
Di kantin, Fella terus saja mengembangkan senyumnya. Gadis itu mengingat kejadian yang dia alami tadi malam. Ia hanya sibuk mengaduk-aduk baksonya, tanpa ada niatan untuk memakannya, sambil memegangi dagunya dengan tangan kiri. Bella dan Faya saling pandang, siku mereka saling senggol, saat mereka melihat sikap Fella yang aneh sejak pagi ini.
"Lo, kenapa? Kayaknya happy banget, sampai makanannya cuma di aduk-aduk terus dari tadi." ucap Bella mencoba menegur.
"Iya ni, gue perhatiin, dari tadi pagi lo seneng banget, mood lo udah baikan?" tanya Faya yang juga penasaran.
Fella melihat ke arah ke dua sahabatnya, ia menunjukkan senyum pepsodent. Karena memang gadis itu terlihat sedang memamerkan giginya. "Ada deh... mau tau, apa mau tau banget!"
"Ow... mau main rahasia-rahasia-an ni, kalau ada apa-apa kita nggak ikut-ikutan ya!" ancam Bella mengerucutkan bibirnya.
"Udah, nggak usah di peduli-in, Bel. Makan aja biar kenyang, dari pada nanggepin orang yang nggak waras." tukas Faya seraya melahap baksonya hingga habis.
Fella melihat sinis ke arah Faya, bibirnya mengerucut, dan tangan kanannya meraih k kripik bakso yang ada di depannya, dengan kesal Fella melemparkan kripik bakso itu kearah Faya. Faya langsung menangkapnya tanpa perlu menghindar. "Iya. Kalau gue nggak waras, berarti leo juga nggak waras. Karena lo mau sahabatan, sama orang yang nggak waras!" ketus Fella.
Bella dan Faya kompak tertawa, mereka berhasil membuat mood Fella rusak dengan sekali ejekan.
"Thanks ya, Fel. Kripiknya, gue emang masih lapa."ucap Faya tanpa dosa.
Fella mengerucutkan bibirnya, gadis itu segera menyodorkan mangkuk berisi bakso miliknya ke arah Faya. "Kalau belom kenyang, habisin punya ku sekalian."
"Thanks ya, Fel. Sayang juga kan kalau nggak di makan," ucap Faya yang langsung menerimanya dengan senang hati.
"Lagian, lo juga aneh Fel, sampai seisi kantin ngeliatin lo semua." Bella mulai membuka suaranya kembali.
"Ya. Namanya juga lagi happy, Bel. Kalau gue diem aja, katanya cuek lah, irit ngomong lah, nggak peduli sama sekeliling lah, giliran gue bahagia kalian malah kebingungan." balas Fella nyerocos.
"Iya. Iya... kita yang nggak peka, sorry!" tukas Bella.
"Kalau boleh tau, yang ngebuat lo happy, tuh apa sih, Fel?" tanya Faya seraya memakan bakso yang di berikan oleh Fella.
Fella langsung memperlihatkan cincin tunangannya. Bella dan Faya menyipitkan matanya, mereka belum paham maksud Fella.
"Itu kan, bukannya dari tante?" tanya Bella sambil meminum es tehnya.
"Iya, seminggu yang lalu kan lo, udah ngasih liat ke kita." tambah Faya.
Fella menggelengkan kepalanya pelan. "Yang sebelahnya!" jelasnya.
"Paling juga di beliin lagi sama tante." ucap Bella ngasal sambil meneruskan meminum es tehnya.
Fella menghela napas panjang karena kesal, gimana mau cerita, kalau kedua sahabatnya itu malah sibuk mendeskripsikan hal-hal yang sama sekali tidak tepat.
"Gue semalam, udah tunangan sama Arska!" kata Fella yang langsung to the point.
Bella yang terkejut, langsung menyemburkan minumannya ke arah Faya.
"Bella! Lo jorok banget, sih!" teriak Faya.
"Sorry, gue nggak sengaja, habisnya Fella bikin gue kaget." ucapnya sambil mengelap muka Faya dengan tisu yang ada di sampingnya.
"Kali ini, lo nggak ngarang cerita kan, Fel? Kita nggak mau ah, liat drama-drama lagi." Bella mencoba memastikan.
