Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 38. Meminta Bantuan


__ADS_3

Setelah mendapatkan telepon dari Shinta, Alvaro pun langsung memutar balik mobilnya. Pria tersebut menambah kecepatan laju kendaraannya, agar segera sampai di rumah sang sekretaris.


"Akan ku hajar kamu Andre!" geram Alvaro yang memang sudah muak dengan kelakuan pria tersebut.


Tak lama kemudian, Alvaro pun melihat Shinta yang berada di pinggir jalan, melambaikan tangannya agar Alvaro dapat melihatnya. Alvaro langsung menghentikan mobilnya, bergegas keluar untuk menemui sang sekretaris, terlihat wajah gadis itu sangat ketakutan.


"Di mana Andre?!" tanya Alvaro dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Ta-tadi dia ada di depan rumah," timpal Shinta dengan terbata-bata.


"Masuklah ke dalam mobil, kamu tidak perlu takut," ucap Alvaro.


Dengan tubuh yang sedikit bergetar, Shinta pun masuk ke dalam mobil. Alvaro melajukan mobil tersebut menuju ke rumah Shinta. Ia ingin memastikan keberadaan Andre di sana. Jika memang masih ada, maka Alvaro yang akan langsung menghajar pria tersebut dan menyeretnya ke kantor polisi.


Setibanya di depan rumah Shinta, Alvaro pun langsung bergegas turun dari mobilnya. "Kamu tunggulah di sini," ucap Alvaro. Shinta menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan.


Alvaro berjalan menuju ke rumah Shinta. Memindai dengan indera penglihatannya di sekitar bangunan bercat abu-abu tersebut, akan tetapi pria itu tak menemukan keberadaan Andre.


"Sial!" umpat Alvaro kesal.


Pencariannya tak membuahkan hasil, Alvaro pun memilih untuk kembali ke dalam mobilnya. "Aku tak menemukannya, kemungkinan dia sudah pergi," ujar Alvaro.


"Sebaiknya kamu pulanglah," lanjut Alvaro.


Dengan cepat Shinta pun menggelengkan kepalanya. "Saya takut jika Pak Andre nantinya akan muncul lagi," cicit Shinta.


Alvaro menghela napasnya. Memang jika dipikir-pikir, dia sebaiknya melindungi Shinta. Bagaimana pun juga, Shinta mengatakan rahasia iparnya itu, dan sudah sepantasnya jika gadis itu ia lindungi.


Setelah berpikir cukup lama, Alvaro pun memiliki ide. "Begini saja, kamu kemasilah beberapa lembar pakaian untuk kamu kenakan besok. Untuk sementara waktu, kamu ikut saya saja dulu. Setelah Andre tertangkap, kamu baru bisa pulang ke rumahmu," papar Alvaro.


"Berarti saya serumah dengan bapak?" tanya Shinta di sela-sela tangisnya.


"Apakah kamu maunya seperti itu?"


Dengan cepat Shinta pun menganggukkan kepalanya menimpali ucapan Alvaro barusan. Pria tersebut langsung mendecak sebal.

__ADS_1


"Jangan harap!"


Kalimat itu pun membuat harapan Shinta langsung runtuh seketika. Namun, gadis itu tidaklah terkejut, karena memang atasannya selalu saja jujur dengan apa yang dia rasa, tanpa harus memegang teguh asas ketidak-enakan yang ujung-ujungnya malah menyakitkan.


"Cepatlah ambil barang-barang mu karena aku bukanlah orang yang santai, yang senantiasa meladenimu," tukas Alvaro.


Shinta pun bergegas turun dari mobil tersebut. Alvaro menyoroti lampu pada Shinta, supaya gadis itu tidak terlalu merasa takut saat membuka pintu rumahnya.


Selang beberapa saat kemudian, Shinta pun membawa tas berukuran sedang, yang berisi beberapa lembar pakaian yang akan ia kenakan nantinya. Alvaro kembali melajukan mobilnya, menuju apartemen untuk mengantar Shinta terlebih dahulu.


....


Di lain tempat, Rania kembali mengingat kejadian saat di klinik. Namun, tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menghapus ingatan, seakan dia tak pernah bertemu dengan pria yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya.


"Lebih baik aku mencari kesibukan lain," ujar Rania.


Saat ia beranjak dari tempat tidurnya, gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin. "Wajahku mulai sedikit kusam, serta mata panda ku terlihat begitu jelas," keluh Rania seraya memegangi beberapa bagian wajahnya itu.


