
"Shinta, ...."
"Juni, ...."
Kedua orang tersebut tampak terkejut dan sing tertegun. Shinta tidak tahu, jika akhirnya ia akan kedapatan oleh Juni sering mengunjungi pusara Sela.
"A-aku ..."
Juni mendekat, pria tersebut menatap buket bunga yang selalu ia temukan saat dirinya kemari. "Jadi ... orang yang selalu mengunjungi Sela adalah kamu?" tanya Juni.
Shinta tidak mengatakan bukan saat dirinya telah kedapatan seperti ini. Perlahan, ia pun menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu ... aku permisi dulu," ujar Shinta yang hendak berlalu dari hadapan Juni. Namun, pria tersebut langsung mencegah langkah gadis tersebut dengan menyerukan namanya.
"Shinta," panggil Juni.
"Iya," timpal Shinta seraya berbalik menatap pria yang ada di belakangnya.
"Bisakah kamu menungguku sebentar?" tanya Juni.
Awalnya Shinta ragu hendak menerimanya. Namun, setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya jika dia menunggu Juni. Mungkin saja ada sesuatu hal yang penting hendak disampaikan oleh pria tersebut.
"Baiklah." Shinta memilih untuk kembali berdiri di belakang Juni, menunggu pria yang tengah menengok sang istri yang kini telah berbaur dengan tanah.
"Sela, aku datang. Maaf karena aku akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan urusan kantor membuatku jarang untuk datang kemari," ucap pria tersebut di depan gundukan tanah yang ada di hadapannya.
"Tetapi syukurlah, setidaknya ada Shinta yang menemanimu," lanjut Juni sembari melirik ke arah Shinta sekilas. Shinta hanya bisa tersenyum kikuk dan mendengar semua ucapan Juni pada istrinya.
Shinta memasang telinganya, tak melewatkan satu kata pun yang diucapkan oleh Juni. Tampaknya, Juni adalah pria yang langka. Ia benar-benar pria yang baik. Bahkan, saat keluarga Sela tak menghiraukannya ketika Juni sakit, Juni bahkan tetap membayarkan semua hutang orang tua Sela hingga lunas.
Anggaplah saja Juni adalah pria yang bodoh. Namun, mungkin itu adalah cara terbaik membuktikan bahwa ia benar-benar mencintai Sela. Sehingga membuat harapan Shinta untuk memiliki Juni bisa dikatakan mustahil karena pria tersebut yang masih teramat mencintai wanita yang hanya tinggal nama di hadapannya itu.
Juni sama seperti Shinta. Ia bahkan bercerita tentang kesehariannya di depan pusara Sela. Sesekali Sela tersenyum melihat Juni yang menyunggingkan senyumannya. Cukup lama ia tak melihat senyuman di wajah Juni.
Cukup lama mereka berada di tempat itu. Hingga akhirnya, Juni pun menyudahi ceritanya dan beranjak dari tempat duduknya.
"Ayo!" ajak Juni yang mempersilakan Shinta untuk berjalan terlebih dahulu.
Shinta tersenyum, sesaat kemudian ia menganggukkan kepala. Menuruti ucapan Juni yang menyuruhnya untuk berjalan terlebih dulu.
"Aku kira dia hendak pergi dengan Daren, ternyata dia mengunjungi Sela," batin Juni.
"Apa saja yang dilakukannya? Bercerita apa saja dia pada Sela?" ucap Juni di dalam hati. Saat ia datang, Shinta hendak pulang. Tentu saja ia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh wanita tersebut di depan makam sang istri.
Keduanya menyusuri jalanan untuk menuju ke gerbang. Suasana sunyi pun menerpa mereka saat salah satu diantara kedua orang tersebut tak membuka suara.
"Aku ki ...."
__ADS_1
"Kamu naik a ...."
Tiba disaat mereka hendak mengusir rasa canggung itu dengan membuka suara, justru mereka berucap serentak dengan pertanyaan masing-masing yang belum terselesaikan.
"Ya sudah kamu duluan saja," ujar Shinta dan Juni serentak.
"Tidak, kamu saja yang duluan." Lagi-lagi mereka mengucapkan kalimat serupa dengan waktu yang bersamaan.
Shinta mengangkat kelima jarinya, untuk memberi jeda, agar mereka bisa menyelesaikan pertanyaannya tanpa harus saling serobot.
"Kamu ke sini naik apa?" tanya Juni yang berucap terlebih dahulu karena Shinta telah memberikannya kode.
"Aku ke sini menggunakan taksi," timpal Shinta.
Juni menganggukkan kepalanya. Pria itu sedikit lega karena kali ini Shinta datang tidak bersama dengan Daren.
Melihat Shinta bersama dengan pria lain, membuat mood Juni sedikit terganggu. Tidur tak tenang dan makan pun tak kenyang. Seakan nasi yang ada di dalam piring pria tersebut menampilkan adegan dimana Daren yang menatap Shinta dengan penuh cinta.
"Sekarang giliranmu," ujar Juni mempersilakan gadis tersebut menyelesaikan ucapannya tadi.
"Aku kira kamu tidak ada di rumah," ujar Shinta seraya mengulum senyum.
"Tidak. Aku sedari tadi berada di rumah, dan berniat untuk mengunjungi Sela," timpal Juni.