"Gue nggak ngarang, gue beneran udah tunangan sama Arska, kalau nggak percaya liat ini." Fella memberikan ponselnya kepada Bella dan Faya.
"Ya ampun, Fel. Tega banget sih, lo. Lo tunangan tapi nggak ngasih kabar ke kita." ucap Bella mengerucutkan bibirnya.
"Iya, elo kenapa nggak ngabarin kita, sih. Sahabat macam apa kalau kaya gitu. Ngeselin!" tambah Faya.
Fella menghela napasnya cukup panjang, Ia merasa kesal dengan sikap kedua sahabatnya yang terus mencecernya, tanpa mendengar penjelas darinya terlebih dahulu.
"Gimana mau ngasih kabar, kalau acaranya aja dadakan. Udah gitu, pertunangan gue sama Arska, juga belom resmi, kok. Peresmiannya masih nungguin gue lulus SMA, jadi kan masih lama." jelasnya.
"Terus, kalau masih lama, kenapa lo, udah pakai cincinnya, itu?" tanya Faya masih di selimuti oleh rasa penasarannya.
"Katanya, dari pada mubazir, mending di pakai, biar ada ikatan hatinya, gitu. Gombalnya si Arska." ucap Fella sambil memandangi jari manisnya, gadis itu terus saja mengembangkan senyumnya.
Saat mereka sedang asyik membicarakan kabar bahagia yang di dapatkan oleh Fella. Tiba-tiba, Jessy and the gang menghampiri meja mereka dan mengebrak meja tersebut dengan cukup keras. Penghuni kantin yang tadinya asyik menikmati makanannya, langsung melihat ke sumber suara.
Napas panjang keluar dari mulut Jessy, karena gadis itu mulai tersulut emosi. Fella yang geram dengan tindakan Jessy, ikut mengebrak meja seraya berdiri.
"Mau lo! Apaan, sih?" tanya Fella dengan nada tinggi.
Jessy melipat kedua tangannya dan menaruhnya tepat di depan dada, senyum sinis muncul dari sudut bibir mungilnya.
"Gue. Udah coba peringati elo, buat nggak ganjen sama cowok gue! Tapi, lo malah coba-coba mau merebut cowok gue! Maksud lo apa?" sentak Jessy tak kalah keras meninggikan suaranya, jari telunjuknya menunjuk ke arah muka Fella.
Seisi kantin mulai berbisik, ada juga yang mem-vidio kejadian itu, bahkan ada pula yang menjadi kompor beleduk untuk menyaksikan duel dari kedua gadis tersebut.
__ADS_1
"Gue! Mau ngerebut cowok lo? Gue aja udah nggak minat sama cowok lo!" tegas Fella seraya menunjuk balik ke arah Jessy.
"Dasar lo ya! Cewek nggak tau malu! Sok jual mahal! Gue udah baca chating-an lo sama cowok gue!" Seru Jessy memperjelas ucapannya, agar semua orang yang ada di kantin menganggap Fella sebagai cewek yang tak bener.
"Lo, tuh nggak nyadar ya? Kalau yang suka ngerusak hubungan orang itu. Elo! Lo lupa kalau Andy dulunya siapanya Fella, ngaca dong sebelum menghina orang lain!" Bella mulai angkat bicara, karena geram dengan tindakan Jessy yang mencoba memfitnah Fella.
Jessy yang sudah tersulut emosi sejak tadi, langsung menarik rambut Fella. Sedangkan, Bella dan Faya yang berniat melerai, justru di hadang oleh Salsa dan Indria.
Fella mencoba mendorong Jessy tapi usahanya sia-sia, kepalanya terlalu berat untuk diangkat karena jambak-an dari Jessy yang begitu kencang membuatnya susah untuk melawan. Jessy yang semakin murka mendorong tubuh Fella hingga jatuh kelantai, sampai dahinya menghantam pinggiran meja hingga tersungkur.
"Siapa suruh, lo berani ngelawan gue! Itu akibatnya!" serunya, dengan nada tinggi yang terkesan sombong.