Gadis itu menjauh dari meja riasnya. Selang beberapa saat, ia pun kembali dengan membawa mangkuk kecil yang berisikan masker cair lengkap dengan kuas untuk mengaplikasikan masker tersebut di wajahnya.


Baru saja ia menjatuhkan bokongnya ke sofa, tak lama kemudian terdengar suara bel rumahnya berbunyi. Rania pun mendecak kesal, baru saja ia hendak menikmati waktu bersantainya, akan tetapi bel pintu yang berulang kali berbunyi membuat Rania pun segera membuka pintu tanpa melihat dari lubang kecil yang ada di pintu tersebut terlebih dahulu.


Di waktu yang bersamaan, Alvaro sedari tadi memencet bel pintu tetangganya, akan tetapi penghuni unit tersebut tak kunjung keluar juga.


"Mungkin orangnya sedang tidak ada di rumah, Pak." Shinta memberanikan dirinya membuka suara.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang baru saja di buka. Saat Rania menampakkan dirinya, Alvaro dan Shinta pun terkejut karena gadis itu terlihat sedikit menyeramkan memakai masker di wajahnya.


Rania menatap Alvaro, lalu beralih ke Shinta. Indera penglihatannya memindai gadis yang ada di depannya, mulai dari ujung kaki hingga kepala. Lalu pandangannya tertuju pada koper mini yang dibawa oleh gadis tersebut.


"Ada apa?" tanya Rania yang berbicara sedikit kaku karena maskernya yang mulai kering dan mengeras.


"Bisakah kamu membantuku?" tanya Alvaro.


Rania bersedekap, lalu kemudian menyenderkan tubuhnya ke dinding yang ada di sampingnya. "Bantu apa?" tanya gadis tersebut.

__ADS_1


"Tolong izinkan dia menginap satu malam saja di apartemenmu, hanya satu malam saja," ucap Alvaro.


"Siapa dia?" tanya Rania yang menatap gadis yang ada di samping Alvaro dengan tatapan yang menyelidik.


"Dia sekretarisku, tidak bisa pulang ke rumah karena terjadi sesuatu. Ku harap kamu bisa memberikan tumpangan untuknya malam ini," ujar Alvaro yang sangat berharap agar Rania mau membantunya.


"Sekretaris? Apakah wanita inilah yang ia kencani waktu itu," batin Rania.


"Hanya semalam?" tanya gadis tersebut tampak sangat berhati-hati karena takut jika maskernya retak.


"Rencananya besok aku akan mencari hotel yang tak jauh dari sini," celetuk Shinta.


"Apa?! Hotel? Apakah mereka berencana melakukan one night stand di hotel? Penampilan wanita ini juga tidak buruk. Dia memiliki postur tubuh yang pas dan ukuran dadanya ...." Rania sejenak menatap miliknya yang besar karena berisi busa saja.


"Milikku lebih kecil dari pada miliknya. Oh Tuhan, jadi tipe ideal tetanggaku adalah wanita yang seperti ini," batin Rania yang sedari tadi berbicara dan sibuk dengan pemikirannya.


Alvaro dan Shinta mengernyitkan keningnya, saling melemparkan tatapan kebingungan melihat Rania yang hanya diam saja.


"Sebaiknya kamu menginap saja di rumahku, sampai kapanpun aku tidak akan keberatan sama sekali," tawar Rania disertai dengan senyuman manisnya, hingga membuat maskernya pun sedikit retak.


"Sial! Maskerku menjadi retak karena wanita ini," gerutu Rania dalam hati.


Bukan tanpa alasan gadis tersebut menawarkan tempat kepada Shinta. Rania tidak ingin, jika pria yang ia sukai harus berlama-lama dengan gadis yang memiliki tubuh indah bak gitar spanyol.


"Ah, benarkah? Terima kasih." Shinta tampak tersenyum antusias, merasa sangat senang akan tawaran dari Rania.


"Terima kasih karena kamu bersedia menolongku," ucap Alvaro.


"Sama-sama," timpal Rania singkat. Ia pun mengajak Shinta masuk ke dalam apartemennya. Saat Alvaro hendak ikut masuk, tiba-tiba Rania langsung menutup pintunya, membuat kening Alvaro terbentur dengan sedikit keras.


"Ku rasa wanita ini memang memiliki gangguan jiwa," umpat Alvaro kesal sembari memegangi keningnya.


Sementara Rania, gadis itu tersenyum Devil saat mendengar suara kening Alvaro yang membentur pintu. "Rasakan itu, dasar duda genit!"


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2