Sesaat kemudian, mereka pun telah berhasil keluar dari area pemakaman umum tersebut. Juni mengeluarkan kunci mobil dari sakunya.
Shinta sedikit bingung dengan kalimat Juni. Entah itu sebuah ajakan atau hanya sekedar tawaran untuk naik ke mobil barunya.
"Aku langsung pulang saja," ucap Shinta.
"Kalau begitu ayo!" ajak Juni yang langsung membuka pintu mobil. Mempersilakan pada Shinta untuk masuk ke dalam kendaraannya.
Shinta pun masuk ke dalam mobil Juni. Sesaat kemudian, kursi kosong yang ada di sebelahnya pun terisi. Pria tersebut langsung menghidupkan mesin mobilnya, membawa kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.
"Akhir-akhir ini, kamu terlihat lebih sering bersama Daren. Apakah kalian memiliki hubungan?" tanya Juni yang tanpa berpikir panjang lagi, ucapan tersebut langsung mengarah pada rivalnya.
"Iya, kami memiliki hubungan," timpal Shinta.
Jedderr ...
Bak tersambar petir di siang hari mendengar penuturan gadis tersebut. Kalimatnya seakan menghujam jantungnya, mencabik-cabik kulitnya.
"Hubungan sebagai rekan kerja, sama sepertimu." Shinta melanjutkan kalimatnya yang belum selesai, membuat Juni pun bernapas dengan lega.
"Syukurlah kalau begitu," gumam Juni yang dapat ditangkap langsung oleh telinga Shinta.
"Hah?!" tanya Shinta sedikit terhenyak.
__ADS_1
"Ah itu, maksudku syukurlah jika kamu tidak memiliki hubungan dengannya. Menjalin hubungan sekantor akan mengakibatkan fokus pada pekerjaan menjadi berkurang," tutur Juni berusaha mencari alasan yang masuk akal. Akan tetapi, alasan Juni itu menjerumuskan dirinya sendiri.
"Oh ...." Shinta hanya mengangguk paham dengan ucapan Juni, walaupun dirinya berharap Juni akan cemburu pada Daren.
"Juni, bukankah kamu dan Shinta sekantor? Cobalah cari alasan yang masuk akal dan tidak bodoh," rutuk Juni di dalam hati.
"Shinta, berhenti berharap banyak pada Juni. Sudah sangat jelas bukan? Juni tidak menyukaimu sama sekali. Jadi, tolong berhenti berharap!" batin Shinta.
Setelah perbincangan tadi, keduanya lebih memilih diam. Juni fokus menyetir, sementara Shinta menatap ke arah luar jendela. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Suasana sunyi kembali menerpa keduanya. Di perjalanan kali ini, terasa sangat lama mengingat sikap mereka yang sangat kaku, se-kaku kanebo kering.
Setelah menempuh perjalanan yang sedikit menanjak, berliku, dan berkelok, kini keduanya pun tiba di apartemen.
Juni memberhentikan mobilnya. Shinta pun bersiap untuk turun dari kendaraan tersebut.
"Terima kasih atas tumpangannya," ucap Shinta dengan satu tangan yang siap membuka pintu mobil.
"Shinta, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu," ujar Juni.
Deggg ...
"Ini seperti di adegan-adegan drama yang sering aku tonton. Apakah harapanku akan segera terwujud? Sepertinya Tuhan mendengarkan do'a ku," batin Shinta yang sudah merasa senang.
"Apa?" tanya Shinta dengan mode kalem dan berlagak bodoh.
"Sebenarnya aku ...." Tampak guratan keraguan di wajah Juni hendak mengutarakan maksudnya.
"Ayo Juni, katakanlah! Tidak usah malu!" batin Shinta berseru seakan mendukung Juni untuk mencetuskan kalimat yang hendak diucapkannya, tanpa harus ragu-ragu.
"Sebenarnya aku ingin jujur padamu kalau aku ...."
"Apa? Ayo katakanlah!" ujar Shinta sembari mengulum senyumnya, melihat ekspresi dari Juni, membuatnya yakin jika pria tersebut hendak jujur akan perasaannya.
Cukup lama Shinta menunggu, ekspresi wajah Juni semakin lama semakin ragu membuat Shinta pun geram.
"Katakanlah!" tukas Shinta sedikit memaksa, tetapi masih memasang wajah ramahnya.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa maskara yang kamu pakai sepertinya bukan maskara waterproof. Terlihat ada luntur di sudut matamu." Juni berucap sembari menunjuk sudut matanya hanya untuk memberitahu letak luntur dari maskara tersebut.
Sungguh diluar dugaan Shinta. Ternyata yang ingin dikatakan oleh pria disampingnya adalah maskara yang ia gunakan.
Shinta menatap dirinya di kaca spion. Dan benar saja, maskaranya luntur akibat menangis di depan pusara Sela tadi. Shinta hanya bisa mengulas senyum sembari menahan rasa malunya.
"Apakah ini yang dinamakan sudah jatuh tertimpa tangga? Harapanku yang tidak tercapai, dan juga mendapatkan malu yang luar biasa. Seandainya peribahasa itu bisa diubah, sudah jatuh makan nasi Padang, mungkin rasanya tidak akan terlalu sakit," batin Shinta sembari mengelap sudut matanya menggunakan tisu.
Bersambung ....
__ADS_1