sah menjadi istri Brayu.


Baik Jasmin, Randy dan Rima, tak kuasa lagi membendung tangisnya. Sebenarnya, Jasmin belum merelakan jika sang adik menikah di usianya yang baru saja menginjak 21 tahun itu. Namun ia harus merelakan demi kelangsungan hidupnya yang tentram tanpa ada gangguan dari Papa tirinya yang kejam itu. Rima hanya bisa memeluk sang cucu, sambil mengucapkan beberapa kata. "Mungkin, jalan ini yang terbaik, untuk kamu dan Brayu, walau adik kamu sudah menikah, nenek yakin dia tetap sayang sama kamu," hibur Rima kepada Jasmin. Jasmin masih terdiam, entah apa yang gadis itu pikirkan, yang pasti, hatinya merasakan sedih bercampur kebahagiaan.


Bella datang di apit oleh Ranita dan juga Sonya, kakak dari Rahendra. Gadis yang sudah menyandang sebagai Nyonya Brayu itu terlihat sangat cantik. Kebaya yang di pakainya pun begitu pas di badannya, dengan make-up yang menempel di wajahnya-pun menambah kesan dewa bagi Bella.

__ADS_1


Setelah duduk di samping Brayu, Bella melirik Brayu malu-malu. Bahkan, pemerah di pipinya pun tenggelam karena rona merah yang muncul secara alami akibat jantung yang bertalu-talu.


"Silahkan di pakaikan cincinnya." perintah pak penghulu.


Brayu memakaikan cincin di jari manis kanan Bella kemudian mencium kening gadis itu. Dan begitu juga dengan Bella, mencium tangan Brayu setelah menyematkan cincin untuk lelaki itu.


Dalam sesi foto, Brayu berbisik kepada Bella. "Kamu cantik. Istriku." kalau saja di sana tidak ada orang, ingin sekali Bella mencubit Brayu agar tak terus menggodanya.


Tapi sayangnya, dia harus menahan itu semua agar tak mempermalukan diri sendiri. Dan dia hanya tersenyum sambil membalas ucapan Brayu. "Elo juga tampan. Suamiku." Dan jika semua orang mengira jika merek tersenyum karena hanya saat di potret. Maka, mereka salah. Justru mereka saling merayu satu sama lain, meskipun di sisi lain memang Bella ingin sekali menendang suaminya jauh-jauh karena tindakan yang terus menggodanya.


Waktu pesta masih dua jam lagi. Brayu dan Bella kini sudah berada di sebuah kamar, di belakang gedung resepsi tersebut. Bukan kamar pengantin tentunya, meskipun begitu, kamar tersebut sudah di hias dengan cantik. Karena setelah pesta selesai, mereka akan langsung menginap di sebuah hotel milik keluarga Moregan.


Bella langsung mendudukkan pantatnya di pinggir ranjang. Ini baru acara ijab qobul, belum saat resepsi nanti, tapi Bella sudah merasa lelah sekali.


Ketukan pintu kamar tersebut membuat Brayu yang baru saja akan mengganti bajunya menoleh ke arah pintu. Saling pandang dengan Bella, tapi kemudian dialah yang membukakan pintu.


"Kak Jasmin?" Jasmin yang masih berada di depan pintu menatap ke arah Brayu dengan wajah sayu. Dengan pelan, air matanya kembali mengalir ketika kelopak matanya mulai berkedip.


Bella hanya bisa menatap itu tanpa tahu harus berbuat apa. Brayu memang begitu menyayangi Jasmin dan tak jarang menuruti segala perkataan gadis tersebut, meskipun keisengannya sering membuat Jasmin kesal.


"Kamu, nggak akan ninggalin kakak setelah ini kan? Kamu pasti akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga Moregan di banding dengan kakak sekarang. Pasti kamu juga akan lebih sayang sama Bella di banding kakak." Jasmin menangis sambil berbicara sesukanya. Brayu tak menjawab dan hanya mengelus punggung sang kakak dengan lembut.


