Cinta Untuk Fella

Cinta Untuk Fella
Hari ke Dua Ospek


__ADS_3

Fella duduk bersama kedua sahabatnya dan teman-teman barunya di kampus, ia langsung membuka kotak makanan yang di bawanya dari rumah. Fella belum sempat melihat makanan apa yang di siapkan Bundanya untuk bekal makan siangnya. Apapun itu bekalnya, saat perut mulai lapar seperti sekarang ini nasi dan kecap pun sudah terasa nikmat luar biasa baginya.


Hari ini adalah hari kedua Fella mengikuti Ospek. Tidak ada kegiatan yang tidak aneh dalam kegiatan Ospek tersebut. Semuanya begitu menyenangkan meskipun banyak pula hal yang menyebalkan yang di lakukan oleh kakak Senior untuk mengerjainya. Ada beberapa game, jika di rasa mereka semua sudah merasa jenuh.


Menggigit sendok-nya, Fella mengeluarkan ponselnya mengecek barang kali ada sesuatu pada notifikasi ponselnya yang belum sempat ia lihat. Chat dari Arska, mungkin?


Tapi tidak, sepertinya cowok itu juga sedang sibuk entah melakukan kegiatan apa. Chat terakhir mereka adalah malam kemarin, padahal biasanya cowok itu selalu saja ribut jika dirinya tidak memberikan kabar atau apalah yang pastinya mereka sering bertukar pesan. Entah mengapa sikap Arska yang selalu perhatian itu sedikit berubah setelah memasuki masa kuliah.


"Tanya kek, baru ngapain? Udah makan belum? Capek enggak." Fella mendumel sambil memasukan kembali ponselnya ke dalam ransel dan melanjutkan kembali aktifitas makannya, saat mengetahui tidak ada notifikasi chat di sana hatinya sungguh kecewa. Padahal ia ingin sekali bertukar pikiran kepada kekasihnya itu.


"Kenapa fel?" tanya Faya saat ia sudah selesai mengunyah makanannya.


Menggeleng, "Nggak papa." Meskipun bibirnya berkata tidak, tapi ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong. Terlihat sekali kucel dan tak bersemangat untuk melakukan aktifitasnya kembali.


"Kalau cewek bilang nggak papa, itu tandanya ada apa-apa." komentar salah satu teman cowoknya sebut saja Rendy. Fella tak terlalu mempedulikan komentar Rendy dan ia lebih memilih menikmati makanannya.


Fella hanya ingin tahu, kesibukan apa yang membuat kekasihnya itu sampai lupa mengabarinya, bahkan untuk menyempatkan membalas chat-nya sekali saja pun tak di gubrisnya sama sekali. Fella berdecak berkali-kali di dalam hati, mengingat betapa menyebalkan-nya tunangannya saat ini.


Tapi ya sudah lah, Fella memilih tetap fokus pada kegiatannya hari ini. Biarlah urusan Arska biar nanti ia urus sepulang dari kampus nanti.


Melanjutkan makannya, tak sengaja mata Fella melihat salah satu temannya menyingkirkan kulit ayam di tutup kotak makan. Tanpa rasa sungkan sedikit pun, gadis itu mendekati cowok tersebut. "Lo nggak suka ini?" Fella bertanya sambil tangannya menunjuk kulit ayam yang sudah di sisihkan ke tempat lain.


"Enggak, lo mau? Kalau mau ambil aja." ucap Rendy dengan mata melirik sekilas ke arah Fella.


Fella mengangguk pelan dan langsung mengambil kulit ayam itu tanpa rasa malu bahkan ia tersenyum manis saat kulit ayam tersebut sudah berada di atas nasinya. Faya dan Bella di buat melongo oleh tindakan memalukan yang di lakukan oleh sahabatnya itu.


"Thanks," katanya.


Fella ini benar-benar tidak ada rasa malu sama sekali. Kalau Bunda dan Ayahnya sampai tau, bisa di kempit di ketiak Ayahnya saking sebalnya. Apa lagi jika kekasihnya tau, bisa habis-habisan kena omelnya karena meminta makanan kepada cowok yang baru ia kenal.


