Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 120. Sudah Terlanjur


__ADS_3

Juni baru sadar setelah beberapa jam kemudian. Hal pertama yang ia cari adalah sosok sang istri. Pria tersebut sangat terpukul, mengetahui kabar tentang sang istri yang sudah tiada. Wanita yang amat ia cintai itu sudah berpulang selama-lamanya.


Selama ini Juni tak pernah mengkhianati Sela. Kecurigaan Sela tersebut tidak benar adanya. Juni, sama sekali tak berselingkuh dari wanita itu. Hanya saja, Juni terpaksa menutupi alasan apa yang membuatnya harus pulang hingga larut malam.


Mata Juni menatap ke langit-langit. Sementara selang infus, selang oksigen, masih melekat ditubuhnya. Semua badan terasa sakit, akan tetapi ini tidak seberapa sakitnya dibandingkan dirinya harus kehilangan wanita yang amat ia cintai.


Teringat jelas bagaimana sosok sang istri menyambut kepulangannya dengan tersenyum. Menatapnya penuh cinta sebelum beberapa hari terakhir terjadi pertengkaran yang hebat antara mereka.


"Maafkan ibu, Nak. Jika saja ayahmu tak berulah, pasti semuanya akan baik-baik saja. Tolong maafkan ibu!" ucap mertuanya yang tak bisa menahan air matanya tertumpah begitu saja.


Jika saja ia tidak meminta Juni untuk menutupi sebuah rahasia besar, yang mengharuskan pria itu untuk ikut andil dalam masalah ini, mungkin putrinya tidak akan salah sangka pada menantunya, dan penyesalan itu pun menghampiri mereka setelah kejadian seperti ini.


Juni tak menjawab apapun. Berucap pun rasanya kelu. Semua tubuhnya seakan mati rasa. Membuat Juni benar-benar hancur seketika.


Ingatan akan kejadian kecelakaan kemarin masih terekam jelas dalam otaknya. Bagaimana terakhir kali Sela menatap ke arahnya, saat tubuh wanita itu terhempas lalu menyempatkan untuk menyunggingkan senyum ke arahnya. Seolah senyuman itu adalah persembahan terakhir untuk Juni sebelum ia pergi untuk selama-lamanya.


"Bu, ..." Juni memanggil mertuanya.


"Iya, Nak. Ada apa?" tanya mertua Juni.


"Aku ingin melihat Sela," lirihnya, terselip sebuah rasa pilu di dalam kalimatnya.


"Nanti ya, Nak. Kamu belum benar-benar kuat untuk berdiri," ujar mertuanya.


"Tolong, biarkan aku melihat istriku." Juni berucap dengan mata berkaca-kaca, membuat orang-orang yang ada di sana pun tak bisa berbuat banyak.


Ibu dari sela bergegas mencari dokter, mencoba meminta izin dari dokter, takut jika kondisi Juni akan semakin parah setelah ini. Dokter pun mengiyakan permintaan Juni, hingga akhirnya pria itu pun di dorong menggunakan kursi roda, di bawa menuju ke kamar jenazah tempat Sela berada.


Setibanya di sana, ayah mertuanya langsung membuka kain penutup yang menutupi jasad Sela. Hatinya langsung mencelos tatkala melihat raga yang sudah tak lagi bernyawa di hadapannya. Wanita cantiknya itu menutup kedua matanya dengan bibir yang memutih, serta terdapat beberapa luka jahitan yang ada di dahinya.


"Sayang," ujar Juni yang mencoba untuk menguatkan diri. Ia berusaha keras agar air mata tak jatuh.


"Maafkan aku karena tidak baik dalam menjagamu. Aku ...." kali ini Juni tidak bisa membendung air matanya. Bulir bening tersebut menetes begitu saja, dengan cepat ia pun menyeka air matanya.


"Demi Tuhan, aku sungguh tidak berselingkuh." Juni tertunduk dengan bahu yang bergetar hebat. Ia kembali menguatkan dirinya untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.


"Sela, aku sungguh mencintaimu." Kalimat itu lah menjadi kalimat penutup yang disampaikan oleh Juni untuk sang istri.


"Kapan prosesi pemakaman akan dilaksanakan?" tanya Juni pada mertuanya.


"Besok, Nak." Ayah Sela menimpali pertanyaan menantunya.


