
Rania dan juga Bu Isna sedang berada di dapur. Ibu hamil tersebut membuka salah satu oleh-oleh yang dibawa oleh ibunya dari kampung. Oleh-oleh buatan tangan dari Bu Isna sendiri.
"Aku sudah cukup lama merindukan dodol buatan mama. Meskipun di sini banyak yang jual, akan tetapi menurut lidahku, dodol buatan mama lah yang paling juara," puji Rania menyantap makanan yang terbuat dari tepung ketan, memiliki warna hitam dan rasa yang manis, serta teksturnya yang lembut dan juga sedikit lengket.
"Kalau begitu, nanti mama buat lagi saja dodolnya. Lagi pula bahannya juga tidak sulit untuk dicari," ucap Bu Isna mengeluarkan semua yang ada di dalam kardus berukuran sedang itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Bu Isna langsung menoleh, dan mendapati anak laki-laki berambut ikal yang tengah berjalan ke arahnya.
"Nenek!" Seru Bima dengan sangat bersemangat.
"Cucuku yang tampan," ujar Bu Isna yang langsung berjongkok sembari merentangkan tangannya, siap memeluk cucu kesayangannya.
Bima melangkahkan kakinya lebih cepat lagi, ia masih belum berani berlarian karena kejadian yang menimpanya kemarin. Apalagi jahitan di kepalanya belum benar-benar kering.
Anak laki-laki itu pun langsung memeluk neneknya dengan erat. Bu Isna membalas pelukan cucunya dengan rasa sayang yang teramat.
"Mana lukanya kemarin? Coba nenek lihat?" tanya Bu Isna.
"Ini Nek." Bima menyingkap rambut ikalnya dan memperlihatkan bekas jahitan tersebut pada Bu Isna.
"Aduh, pasti perih sekali." Bu Isna memperlihatkan wajah sedihnya melihat bekas jahitan di kepala Bima. Ia tak bisa membayangkan, saat Bima terjatuh dan mendapatkan jahitan di kepalanya.
"Tapi ini sudah sembuh kok, Nek. Besok Bima juga sudah mulai masuk sekolah. Jadi, nenek tidak usah sedih lagi," ucap Bima yang sadar akan ekspresi yang diperlihatkan oleh sang nenek.
Bu Isna pun langsung berdiri. Ia menggenggam tangan Bima, dan mengeluarkan kue coklat yang ia buat. Makanan kesukaan Bima.
"Nenek membuatkan ini untuk Bima," ujar Bu Isna.
"Wah, kue coklat." Mata Bima berbinar melihat makanan yang disuguhkan oleh sang nenek. Ia pun langsung mengambil sepotong kue coklat tersebut dan memakannya.
"Nenek sengaja membuatkan ini, karena Bima sangat menyukainya," ucap Bu Isna.
"Iya, Nek. Bima sangat suka kue coklat buatan nenek. Terima kasih ya, Nek. Nanti akan Bima habiskan semuanya," ujar Bima menunjuk kue coklat tersebut.
"Eitsss ... jangan lupa gosok gigi ya!" Rania langsung memperingati anaknya. Ia tidak ingin Bima kembali mengeluh sakit gigi lagi setelah memakan coklat.
"Iya, Ma. Bima tidak akan lupa menggosok gigi," ujar Bima kembali memakan kue coklatnya.
__ADS_1
.....
Alvaro bersiap untuk pulang. Setelah membereskan mejanya, Alvaro pun langsung keluar dari ruangannya itu. Ia melirik Shinta yang juga tengah bersiap untuk pulang.
"Pak Alvaro," sapa Shinta menundukkan kepala saat melihat Alvaro yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Bersiap untuk pulang?" tanya Alvaro yang memberikan pertanyaan sekedar formalitas saja. Padahal pria itu sudah tahu jika sekretarisnya itu bersiap untuk pulang.
"Iya, Pak."
"Kalau begitu, ayo saya antar!" ajak Alvaro.
"Ehemmm ...."
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Serta suara dehaman dari pria yang tak lain adalah asistennya.
Mendengar respon dari Juni, Alvaro langsung terkekeh geli. Tawarannya tadi bukanlah sesuatu yang serius. Ia hanya ingin melihat respon sang asisten yang cemburu melihat kekasihnya bersama dengan pria lain.
"Pak Alvaro tidak usah repot-repot, karena saya bisa mengantarkan Shinta pulang tanpa tersesat. Kebetulan kami adalah tetangga," ujar Juni memperjelas dengan mengatakan bahwa Shinta adalah tetangganya.
"Ehemmm ... maafkan saya, Pak. Tetapi bukankah sebelumnya Pak Alvaro juga pernah menjadi seorang duda?" tanya Juni.
Shinta memberikan kode pada kekasihnya, agar pria tersebut tidak asal berbicara pada atasannya. Sementara Alvaro, pria tersebut hanya mengusap dagunya, sembari terkekeh menanggapi ucapan sang asisten.
"Aku memang duda, tetapi itu dulu. Dan sekarang, aku sudah terlalu sering merasakan derit ranjangku bergoyang. Dan tidur pun aku tidak hanya memeluk batal guling saja," sindir Alvaro sembari mencebikkan bibirnya. Ia sengaja berkata demikian, memberikan tamparan keras pada duda baru yang ada di hadapannya itu.