Fella kembali ketempat-nya dan akan melanjutkan makannya tspi sebuah deheman menginterupsi. "Ehem."


Mahasiswa dan Mahasiswi baru yang ikut duduk melingkar dan satu kelompok dengan Fella ikut mendongak, bahkan kedua sahabatnya terlebih dahulu melihat ke sumber suara. Mulutnya berhenti mengunyah dengan serentak mengarah ke sumber suara. Fella bahkan di buat terpaku saat melihat Arska dan temannya sudah berdiri di sana, entah sejak kapan kekasihnya itu memperhatikan tindakan konyol dan memalukan tadi.


Dan, percayalah teman-teman Fella yang berjenis kelamin cewek juga terpesona kepada sosok Arska yang begitu tampan. Tanpa terkecuali Faya dan Bella mereka sudah terlalu sering melihat Arska berpenampilan layaknya pangeran di negeri dongeng.


"Kamu." Tunjuk Arska pada Fella. "Ikut saya." Perintahnya. Fella yang menyadari jika tunangannya itu tengah memainkan formalnya plus pura-pura tak mengenalnya, membuat Fella mengerti jika ia harus melakukan hal yang sama. Sedangkan kedua sahabatnya itu kembali menikmati makanannya tanpa mempedulikan drama kecil yang di perankan oleh kedua pasangan itu.


Untuk menunjukan rasa hormatnya kepada kakak tingkatnya, Fella pun berdiri. "Saya kak?" begitu tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.

__ADS_1


"Iya. Bawa sekalian makanan kamu!" tak menghiraukan tatapan penuh tanya dari orang-orang di sana, sedangkan Faya dan Bella pura-pura tak mengetahui apa-apa, mereka dengan lahapnya menghabiskan bekal yang mereka bawa dari rumah. Fella dengan cekatan membawa kotak bekalnya dan juga ranselnya untuk mengikuti kemana langkah Arska dan juga lelaki itu melangkah.


Fella sama sekali tak mengetahui jika Arska berada di sana dengan jas Almamaternya, seingat dia sewaktu Ospek pertama ia tak melihat jika kekasihnya itu juga ikut dalam berpartisipasi untuk menyambut Mahasiswa baru.


'Jadi, Arska juga ikut jadi pembimbing Ospek? kok gue sampai nggak tau, bahkan Faya si ratu kepo aja nggak ngasih tau ke gue, kesel banget' gerutu Fella dalam hati.


Mereka sampai di ruangan di mana tak terlalu banyak kursi seperti yang Fella datangi tadi. Jadi ia belum tau ruangan untuk apa itu. Di sana juga sudah ada beberapa teman Arska yang sedang mengobrol sesekali tertawa.


Dengan mengabaikan keberadaan mereka, Arska berjalan menuju kursi yang berada di pojokan paling belakang. Fella tidak mengatakan apapun karena ia sudah mengetahui apa maksud kekasihnya itu mengajaknya kemari. 'Pasti gara-gara makanan tadi, nanti dia bakalan ngomel kaya gimana? Biar gue dengerin aja,' batin Fella.


Arska memberikan isyarat untuk menyuruh Fella duduk, dan Fella pun mengikuti perintahnya. Mereka duduk berhadapan dengan tatapan Arska yang langsung menancap fokus di mana Fella berada.


"Buka kotak bekal kamu." perintah Arska. Dengan pasrah Fella membuka kotak bekalnya, ia langsung menelan saliva-nya saat mengetahui apa yang akan di katakan Arska selanjutnya.


"Itu maksudnya apa tadi?" Fella melihat tujukan Arska yang mengarah kepada kulit ayam yang tadi di mintanya dari Rendy.


Fella menelan saliva-nya kembali, bersikap seolah tidak ada apa-apa. "Nggak ada maksud. Emangnya kenapa? Ada yang aneh?" Fella kembali bertanya dengan santainya.


"Kamu nggak pernah makan kulit ayam?" tanya Arska lagi.


