
Setelah mendapatkan kabar tersebut, Rania segera bersiap untuk menuju ke rumah sakit yang disebutkan tadi. Tangannya gemetar meraih ponsel yang baru saja terjatuh. Ia meraung-raung, menangis pilu mendapati kabar duka ini. Padahal, Rania menyiapkan kejutan kecil untuk suaminya, akan tetapi di waktu yang bersamaan, ia mendapati kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan.
Rania segera memanggil Pak Darman, meminta supirnya untuk mengantarkan Rania ke rumah sakit. Dalam kondisi seperti ini, Rania tak bisa menyetir. Apalagi tangannya masih bergetar karena efek syok mendengar kabar tersebut.
Rania bak hilang akal. Bahkan wanita itu tak menyadari bahwa dirinya tidak mengenakan alas kaki saat itu juga. Menatap ke arah luar jendela, berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, saat mengingat bahwa seseorang yang meneleponnya memberi kabar salah satu orang yang ada di dalam mobil tewas, membuat Rania kembali bercucuran air mata. Yang ia tahu, suaminya tengah dalam perjalanan untuk menjemput Bima. Dan yang Rania ketahui, bahwa saat itu Alvaro bersama dengan putra sambungnya. Rania mengira jika bukan putranya tentu saja Alvaro yang sudah meregang nyawa. Membayangkan hal tersebut, membuat rongga dada Rania terasa sesak, seolah dirinya tengah kehabisan oksigen.
Sesampainya di rumah sakit, Rania bergegas masuk begitu saja. Pak Darman melihat Rania yang berjalan tanpa mengenakan alas kaki. Pria itu mengerti, bagaimana hancurnya perasaan wanita itu. Baru kemarin mereka saling berbagi tawa, kini ia harus dihadapkan dengan kenyataan yang berat.
"Nyonya, tunggu!" seru Pak Darman yang langsung menghampiri Rania. Kabar tentang kehamilan Rania tentu saja telah terdengar oleh seluruh isi rumah, hanya Alvaro dan putra sambungnya lah yang belum mengetahui kabar baik tersebut.
Pak Darman melepaskan alas kaki yang ia pakai, dan diberikan pada Rania. "Maaf, Nyonya. Mungkin ini tidak seperti alas kaki anda yang mahal. Setidaknya pakailah, untuk melindungi kaki anda," ujar Pak Darman.
Rania memakai sendal yang diberikan Pak Darman, "Terima kasih, Pak." Setelah berucap demikian, Rania pun kembali melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui suaminya.
Di sana, Rania bergegas menemui suster. Ia menanyakan keberadaan Alvaro, pasien yang baru saja masuk karena kecelakaan. Suster pun langsung mengarahkan ruangan tempat Alvaro berada. Saat mendengar bahwa Alvaro berada di ruang rawat, Rania menghela napasnya dengan lega, berarti pria itu hanya mengalami sedikit luka-luka.
Namun, hatinya kembali merasakan nyeri. Tatkala ia mendengar kejadian beberapa menit yang lalu, menyebutkan salah satu dari mereka meninggal dunia.
"Berarti Bima ...." Mata Rania kembali berkaca-kaca. Ia mencoba untuk menguatkan diri, mengingat bahwa saat ini ada satu nyawa lagi yang ada di dalam tubuhnya. Namun, Rania mencoba tetap tenang sejenak. Menemui Alvaro terlebih dahulu agar semuanya jelas.
Langkah kaki Rania terhenti di ruang rawat. Ia melihat sosok pria yang dicintainya tengah berbaring sembari memejamkan mata.
Bagian kepala Alvaro diperban, serta ada beberapa luka di wajahnya. Matanya sedikit bengkak, mungkin akibat benturan hebat. Dan tangannya juga diperban, akan tetapi Rania bersyukur mengetahui kenyataan bahwa suaminya masih hidup.
"Mas, ..." Wanita itu bergumam dengan bibir yang bergetar.
Mendengar suara Rania, Alvaro langsung membuka matanya. Ia melihat istrinya menitikkan air mata, membuat Alvaro pun berusaha untuk bangkit dari pembaringannya.
"Sayang," ujar Alvaro yang berusaha mengubah posisinya menjadi duduk. Rania pun dengan segera membantu sang suami.
"Jangan menangis, Mas tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil," ujar Alvaro menghapus air mata sang istri.
"Luka kecil bagaimana, Mas? Ini ... ini ... dan ini ... semuanya luka yang pastinya sangat perih. Tidak ada luka kecil seperti yang Mas katakan tadi. Bahkan wajah Mas juga bengkak," protes Rania saat mendengar ucapan suaminya barusan.
Alvaro menyunggingkan senyumnya. Ia tertawa saat mendengar sikap istrinya yang kembali mengoceh seperti tadi.
"Tidak usah tertawa, Mas. Tidak ada hal yang lucu!" ketus Rania. Sesaat kemudian, ia kembali teringat akan Bima. Mata Rania berkaca-kaca, menanyakan keberadaan Bima.
__ADS_1
"Di mana Bima, Mas? Putra kita ...." Rania tak bisa melanjutkan ucapannya karena kembali tersedu.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Papa, ...."
Rania sangat mengenal suara itu. Suara putra semata wayangnya, jagoan kecilnya. Rania mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Ia melihat Bima datang menghampiri dan menangisi ayahnya.
"Papa, ... ini pasti sakit sekali. Papa pasti menderita," ujar Bima yang menangis sesegukkan.
Melihat Bima baik-baik saja, membuat Rania pun langsung memeluk putranya. Ia takut, jika kedua pria tampannya itu terjadi apa-apa.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa, Sayang. Mama sangat takut," ucap Rania memeluk erat tubuh Bima.
