
Setelah kejadian Mila yang menerobos masuk ke dalam unit Alvaro, membuat mereka pun memutuskan untuk pindah rumah. Rania bersama dengan Alvaro sudah mengecek rumah yang akan mereka beli, dan Rania pun menyetujuinya.
Hari ini, Alvaro menyewa mobil pengangkut barang, untuk mengangkut semua barang-barang mereka yang ada di apartemen.
Sementara Mila, wanita itu tak lagi terlihat. Mungkin merasa malu karena sempat dihajar secara brutal oleh Rania.
Sebelum pergi dari rumah itu, Bima menatap ke arah unit Febby. Ia mendongak menatap ibunya yang saat itu tengah memegang erat tangannya.
"Ma, apakah Bima masih akan bertemu dengan Febby nantinya?" tanya Bima.
"Masih, Sayang. Kalian kan satu sekolahan," ucap Rania tersenyum menatap wajah putranya. Bima pun membalas senyuman ibunya, lalu kemudian menganggukkan kepala.
"Ayo!!" Seru Alvaro yang sudah berjalan lebih dahulu.
Rania dan Bima langsung menyusul Alvaro yang sudah berjalan terlebih dahulu. Sesekali Bima masih menoleh ke arah unit yang ditinggali Febby, sebelum mereka benar-benar pergi dan masuk ke dalam lift.
Ketiga orang tersebut masuk ke dalam mobil, sementara mobil pengangkut tersebut mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
Setelah cukup lama berada di perjalanan, mereka pun tiba di tempat tujuan. Alvaro dan yang lainnya turun dari mobil yang mereka kendarai.
Beberapa orang pengangkut barang pun mulai menurunkan barang-barang yang mereka bawa. Tentu saja dibantu oleh beberapa pelayan rumah yang telah dipekerjakan Alvaro secara resmi untuk bekerja di rumah barunya kelak.
"Wah, rumahnya besarnya Ma, sama seperti rumah nenek," ucap Bima yang memang belum pernah diajak melihat tempat tersebut.
"Iya, Sayang. Papa sengaja membeli rumah yang luas supaya nanti Bima dan adik tempat mainnya tidak sempit," ujar Rania sembari mengusap puncak kepala putra sambungnya.
"Kapan kita punya adik, Ma?" tanya Bima.
Pertanyaan Bima cukup membuat Rania merasa teriris. Dalam benak Rania bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang salah dengan dirinya? Mengapa sampai sekarang ia belum juga mendapatkan kabar baik? Apakah dia akan gagal menjadi seorang wanita karena tidak bisa memberikan penerus untuk suaminya?
"Tidak apa-apa, Ma. Bima pasti menunggu dengan sabar. Maaf ya, Ma. Jika ucapan Bima membuat mama menjadi sedih," ucap anak laki-laki tersebut yang menyadari ekspresi ibu sambungnya.
Rania langsung memeluk Bima. Rasa sayangnya terhadap putra sambungnya itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bima selalu mengerti keadaan Rania, membuat Rania semakin sayang terhadap anak sambungnya itu.
"Kalian berpelukan kenapa tidak mengajak papa?" celetuk Alvaro bersedekap menatap Rania dan Bima.
__ADS_1
Bima melonggarkan pelukannya, menatap ke arah ayahnya. Tangannya memberikan kode pada sang ayah untuk mendekat agar bisa bergabung bersama mereka.
Alvaro pun tersenyum, ia berjalan mendekati Bima dan juga Rania. Lalu kemudian ikut bergabung dan saling memeluk satu sama lain.
Arumi dan Fahri baru saja tiba, hendak melihat putranya yang baru pindah rumah. Namun, keduanya disuguhkan dengan pemandangan keluarga kecil itu yang tengah berpelukan. Membuat Arumi dan Fahri pun saling menatap.
"Kenapa kalian seperti Teletubbies yang baru saja menemukan jalan pulang?" celetuk Fahri.
Alvaro dan yang lainnya pun langsung melonggarkan pelukannya. Bima menghampiri nenek dan kakeknya. "Apakah nenek dan kakek mau Bima peluk juga seperti mama dan papa?" tawar Bima.
"Oh, tentu saja." Fahri dan Arumi berujar serentak.
Bima pun langsung memeluk nenek dan kakeknya. Sementara Alvaro dan Rania tersenyum melihat Bima yang tak malu-malu menunjukkan rasa kasih sayangnya terhadap keluarga.
Bersambung ....
Gengs, karena akhir-akhir ini aku benar-benar sibuk, jadi updatenya pendek-pendek aja dulu ya. Nanti InsyaAllah akhir bulan kita gaspoll ya.
__ADS_1
Sebenarnya pengen banget ngetik panjang lebar. Tapi karena kondisi badan yang harus dikuatkan, terus tertimpa urusan dunia nyata dan jadwal yang cukup padat di bulan ini. ciyeee berasa pejabat kelas atas padahal cuma kaum rebahan ðŸ¤