Faya segera membantu Fella berdiri, keningnya mengeluarkan sedikit darah dan memar. Bella yang melihat hal itu langsung naik pitam, bahkan ia tak ragu-ragu untuk tidak menampar pipi Jessy, gadis itu meluapkan segala emosinya dengan menampar pipi Jessy berkali-kali, bahkan ia juga menuangkan es teh yang ada di meja, ke seragam serta mukanya gadis yang ada di hadapannya itu
"Gue liat, lo sekali lagi gangguin Fella! Gue bakalan tonjok muka lo sampek bonyok!!" seru Bella tanpa ekspresi. Wajahnya kali ini terlihat tidak main-main.
Jessy memegangi pipinya yang sudah merah dan terasa perih itu, gadis itu sangat kesal dengan perlakuan Bella terhadap dirinya, ingin sekali rasanya membalas perlakuan Bella. Namun, niatnya terurungkan. Saat, melihat Guru BK yang bernama bu Maya, menghampiri tempat mereka saat ini.
"Bella, Jessy! Ada apa ini? Kenapa kalian membuat kekacauan sampai seperti ini? Apa sekolah kita ini mengajarkan kita untuk berkelahi?" tanya bu Maya dengan ekspresi tegasnya.
Mereka berdua hanya mampu terdiam, tak ada dari keduanya yang berani membantah.
"Sepulang sekolah nanti! Saya minta kalian berdua segera kekantor, terlambat satu menit hukuman akan saya tambah!" lanjutnya.
Jessy mengernyitkan keningnya, saat mengetahui hanya dirinya dan Bella lah yang harus datang ke ruang BK, "Tapi bu, kenapa cuma saya dan Bella yang harus ke kantor? Fella nggak di hukum juga bu?" protes Jessy tak terima.
"Mata kamu rabun? Dahi Fella berdarah itu gara-gara kamu! Saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri! Jangan terlalu banyak membantah, jika hukuman kamu tidak mau di tambah!" tegas bu Maya.
Jessy menghentak-hentakkan kakinya, gadis itu kesal karena lagi-lagi dia yang di permalukan. Tak mau menambah beban lagi, Jessy dan gengnya segera hengkang dari kantin dengan kekesalan yang membalut hatinya.
Saat geng biang kerok itu sudah pergi. Bu Maya segera menyarankan Fella untuk segera mengobati lukanya.
"Luka kamu perlu di obati. Bella, Faya. Antar Fella ke UKS," ucap bu Maya sebelum meninggalkan kantin.
"Iya, bu." ucap mereka serempak.
Di UKS kedua sahabatnya sibuk mengobati luka di dahi Fella, ternyata tak hanya di dahi gadis itu saja yang terluka. Bahkan, telapak tangannya sedikit mengelupas.
"Tahan, dikit ya Fel. Jangan jadi cewek manja." perintah Bella sambil menekan kapas yang sudah di beri alkohol kearah kening Fella.
"Aw! Sakit Bel. Pelan sedikit dong." pinta Fella, gadis itu meringis menahan sakit pada lukanya itu.
"Apa hubungannya sama Arska sih?" Fella memajukan bibirnya.
"Ya, ada hubungannya lah, kalau sama Arska, lo bisa manja-manjaan, bahkan lo bisa suruh dia buat ngobatin luka lo ini dengan pelan." lanjut Faya.
"Nggak gitu juga, I have to keep my attitude in front of the people I love." ucap Fella tersenyum.
"Jaga sikap, di depan orang yang kita sayang, kayaknya nggak mungkin bisa. Gue yakin, lo tetep salah tingkah kalau di tatap sama cowok seganteng Arska." ucap Bella sedikit meledek.
Fella hanya menyeringai, gadis itu membetulkan ucapan Bella.
"Saran gue. Elo jangan jadi cewek yang terlalu lembek. Lain kali lo harus lawan, masak iya, ratu tawon langsung K.O di tempat, tanpa ngelawan dulu." lanjutnya diiringi tawa kecil.
"Gue, udah berusaha ngelawan, rambut gue di tarik kenceng banget, tadi. Jadi gue nggak biasa ngelawan. Btw yang lo kata-in ratu tawon itu siapa? Ya kali, gue mirip tawon."
Faya terkekeh dengan sebutan baru yang di berikan oleh Bella terhadap Fella. Gadis itu hanya melirik ke arah Faya sesaat, ia tak ingin membalas Faya saat ini.
"Lo itu, kalau di kasih tau, ngeles terus kerjaannya. Capek gue kalau jadi pelindung elo terus." kata Bella ketus.
