Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 106. Sikap Egois


__ADS_3

Setelah cukup banyak menumpahkan air matanya, Rania menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya. Wanita tersebut mengeluarkan bedak yang ada di dalam tasnya. Ia menutupi matanya yang bengkak dengan bedak tersebut.


Tangannya meraih ponsel yang ada di atas dashboard mobil. Ia pun membuka WhatsApp grup, melihat tidak ada obrolan sama sekali di sana. Mungkin mereka sedikit sungkan membicarakan Rania karena wanita itu masih menjadi anggota grup di sana. Rania pun memilih untuk keluar dari grup tersebut. Ia tidak ingin mencari penyakit, terus menerus berteman dengan seseorang yang kapan saja bisa menghancurkan mentalnya. Dan keputusan yang tepat adalah menjauhi orang-orang tersebut.


Rania kembali meletakkan ponsel serta bedaknya ke dalam tas. Wanita itu menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.


Di lain tempat, Alvaro tengah sibuk berkutat dengan dokumen yang ada di atas meja. Pria itu menghela napasnya dengan lega, karena keuangan perusahaan kembali stabil setelah kemarin mengalami krisis akibat ulah dari Andre.


Setidaknya ia akan tetap mengelola anak perusahaan untuk sementara waktu hingga Alvira bisa menghandle kembali perusahaan seperti sedia kala.


Pandangan Alvaro teralihkan pada ponselnya yang saat itu berdering. Ia meraih benda pipih tersebut, melihat nama sang istri yang tertera di layar ponselnya. Alvaro mengusap layar ponselnya untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Sayang."


"Mas Varo masih di kantor kan?" tanya Rania dari seberang telepon.


"Iya. Kamu sudah pulang dari reuniannya?" Alvaro balik bertanya.


"Iya, Mas. Ini lagi di perjalanan," timpal Rania.


"Mas, bolehkah aku mampir ke kantor?" tanya Rania.


"Tentu saja boleh. Mas lagi ada di kantor pusat, yang letaknya tidak jauh dari klinikmu," ucap Alvaro.


"Baiklah, aku akan segera ke sana, Mas."


Sambungan telepon terputus. Alvaro meletakkan ponselnya di atas meja. Pria itu kembali fokus membolak-balikkan dokumen yang ada di atas meja. Memeriksa berkas tersebut satu persatu.


Setelah berselang sekitar 40 menit lamanya, terdengar suara ketukan pintu. Alvaro pun selesai memeriksa semua dokumen yang ada di atas mejanya. Pria itu meregangkan lehernya yang terasa kram, serta punggungnya yang pegal.


Terdengar suara ketukan pintu. Alvaro pun langsung mengarahkan pandangannya pada pintu tersebut. Ia melihat sang istri yang baru saja muncul dari balik pintu itu.


"Mas, ..." Rania mengulas senyumnya lalu kemudian kembali menutup rapat pintu itu. Wanita tersebut melangkah mendekat ke arah sang suami yang masih duduk di kursi kebesarannya.


"Bagaimana pertemuan tadi, apakah cukup menyenangkan?" tanya Alvaro menarik kedua sudut bibirnya.


Rania ingin sekali menyembunyikan semua yang terjadi padanya beberapa jam yang lalu dari suaminya. Hendak bersikap bahwa ia baik-baik saja, dan pertemuannya tadi sangatlah menyenangkan.


Namun, air matanya jatuh menetes begitu saja, membuat Rania tak bisa menyembunyikan fakta yang ada dari sang suami. Ia benar-benar terpukul akan kejadian tadi, wanita itu pun langsung memeluk suaminya dari belakang. Dan menjatuhkan kepalanya tepat di bahu sang suami.


"Loh, ada apa, Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Alvaro yang cukup terkejut dengan sikap sang istri.


Rania hanya menimpalinya dengan sebuah gelengan kepala. Sementara tangannya semakin erat mendekap tubuh suaminya. Hanya Alvaro tempatnya untuk bersandar. Hanya suaminya tempat ia mencurahkan segala keluh kesahnya.

__ADS_1


Sementara Alvaro, ia mengerti jika istrinya sudah bersikap seperti ini. Tandanya, pertemuan Rania bersama teman-temannya itu tidak ada hal yang menyenangkan. Rania sedih dan ia cukup tertekan.