"Hampir tiap hari."


Sepertinya Fella perlu menilai penampilan tunangannya saat ini. Tidak ada yang spesial dari penampilan Arska sebetulnya, hanya saja, bagi Fella melihat penampilan kekasihnya saat ini cukup berbeda. Dengan kemeja kotak-kotak hitam bercampur putih dan di tutupi dengan jas Almamater itu membuat Arska semakin tampan.


Apalagi di tambah bersedekap dan menatap ke arah Fella seperti sekarang ini, membuat gadis itu semakin terkesima dengan kekasihnya.


Fella menumpukkan sikunya di atas meja, menatap Arska dan membuka suaranya. "Jadi sejak tadi, kamu tau aku ngelakuin apa aja? Tapi kamu nggak satu pun balas chat aku atau pun nyamperin aku!" seru Fella dengan menyipitkan matanya.


Kening Arska berkerut sambil memasang wajah serius, ia menatap tajam kekasihnya itu. "Belum sempat buka ponsel. Jangan ngalihin pembicaraan."


"Ck....ngeselin, lagian apa salahnya juga aku minta makanan itu dari dia, toh dianya nggak mau makan."


'Harusnya ini tak menjadi masalah, bahkan itu pun tak melanggar kegiatan Ospek.' batin Fella dengan hati menggodok, ia benar-benar kesal.


"Ok. Tapi nggak harus minta makanan ke cowok lain kan." Hati Arska sedikit melunak dengan sikap Fella yang mulai ngambek dan tak mau di salahkan.


"Kenapa emangnya?" tanya Fella dengan tatapan sinis.


"Karena aku nggak suka! Apalagi kalian baru saling kenal dan kamu tiba-tiba minta sesuatu dari dia. Kamu bisa aja bersikap masa bodoh dengan perkataan orang lain, tapi bertindak tanpa berpikir, itu namanya ceroboh. Dan jangan ngelakuin hal kaya gitu lagi." tangan Arska mulai mengeluarkan sekantung plastik berisikan kotak makan. "Makan yang ini!" ekspresinya wajah datar Arska kembali hadir.

__ADS_1


"Dasar cembuaruan," gumam Fella pelan. Dengan terpaksa Fella pun menerimanya karena tak mau memperpanjang masalah.


"Kak Arska jadi pembimbing Ospek juga? Kenapa nggak ngasih tau aku?" Fella akhirnya bisa mengeluarkan kata yang terus mengganjal di dalam otaknya.


Arska yang mendengar ucapan dari mulut bibir kekasihnya itu mengerutkan keningnya. 'Kak' batinnya sejenak, karena ia memang sengaja tak memengenal atau pun ingin mengumbar kemesraan di depan umum. Bisa-bisa yang lainnya akan merasa minder bahkan ada yang beranggapan jika Arska terlalu menspesialkannya.


"Bukan hal yang penting kan?"


"Penting buat aku tau! Karena kalau aku ngelakuin kesalahan, aku bisa malu dong, kalau semuanya tau aku tunangan kamu! Mau di taruh mana muka aku!" Suara Fella sengaja di perkecil. Suara di dalam ruangan masih terasa sunyi, karena teman-teman Arska belom sepenuhnya mengetahui tentang tunangannya itu. Mereka masih sibuk melihat adegan Fella dan Arska saat mengobrol.


Dalam hati mereka bertanya, siapa gadis yang di bawa Arska itu dan apa hubungan mereka. Mereka akan segera mengintrogasi Arska saat Fella keluar nanti.


"Tapi kamu emang udah buat aku malu, contohnya minta kulit ayam ke cowok lain." Arska tak kalah memelankan suaranya.


"Di bahas lagi, nggak ada hal penting lain lagi apa yang perlu di bahas selain kulit ayam," kerus Fella.


"Habisin makanan kamu, istirahat akan segera selesai." Merasa ucapan Fella semakin ngelantur, Arska memilih mengalihkan pembicaraan.


"Tapi kak Arska yang anterin aku ke sana ya, kak Arska kan yang nyuruh aku kesini."