Bella menghela napasnya berkali-kali, istri Brayu itu segera menghampiri Jasmin dan memeluk erat tubuh kakak iparnya itu dari belakang. "Kakak tenang aja, Bella nggak akan memonopoli Brayu, biar gimana pun. Kalian masih bisa bertemu, kakak juga boleh tinggal sama kita," ucapnya dengan suara lirih.


"Yang di bilang Bella semuanya bener kak, kakak nggak perlu sedih lagi. Mungkin dengan begini, om Ridwan dan Mama nggak akan lagi ganggu ketentraman kita."


Jasmin melonggarkan pelukannya, gadis itu mengusap air matanya. Riasannya pun sudah tak beraturan.


Membuat sepasang pengantin baru itu tertawa tanpa dosa. "Astaga kakak, make-up kakak luntur," ucap Brayu dengan tawa menguar.


"Kamu ini, ya Bray. Baru aja bikin hati kakak seneng, udah bikin kakak kesel aja!" seru Jasmin.


"Habisnya, kakak itu lucu banget, adiknya baru bahagia kaya gini. Masak kakaknya cengeng."

__ADS_1


Jasmin mengusap air matanya kembali, suara isak-nya diiringi cegukan masih terdengar sangat jelas. "Ya udah, kakak keluar dulu. Kalian siap-siap buat acara selanjutnya," ucap Jasmin saat sudah selesai merapikan riasannya.


"Siap kak, jangan nangis lagi," ledek Brayu.


"Hem..." Gadis itu segera keluar kamar.


"Kak Jasmin, orangnya emang baperan kaya gitu ya Bray?" komentar Bella sedikit menyelidik. Tak menanggapi, Brayu menutup pintu tersebut.


Setelahnya, lelaki itu menatap Bella dengan lekat. Matanya menyorot ke wajah istrinya yang terlihat begitu cantik.


Bella, yang tadinya hanya memanyunkan bibirnya karena heran dengan sikap kakak iparnya itu, menatap Brayu balik. Tidak paham dengan tingkah Brayu, Bella bersuara.


"Kenapa, Bray?" tanyanya dengan wajah polos. "Ah, pasti elo aneh ya, ngeliat wajah gue yang ditempeli make-up tebal ini?" tangannya kini mengusap-usap wajahnya. "Tapi, tadi kata periasnya, make-up-nya nggak ketebalan sih. Pasti dia bohong ya."


Brayu masih tak menanggapi rancuan Bella, dengan pelan Brayu mendekati gadis itu.


Tepat di depan Bella, lelaki itu memeluk pinggang istrinya, dan itu tentu saja membuat gadis itu kaget. "Ke...Napa?" tanya Bella lagi. Wajahnya benar-benar gugup karena Brayu tak seperti biasanya.


Masih tanpa kata, Brayu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Bella. Dengan pelan juga, lelaki itu menutup matanya dan dalam hitungan detik, bibirnya sudah menempel di bibir istrinya.


Bella benar-benar seperti patung saja saat ini. Tak bisa bergerak, bahkan dia lupa jika harus bernapas.


Ciuman itu mengurai, Brayu menyeringai.


"Breath, Sayang." Dan barulah gadis itu bernapas dengan wajah memerah. Efek gugup, dan juga malu.


Bella berkedip pelan di depan Brayu. Tangannya berada di dada Brayu, gadis itu masih terlihat linglung.


"Itu tadi hanya awalnya saja, istriku. Jadi, persiapkan diri mu untuk mendapatkan yang lebih besar dari yang tadi. I Love You." setelah mengatakan hal itu, Brayu kembali mencium lembut bibir Bella.


Dan yang Bella rasakan hanyalah, jika saat ini jantungnya di masuki bom, yang siap meledak.


Brayu tak bisa di duga. Entah belajar dari mana lelaki itu bisa melakukan hal yang tak senonoh seperti itu. Tapi, berlebel halal, memang lebih menggiyurkan.

__ADS_1


__ADS_2