Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 208. SD Selamanya


__ADS_3

Keesokan harinya, Alvaro dan yang lainnya tengah menikmati sarapan mereka. Semua anggota keluarga sudah menempati kursinya masing-masing.


Bima menatap ke arah sang kakek yang sedang memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya. "Kakek, sebaiknya kakek di rumah saja. Bima tidak ingin kalau kakek terus-menerus menunggui Bima. Bima belajarnya lama, Kek."


Pak Hendrawan yang tengah mengunyah makanannya pun langsung meraih air minum untuk mendorong makanan tersebut masuk ke dalam kerongkongannya.


"Tidak apa-apa, Cucuku. Kakek tidak merasa bosan menunggu Bima di sekolah," ujar Pak Hendrawan.


Bima menggelengkan kepalanya, " Tidak, Kek. Bima tahu, kakek lelah menunggu Bima di luar. Sebaiknya kakek tinggal di rumah saja, tunggu Bima sampai pulang sekolah di rumah," ucap Bima. Ia tak ingin jika kakeknya itu terlalu lelah akibat menunggunya di sekolah. Jika di rumah, setidaknya sang kakek bisa berbaring, atau pun menemani nenek mengobrol.


"Ya sudah kalau begitu. Bima hati-hati ya, Sayang. Belajarnya yang fokus," ucap Pak Hendrawan kembali menyuapkan nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya.


Bima menganggukkan kepalanya dengan patuh. Kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya dengan tenang.


"Tidak terasa, sebentar lagi jagoan papa sudah mau masuk SD. Nanti kalau sudah masuk SD, Bima harus belajar dengan tekun, supaya mendapat juara kelas," ucap Alvaro menatap putranya.


"Baik, Papa. Nanti kalau Bima masuk sekolah SD, berarti seragam sekolah Bima juga ganti ya?" tanya anak laki-laki berambut ikal tersebut.


"Iya, Sayang. Kalau sekolah SD, memakai seragam putih merah. Kalau SMP, pakai seragam putih biru, dan SMA pakai seragam putih abu-abu," jelas Rania sembari mengulas senyumnya.


"SD, SMP, SMA. Banyak sekali Ma. Kenapa Bima tidak bisa melanjutkan sekolah di satu tempat saja. Kalau sekolah SD, ya sudah sekolah SD saja tidak usah ke SMP atau pun ke SMA."


Mendengar celotehan anak laki-laki itu, membuat semua anggota keluarga langsung terbahak-bahak menertawakan ucapan Bima.


"Astaga Cucuku. Kenapa kamu lucu sekali, Sayang." Bu Isna tak bisa menahan tawanya, hingga wanita dengan rambut yang sudah mulai memutih itu memegangi perutnya akibat tertawa terpingkal-pingkal.


"Kenapa semua orang tertawa, Ma. Bima kan berkata serius. Apakah ada yang lucu?" tanya Bima dengan bola mata yang bergerak memperhatikan satu persatu anggota keluarganya.

__ADS_1


"Tentu saja semua orang tertawa, Nak. Tidak ada orang yang hanya ingin sekolah SD saja. Mereka pasti akan berlomba-lomba untuk naik kelas. Ke SMP, setelah itu SMA, dan melanjutkan perguruan tinggi." Rania mencoba memberikan penjelasan pada putra sambungnya itu.


Rania menyudahi sarapannya, mengambil air minum yang tak jauh dari jangkauannya itu, laku kemudian mengelap bibirnya dengan selembar tisu.


"Begini, Nak. Sekolah itu memiliki tingkatannya masing-masing. SD yang berarti sekolah dasar. Di sini, ada beberapa pengenalan ilmu seperti berhitung, memperdalam kemampuan membaca dan memahami sebuah materi. Serta memiliki beberapa tambahan pelajaran bahasa selain bahasa Indonesia, yaitu bahasa Inggris, dan ada beberapa tambahan pelajaran yang lainnya juga. Seperti IPA, IPS, Agama dan seni budaya. "


"Setelah SD, Bima melanjutkan ke SMP, di sini pelajaran Bima akan semakin bertambah. Bima mulai mendapati pelajaran IPA itu bercabang menjadi 3, yaitu ilmu fisika, biologi, dan juga kimia."


"Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP, Bima akan berlanjut lagi ke pendidikan SMA. Di sini siswa akan terbagi menjadi dua jurusan yaitu jurusan IPA atau pun IPS. Biasanya guru akan memilih berdasarkan nilai atau pun minat dari siswa itu sendiri. Dan selain SMA, ada juga SMK, yang berarti sekolah menengah kejuruan. Jenjang keduanya itu setara. Namun, yang membedakan adalah SMK ini kegiatan belajarnya berbasis praktik, jadi siswanya akan memiliki keahlian di bidang tertentu," jelas Rania panjang lebar. Memberitahukan hal tersebut kepada Bima dengan sangat berhati-hati.


"Bima jadi pusing ya, Ma." Anak laki-laki tersebut memperlihatkan ekspresi bingungnya.


