Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 105. Toxic People


__ADS_3

Rania baru saja selesai menangani pasiennya. Ia melirik jam yang ada di ponsel menunjukkan pukul 2 siang.


"Satu jam lagi aku harus pergi," ujar Rania berbicara pada Hilda.


"Bu dokter mau kemana?" tanya Hilda.


"Pergi ke acara reunian. Tidak apa-apa kan kita tutup kliniknya lebih awal?" tanya Rania.


"Tentu saja tidak apa-apa, Bu Dokter. Lagi pula kan jarang sekali kita tutup klinik lebih awal. Dengan begitu, aku juga bisa bersantai lebih awal," ujar Hilda sembari terkekeh geli. Sementara Rania hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Hilda.


"Bu dokter mau pergi sekarang?" tanya Hilda melihat Rania yang mulai bersiap-siap.


"Iya. Soalnya tidak enak kalau nanti datang ke sana terlambat. Lokasinya cukup jauh," jelas Rania mulai melepaskan jas dokter yang ia kenakan.


Melihat Rania yang mulai bersiap-siap untuk segera pergi, membuat Hilda juga ikut berkemas. Gadis itu memilih untuk bersiap pulang ke rumahnya.


Setelah selesai bersiap, keduanya pun keluar dari klinik tersebut.


"Bu dokter, perginya searah ke rumahku tidak?" tanya Hilda.


"Tidak, aku ke arah yang berlawanan. Memangnya kenapa?" tanya Rania yang sudah siap untuk membuka pintu mobilnya.


"Hehe ... tidak apa-apa, rencananya aku ingin menumpang. Hitung-hitung menghemat pengeluaran," ucap Hilda sembari menaik-turunkan alisnya.


"Kalau begitu, suruh tunangan kamu saja yang jemput. Selain gratisan dapat tumpangan, sekalian juga gratis jajan," celetuk Rania sembari terkekeh geli.


"Dia lagi kerja Bu Dokter, sibuk mencari rupiah untuk menghalalkan aku," ujar Hilda tersipu malu.


Rania hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Hilda. Rekan kerjanya yang satu itu memang sangat irit akan kebutuhannya sendiri.


"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu. Takut telat sampai ke sana nanti," ucap Rania menatap arloji yang ada di pergelangan tangan kirinya. Wanita tersebut langsung masuk ke dalam kendaraannya.


"Baiklah, Bu Dokter. Hati-hati di jalan!" seru Hilda.


Mobil yang dikendarai oleh Rania pun mulai melaju membelah jalanan siang menjelang sore itu. Di perjalanan, ia merasa sedikit bosan. Rania menghidupkan pemutar musik untuk mengusir rasa sunyi.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mobil yang dikendarai oleh Rania pun tiba di tempat tujuan yang mereka janjikan sebelumnya.


Rania memarkirkan mobilnya di depan resto tempat mereka akan bertemu. Wanita tersebut mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru resto, akan tetapi tidak menemukan keberadaan teman-temannya di tempat itu.


Rania duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya, lalu kemudian membuka grup chat yang menjadi ruang obrolan ia bersama dengan teman-teman lamanya. Jemarinya mengetikkan sesuatu di atas keypad tersebut.


Rania : Belum ada yang datang?

__ADS_1


Setelah mengetikkan pesan tersebut, Rania meletakkan ponselnya di atas meja. Salah seorang pelayan datang menghampirinya sembari membawa daftar menu yang ada di tangannya. Rania pun hanya memesan minuman sembari menunggu kedatangan teman-temannya.


Rania mengetukkan jemarinya, menunggu balasan dari teman-teman yang ada di dalam grup chat tersebut. Matanya langsung menatap ke arah ponselnya, tatkala benda pipih tersebut berbunyi.


Sintia : Tunggu saja dulu di sana, ini lagi dalam perjalanan.


Setelah membaca pesan dari salah satu anggota grup chat tersebut, Rania pun kembali meletakkan ponselnya. Pesanan minumannya pun telah tiba, Rania menyesap jus jeruk tersebut sembari menatap ke sekelilingnya.


