
Hari yang dinanti-nanti kan pun telah tiba. Di mana hari besar bagi Rania dan Alvaro untuk mengikat janji suci sehidup dan semati.
Para tamu undangan perlahan memenuhi aula gedung. Beberapa orang tampak sibuk menyambut kedatangan tamu, terutama Juni sang asisten.
Ruangan tersebut di penuhi oleh orang-orang penting, baik itu rekan kerja Alvaro, atau pun teman-teman seangkatan Rania. Termasuk Hilda yang juga berada di sana bersama dengan calon suaminya. Mereka memang telah bertunangan lebih dulu, akan tetapi siapa sangka Rania menikah lebih awal darinya.
Alvaro baru saja keluar dari kamar ganti. Pria tersebut terlihat berbeda hari ini. Tampak lebih gagah, lebih menawan, dan bahkan lebih bersinar.
Dengan tuxedo berwarna putih yang dipadukan dengan cummerbund, serta terselip setangkai bunga di dalam saku tuxedo tersebut.
Alvaro menghampiri Juni, ikut turut serta berdiri di samping pria tersebut. Beberapa orang langsung menyalami Alvaro, ada pula yang tak segan-segan memuji ketampanan Alvaro yang membuat pria tersebut sedikit salah tingkah.
Di waktu yang bersamaan, Rania tampak cantik dengan balutan dress wedding yang indah. Tangan-tangan ajaib para perias mampu membuat Rania terlihat bak seorang bidadari yang baru saja turun dari khayangan.
"Aku sampai pangling melihat wajahku sendiri," ucap gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin.
Tak lama kemudian, Bu Isna masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia cukup terpukau melihat wajah putrinya yang baru saja selesai dirias.
"Cantiknya anak mama," puji Bu Isna memeluk putrinya, menepuk pelan punggung Rania.
"Tentunya karena memiliki mama yang juga cantik," balas Rania memuji sang ibunda.
"Sebentar lagi, dalam hitungan beberapa jam, kamu akan sah menjadi seorang istri. Mama berpesan padamu, untuk tetap mematuhi suamimu, hormati dia layaknya ayahmu. Setelah menikah, suamimu lah yang lebih utama dibandingkan kami," tutur Bu Isna. Entah mengapa, terselip sebuah kesedihan dalam kalimat wanita tersebut.
"Tidak, Ma. Bagiku kalian semua adalah yang utama. Baik itu suami, atau pun itu kedua orang tuaku," ucap Rania dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bu Isna tak lagi menimpali ucapan Rania, ia hanya bisa memeluk putrinya yang sebentar lagi akan menjalani kehidupan yang baru.
Ceklekkk ...
Terdengar pintu yang baru saja di buka. Kedua orang tersebut langsung mengarahkan pandangannya di pintu. Melihat Hilda yang baru saja masuk dan sedikit berteriak.
"Akhhh!! Bu Dokter cantik sekali," seru Hilda yang langsung menghampiri Rania dan memeluknya.
"Terima kasih sudah datang," ucap Rania.
"Tante, Rania jahat! Dia bahkan menikah lebih dulu dari pada aku," ujar Hilda dengan bibir yang sedikit mengerucut.
"Ya sudah, setelah ini kamu yang menikah menyusul Rania," ucap Bu Isna memberikan saran pada Hilda.
"Masih menentukan waktu yang tepat, Tante." Hilda memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Tidak usah berlama-lama, bukankah lebih cepat akan lebih baik," ujar Rania menaik turunkan alisnya. Ketiga orang itu pun terkekeh geli.
Sesaat kemudian, Hilda mengeluarkan ponsel pintar dari dalam sling bag-nya. "Foto-foto dulu sama pengantin wanita sebelum sah menjadi istri Pak Direktur," celetuk Hilda.
"Tante juga ikut ya!" ajak Hilda.
"Kalian saja, pamali foto dengan jumlah yang ganjil," tolak Bu Isna yang masih mempercayai mitos bahwa jika berfoto dalam jumlah yang ganjil maka sah satu dari mereka akan terkena musibah.
Tak lama kemudian, kembali terdengar suara pintu yang baru saja terbuka. Mereka mengarahkan pandangannya pada pintu tersebut. Kali ini, Bima datang diantar langsung oleh Juni.