"Sorry, because of me you have to get punished, Bel" ucap Fella menundukkan kepala, sesekali ia menyeka air matanya yang akan menetes.
"It's okay Fella, I'll defend my best friend, if other people are bullied." kata Bella yang merasa bersalah akan ucapannya tadi, gadis itu langsung memeluk Fella.
"We have to help each other, Fella, because we are friends, must help each other." sambung Faya yang langsung ikut memeluk Fella.
...~Cinta Untuk Fella~...
Sepulang sekolah, Fella dan Faya duduk di depan Kantor BK. Mereka setia menunggu sahabatnya itu keluar dari ruang BK tersebut.
"Semoga hukumannya nggak berat ya, Fay. Gue kasihan sama Bella, gara-gara belain gue, dia jadi kena hukuman." ucap Fella merasa bersalah.
"Udah, nggak usah merasa bersalah gitu, yang patut di salah-in itu ya si cabe Jessy itu. Kalau dia nggak yang mulai duluan, semua ini nggak akan jadinya." jawab Faya seraya mengelus-elus lengan Fella dan memeluknya dari samping.
Di ruang BK.
Bella dan Jessy mendapat omelan dari bu Maya, kedua gadis itu hanya tertunduk tanpa ada niatan untuk membantahnya.
__ADS_1
"Jadi, kalian ribut-ribut di kantin tadi. cuma gara-gara cowok? Gara-gara Andy si ketua tim basket itu. Sungguh memalukan tindakan kalian ini!"
"Maafin, Jessy bu. Jessy khilaf." sahut Jessy memasang muka memelas.
Bella tetap dengan muka datarnya, sesekali ia melirik kesamping. 'Dasar cewek munafik,' batin Bella.
"Kalau saya, cuma belain sahabat saya kok bu. Males banget kan bu, gara-gara cowok harus ribut-ribut nggak jelas." ucap Bella menyindir.
Jessy melotot ke arah Bella, ingin rasanya ia membekap mulut Bella agar dia segera diam.
"Kenapa? Nggak terima, gue nyindir elo! Lagian bu Maya juga tau, kalau Fella selama ini nggak pernah bikin masalah, lo yang anak baru malah bikin onar terus."
"Siapa yang bikin onar, temen lo aja yang keganjenan. Kalau temen lo nggak bikin ulah, gue nggak mungkin se-emosi ini." balas Jessy mencoba membela diri.
Bu Maya yang mulai geram dengan perdebatan kedua siswinya itu langsung mengebrak meja. Membuat Bella dan Jessy kaget hingga menatap kearah guru BK tersebut.
"Sudah, sudah! Jangan ribut di kantor saya! Pusing saya mendengar pembelaan dari kalian."
"Tapi bu, Bella yang mulai duluan." sahut Jessy.
"Lo, kali yang bikin rusuh." balas Bella tak terima.
"Stop.....!! Ibu bilang cukup! Hukuman kalian di mulai besok. Sepulang sekolah kalian harus mengepel koridor Aula kesenian sampai bersih, ibu nggak mau tau!" jelasnya.
"Yahh.... ibu capek, dong." keluh Jessy.
"Ya itu, konsekuensi yang harus kalian tanggung. Masih untung ibu nggak skors kalian."
"Ya udah bu, saya pamit dulu." sahut Bella seraya keluar dari kantor BK.
Fella dan Faya segera menghampiri Bella, mereka bersyukur melihat sahabatnya itu keluar dari ruang BK masih dalam keadaan utuh.
"Lo... nggak di apa-apain sama bu Maya kan, Bel?" tanya Faya sembari membolak-balikan tubuh Bella.
"Ssssttttt.... ghibah jangan di sini, takutnya kedengaran sama yang punya nama." balas Bella seraya mengajak kedua sahabatnya itu untuk meninggalkan halaman depan kantor BK.
Saat menuju halaman parkiran, Bella menceritakan kejadian yang dia alami saat berada di ruang BK, kedua sahabatnya senantiasa mendengarkan keluhan Bella. Hingga mata Bella pun menangkap adannya kehadiran Arska yang sudah memarkirkan mobilnya di area halaman sekolah. Saat lelaki itu turun dari mobilnya, semua mata langsung menatap ke arah lelaki tersebut. Bella yang pertama kali melihat tunangan sahabatnya itu langsung buka suara.