Sudah tiga puluh menit lamanya berlalu, akan tetapi satu pun dari mereka belum juga muncul. Padahal, lokasi yang paling jauh adalah rumah Rania. Entah mengapa mereka menerapkan sistem jam karet, janjian jam 3 dan jam 5 baru kumpul semua.


Rania hendak mengetikkan pesan di ruang obrolan grup. Namun, tangannya terhenti saat melihat sosok yang baru saja tiba. Wanita itu tak lain adalah Sintia.


Rania mengangkat tangannya dan melambai ke arah temannya itu agar terlihat secara langsung. Pandangan Sintia pun tertuju ke arahnya, wanita itu langsung melangkah menuju Rania.


"Mana yang lain?" tanya Sintia.


"Belum datang, baru aku sendirian yang ada di sini," timpal Rania.


"Mereka ini memang kebiasaan datang tak tepat waktu," gerutu Sintia mencecar teman yang lainnya.


Sintia duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Wanita tersebut sibuk mengotak-atik ponselnya, bertukar pesan pada teman-teman yang lain.


Kali ini Rania sudah tidak sendirian, ditemani oleh Sintia yang ada di sebelahnya. Namun, rasanya percuma. Ia masih tetap merasa sendiri, wanita yang ada di sebelahnya ini sibuk dengan ponselnya tanpa mengajak Rania berbincang-bincang.


Setelah menunggu sekitar dua puluh menit lamanya, mereka pun berangsur datang. Dita datang bersama dengan putra yang usianya sekitar 3 tahun. Lalu kemudian datang Bella bersama dengan Deva.


Kini seluruh anggota yang ada di grup chat tersebut telah hadir. Kursi di satu meja itu pun telah terisi semua. Semua orang di sana saling berbincang-bincang. Sementara Rania lebih banyak mendengarkan cerita mereka. Hanya Bella saja yang sering mengajaknya berbicara.


"Rania, aku dengar-dengar kamu sudah menikah," celetuk Sintia.


"Iya, aku sudah menikah." Rania membalas dengan mengulas senyum.


"Kenapa tidak mengundang kita-kita?" protes Deva.


"Maaf, aku kira kemarin kalian ikut bersama suami masing-masing. Aku tidak tahu jika kalian masih menetap di sini," ucap Rania.


"Oh iya, katanya kamu mendapatkan seorang duda ya? Apakah jangan-jangan kamu masih sakit hati dan tidak move on dari Dion yang berhasil mendapatkan janda kaya raya?" kali ini Dita lah yang bersuara.


Entah mengapa, Rania merasa tersudutkan dengan mereka yang menghujani pertanyaan seperti itu. Namun, Rania masih menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut sembari mengulas senyumnya.


"Ah, tentu saja tidak. Aku menikah dengan suamiku karena kami berjodoh," timpal Rania tersenyum.


"Dudanya pasti kaya kan? Makanya kamu mau." Sintia kembali menambahi.

__ADS_1


Kali ini Rania tidak menjawabnya. Ia hanya memilih tersenyum dan meraih gelas minuman yang ada di hadapannya. Menyesap minuman itu untuk mendinginkan kepalanya agar tak tersulut emosi oleh perkataan teman-temannya itu.


"Kalian sudah berapa lama menikah?" tanya Dita.


"Sudah hampir memasuki tiga bulan lamanya," jawab Rania.


"Tiga bulan cukup lama ya," ujar Dita.


"Sudah ada tanda-tanda ...." Dita mengusap perutnya, seolah memberikan kode bahwa yang ia maksud adalah tanda-tanda kehamilan.


Ini adalah pertanyaan yang paling sensitif bagi Rania. Ia tidak bisa ditanya yang seperti ini.Tentu saja membuat dirinya sedikit banyak akan tersinggung. Namun, Rania mencoba menjawabnya seolah ia baik-baik saja.


"Belum, Dit. Masih menunggu Tuhan menitipkannya padaku," ucap Rania seraya tersenyum.


"Yah ... percuma kalau kaya tapi tidak mempunyai keturunan, Nia. Tidak mungkin selamanya kamu akan mengasuh anak sambungmu saja. Seorang pria pasti akan sangat menantikan hadirnya sosok buah hati di dalam sebuah pernikahan. Wanita yang tidak bisa mengandung itu dianggap gagal sebagai seorang istri. Percuma punya harta banyak tapi mandul, ya kan?" papar Deva.