Kedua pria berbeda generasi itu pun langsung saling menatap keheranan. Apa maksud dari perkataan Rania yang mengatakan bahwa Bima tidak apa-apa.
"Sayang, apakah kamu mengira Bima ada di dalam mobil?" tanya Alvaro.
Rania menganggukkan kepalanya, sementara wanita itu tak sedikitpun melepaskan pelukannya dari tubuh Bima.
Sesaat kemudian, Arumi pun masuk bersama dengan Fahri. Kedua mata pasangan yang memasuki usia lanjut itu pun memerah sehabis menangis.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa, Sayang. Mama dan papa mengkhawatirkan kalian. Mama berharap tidak ada korban, akan tetapi Juni harus kehilangan istri tercintanya," ujar Arumi dengan nada yang bergetar.
"Istri Juni?" tanyanya yang mencoba memastikan.
"Iya. Di dalam mobil ada aku, Juni, dan istrinya. Saat itu aku belum bisa menjemput Bima karena Juni menumpang untuk pulang," tutur Alvaro menjelaskan.
Rania kembali bernapas lega. Bayangan-bayangan yang sedari tadi menghantuinya akhirnya terjawab sudah. Namun, ia tidak bisa berbahagia karena hal itu, karena ada satu nyawa yang melayang.
"Bagaimana dengan kondisi Juni sekarang, Ma?" tanya Alvaro karena dirinya belum diizinkan kemana-kemana oleh dokter.
"Juni masih kritis," timpal Arumi.
Jantung Alvaro serasa mencelos. Juni sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Pria itu selalu menolong Alvaro ketika ia sedang kesusahan menemukan jalan keluar suatu masalah yang menerpanya.
"Bagaimana dengan keluarganya? Apakah mereka sudah tahu?" tanya Alvaro lagi.
Arumi menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. "Bagaimana kronologinya kalian bisa kecelakaan separah itu?" tanya Arumi yang merasa penasaran.
__ADS_1
"Saat itu, Juni dan istrinya sedang bertengkar di mobil. Mungkin Juni merasa stres dengan semua ucapan istrinya, hingga ia tidak fokus menyetir dan menabrak pembatas jalan. Saat itu, posisi Juni dan istrinya duduk di bangku depan, sementara aku menempati kursi belakang. Maka dari itu, mereka terluka parah, sementara aku hanya mendapatkan luka-luka ringan," jelas Alvaro panjang lebar.
Semua orang yang ada di sana mengangguk paham setelah mendengar cerita dari Alvaro.
"Begitulah takdir, kecelakaan ini juga sudah bagian dari takdir, mau bagaimana pun juga jika Tuhan sudah berkehendak, apapun kejadiannya pasti tidak bisa terelakkan," ujar Fahri sembari mengusap belakang Alvaro, mencoba untuk mengusir kesedihan di wajah putranya itu.
"Sekalipun dia tidak naik ke mobilmu, tetap saja ia akan mendapatkan kecelakaan nantinya. Jika Tuhan sudah berkehendak, bagaimana pun caranya, tetap saja akan terjadi," lanjut Fahri.
"Iya, Pa." Alvaro menimpali sembari menekuk bibir bagian bawahnya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan, tetapi aku tidak tahu kejadian seperti ini haruskah untuk kita berbahagia?" Rania membuka suara, hendak menyampaikan kabar bahagia yang tengah ia alami. Namun, ia ragu ingin mengatakan hal tersebut.
"Tidak apa-apa, Nak. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Kita memang sedang berduka, akan tetapi bukan berarti kita tidak boleh mendapatkan kabar bahagia itu," ujar Arumi.
"Aku hamil," ucap Rania.
Semua orang pun tertegun sejenak sembari mengerjapkan mata beberapa kali, seolah apa yang mereka dengar barusan adalah hal yang tak nyata.
"Ta-tadi kamu bilang apa, Sayang? Bisakah kamu mengulanginya?" tanya Alvaro memastikan bahwa pendengarannya tidak lah salah.
"Aku hamil, Mas. Aku hamil. Tadi pagi dokter memeriksaku dan mengatakan bahwa aku tengah mengandung," ujar Rania memperjelas ucapan sebelumnya.
Semua orang pun terlihat senang dengan berita itu. Terutama Alvaro yang langsung menarik istrinya dan menciumi perut rata Rania.
"Berarti sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Terima kasih, Istriku." Alvaro tak bisa membendung tangisnya. Ia benar-benar terharu dengan berita yang disampaikan oleh Rania.
"Selamat ya Sayang," ujar Arumi memeluk Rania, menciumi kedua pipi menantunya itu. Fahri pun juga mengucapkan selamat pada Rania.
Bima sedari tadi memandangi orang-orang dewasa tersebut sembari memperlihatkan ekspresi bingungnya. Ia tidak mengerti bahwa hamil itu berarti ia akan memiliki seorang adik, seperti yang diimpikannya selama ini.
"Bima kenapa diam saja? Bima tidak senang? Sebentar lagi Bima mempunyai adik," ucap Arumi sembari mengusap puncak kepala cucunya.
"Benarkah Bima sebentar lagi akan mempunyai adik, Ma?" tanya Bima pada ibu sambungnya.
"Iya, itu benar Sayang." Rania mengulas senyumnya disertai dengan sebuah anggukan kecil.
Bima pun sangat senang mendengar kabar gembira itu. Sebentar lagi ia akan memiliki adik yang lucu dan menjadi sosok kakak yang baik untuk adiknya.
"Terima kasih, Mama. Bima sangat senang karena sebentar lagi akan mendapatkan seorang adik," ucapnya yang begitu antusias.
__ADS_1
"Iya Sayang, sama-sama," Rania menimpali sembari mengulas senyumnya.
Bersambung ....