"Dasar! Tunangan elo tuh, Fel. Di mana-mana selalu aja jadi pusat perhatian orang!" jelas Bella dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Maksud lo, apaan sih, bel?" tanya Fella dengan mengerutkan keningnya.
"Noh, liat. Tunangan elo, udah mentereng di sana nungguin lo, tuh!" jawab Bella sambil menunjuk kearah di mana Arska berada.
Mulut Fella menganga cukup lebar, tangan kirinya mencoba menutupi mulutnya yang terbuka itu. "Dasar tuh anak, di bilangin jangan jemput, malah jemput." gumam Fella pelan.
"Malah bagus kan. Biar matanya si Jessy itu terbuka lebar, biar nggak ngatain elo yang enggak-enggak lagi." ucap Bella, saat mendengar ucapan Fella barusan.
"Bener Fel, biar matanya kebuka, kalau tunangan lo itu, lebih keren daripada si Andy." lanjut Faya.
"Ehh.... tunggu dulu, Arska emang nggak khawatir kalau liat dahi lo terluka kaya gini, Fel?" tanya Faya sambil melihat ke arah Fella dengan kening mengernyit.
"Nggak tau, Fay. Bingung juga mau jelasinnya." Fella menarik napasnya pelan "Ya udah ya, gue pulang duluan. Kalian pulangnya hati-hati, ya." lanjutnya seraya meninggalkan kedua sahabatnya itu dan melambaikan tangannya kearah dimana Arska berdiri.
"Kenapa jemput, sih?" tanya Fella memajukan bibirnya.
"Aku udah kangen sama kamu. Makanya, aku pengen jemput kamu." ucap Arska sambil mengelus-elus pucuk rambut Fella. Lelaki itu melihat dahi Fella yang sudah ter-perban dengan rapi. Matanya mulai menyipit. "Dahi kamu kenapa sayang? Kok di perban segala?" tanyanya, seraya jari-jarinya sibuk menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi perban tersebut, Arska menjadi fokus dengan kening tunangannya itu.
Fella menjadi salah tingkah karena perlakuan dari Arska yang menurutnya sweet itu. Tetapi, gadis itu segera sadar dari diamnya, saat melihat ke sekelilingnya. Dia dan Arska sedang menjadi pusat perhatian murid-murid yang berlalu-lalang. Fella menggigit bibir bawahnya, gadis itu merasa malu diperlakukan seperti itu di depan umum. Dia juga merasa tak nyaman dengan tatapan murid-murid lainnya.
"Pulang yuk, nanti aku jelasin di rumah, aku nggak nyaman kalau lama-lama di sini." ucapnya sambil membuka pintu mobil dan segera masuk.
Di sisi lain, Bella dan Faya tak langsung beranjak dari tempatnya berdiri, mereka sibuk memperhatikan Fella yang salah tingkah karena ulah Arska.
"Kalau liat Fella salah tingkah gitu, gue pengen ketawa rasanya." ucap Bella yang memang sudah tertawa sejak tadi.
"Nggak usah kepengen, elo aja udah ketawa dari tadi." balas Faya.
Bella menggaruk kepalanya, "Lupa, Fay."
Faya hanya melirik sekilas kearah Bella. Gadis itu mulai memegangi pipinya. "Tapi mereka Sweet banget sih, jadi iri gue." ucap Faya memajukan bibirnya.
"Ya elah. Makanya, buruan nyari cowok, biar nggak minder kalau liat orang lain pacaran." sindir Bella.
"Besok ya, kalau udah nemuin yang tepat."
Bella hanya berdecak mendengar ungkapan dari Faya. "Ya udah, pulang yuk." ajak Bella sambil menarik tangan Faya agar mengekor di belakangnya. Mereka menuju parkiran yang letaknya tak jauh dari halaman sekolah.
__ADS_1
Jessy yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum sinis, dia menjadi lebih gila lagi saat mengetahui Fella memiliki cowok yang lebih keren dari pada pacarnya. 'Boleh juga, kalau gue rusak hubungan mereka. Siapa suruh, lo ngeselin.' batin Jessy, seraya meninggalkan halaman sekolah.