
Setelah keluar dari ruangan Alvaro, Shinta berjalan gontai menuju ke meja kerjanya. Entah mengapa ucapan Alvaro tadi membuat dirinya kepikiran. Ia pun kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
"Apakah tidak masalah jika kamu saya pindahkan kembali ke kantor cabang?" tanya Alvaro.
"Dipindahkan?" Rania balik bertanya.
"Iya. Untuk masalah gaji, kamu tenang saja. Gajimu di sana atau pun di sini akan tetap sama," timpal Alvaro berusaha untuk menjelaskan.
"Tetapi ... kenapa saya harus dipindahkan ke kantor cabang, Pak? Apakah saya membuat kesalahan yang fatal?" tanya Shinta yang tampaknya keberatan menerima hal tersebut.
"Tidak ada yang salah padamu, Shinta. Hanya saja saya lebih mempercayakan kamu untuk membantu adik saya mengelola perusahaan cabang. Apakah kamu keberatan?" tanya Alvaro.
"Kalau memang Pak Alvaro ingin memindahkan saya, tidak masalah, Pak. Saya dapat menerimanya."
Mengingat kejadian tersebut, entah mengapa membuat dada Shinta terasa sesak. Dirinya telah terlanjur nyaman bekerja di sini. Dipindahkan kembali ke kantor cabang membuat Shinta harus jauh dari Juni.
"Meskipun dia sangat menyebalkan, akan tetapi tidak bisa dipungkiri jika aku tidak bisa terlalu jauh darinya," gumam Shinta.
Shinta menghela napasnya, lalu kemudian menggelengkan kepala. "Ayo Shinta! Semangat! Semangat! Jangan lebay, lagi pula aku dan Juni masih bisa bertemu. Kami bertetangga," ucap Shinta yang mencoba menepis rasa sedihnya. Ia pun kembali fokus menatap layar komputernya yang menyala, mengerjakan tugasnya agar terlupa akan ucapan yang dikatakan oleh Alvaro, meskipun pada akhirnya hal tersebut tetap akan terjadi nantinya.
....
Di waktu yang bersamaan, Juni juga memfokuskan dirinya pada layar komputer yang ada di hadapannya. Atensinya tiba-tiba teralihkan saat mendengar notifikasi pesan dari ponselnya berbunyi. Juni pun mengeluarkan ponsel tersebut dari sakunya. Melihat pengirim pesan tersebut adalah Shinta.
Juni mengulas senyumnya. Jika Shinta telah mengirimkan pesan singkat padanya seperti ini, tandanya gadis itu sudah tak lagi marah padanya.
Nanti siang kita makan di resto depan kantor.
Melihat pesan singkat tersebut, membuat Juni mengernyitkan keningnya. Jarang sekali Shinta mengajaknya makan di resto depan. Bagaimana pun juga, Shinta masih sangat ingin menyembunyikan hubungannya.
Namun, setelah mendapatkan pesan singkat tadi, membuat Juni merasa senang. Itu tandanya Shinta tak lagi ingin menyembunyikan hubungannya di depan banyak orang.
Tanpa berlama-lama, Juni pun langsung membalas pesan singkat tersebut. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Takutnya Shinta kembali badmood dan mengurungkan niatnya untuk mengajak Juni makan di luar.
Baiklah.
__ADS_1
Satu kata yang dikirimkan oleh Juni. Hatinya tampak berbunga-bunga. Memang benar, ada kalanya seseorang akan merasakan pubertas kedua. Dan hal itu wajar karena Juni adalah seorang duda. Kecuali, jika Juni mempunyai istri, perbuatan itu tentunya sangat tidak dibenarkan.
Juni meletakkan ponselnya kembali. Ia tersenyum menatap layar komputer yang menyala. Seakan di layar tersebut ada wajah Shinta yang tengah menatapnya sembari mengulas senyum.
"Astaga! Cinta benar-benar membuatku gila. Aku bahkan sekarang mengakuinya. Bahwa aku tergila-gila pada Shinta." gumam pria tersebut kembali fokus ke pekerjaannya.
....
Jam makan siang pun telah tiba. Shinta membereskan mejanya sebelum beranjak dari kursinya. Dari kejauhan, ia melihat Juni yang tengah menunggunya. Pria itu melemparkan senyum saat mata mereka bertemu pandang.
Shinta pun membalas senyuman dari Juni. Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berjalan menuju ke arah sang kekasih.
Kini keduanya telah saling berhadapan. Shinta pun melangkah ke samping Juni, lalu kemudian menggandeng tangan pria itu dengan penuh percaya diri.
Juni tentu saja terkejut dengan perlakuan Shinta yang tiba-tiba. Kemarin, gadis itu masih menginginkan hubungan ini disembunyikan. Dan hari ini, Shinta banyak membuat sebuah kejutan kecil yang cukup membuat Juni tertegun dengan sikap kekasihnya itu.
Shinta dan Juni pun masuk ke dalam lift dengan banyak orang di dalamnya. Tentu saja melihat Shinta yang bergandengan tangan dengan Juni membuat semua orang langsung heboh. Bahkan mereka dengan terang-terangan mengata-ngatai Shinta, menjilat ludah sendiri.
Namun, Shinta tak menghiraukan hal tersebut. Baginya, ucapan orang lain hanya dijadikan sebagai angin lalu saja. Toh dia juga merasa bahagia melakukan hal seperti ini.