Juni mengangguk paham. Tentunya ia akan menguatkan tubuhnya serta hatinya untuk mengantarkan kepulangan sang istri ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Juni mengarahkan pandangannya lagi pada sang istri, "Bagiku, dalam kondisi bagaimana pun Sela tetap cantik," gumam Juni. Tangannya meraih kain yang tersingkap dan kembali menutup wajah sang istri dengan kain tersebut.


Setelah selesai memenuhi permintaan Juni, Ibu dari Sela pun kembali mendorong kursi roda tersebut menuju ke ruangan tempat Juni di rawat.

__ADS_1


Awal mula dari kesalahpahaman itu adalah karena ayah mertuanya yang memiliki hutang besar akibat judi. Ibu mertuanya itu pun meminta bantuan kepada Juni untuk mencicil semua hutangnya yang bernilai ratusan juta. Dan meminta agar menantunya itu merahasiakan hal tersebut dari putrinya.


Mereka tidak mau, Sela syok mendengar kabar buruk itu. Dan Juni pun menyanggupi hal tersebut.


Setelah pulang kerja, Juni memilih untuk bekerja menjadi pelayan di salah satu restoran mewah, yang menggajinya dengan harga yang lumayan menggiurkan.


Sementara gaji yang ia peroleh dari Alvaro, ia setorkan semuanya pada sang istri. Tidak mau jika nanti istrinya curiga karena separuh uang itu dipakai untuk melunasi hutang ayah mertuanya.


Awalnya, Sela tak menaruh rasa curiga pada suaminya. Namun, saat mendapati suaminya selalu pulang larut, membuat Sela pun menyangka bahwa Juni telah memiliki wanita lain di luar sana.


Juni selalu mengelak, akan tetapi ia juga tidak jujur pada istrinya akan masalah yang sebenarnya terjadi. Alhasil, inilah akhir dari segala kebohongan itu. Semuanya telah sirna dan hanya tinggal sebuah penyesalan yang amat mendalam.


Andai saja kedua orang tua Sela bisa turut membantu untuk menjelaskan, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Tetapi, semuanya telah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Hingga akhir hayat pun Sela mengira bahwa cinta Juni telah terbagi.


.....


Keesokan harinya, serangkaian prosesi pemakaman pun dilakukan. Alvaro ikut turut serta hadir di sana tanpa di dampingi oleh istri. Rania dilarang keras oleh orang tuanya yang ada di kampung untuk datang, karena ibunya masih percaya akan mitos bahwa wanita hamil tidak boleh ngelayat. Mau tak mau, Rania pun harus menuruti ucapan orang tuanya, dan Alvaro pun membenarkan ucapan mertuanya itu.


Saat ini, Alvaro tengah bersama dengan Juni. Mendorong kursi roda sang asisten. Keadaan sedikit terbalik. Jika biasanya Juni lah yang selalu melayani Alvaro, untuk yang kali ini, biarlah Alvaro yang melayani asistennya. Walau bagaimana pun juga ia mengerti, perasaan Juni kehilangan wanita yang sangat ia cintai, karena Alvaro sudah pernah merasakan bagaimana hancurnya saat ia kehilangan Diara.


Shinta juga ikut ngelayat. Ia bahkan menangis tersedu, mendapati Sela yang telah berpulang selama-lamanya. Baru saja Shinta merasa nyaman dan menganggap Sela seperti kakaknya sendiri. Namun, sekarang ia harus dihadapkan dengan kenyataan yang pahit.


Beberapa hari sebelumnya, Sela sempat mengatakan sesuatu yang cukup aneh pada Shinta. Bahkan, wanita itu menyebutkan kalimat yang diluar dugaan Shinta.


Jika nanti aku telah tiada, mungkin aku akan menitipkan Mas Juni padamu saja. Aku mengenal banyak wanita, tetapi hanya kamu yang memiliki hati yang baik.


Berbagai prosesi pemakaman pun telah selesai. Namun, Juni masih ingin berada di pusara sang istri lebih lama lagi. Seolah memberikan beberapa kalimat untuk sang istri sebelum ia benar-benar meninggalkan gundukan tanah itu.


Mertua Juni juga berada di sana, serta Alvaro yang ikut serta menemani sang asisten yang terlihat masih sangat berat meninggalkan istrinya sendirian.


