Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 69. Pesta


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di tempat tujuan. Ia melihat orang-orang tampak berbondong-bondong datang ke pesta tersebut. Alvaro dan yang lainnya turun dari mobil. Pria itu menatap sang ayah yang berada di mobil yang berbeda bersama dengan Arumi dan Alvira.


Beberapa menyapa Fahri. Bagaimana pun juga, dulunya almarhum Pak Beni adalah rekan kerja Fahri. Dan beberapa orang lainnya juga menyapa Alvaro yang memang di kenal sebagai pemimpin perusahaan, menggantikan posisi ayahnya.


Mereka memasuki aula pesta. Kedatangan mereka tentu di sambut hangat oleh Arjuna, selaku sebagai putra pertama Samuel, akan tetapi pria itu hingga saat ini masih menyandang status lajang. Umur Arjuna hanya berbeda beberapa bulan dengan Alvaro dan Alvira.


"Tante, Om, ..." Arjuna tersenyum ramah menyambut keluarga besar Fahri. Ia juga menyapa Alvaro, lalu kemudian menepuk punggung pria tersebut dengan pelan.


"Siapa? Dia kah orangnya?" tanya Arjuna menyinggung wanita yang datang bersama dengan Alvaro, tak lain adalah Rania.


Alvaro mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan oleh Arjuna tadi.


"Aku sudah berencana menikah dua kali, kamu kapan lagi? Sampai sekarang masih melajang. Segeralah cari pasangan, Sob!" Alvaro menepuk belakang Arjuna.


Pria tersebut mengarahkan pandangannya pada wanita yang datang bersama dengan Alvaro. Wanita yang terlihat cantik dengan perut buncitnya. Wajahnya tak berubah, masih sama cantiknya seperti pertama kali ia melihat wanita itu, dan ... debaran di dada Arjuna juga tak berubah sama sekali.


Alvaro mengarahkan pandangan Arjuna pada saudara kembarnya. Ya, memang benar. Alvira adalah alasan Arjuna masih melajang hingga saat ini. Alvaro memang mengetahui Arjuna menaruh rasa pada saudara kembarnya itu. Namun, Alvira dibutakan oleh cintanya yang begitu besar pada Andre, hingga membuat Arjuna pun mengalah untuk memperjuangkannya.


"Ayo, move on, Bro!" celetuk Alvaro yang diiringi dengan sebuah candaan kecil.


"Susah, sangat susah bagiku untuk melupakannya. Ku akui, pesona adikmu memang luar biasa," ujar Arjuna sembari terkekeh.


Sementara Alvira, wanita itu tampak sedikit malu bertemu kembali dengan pria yang pernah ia tolak di masa lalu. Pria telah banyak mengorbankan segalanya untuk dirinya, akan tetapi ia terlalu bodoh kala itu dan lebih memilih Andre.


"Ayo silakan duduk, Om, Tante, dan yang lainnya," ucap Arjuna.


Mata Arjuna sempat bertemu pandang dengan Alvira. Pria itu tersenyum simpul beberapa detik, lalu kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada hal yang lainnya. Kembali menyambut tamu penting yang diundang oleh ayahnya.


Alvaro duduk bersebelahan dengan Rania. Sementara Bima, diminta Alvira untuk tetap menemaninya. Pria tersebut mencuri pandang ke arah Rania. Saat Rania mendapati Alvaro tengah memandanginya, pria itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah lain.


"Ada apa? Kenapa kamu mencuri-curi pandang dariku?" tanya Rania berbisik.


Alvaro sedikit mendekat ke pada Rania, dan berbisik, " Karena kamu terlalu cantik."


Lagi dan lagi, Rania tersipu malu karena ucapan Alvaro. Kekasihnya itu memang pandai membuat dirinya merona, dan terbang hingga langit ke tujuh.


"Berhenti merayuku!" bisik Rania dengan penuh penekanan.


"Canduku, melihatmu tersipu malu," celetuk alvaro.


Alvira tersenyum melihat saudara kembarnya itu terlihat sangat bahagia dengan gadis yang menjadi kekasihnya saat ini.


"Bima senang jika dia yang menjadi mama Bima?" tanya Alvira sembari mengarahkan pandangannya kepada dua sejoli yang berada di kursi seberang, tengah melemparkan candaan.