Mendengar ucapan Deva, teman-teman yang lain memilih bungkam. Bella langsung menyenggol lengan Deva, karena menurutnya ucapan wanita itu sudah benar-benar keterlaluan. Dan yang lain berpura-pura menyantap hidangan yang ada di hadapan mereka.


Sementara Rania, hanya bisa merem*s lututnya dari bawah meja. Setiap kata yang dilontarkan oleh teman-temannya itu terasa begitu sangat menyakitkan, terutama ucapan yang baru saja ia dengar langsung dari mulut Deva.


Tidak ada wanita yang ingin gagal menjadi seorang istri yang baik. Namun, untuk masalah keturunan, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Tuhan belum menghendaki dan memberi mereka keturunan, maka Rania juga harus bisa menerimanya.


Rania mengulas senyum, sementara matanya mulai memerah. Dalam benaknya bertanya-tanya, apakah dia akan sanggup mendengar ucapan mereka selanjutnya? Sampai kapan ia akan bertahan di lingkaran pertemanan yang cukup toxic itu?


"Bukan inginku dalam keadaan yang seperti ini. Aku juga ingin memiliki anak dalam jumlah lima, enam, atau bahkan sepuluh juga aku mau. Namun, setidaknya bisakah untuk sedikit menghargai ku? Bukankah kita sesama perempuan?" ujar Rania yang mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar sedih dengan ucapan teman-temannya itu.


"Mungkin saat ini aku memang belum mempunyai keturunan, tetapi aku tidak ingin patah semangat. Aku tetap berharap di setiap noda merah mengotori barang dalam ku. Dan aku berpikir 'mungkin sebentar lagi, sabar dulu saja!' akan tetapi setelah mendengar ucapan kalian, membuat semangatku menjadi patah. Aku benar-benar merasa wanita yang terhina di antara kalian," tutur Rania.


"Jika kedatanganku hanya untuk kalian hina, untuk apa kalian mengundangku jauh-jauh kemari? Aku meninggalkan pasienku di saat aku yang seharusnya belum menutup klinikku, dengan harapan aku bisa bersenang-senang dan berbagi cerita bersama kalian. Namun, apa yang ku dapat? Kalian justru sesuka hati menghinaku seperti ini? Apakah pantas sesama wanita bersikap seperti itu. Jangankan untuk mendukung ku, kalian justru mendorongku agar aku jatuh ke jurang yang paling dalam!" ujar Rania panjang lebar.


Bella yang ada di samping Rania langsung mengusap bahu wanita itu. Hanya Bella diantara teman-teman yang lainnya lebih menghargai Rania.


Sementara ketiga orang yang melontarkan ucapan yang tidak mengenakkan itu, justru hanya memilih bungkam dan mengaduk-aduk makanan yang ada di depannya.


Rania mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya. Wanita itu segera beranjak dari tempat duduknya. Ia mengambil dompet yang ada di dalam tasnya, lalu kemudian mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak dan sedikit kasar meletakkannya di atas meja.


"Bayar makanan kalian menggunakan uang ini. Anggap saja aku juga ikut membeli mulut-mulut kalian yang kotor itu. Ku rasa pertemanan kita cukup sampai di sini saja, karena aku tidak akan bernapas lega jika terus berada dilingkaran pertemanan yang isinya adalah orang-orang toxic semua!" tukas Rania.


Setelah mengucapkan hal tersebut, Rania pun segera pergi dari tempat itu. Ia benar-benar sedih, harapan bertemu dengan teman-temannya untuk mencari kesenangan hanyalah harapannya semata, karena nyatanya rasa sakit lah yang ia terima.


Wanita tersebut masuk ke dalam mobil, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Di cecar sebagai wanita yang tidak bisa memberikan keturunan membuat Rania benar-benar merasa terpukul. Hatinya sakit, serasa bak diperas.


Lidah memang tidak bertulang, akan tetapi jika tidak bisa menjaga lisan, benda itu bisa saja berubah menjadi sebuah sebilah pedang yang dapat menusuk sampai ke jantung dan menghancurkan mental seseorang. Maka dari itu, sangat penting bagi seseorang untuk menjaga lisannya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2