"Sela, istriku yang cantik. Tidurlah di sana dengan tenang. Tuhan lebih menyayangimu dari pada aku. Ku harap, kamu selalu berbahagia dan tersenyum," ujar Juni terdengar begitu tulus.


Setelah mengucapkan beberapa rentetan kalimat manis yang disertai dengan ucapan selamat jalan untuk sang istri, mereka pun beranjak meninggalkan Sela di tempat peristirahatannya.


"Pak Bos," panggil Juni.


"Iya Jun," timpal Alvaro seraya mendorong kursi roda Juni.


"Maaf karena telah merepotkan," ucap Juni seraya mengulas senyumnya.


"Tidak masalah, lagi pula aku juga sering merepotkanmu," balas Alvaro.


"Tapi yang ini beda, Pak Bos."


"Maksudmu?" Alvaro mengernyitkan keningnya.


"Kalau saya melayani Pak Bos, saya digaji. Tetapi kalau Pak Bos yang melayani saya, saya tetap ingin minta digaji," celetuk Juni yang mencoba mengajak Alvaro bercanda. Agar bosnya itu tidak beranggapan bahwa dirinya terlihat sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Kamu ada-ada saja. Apakah mau minta dipotong gaji?" tanya Alvaro sembari terkekeh.


"Jangan Pak Bos," ujar Juni.


"Oh iya, Buk Bos tidak kelihatan," celetuk Juni yang menyinggung tentang Rania yang tidak datang.


"Rania sedang hamil. Orang tuanya di kampung tidak memperbolehkan wanita hamil ngelayat, meskipun cuma sekedar mitos, akan tetapi tidak ada salahnya jika dituruti," ujar Alvaro.


"Hamil? Wah selamat Pak Bos. Akhirnya penantian Pak Bos selama ini terwujud," ucap Juni.


"Iya, terima kasih." Alvaro menanggapi ucapan Juni barusan.


....


Di lain tempat, Rania terlihat gusar menunggu kepulangan suaminya. Ia juga merasa tidak enak pada Juni karena tidak bisa datang untuk mengantarkan istri dari sang asisten ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Tak lama kemudian, mobil Rania pun memasuki pekarangan rumah. Alvaro dan Pak Darman keluar dari mobil tersebut. Mereka membawa mobil Rania karena mobil Alvaro benar-benar hancur seusai menabrak pembatas jalan.


"Bagaimana, Mas? Sudah selesai?" tanya Rania yang langsung mencecar suaminya dengan pertanyaan.


"Iya, Sayang." Alvaro menyunggingkan senyumnya menimpali sang istri.


"Duh, aku benar-benar merasa tidak enak pada Juni karena tidak datang ke sana," ujar Rania.


"Tadi sudah aku katakan pada Juni alasan kamu tidak bisa hadir, dan Juni pun bisa mengerti dengan kondisimu yang tengah mengandung,"ucap Alvaro.


"Lukamu harus diobati Mas. Lihatlah, area matamu terlihat bengkak dan belum sembuh sepenuhnya," tukas Rania.


"Baru juga kemarin, Sayang. Tidak mungkin bisa sembuh secepat itu," balas Alvaro.


"Maka dari itu, harus sering diobati supaya cepat sembuh," ajak Rania.


Alvaro pun menuruti ucapan sang istri. Rania dengan telaten mengompres mata Alvaro yang masih bengkak.


"Ini pasti sakit sekali," ujar Rania sedikit meringis membayangkan jika dirinyalah yang terluka.


"Hanya sedikit perih. Ini tidak akan terasa jika tangan istriku yang mengobatinya. Apalagi jika dicampur dengan rasa cinta dan kasih sayang," ucap Alvaro sembari mencolek sedikit dagu sang istri.


"Tidak usah genit, Mas!" Rania mendelik menatap wajah suaminya.


"Kan genitnya sama kamu saja," balas Alvaro.


Rania mengambil cermin yang tak jauh dari jangkauannya, lalu kemudian mengarahkan benda tersebut kepada Alvaro.


"Lihatlah bentukan kamu masih seperti ini!" tegas Rania memperingati suaminya bahwa pria tersebut belum sembuh total.


"Iya-iya, Istriku." Alvaro mencubit puncak hidung Rania dengan gemas, membuat Rania pun meringis kesakitan sembari menggosok-gosok puncak hidungnya yang sedikit memerah akibat ulah Alvaro.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2