Bima mengagguk, "Iya, Tante. Bu Dokter sangat baik kepada Bima, dan papa juga senang jika ada Bu Dokter," jelas anak laki-laki tersebut.


Alvira mengangguk paham. Ia juga menyukai Rania meskipun di awal pertemuan. Gadis itu sangat bersikap lembut kepada Bima, dan juga Alvaro yang memang tampak sangat menyukai tetangganya itu.


Alvaro mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja ia melihat gadis yang dulu pernah menjalani kencan buta dengannya. Ia adalah Fanny yang ternyata anak bungsu dari Samuel.


Gadis itu juga menatap ke arah Alvaro. Ia tersenyum beberapa detik, seakan menganggap hal yang kemarin biasa-biasa saja. Dan Alvaro pun membalas senyuman dari gadis tersebut.

__ADS_1


Serangkaian acara mulai di buka. Mereka berdiri diiringi tepuk tangan saat kedua mempelai mulai berjalan menaiki panggung dan menduduki singgasana mereka, bak ratu dan raja sehari.


Samuel mengerlingkan matanya kepada Arumi, wanita itu membalas dengan mencebikkan bibirnya. Sementara Fahri, sudah terbiasa dengan hal tersebut dan tak merasa cemburu sedikit pun.


Samuel juga mengacungkan ibu jarinya saat melihat keberadaan pria yang selalu ia panggil bocah, siapa lagi jika bukan Alvaro. Alvaro memberikan kode 'oke' menggunakan tangannya.


Saat pengantin dan para orang tua telah duduk menempati kursi khusus, semua tamu pun kembali duduk. Dari atas panggung, Samuel lebih banyak memberikan kode kepada Alvaro, seakan mereka berdua tengah merencanakan sesuatu.


"Om kamu kenapa?" tanya Rania yang sedari tadi melihat interaksi keduanya.


"Tidak apa-apa, nanti kamu akan mengetahuinya sendiri," ujar Alvaro tersenyum penuh arti. Rania kembali memperlihatkan wajah penasarannya.


Fahri yang tengah sibuk memperhatikan serangkian acara yang ada di depannya. Pria itu merasakan ada yang merangkul pundaknya dari belakang, membuat Fahri mengarahkan pandangannya ke belakang, mendapati Aldo dan juga Indra hadir dalam acara tersebut.


"Hai, Kawan. Lama tak bersua," ujar Indra.


"Hai, Ndra, Aldo." Alvaro menyapa kedua pria yang pernah bermasalah dengannya, akan tetapi berakhir dengan saling menjalin hubungan baik.


Arumi melihat Indra dan Aldo cukup terkejut dan wanita tua itu pun ikut menyapa keduanya.


"Astaga, lihatlah! Rambut kalian sudah memutih semua," celetuk Arumi menertawai ketiga pria tersebut. Ketiga pria itu pun menatap Arumi dengan sedikit heran.


"Apakah kamu tidak memberinya kaca?" ujar Indra membuat yang lainnya ikut tertawa.


Kedua pria yang telah memasuki usia lanjut, datang bersama dengan para istrinya. Aldo bersama Sifa, dan Indra bersama Jessy ( yang udah baca pria 500 juta, pasti tahu dengan mereka ini 🤭)


Samuel dari atas panggung hanya memperhatikan teman mereka. Sesekali Indra melambaikan tangannya membuat Samuel pun ikut tersenyum. Pria itu meminta izin kepada Elena untuk turun sejenak, dan Elena pun memberikan suaminya izin untuk berbincang sejenak pada teman-temannya.


Inilah waktunya, sedari tadi yang dinanti-nantikan oleh Alvaro, ketika namanya di sebut, membuat pria itu pun mengambil napasnya dengan dalam karena merasa gugup.


"Semangat!" ujar Arumi dan yang lainnya. Beberapa orang yang ada di acara tersebut sudah mengetahui rencana dari Alvaro karen pria itu jauh-jauh hari telah meminta izin kepada pemilik acara dan mereka pun menyetujuinya.


"Ayo temani aku bernyayi!" ajak Alvaro.


Rania sedikit terkejut dengan ajakan Alvaro, "Tapi aku tidak bisa bernyanyi," ujar gadis itu.