Kali ini, Juni hanya bisa mengusap tengkuknya. Pria itu tak bisa lagi berkata apa-apa setelah mendengar sindiran dari atasannya itu.
Sementara Shinta, gadis itu hanya bisa tertunduk malu mendengar perkataan Alvaro. Bagaimana pun juga, dia adalah seorang wanita. Dan ucapan Alvaro tadi membuatnya ingin sekali menenggelamkan diri dari obrolan para bapak-bapak yang ada di depannya.
Setelah memberikan pukul telak pada asistennya, Alvaro melenggang pergi begitu saja bak tanpa dosa. Sementara sepasang kekasih yang masih berada di sana, hanya tertunduk malu, terutama Juni.
Setelah memastikan Alvaro benar-benar sudah pergi, Shinta langsung memberikan tatapan tajam pada kekasihnya itu.
"Seharusnya kamu jaga ucapanmu, Jun. Rasakan tuh apa yang dikatakan oleh Pak Alvaro," ketus Shinta yang langsung mengambil tas di atas meja kerjanya. Gadis itu pun berlalu dari hadapan kekasihnya sembari membuang muka.
"Ya sudah, kalau begitu kita menikah saja!" ajak Juni yang langsung mengucapkan kalimat tersebut pada Shinta.
__ADS_1
Shinta sontak terkejut, gadis itu memberhentikan langkah kakinya sejenak, lalu berbalik menatap Juni yang ada di belakangnya.
"Menikah?" tanya Shinta mengulangi perkataan yang dilontarkan oleh kekasihnya tadi.
"Iya. Kalau begitu kita menikah saja, supaya aku tidak dijuluki seorang duda kesepian," celetuk Juni.
Shinta spontan langsung berdecih mendengar ucapan kekasihnya itu. Bagaimana bisa dengan mudahnya Juni berkata seperti itu. Mengajak Shinta menikah hanya karena takut dikata-katai duda kesepian.
"Maaf, jika itu alasannya, aku tidak akan menerima tawaranmu kali ini!" tegas Shinta kembali berbalik membelakangi Juni dan berjalan meninggalkan pria tersebut.
"Bukankah kamu mencintaiku? Bukankah kamu senang jika aku melamarmu? Mengapa saat aku mengajakmu menikah responmu seperti itu?" tanya Juni yang berusaha mengejar Shinta dengan derap langkah kaki yang lebar.
Juni berani berkata seperti itu, dengan nada suara yang sedikit nyaring, karena di kantor memang sudah sepi.
Shinta mengacuhkan ucapan Juni. Gadis itu menutup telinganya, sengaja agar tidak mendengar ucapan Juni yang memaksanya untuk menikah dengannya.
Shinta tidak ingin seperti itu. Meskipun ia senang dengan ajakan Juni, akan tetapi ia tidak bisa menerima alasan Juni yang menurutnya kurang tepat. Juni mengajaknya menikah bukan karena memang niat untuk menikahi. Ia hanya membutuhkan sebuah status saja. Dan Shinta menginginkan hal itu.
Bagi Shinta, sebuah pernikahan adalah komitmen saling melengkapi kekurangan. Saling mencintai dan juga saling menghormati. Bukan semata hanya takut dikatakan gadis lapuk atau bujang lapuk, ataupun hanya ingin menghilangkan ejekan tentang seorang duda yang kesepian.
Shinta masuk ke dalam lift. Gadis itu langsung menekan salah satu tombol yang ada di ruangan tersebut membuat pintu baja itu perlahan tertutup.
Namun, seseorang dari luar langsung menahannya. Siapa lagi kalau bukan Juni. Pria itu masuk ke dalam ruangan sempit itu dan berdiri di samping Shinta.
"Ada apa? Apakah kamu marah padaku?" tanya Juni yang melemparkan pertanyaan dan menurut Shinta pertanyaan itu adalah pertanyaan yang bodoh.
Shinta tak menjawab Juni. Ia lebih memilih diam. Saat Juni mendekat, Shinta sedikit menggeser tubuhnya. Juni kembali mendekat, Shinta pun langsung memilih berdiri di belakang Juni, membuat pria itu mengusap wajahnya frustasi.
"Shin, kamu sungguh marah padaku?" tanya Juni.
Tinggg ...
Pintu lift terbuka, Shinta pun langsung menerobos keluar. Menabrak bahu Juni begitu saja, membuat pria itu langsung tersingkir sembari memegangi bahunya yang terasa sakit.
"Yang benar saja. Apakah dia wanita kuat yang mempunyai tenaga super? Kenapa kekuatan wanita selalu bertambah saat mereka marah. Padahal jika kami berdua saja, bahkan dia tak bisa membuka tutup botol air mineral. Ckckck ... aku meragukan kata-kata yang menyebut wanita itu makhluk yang lemah. Lebih tepatnya adalah makhluk yang tak terduga," gumam Juni keluar dari ruangan sempit itu.
Bersambung ....
__ADS_1