Alvaro mengusap tangan Rania, membiarkan istrinya untuk menangis sejenak di bahunya. Memberikan waktu pada Rania untuk menumpahkan air matanya hingga ia merasa tenang . Dan setelah itu, barulah Alvaro akan menanyai istrinya baik-baik. Alasan apa yang membuatnya menangis hingga tersedu seperti ini.


Tak lama kemudian, tangis Rania pun mereda. Wanita itu langsung mengangkat kepalanya dari bahu suaminya.


Alvaro beranjak dari kursi kebesarannya. Ia mengajak Rania untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Duduklah dulu," ujar Alvaro.


Pria itu kembali ke belakang, mengambilkan Rania segelas air putih dan memberikannya pada sang istri.


"Minumlah dulu!" titah Alvaro seraya memberikan gelas tersebut.


Rania meneguk air minum itu, hingga air yang ada di dalam gelas tersebut tandas tak tersisa. Alvaro menjatuhkan bokongnya tepat di samping sang istri, memperhatikan wajah cantik Rania dengan mata yang sembab sehabis menangis tadi.


Tangan Alvaro terulur, membersihkan jejak air mata yang tersisa di pipi sang istri. Ia tersenyum, menunggu istrinya untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi.


"Mas, aku minta maaf karena tidak mendengarkan perkataan mu. Sungguh, aku mengira ini tidak akan terjadi," ucapnya yang mulai membuka suara.


"Memangnya apa yang baru saja terjadi hingga kamu menangis seperti ini?" tanya Alvaro.


"Mereka semua ... mempunyai mulut-mulut yang jahat, Mas. Aku mengira kedatanganku ke sana, mereka tidak akan memperlakukan aku seperti itu, berucap jahat padaku," jelas Rania yang masih terdengar begitu ambigu.


"Apa yang mereka lakukan? Dan apa saja yang mereka katakan?" tanya Alvaro berusaha sabar mendengarkan cerita dari sang istri.


Jangankan Rania, Alvaro yang mendengarkan hal tersebut juga merasakan sakit hati atas ucapan teman istrinya itu. Alvaro menggeser tubuhnya lebih mendekat pada Rania. Pria itu memberikan pelukan hangat pada sang istri untuk menenangkannya.


"Sayang, bukankah sebelumnya sudah Mas jelaskan, anak itu adalah titipan Tuhan. Jika kita belum diberikan anak, berarti Tuhan belum mempercayakan titipannya kepada kita. Dan menyuruh kita untuk lebih sabar lagi menunggu waktu itu tiba," tutur Alvaro memberikan pengertian pada sang istri, sembari mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Mas menikahimu bukan semata agar kamu harus menghasilkan keturunan untukku. Aku menikahimu karena aku mencintaimu, menerima segala kekurangan maupun kelebihan mu. Mas sama sekali tidak berpikir menikahimu hanya karena kamu harus menghasilkan keturunan untukku. Meskipun suatu saat nanti, kamu tidak bisa hamil sekalipun, Mas tidak akan meninggalkanmu," ucap Alvaro mengusap rambut istrinya.


"Maka dari itu, Mas sedikit berat hati mengizinkan kamu untuk datang ke acara reunian tersebut. Mas takut kamu sedih dan termakan omongan-omongan jahat orang-orang yang ada di luaran sana. Mas tidak mau kamu sedih, Mas tidak mau kamu sakit hati. Jadi, mulai sekarang, kamu bisa ya menurut sedikit dengan Mas. Mas melakukan itu semua hanya untuk kebaikan kamu, bukan untuk melarangmu ataupun mengekangmu," jelas Alvaro.


Air mata Rania kembali tumpah. Entah berapa kali ia melakukan kesalahan yang sama. Tidak mendengar ucapan suaminya.


"Sudah, jangan menangis. Nanti cantiknya luntur," bujuk Alvaro diiringi dengan sebuah gurauan kecil.


"Maafkan aku, Mas. Seharusnya aku mendengarkan ucapanmu. Seharusnya aku tidak egois dan pergi ke tempat itu. Terima kasih, Mas. Terima kasih karena kamu selalu sabar menghadapiku. Aku benar-benar beruntung bisa memilikimu," ucap Rania sembari sesegukkan.