"Tidak apa-apa, kamu cukup berdiri di sampingku saja," ucap Alvaro yang kemudian menggenggam tangan Rania, mengajak gadis tersebut untuk ikut naik.


Rania merasakan jemari Alvaro sedingin es. Kening gadis itu berkerut, dan benaknya bertanya-tanya.


Kenapa Alvaro segugup ini? Bahkan ini kali pertama Rania mendapati Alvaro segugup ini.


Keduanya pun naik ke atas panggung. Alvaro mulai mengatur posisi mikrofonnya, dan mulai menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Janji Suci dari Yovie and Nuno.


Saat mendengar kekasihnya mulai menyanyikan lagu tersebut, Rania menilai jika suara Alvaro tidak terlalu sumbang seperti suaranya. Ia tidak menyadari, sang kekasih menatapnya sedari tadi, hingga semua orang bersorak meriah saat Alvaro berlutut di hadapan Rania seraya memperlihatkan cincin yang cantik dari kotak beludru berwarna merah tersebut.


*Dengarkanlah, wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu, dewiku

__ADS_1


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


'Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang 'tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu*


Setelah usai menyanyikan lirik tersebut, dengan musik yang masih mengiringi, Alvaro pun mulai mengatakan semua kata-kata manisnya.


"Aku adalah seorang pria dengan status duda dan memiliki seorang putra. Aku sedikit malu, mengutarakan semua ini kepada gadis cantik yang ada di hadapanku."


"Rania, Sayangku." semua tamu kembali heboh dengan panggilan sayang dari Alvaro.


"Aku ingin mengatakan, bahwa separuh hidupku sudah bersama mendiang istriku terdahulu. Namun, masih ada yang tersisa dan akan ku berikan semuanya untukmu. Apakah kamu mau menerimanya?"


"Aku adalah pria yang serakah, menginginkan seorang Dewi kayangan yang jelita. Namun, aku tak menyerah. Akan ku buktikan bahwa seseorang sepertiku bisa membuatmu tersenyum bahagia. Akan ku buat harimu seindah senja, hingga hidupmu bak pelangi yang selalu berwarna." Alvaro mengatakan semua itu penuh dengan keyakinan, meskipun jemarinya sedingin es karena merasa gugup mengatakan hal tersebut di depan banyak orang.


"Rania, maukah kamu menjadi istriku?" tanya Alvaro.


"Mau!! Mau!!" teriak semua tamu yang sedari tadi heboh.


Air mata Rania jatuh begitu saja. Ia tak menyangka akan mendapatkan sebuah lamaran yang seperti ini. Jauh dalam bayangannya. Gadis itu benar-benar terharu. Perlahan ia pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Alvaro.


"Jawab yang keras, Sayang." Alvaro masih sempat menggodanya meskipun dalam keadaan seperti ini.


"Iya, aku mau!"


Semua orang pun bersorak heboh. Pesta pernikahan tersebut tampak berkesan karena suguhan manis dari Alvaro.


Pria tersebut menyematkan cincin di jari manis Rania. Gadis itu tersenyum, lalu kemudian kembali menangis karena rasa haru. Alvaro mendekap Rania, mengusap kepala kekasihnya dengan lembut sembari berucap, "Terima kasih, Sayang."


Tak lama kemudian, Bima ikut serta naik ke atas panggung. Kali ini anak laki-laki itu membawa beberapa tangkai mawar yang langsung ia berikan kepada Rania. Ini di luar dari rencana Alvaro.


"Ini untuk mama," ujar Bima sembari tersenyum tulus .


Rania langsung berjongkok, lalu kemudian memeluk Bima dengan penuh kasih sayang. Menghujani pipi Bima dengan sebuah kecupan singkat.


Hari itu, merupakan hari yang sangat istimewa bagi Rania. Ia merasa beruntung dipertemukan oleh Alvaro dan Bima.


"Aku mencintaimu," bisik Rania.


"Aku lebih dari itu," balas Alvaro.


Bersambung ....

__ADS_1


Cie cie yang sebentar lagi bakalan married, nggak ngenes lagi tidur sendirian. Bagian unboxing, aku skip ya🤭


__ADS_2