Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 236. Duniaku Ikut Runtuh


__ADS_3

"Shinta, tolong kirim hasil rapat tadi melalui email saya!"


"Baik, Bu."


Setelah memerintahkan hal tersebut pada sang sekretaris, Alvira pun langsung menutup teleponnya.


Beberapa hari terakhir, ia benar-benar kurang berkonsentrasi. Selain sibuk mengurus urusan kantor, Alvira juga harus membagi waktunya untuk sang anak.


Alvira mencoba kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan. Namun, lagi-lagi phone tablenya berbunyi, membuat janda satu anak itu pun kembali mengangkat telepon tersebut.


"Ada apa?" tanya Alvira pada seseorang dari seberang telepon.


"Siapa?" tanya wanita itu lagi.


Saat mendengar nama yang disebutkan dari seberang telepon, membuat Alvira sedikit menegang. Mendengar nama itu, kembali membawa luka di masa lalunya.


"Usir saja dia!" titah Alvira yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


Alvira memijat keningnya. Sudah sekian lama ia tak mendengar nama itu, entah mengapa sosok tersebut kembali muncul di hadapannya.


Indera pendengaran Alvira menangkap adanya keributan di luar. Sudah pasti orang yang ia usir tadi membuat keributan dan mencoba untuk masuk ke dalam ruangannya.


Alvira menghela napas berat. Dengan amat terpaksa, Alvira langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangannya itu.


"Tolong biarkan saya masuk! Saya ingin menyampaikan sesuatu padanya," ucap wanita itu.


"Maafkan saya, tetapi Bu Alvira saat ini tidak bisa diganggu," timpal Shinta.

__ADS_1


Pandangan mereka teralihkan pada Alvira yang saja keluar dari ruangannya. Wanita yang sedari tadi hendak menerobos masuk, saat melihat Alvira, ia pun menghampirinya.


"Alvira, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," pinta wanita itu dengan wajah yang memelas.


Alvira menatap wanita tersebut cukup lama. Seolah berpikir, hendak menerimanya, atau justru mengusirnya dari sana. Namun, setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya mendengarkan apa yang hendak disampaikan wanita itu.


"Masuklah!" ketus Alvira terdengar sangat sinis. Ia berjalan lebih dulu masuk ke dalam ruangannya.


Senyum wanita yang sedari tadi memohon pun langsung terbit, saat Alvira mau menerimanya.


"Duduklah!" ujar Alvira yang lebih dulu menjatuhkan bokongnya.


"Terima kasih," ucap wanita bernama Yeni tersebut, tak lain adalah istri dari mantan suami Alvira, yang dulu pernah menjadi sahabatnya, akan tetapi wanita tersebut menusuknya dari belakang dan mengambil kebahagiaannya, yaitu suaminya.


"Ada apa?" tanya Alvira yang tak ingin berbasa-basi. Melihat wajah Yeni, rasa sakit itu kembali terbayang-bayang. Di kala saat dirinya tengah berbadan dua, Andre mengabaikannya dan lebih memilih bersama dengan Yeni. Dan bahkan keduanya telah memiliki seorang putra yang tanpa sepengetahuan Alvira sama sekali.


"Putra? Hahaha ...." Alvira menanggapi ucapan wanita itu dengan tawa mengejek.


"Enak sekali kamu berkata seperti itu!" tukas Alvira.


"Tapi memang begitu kenyataannya kan? Dia ...."


"Tidak!! Dia bukanlah anak Andre, dia anakku!" Alvira langsung memotong ucapan Yeni.


"Andre hanya menyumbangkan benih saja, tanpa rasa tanggung jawab sama sekali. Dimana dia saat aku membutuhkannya? Saat aku hamil, aku menahan rasa piluku akibat ulah bejat kalian! Aku menahan rasa sakitku, mempertaruhkan nyawa demi melahirkan anakku. Lantas, kamu sebut dia ayahnya? Sungguh tidak tahu malu!!" cecar Alvira dengan amarah yang menggebu-gebu.


Jelas Alvira marah besar saat mendengar ucapan Yeni. Alvira menanggung stres yang luar biasa. Anak yang ada di dalam kandungannya lah yang menguatkannya hingga bertahan sampai saat ini.

__ADS_1


Dan di saat Abian sudah mulai besar, dengan mudahnya Andre meminta untuk dirinya bertemu dengan Abian, mengaku sebagai ayahnya yang pada kenyataannya pria itu tak memberikan tanggung jawab sama sekali. Alvira membawa perut yang besar, sedangkan pria itu malah enak-enakan berselingkuh, dan bahkan menikah dan memiliki seorang putra dengan sahabat Alvira sendiri.


"Ku mohon, tolong temui dia sekali saja. Ia sangat ingin melihat putranya." Yeni masih memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di depan.


"Tidak! Aku tidak akan menemuinya. Katakan padanya, bahwa dia ... bukanlah anak dari putraku," ucap Alvira.


Meskipun berkata demikian, Alvira sempat menjeda kalimatnya sejenak. Seolah berat rasanya mengatakan kalimat selanjutnya. Namun, rasa sakit yang mendominasinya, membuat wanita itu berucap demikian.


"Tapi Vira ...."


"Pergi! Aku harap kamu berhenti menemuiku lagi!" Alvira langsung beranjak dari sofa, dan beralih ke kursi kebesarannya.


Yeni pun beranjak dari tempat duduknya. Sebelum benar-benar meninggalkan Alvira, ia sempat menoleh sejenak dan kembali melanjutkan langkahnya.


Sepeninggal Yeni, Alvira langsung melemparkan beberapa dokumen yang ada di mejanya hingga kertas-kertas tersebut berserakan di lantai. Wanita itu menangis, sembari menutup wajahnya. Sesekali ia menyeka air matanya.


Hingga akhirnya, sebuah ketukan pintu pun membuatnya mengarahkan pandangan ke sumber suara, dilihatnya Arjuna yang baru saja datang menatap Alvira dengan tatapan penuh rasa iba.


Arjuna langsung datang menghampiri Alvira. Pria itu mengusap punggung Alvira dengan lembut, menenangkan kekasihnya itu.


"Menangis lah sejenak, setelah itu ku mohon untuk kembali tersenyum. Melihat air matamu jatuh, membuat duniaku juga ikut runtuh," ujar Arjuna.


Mendengar hal tersebut, membuat tangis Alvira kembali pecah, kemeja yang dikenakan oleh Arjuna pun mulai terasa basah.


"Tidak apa-apa, ada aku di sini."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2