Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 131. Terlalu Posesif


__ADS_3

Sore itu, Alvaro baru saja pulang dari kerja. Saat kakinya melangkah ke ruang tengah, pria tersebut menemukan sang istri yang sedang tertidur di atas sofa.


"Astaga, kenapa tidurnya di sofa?" gumam Alvaro sembari menggeleng-gelengkan kepalanya menatap sang istri. Tampaknya wanita itu sedang dalam posisi nyamannya. Mendengkur halus serta mulut yang sedikit ternganga.


Alvaro menghampiri istrinya. Pria itu mencoba menggendong tubuh Rania yang mulai berisi, tak heran karena napsu makan wanita tersebut sangat besar.


Saat hendak menggendong Rania, Alvaro cukup terkejut. Rania ternyata dua kali lipat jauh lebih berat dari sebelumnya.


"Serasa menggendong sekarung beras, tetapi tidak apa-apa, yang penting kalian sehat," ucap Alvaro yang ditujukan pada sang istri serta anak yang ada di dalam rahim istrinya.


Setibanya di dalam kamar, Alvaro dengan pelan membaringkan tubuh istrinya di atas kasur. Pria itu hendak membenahi selimut untuk Rania, akan tetapi pandangannya langsung tertuju pada tangan sang istri yang membuat Alvaro terkejut.


"Astaga, istriku! Apa yang kamu makan sampai-sampai tanganmu seperti ini?" Alvaro benar-benar khawatir melihat kondisi tangan Rania.


Alvaro segera turun ke bawah untuk menanyakan hal tersebut, karena tidak mungkin baginya untuk membangunkan sang istri yang tengah terlelap.


Pria itu berjalan ke dapur, memanggil salah satu pelayan yang tengah mencuci piring.


"Bi, ...." Alvaro memberi isyarat dengan jari telunjuknya, bahwa pelayan tersebut harus segera menghadapnya.


Pelayan itu pun langsung mencuci tangannya terlebih dahulu, mengelap tangan yang basah menggunakan serbet, lalu kemudian berjalan menghampiri majikannya.


"Ada apa, Tuan?" tanya pelayan itu.


"Kenapa tangan istri saya tiba-tiba timbul bintik-bintik merah seperti itu?" tanya Alvaro yang tak ingin berbasa-basi lagi.


"Bintik-bintik? Maaf Tuan saya tidak tahu masalah itu," ujar pelayan tersebut sembari menunduk memperlihatkan raut wajah bersalah.


"Kalau begitu, panggil semua pelayan-pelayan yang lainnya untuk segera menghadap saya!"titah Alvaro.


"Baik, Tuan."


Pelayan itu pun langsung bergegas memanggil yang lainnya. Alvaro merasa sesak, ia sedikit melonggarkan dasinya yang serasa mencekik, ditambah lagi dengan melihat tangan sang istri yang memerah, membuat Alvaro semakin merasa sesak karena tak tega.


Sesaat kemudian, seluruh pelayan pun langsung menghadap Alvaro.


"Di sini siapa yang tahu, kenapa tangan istri saya tiba-tiba timbul bintik-bintik merah? Dan apa yang dilakukannya atau dimakannya hingga membuat tangannya seperti itu?" tanya Alvaro yang sedikit meninggikan suaranya.


Sejak kehamilan Rania, Alvaro menjadi sedikit posesif. Bahkan, ia ingin sekali agar Rania tidak terlalu lelah, karena takut mempengaruhi bayi yang ada di dalam kandungan wanita tersebut.

__ADS_1


Salah satu pelayan yang menemani Rania sedari tadi pun menjadi ketakutan. Dia ingin mengaku, akan tetapi dirinya sudah berjanji pada Rania untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya.


Rania terbangun karena mendengar suara keributan di bawah. Wanita itu bangkit dari pembaringannya, mengusap matanya sembari melihat ke sekitar ruangan.


"Mas Varo sudah pulang?" gumamnya saat mendengar suara Alvaro.


Rania tanpa sengaja menggaruk tangannya. Saat melihat kondisi tangannya yang sekarang, Rania langsung membelalakkan matanya.


"Apa ini? Kenapa bekasnya tidak mau hilang?" ujar Rania.


Kembali indera pendengarannya mendapatkan suara keributan dari bawah. Rania pun sadar, mungkin saja suaminya sudah melihat tangannya dan memarahi pelayan yang ada di bawah sana.


"Jangan-jangan Mas Varo ...."


Dengan cepat, Rania langsung turun dari tempat tidurnya. Ia segera menuju ke ruang tengah, dimana saat itu semua pelayan sedang di kumpulkan oleh suaminya.


"Masih tidak ada yang mau mengaku? Baiklah! Saya akan cek cctv dan jika ada yang terbukti mengetahui hal tersebut, saya akan pastikan kalian menyesalinya," ujar Alvaro mengancam pelayan yang ada di sana.