"Kalau mendengar penjelasan dari mama, tentu saja pusing, Nak. Papa dulunya juga seperti Bima, bingung dengan tingkatan pendidikan. Namun, setelah di jalani, semuanya akan terasa biasa-biasa saja. Yang terpenting sekarang, Bima harus belajar yang rajin. Dan nantinya menjadi anak yang hebat bisa melalui semua pendidikan hingga sampai ke perguruan tinggi," ucap Alvaro.


"Baik, Pa. Bima akan lebih giat lagi belajarnya. Supaya mama dan papa bangga dengan Bima," ujar Bima dengan penuh tekad.


"Bagus! Sekarang habiskan sarapannya setelah itu kita berangkat ke sekolah," ajak Alvaro.


" Iya, Nak. Papa ingin mengantarkan Bima ke sekolah. Sudah lama tidak mengantarkan Bima," ujar Alvaro.


Bima kembali menyantap sarapannya, setelah selesai, ia pun bersiap memakai tas sekolahnya dan berpamitan kepada yang lainnya untuk berangkat ke sekolah. Alvaro berjalan terlebih dulu, meraih punggung tangan kedua mertuanya, lalu kemudian berpamitan pula dengan sang istri. Di belakang pria itu, ada Bima melakukan hal yang sama dengan sang ayah.


"Ma, Bima berangkat dulu ya," ucap Bima menyalami tangan ibunya.


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan ya," ujar Rania mengusap puncak kepala putranya.


"Nenek ... kakek ... Bima berangkat sekolah dulu." Bima menyalami nenek dan kakeknya secara bergantian.

__ADS_1


"Belajar yang giat ya, cucuku." Keduanya berucap serentak.


Alvaro menggenggam tangan Bima. Mengajak anak laki-laki tersebut masuk ke dalam mobil. Bima melambaikan tangannya saat mobil mulai melaju. Yang lain pun membalas lambaian tangan anak laki-laki itu sembari mengembangkan senyum.


"Bima ... Bima ... ada-ada saja tingkahnya. Ingin menjadi siswa SD selamanya," celetuk Bu Isna yang kembali mengingat ucapan Bima saat di meja makan tadi.


"Namanya juga anak kecil. Dia belum tahu dengan dunia pendidikan," balas Pak Hendrawan.


"Ya ... mama merasa lucu saja dengan Bima, Pa. Ada-ada saja tingkahnya yang membuat semua orang tertawa karena ucapannya," ujar Bu Isna.


"Mungkin kamu di rumah tidak akan merasa suntuk jika ada Bima," lanjut Bu Isna menatap ke arah putrinya.


"Iya, Ma. Justru jika tidak ada Bima, Rania merasa sangat sepi. Entah mengapa celotehan Bima itu seakan menjadi sebuah vitamin bagi Rania. Yang awalnya Rania tidak bersemangat, setelah melihat tingkah lucunya dan juga mendengar ucapannya, membuat Rania bersemangat kembali," tutur Rania.


"Nanti ... jika kamu melahirkan, mama minta sama kamu untuk tidak membedakan kasih sayang antara anak kandungmu dengan anak tirimu. Biasanya anak-anak suka mudah sensitif jika orang tuanya memberikan rasa sayang yang tidak seimbang," jelas Bu Isna.


"Iya, Ma. Rania akan memberikan kasih sayang yang tidak berat sebelah. Lagi pula, Rania sudah menganggap Bima itu sebagai anak kandung Rania sendiri. Mustahil bagi Rania membedakan kasih sayang Rania antara Bima dan anak-anak yang lain nantinya. Apalagi Bima yang selalu saja menghibur Rania," tutur ibu hamil tersebut.


"Syukurlah jika kamu berpikiran seperti itu. Mama berharap, meskipun kamu dan Bima tidak terikat darah daging, mama ingin kalian tetap rukun. Alvaro dan keluarganya juga sangat baik memperlakukan kamu. Menerima kondisi kamu yang tidak bisa menjamu orang tuanya dengan makanan buatanmu sendiri," ujar Bu Isna yang ujung-ujungnya menyindir putrinya itu.


"Iya, Mama ... iya . Rania akan belajar memasak lagi nanti. Akan tetapi, untuk kali ini, Rania tidak bisa melakukan hal tersebut karena usia kandunganku yang tidak akan lama lagi melahirkan," ucap Rania.


"Kamu belum merasakan perutmu mulas?" tanya Bu Isna.


Rania menggelengkan kepalanya. "Hanya saja, sesekali Rania merasa sangat pegal di bagian pinggang," keluh Rania.


"Tidak apa-apa, itu karena faktor kehamilanmu. Yang penting kamu tetap sehat, dan jangan memikirkan hal apapun yang membuatmu stress berat." Bu Isna mengembangkan senyum menatap ke arah putrinya.

__ADS_1


"Iya, Ma." Rania membalas senyuman ibunya. Keduanya pun berjalan masuk menuju ke rumah.


Bersambung ...


__ADS_2