"Nah, kebetulan ada Bima. Jadi kita bisa foto berempat." Hilda langsung melambaikan tangannya pada Bima, mengajaknya untuk berfoto.
"Mas, bisa minta tolong untuk memotret kami?" tanya Hilda menghampiri Juni.
__ADS_1
Juni mengangguk, gadis itu pun memberikan ponselnya pada asisten Alvaro.
"Siap, 1 ... 2 ... 3 ..." Juni memotret beberapa foto. Setelah selesai, ia lun mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.
"Terima kasih, Mas." Hilda mengambil kembali ponselnya.
Lagi-lagi Juni hanya mengangguk, membuat Hilda sedikit mengerucutkan bibirnya dan menggerutu.
"Ingin sekali aku berkata, biasanya benci dan cinta beda tipis. Akan tetapi, posisi kalian sangatlah rawan. Kamu telah memiliki tunangan sementara dia memiliki istri," tutur Rania.
"Dia siapa?" tanya Hilda penasaran.
"Asistennya Alvaro," timpal Rania membuat Hilda mengangguk paham.
"Mama, ... Mama, ...." Bima menyentuh tangan Rania sembari memanggilnya. Rania pun mengembangkan senyumnya, lalu kemudian mengusap puncak kepala Bima dengan penuh kasih.
"Iya, Sayang. Ada apa, Nak?" tanya Rania dengan lembut.
Bu Isna dan Hilda sempat saling melemparkan senyum mendengar Rania yang begitu lembut memperlakukan Bima seperti anaknya sendiri.
"Mama cantik sekali, seperti boneka Barbie," puji Bima.
"Bima juga terlihat sangat tampan," ucap Rania mencubit pelan pipi Bima.
Berselang beberapa detik kemudian, Pak Hendra datang menemui anaknya di dalam ruangan tersebut.
"Ayo, Nak. Keluarlah! Sebentar lagi akad nikah akan dilangsungkan," ujar Pak Hendra yang melangkah lebih dulu meninggalkan ruangan tersebut.
Rania bersama dengan yang lainnya keluar dari ruangan, berjalan beriringan. Rania melihat ada banyak tamu yang berdatangan menempati kursi mereka masing.
Alvaro, melihat Rania tanpa berkedip. Debaran di dadanya semakin tak karuan melihat betapa cantiknya wanita yang akan ia nikahi. Gadis itu benar-benar bak seorang Dewi, yang mampu mengalihkan perhatian semua orang.
Hingga Rania pun duduk di samping Alvaro, tersenyum pada suaminya saat mata hitam pekat Alvaro menatap dirinya dengan begitu seksama.
"Bisakah kita mulai?" tanya Pak Hendra yang sedari tadi telah mengulurkan tangan, akan tetapi Alvaro sibuk menatap Rania hingga tak sadar mertuanya sedari tadi menunggu.
"Ah, iya. Maafkan aku," ujar Alvaro sembari tersenyum kikuk membuat para tamu yang ada di sana menertawakan Alvaro.
Pria tersebut menjabat tangan Pak Hendra dengan mantap. Pandangannya kembali terfokus pada ucapan Pak Hendra.
"Saya terima nikah dan kawinnya dibayar tunai," ujar Alvaro dengan tegas dan lantang hanya dengan satu kali penyebutan.
Semua saksi yang ada di sana pun berucap "Sah." Alvaro dan Rania pun kini telah menjadi suami dan istri.
Alvaro menyematkan cincin di jari manis Rania, dan Rania pun menyematkan cincin di jari manis Alvaro. Gadis itu mencium punggung tangan Alvaro yang mulai saat ini dan detik ini sudah sah menjadi suaminya. Sementara Alvaro mengecup kening sang istri dengan begitu lembut, menyalurkan semua perasaan yang ada melalui sebuah kecupan tersebut hanya dalam beberapa detik.
Setelah selesai melangsungkan akad, acara pun langsung disambung dengan resepsi. Alvaro dan Rania berjalan bersama menuju ke singgasana mereka, yang membuat mereka bak ratu dan raja sehari.
Alvaro begitu erat menggenggam tangan Rania, seakan tak ingin melepaskan tangan istrinya barang sedetik saja. Namun, genggaman itu akhirnya terlepas juga saat menyalami para tamu yang berbondong-bondong memberikan ucapan selamat pada Alvaro dan Rania.