"Hentikan!!" seru Rania seraya menuruni anak tangga.


"Ini sudah keterlaluan, Mas. Hanya karena tanganku yang seperti ini, kamu tega menghukum para pelayan?" tukas Rania.


"Kalian boleh bubar!" titah Rania memberikan perintah kepada seluruh pelayan untuk bubar.


Mereka pun tampak melangkah ragu-ragu. Namun, sesaat kemudian para pelayan pun langsung meninggalkan keduanya.


"Sayang, aku melakukan ini demi kamu, demi bayi kita," ujar Alvaro.


"Tetap saja, Mas. Jika aku diharuskan hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun, yang ada kami menjadi tidak sehat. Aku bisa mengatur diriku. Ketika aku sudah merasa lelah, aku akan beristirahat. Bahkan sangat disarankan untuk ibu hamil agar tetap melakukan aktivitasnya, tetapi dengan catatan tidak boleh terlalu berlebihan," papar Rania panjang lebar.


Rania merasa benar-benar tertekan dengan sikap Alvaro yang terlalu posesif. Bagaimana pun juga, ia tetap ingin melakukan hal-hal seperti biasanya. Ia juga memiliki batasan nantinya dan tidak akan membuat dirinya terlalu kelelahan.


"Tolong Mas, jangan seperti ini. Jika kamu tidak mempercayaiku, kamu boleh menanyakannya langsung pada mama. Apakah wanita hamil itu tidak disarankan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya?" ujar Rania.


Alvaro hanya diam. Ia menghampiri Rania dan hendak memeluk sang istri. Akan tetapi Rania seakan memberikan sebuah penolakan padanya dengan cara menjauh beberapa langkah.


"Aku tidak suka kalau Mas masih tetap seperti itu. Apalagi sampai memanggil pelayan yang notabenenya hanya sibuk mengurus rumah. Aku bukan bayi lagi, Mas." Rania berucap dengan nada yang penuh penekanan.


"Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi," lirih Alvaro.

__ADS_1


"Mas harus janji untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi," ujar Rania memberikan peringatan pada sang suami.


"Iya, aku janji, tetapi tolong untuk tidak menjauh dariku. Aku tidak ingin kamu membenciku karena aku benar-benar menyayangimu," ucap Alvaro yang terdengar sangat tulus.


Rania melihat ekspresi sang suami. Melihatnya sedih mendapatkan penolakan dari dirinya, membuat Rania tak tega. Wanita itu pun langsung merentangkan kedua tangannya, membiarkan Alvaro jatuh ke dalam pelukannya.


"Aku sangat menyayangimu. Maafkan aku jika sikapku yang terlalu berlebihan," ujar Alvaro membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, memeluk Rania dengan begitu erat.


"Aku juga minta maaf karena telah berucap kasar pada Mas Varo," ucap Rania yang juga ikut menyesali perbuatannya.


"Tapi Mas, ... aku merasa sesak. Mas memelukku terlalu erat," lanjut Rania.


Alvaro pun dengan cepat melepaskan pelukannya, lalu kemudian mengusap perut sang istri yang masih rata . "Maafkan papa, Sayang."


"Bima mana? Mas titip sama mama lagi?" tanya Rania.


"Iya. Tadi mama yang menjemput Bima. Aku tidak bisa menjemputnya karena urusan kantor benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Juni juga masih belum bisa masuk, jadi apa-apa harus mengerjakannya sendirian. Sementara Shinta belum benar-benar mengerti," keluh Alvaro.


"Ya sudah, kalau begitu, mulai besok suruh Pak Darman jemput Bima. Aku merasa bosan berdiam diri di rumah. Dengan adanya Bima, setidaknya rasa jenuhku akan hilang saat mendengar celotehannya," ucap Rania.


"Baiklah, kalau begitu mulai besok Bima akan dijemput oleh Pak Darman," ujar Alvaro mengusap rambut Rania dengan penuh kasih sayang.


"Tetapi apakah tanganmu masih gatal-gatal?" tanya Alvaro beralih menatap tangan istrinya.


"Sudah tidak terlalu gatal lagi, Mas. Ini bekas aku menggaruknya tadi hingga terlihat seperti ini," ucap Rania.


"Mas panggilkan dokter saja ya ...."


"Tidak usah, Mas. Aku baik-baik saja. Sungguh!" Rania memperlihatkan kedua jarinya membentuk huruf 'V'. Alvaro pun tersenyum, menarik pangkal hidung sang istri.


"Ayo kita kembali ke kamar!" ajak Alvaro.


"Mas ingin melakukan apa?" tanya Rania.


"Tidur saja! Jangan memancingku untuk berbuat lebih! Ingat, kehamilanmu masih muda, jadi Mas harus berpuasa."


Mendengar penuturan suaminya, tentu saja membuat Rania terkekeh geli. Keduanya pun masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat pintu tersebut.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2