Pintu lift terbuka, kedua sejoli itu pun keluar dari ruangan sempit itu. Beberapa orang yang ada di belakang mereka langsung menyoraki keduanya.
"Jika tidak nyaman, tidak usah dipaksa," ujar Juni melihat kekasihnya dengan seksama.
"Sebaiknya kamu tidak usah menghiraukan mereka. Mereka hanya iri melihat kedekatan kita," ucap Shinta yang mengabaikan ucapan sang kekasih.
Juni pun tersenyum. Mereka berdua berjalan menuju resto yang ada di seberang jalan. Sesampainya di sana, Shinta mengajak Juni untuk duduk di salah satu kursi yang letaknya di dekat jendela kaca.
Pelayan datang membawa buku daftar menu. Shinta pun meminta menu yang selalu menjadi menu favoritnya. Menu yang selalu ia santap saat makan siang. Menu yang selalu dikirimkan oleh Juni.
"Kalau begitu, aku pesan yang itu juga," ucap Juni.
"Loh, kenapa kamu ikut-ikutan? Pesan saja apa yang ingin kamu makan," ujar Shinta.
"Dan aku ingin makan-makanan yang sama denganmu," balas Juni yang langsung membuat Shinta mengulas senyumnya.
__ADS_1
Pelayan itu pun langsung ke dapur, menyiapkan makanan yang dipesan oleh kedua sejoli tersebut. Mata Juni menatap lekat Shinta. Entah mengapa tiba-tiba Shinta berubah seperti ini.
"Aku cukup terkejut karena kamu melakukan hal tadi di depan banyak orang," ucap Juni.
"Loh, kenapa? Bukankah sudah waktunya kita menjalin hubungan ini tanpa sembunyi-sembunyi. Lagu pula Pak Alvaro telah mengetahui tentang kita. Seisi kantor pun juga tahu tentang kabar kedekatan kita. Jadi, menurutku tak ada yang perlu disembunyikan lagi," jelas Shinta.
"Bolehkah aku menanyakan satu hal padamu?" Juni meminta izin pada kekasihnya.
"Silakan! Lagi pula sejak kapan kamu dilarang untuk bertanya padaku," balas Shinta yang membuat Juni langsung terkekeh.
"Apakah kamu masih marah padaku masalah kemarin?" tanya Juni dengan sangat berhati-hati.
"Sebenarnya sampai saat ini aku juga masih marah,"ujar Shinta.
"Maafkan aku, Shin. Aku hanya bercanda mengatakan hal itu," ungkap Juni.
"Sebenarnya aku sedikit kecewa. Kamu mengatakan hal itu hanya untuk main-main saja. Sementara aku, sangat mengharapkan kalimat ajakan itu terucap dari bibirmu. Dengan catatan, bahwa kamu itu serius, bukan karena sebatas untuk menghilangkan status duda yang melekat pada dirimu itu."
"Membangun sebuah keluarga kecil bersamamu. Hidup dengan beberapa orang anak yang membuat suasana rumah menjadi lebih hangat. Aku bahkan sudah membayangkannya sejauh itu," papar Shinta tertunduk.
"Aku berjanji akan mewujudkannya. Beri aku waktu untuk memantapkan diri terlebih dahulu. Ketika aku sudah siap, dan kamu juga sudah siap, aku akan menghadap orang tuamu, meminta dirimu untuk menjadi istriku." Kali ini Juni mengatakan hal tersebut dengan bersungguh-sungguh. Terlihat pancaran matanya yang memperlihatkan sebuah keseriusan. Pria itu tidak main-main dengan ucapannya.
Mendengar hal tersebut, membuat Shinta pun memiliki sebuah harapan lebih. Ia mengulas senyumnya menanggapi ucapan Juni. Ingin sekali ia mengatakan apa yang disampaikan oleh Alvaro tadi pagi. Namun, Shinta memilih untuk tetap menyembunyikan hal tersebut dari sang kekasih.
Tak lama kemudian, makanan mereka pun telah tiba. Pelayan tersebut meletakkan pesanan Shinta dan juga Juni di atas meja. Setelah itu, ia pun pergi dari hadapan keduanya.
"Sebaiknya kita makan dulu. Nanti kita lanjutkan lagi perbincangannya. Takutnya waktu jam makan siang habis dan kita belum menikmati makanan kita sama sekali," ucap Shinta. Juni pun menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan kekasihnya itu.
Shinta dan juga Juni menikmati makanan mereka dengan tenang. Diam-diam, Shinta melirik Juni. Sementara pria yang ada dihadapannya tak menyadari akan hal itu. Ia masih sibuk menyantap makanannya dengan lahap.
"Mungkin setelah aku pindah ke kantor cabang nanti, kita tidak bisa sesantai ini. Menikmati waktu bersama di tempat kerja dan saling menyemangati satu sama lain dari jarak dekat. Mungkin setelah ini, kita berdua akan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hingga salah satu dari kita sangat sulit untuk mengatur waktu hanya sekedar bertatapan wajah. Walaupun bertetangga, tidak menjamin jika aku bisa melihat wajahmu setelah pulang kerja, seperti apa yang pernah aku lakukan sebelumnya," batin Shinta mencoba mengulas senyumnya mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Kita lihat saja nanti, hasil akhirnya akan bagaimana. Semoga kamu bisa memegang ucapanmu tadi. Aku sangat berharap akan hal itu," ujar Shinta dalam hati.
Bersambung .....
__ADS_1