"Mas juga merasa sangat beruntung karena bisa hidup bersama denganmu. Mulai sekarang, hindari orang-orang yang menyakiti hati dan mentalmu. Bertemanlah dengan mereka yang bisa menghargaimu tanpa melukai harga dirimu." Alvaro menasihati istrinya.


"Pepatah mengatakan, 'mati satu tumbuh seribu' itu tandanya bukan hanya mereka yang bisa dijadikan teman. Banyak teman yang lain yang masih bisa menghargaimu. Dan satu hal yang perlu kamu ingat, jika suatu saat nanti ada yang berkata tentang tanda-tanda kehamilan atau apapun itu ... biarkan saja! Kamu hanya perlu menutup telinga untuk ucapan mereka yang menyakiti hati dan mentalmu," tutur Alvaro panjang lebar.

__ADS_1


Pria itu memberikan pengertian pada istrinya dengan lembut dan penuh rasa sabar. Jika api dilawan dengan api, maka kobaran api akan semakin membesar. Beda halnya jika api dilawan dengan air.


Rania menganggukkan kepalanya dengan patuh. Menuruti semua ucapan suaminya.


"Sekarang Mas mau kamu tersenyum. Mas tidak ingin melihat wajah sedihmu itu," ucap Alvaro.


Perlahan, Rania pun mulai mengembangkan senyumnya menatap wajah sang suami.


"Nah, begini lebih cantik. Mas suka senyum kamu. Mas ingin kamu tetap tersenyum seperti ini," ujar Alvaro. Pria itu mendekatkan wajahnya, lalu kemudian menjatuhkan bibirnya tepat di kening sang istri, mengecupnya dengan lembut.


Alvaro menjauhkan bibirnya dari kening sang istri. Ia menangkup wajah cantik Rania dengan kedua tangannya. "Aku mencintaimu, Rania."


"Aku juga mencintaimu, Mas." Rania menjawab sembari mengulas senyumnya.


"Sekarang jangan sedih lagi ya. Mas ingin kamu selalu ceria," ujar Alvaro.


Rania menganggukkan kepalanya. Keduanya pun saling melemparkan senyum satu sama lain.


Di waktu yang bersamaan, Juni baru saja melangkah hendak menuju ke ruangan atasannya. Namun, ia melihat Shinta yang sudah berdiri di depan ruangan tersebut.


"Mau kemana?" tanya Shinta.


"Ya ... mau ke ruangan Pak Bos lah. Memangnya mau kemana lagi," timpal Juni.


"Nanti saja, Pak Bos lagi berdua dengan istrinya di dalam. Kalau masih punya nyali untuk mengetuk pintu, silakan saja. Nanti pasti gajimu akan dipotong lima puluh persen," ucap Shinta sembari bersedekap. Ia paham betul dengan apa yang dikatakan oleh Alvaro ketika membantah perintahnya. Yang pasti, ancamannya adalah gaji.


"Tumben istrinya Pak Bos datang kemari," celetuk Juni menatap pintu ruangan Alvaro yang tertutup rapat.


"Ya mungkin ingin bertemu Pak Bos," jawab Shinta.


"Sikap Pak Bos sama istrinya manis sekali. Aku menjadi sedikit iri," lanjut Shinta sembari mengerucutkan bibirnya.


Juni terkekeh mendengar penuturan sang sekretaris. "Heh Shinta, asal kamu tahu, iri itu tandanya tak mampu," ujar Juni.


"Ya mau bagaimana lagi, aku kan tidak memiliki kekasih. Wajar jika aku sedikit iri dengan kemesraan orang lain," tukasnya sembari memutar kedua bola matanya dengan jengah.


"Mau aku jodohkan?" tanya Juni yang mencoba menawari Shinta.


"Benarkah? aku mau ... aku mau!!!" ujar Shinta yang sudah antusias dengan tawaran Juni.


"Tukang kebun di rumah, umur 50 tahun, sedang mencari pasangan hidup," celetuk Juni.


Shinta pun langsung mendengkus kesal mendengar ucapan Juni. Wanita itu melepaskan sepatunya, hendak melempari Juni dengan heels yang ia kenakan. Sementara Juni, pria itu sudah berlari terlebih dahulu, menghindari amukan dari Shinta.

__ADS_1


"Dasar Juni sialan!" cecar Shinta kembali mengenakan sepatu yang sempat ia lepas tadi.


Bersambung ....


__ADS_2