Arska menghembuskan nafasnya, ia masih menahan kejengkelan terhadap kekasihnya yang terus-terusan memanggilnya kak. "Kalau nggak di sini udah aku cium kamu ay," bisik Arska saat bibirnya sudah berada di dekat telinga Fella.


Fella semakin meledek kekasihnya itu, sambil menyuapkan makanannya yang tinggal beberapa sendok lagi akan habis. Hingga istirahat benar-benar berakhir, saat Fella mendengar pengumuman akan mahasiswa dan mahasiswi untuk segera kembali kelapangan. Dengan agak malas, Fella pun berdiri dari duduknya setelah selesai merapikan makanannya.


"Ayo aku antar."


Fella tersenyum, padahal ia tidak terlalu serius mengatakannya, ia hanya ingin melihat kekasihnya itu sibuk wira-wiri. Arska juga tak perlu repot-repot mengenalkan Fella kepada teman-temannya, meskipun mereka sudah sangat penasaran kepada dirinya, karena sejak tadi mereka terus melihat ke arahnya. Fella juga hanya menganggukkan kepalanya saja ketika berjalan melewati mereka tanpa senyum. Semakin membuat mereka penasaran.


Kembalinya Fella ke kelompoknya, membuat dirinya di cerca banyak pertanyaan dari teman-temannya. Ada apa? Apa yang terjadi? Kamu buat masalah ya? Dan banyak lagi pertanyaan yang mereka layangkan kepada Fella, sedangkan Bella dan Faya masih pura-pura tak melihat atau pun mendengarnya.


Tapi Fella tetaplah Fella. Tak akan menjawab pertanyaan yang tak begitu penting. Dia hanya bilang, jika ada sesuatu yang perlu di urus. Selebihnya ia tak menanggapi kekepoan teman-teman barunya itu.


Semua mahasiswa dan mahasiswi baru dari fakultas ekonomi berkumpul di lapangan untuk kembali melaksanakan apel sekaligus untuk mengakhiri kegiatan Ospek hari ini.


Seorang pembimbing Ospek mengatakan entah apapun itu untuk kegiatan esok harinya. Dia juga mengatakan jika ketua pelaksana Ospek yang beberapa hari ini tidak bisa memberi kata sambutan untuk memulainya Ospek di tahun ini, karena terlalu sibuk dengan kegiatan yang di berikan oleh dosen, kini sudah berada di sana untuk memberikan kata sambutan ya meskipun sudah terlambat.


Maka muncullah lelaki yang sudah amat di kenal oleh Fella dan kedua sahabatnya. Fella sungguh tak menyangka jika Arska adalah ketua pembimbing Ospek tersebut. Terkejut sudah pasti, tapi, dalam hati Fella menyelipkan rasa bangga dan bahagia saat melihat kekasih itu berdiri di podium dengan gagahnya hingga membuat semua orang terpukau. Pantas saja setiap melakukan kegiatan yang ia lakukan selalu nyeleneh dan menjengkelkan, ternyata itu semua adalah ide dari tunangannya sendiri.


"Terimakasih untuk teman-teman yang sudah mengikuti kegiatan Ospek dari hari kemarin hingga saat ini, dan sudah bersedia panas-panasan untuk melaksanakan kegiatan apel. Dan untuk kegiatan besok bila ada yang belum jelas bisa di tanyakan kepada kakak pembimbing Ospek." kulit Arska yang memang putih terlihat begitu bersinar ketika cahaya matahari menyorotnya tanpa ampun. Semua Maba yang berjenis kelamin perempuan yang berada di sana tak mengeluh sama sekali ketika panas matahari mulai membakar kulit mereka.

__ADS_1


"Meskipun telat, saya ucapkan selamat datang di kampus tercinta ini." setelah mengatakan itu, Arska berbalik dan pergi meninggalkan desakan kecewa dari para mahasiswi. Tak terkecuali bagi Fella yang terus mengembangkan senyumnya karena ia benar-benar merasa bangga akan kekasihnya itu.


__ADS_2