Begitu banyak tamu yang datang, hingga Rania merasa rahangnya pegal karena mengulas senyum sedari tadi, sementara tangannya juga ikut merasakan hal yang sama, menyalami semua orang yang memberikan ucapan selamat.
Setelah selesai menyalami para tamu, Alvaro dan Rania kembali duduk di kursinya. Pria itu melihat sehelai bulu mata yang jatuh di pipi istrinya. Alvaro langsung memungutnya membuat Rania sedikit terkejut.
"Bulu matamu jatuh," ucap Alvaro.
__ADS_1
"Ah iya," ujar Rania.
Alvaro melihat istrinya dengan seksama. Dari jarak dekat, Rania semakin terlihat cantik dan tak bosan-bosannya Alvaro menatap wajah sang istri dengan penuh cinta.
"Sayang, kamu memang benar-benar cantik," ujar Alvaro menatap Rania dengan seksama.
"Berhentilah menatapku seperti itu, Alvaro!" tekan Rania memberikan kode bahwa saat ini mereka masih menggelar pesta, takut saja jika suaminya lupa akan situasi saat ini.
"Alvaro? Kamu masih memanggilku dengan sebutan itu? Ck!" Alvaro berdecak sebal, lalu kemudian memilih untuk mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Loh, kenapa?" tanya Rania.
"Hubungan kita baru saja di upgrade menjadi suami dan istri. Tidak mungkin kan, panggilannya masih tetap itu-itu saja tanpa perubahan sedikit pun," protes Alvaro.
"Lantas kamu ingin aku memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Rania mencoba membujuk suaminya yang mulai merajuk.
"Terserah. Tapi kalau bisa ada manis-manisnya dikit," pinta Alvaro.
"Mas, ..." Rania memanggil Alvaro dengan sebutan itu, membuat Alvaro tertegun.
"Katakan sekali lagi!" titah Alvaro.
"Mas Varo, ..."
Alvaro tersenyum, ia benar-benar menyukai panggilan barunya yang baru saja disebutkan oleh istrinya itu.
"Panggil aku seperti itu saja, aku menyukainya." Pria itu kembali menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Baiklah, aku akan memanggilmu dengan sebutan itu." Keduanya pun saling melemparkan senyum, sesekali melihat ke arah tamu undangan yang hampir mereka lupakan keberadaannya.
"Yang semalam ... apakah sudah dipelajari?" bisik Alvaro.
Rania menautkan kedua alisnya. " Yang semalam?" gumam wanita tersebut. Ia kembali mengingat-ingat, dan ingatannya itu tertuju pada sebuah video yang dikirimkan oleh Alvaro.
Rania langsung mencubit lengan suaminya karena telah mengirimkan video yang seperti itu.
"Kenapa Mas Varo mengirimkan video itu padaku. Mataku menjadi tercemar karena melihatnya," gerutu Rania.
"Kan nantinya matamu akan setiap hari aku cemari," celetuk pria tersebut seolah tanpa dosa.
Lagi dan lagi cubitan kedua mendarat di lengan Alvaro, membuat pria tersebut meringis kesakitan. "Sakit, Sayang."
"Lagian, mesum sih!"
"Mesum juga kan sama kamu, bukan sama yang lainnya, Istriku." Alvaro tak henti-hentinya menggoda Rania, membuat wanita itu langsung malu akibat ulah suaminya itu.
Di waktu yang bersamaan, Juni bersama dengan istrinya dan juga Shinta berada di pesta tersebut menyaksikan interaksi sepasang pengantin yang tengah duduk di pelaminan.
"Mbak, Lihatlah! Mereka seperti melupakan keberadaan kita, seolah dunia hanya milik berdua," celetuk Shinta pada Sela, istrinya Juni.
"Namanya juga sedang jatuh cinta, ya pasti akan seperti itu," balas Shinta.
"Iri bilang Shin!" celetuk Juni yang membuat Sela tertawa.
Shinta hanya bisa berdecak sebal, sembari merutuki nasibnya saat ini. "Memang, wanita lajang sepertiku tidak seharusnya bersama dengan sepasang suami istri," gerutunya.
__ADS_1
Bersambung ....