
Rania membuka masker yang ia kenakan. Wanita itu melirik jam yang melingkar di tangannya, menunjukkan pukul 5 sore. Ramainya pasien yang datang, membuat waktu berjalan dengan begitu cepat.
Wanita tersebut meregangkan otot-otot pinggangnya yang terasa kaku. Ia mencuci tangannya, lalu kemudian berjalan menuju ke ruangannya. Melihat Bima yang masih tertidur pulas.
Rania menghampiri putranya, mengusap puncak kepala Bima dengan lembut. "Maafkan mama ya, Nak. Mama terlalu sibuk mengurusi pasien hingga meninggalkanmu sendirian di sini," gumam Rania.
Perlahan, Bima membuka matanya. Ia melihat ibunya tengah menatapnya sembari mengulas senyum.
"Mama," ucapnya sembari mengusap matanya. Ia mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.
"Mama sudah selesai kerjanya?" tanyanya.
Rania menganggukkan kepalanya. "Maaf ya, Bima mama tinggal sendirian sedari tadi," ucap Rania yang dirundung rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Ma. Bima sudah terbiasa seperti ini. Kalau Bima ikut papa, Bima juga sering di tinggal papa di ruangannya," tutur anak laki-laki tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang yuk!" ajak Rania.
Bima menganggukkan kepala, ia turun dari sofa tersebut dan kemudian menyandang kembali tasnya. Rania juga bersiap, ia mengambil sling bag yang ada di atas meja. Lalu kemudian menggandeng tangan putranya keluar dari tempat tersebut.
Kening Rania berkerut, saat melihat Bima mengedarkan pandangannya. Melihat ke sekeliling tempat tersebut, seolah tengah mencari sesuatu.
"Ada apa, Nak?" tanya Rania.
"Tante yang tadi ... teman mama bekerja kemana? Bima tidak melihatnya," jawab Bima.
"Oh Tante Hilda. Dia tadi dijemput sama pacarnya," jelas Rania.
Bima mengangguk paham. Ia pun masuk ke dalam mobil milik ibunya. Perlahan Rania melajukan mobil tersebut menuju ke jalanan.
....
Malam harinya, Alvaro dan Bima tengah duduk di teras rumah. Rania yang baru datang pun ikut bergabung dengan anak dan suaminya.
"Mas, mau kopi?" tanya Rania menawarkan.
"Boleh, gulanya sedikit saja ya." Alvaro menimpali sembari mengulas senyumnya.
"Bima mau susu, Nak?" tanya Rania kepada putra sambungnya.
Bima tampak berpikir, ia melihat ke arah ayahnya dan ibunya secara bergantian. Perlahan Bima pun menganggukkan kepala.
Rania kembali ke dapur untuk menyiapkan minuman yang diminta oleh sang suami. Meskipun telah mempekerjakan pelayan, ia tidak ingin merepotkan hal sepele seperti ini kepada pelayannya.
Sepeninggal Rania, Bima langsung mengguncang lengan ayahnya, "Papa ... papa ...."
"Iya, Nak. Ada apa?" tanya Alvaro.
"Papa jangan suruh-suruh mama. Mama capek Pa," protes Bima kepada ayahnya.
Alvaro terkekeh, mengusap puncak kepala putra semata wayangnya. "Terus papa harus bagaimana dong?" tanya Alvaro.
__ADS_1
"Papa ambil sendiri kopinya. Papa buat sendiri," ucapnya seraya memajukan bibirnya dua centi.
Alvaro terkekeh, melihat aksi putranya yang memarahinya seperti ini. "Baiklah, papa tidak akan menyuruh mama lagi," ujar Alvaro mengalah.
"Tadi Bima ikut Mama bekerja. Mama sangat sibuk, lebih sibuk dari papa. Kalau papa masih memiliki waktu untuk makan siang dan tidak ada yang berani mengganggu papa, tetapi beda halnya dengan mama. Saat mama baru saja hendak makan siang, ada pasien yang datang, mama makan siangnya cepat-cepat, bahkan makanannya pun tidak dihabiskan," jelas Bima panjang lebar.
Mendengar ucapan dari Bima, kini Alvaro mengerti kenapa Rania hingga sampai sekarang mengeluh karena belum juga mendapatkan tanda-tanda kehamilan. Faktor utama yang memicu hal tersebut tentunya karena wanita itu terlalu kelelahan.
Tak lama kemudian, Rania pun datang sembari membawa tiga cangkir minuman dengan jenis yang berbeda. Secangkir kopi untuk suami tercintanya, secangkir susu untuk jagoan kecilnya, dan secangkir teh untuk dirinya sendiri. Rania menjatuhkan bokongnya, ikut bergabung bersama dengan anak dan suaminya.
"Mas, besok aku dan Bima akan pergi ke makam Mba Diara, apakah Mas mau ikut?" tanya Rania.
"Kapan?" tanya Alvaro.
"Setelah Bima pulang sekolah. Rencananya Bima ingin memberikan hadiah kecil untuk Mama Diara. Iya kan Nak?" tanya Rania menoleh pada anak laki-lakinya.
"Iya, Ma." Bima menimpali.
"Kalau begitu kalian pergi berdua saja dulu. Mas tidak bisa ikut karena besok pagi ada rapat penting," ujar Alvaro.
Rania dan Bima pun mengangguk paham. Mereka melanjutkan obrolan ringan mereka ditemani oleh secangkir minuman buatan Rania.
Saat memasuki pukul 9 malam, ketiga orang tersebut memilih untuk masuk ke dalam kamar masing-masing. Bima mengucapkan selamat malam pada ibu dan ayahnya sebelum masuk ke dalam kamarnya.
"Jangan lupa cuci kaki dan sikat giginya sebelum tidur ya, Nak." Rania berucap sembari mengulas senyumnya.
"Siap, Ma." Setelah menjawab ucapan ibunya, Bima pun langsung berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu.
"Sayang," panggil Alvaro kepada sang istri.
"Iya, Mas." Rania menimpali.
"Saat kamu membuatkan kopi tadi, Bima menegurku. Dia melarangmu untuk menyuruhmu karena kamu sudah terlalu lelah dengan pekerjaanmu dan bahkan kamu tidak sempat untuk makan siang," tutur Alvaro.
Rania tersenyum, "Ternyata anakmu cukup manis juga, Mas."
Alvaro menggeser tubuhnya ke arah sang istri, tangan kanannya membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Sebenarnya Mas tidak mau melarangmu untuk melakukan apapun. Namun, Mas rasa ... Mas harus mengatakan ini padamu. Kamu selama ini selalu mengeluh tidak mendapatkan tanda-tanda kehamilan. Cobalah untuk beristirahat dulu dari pekerjaanmu dan berusaha menjaga kesehatan. Mas rasa mungkin akan membuahkan hasil," ucap Alvaro dengan lembut. Ia ingin makna dari ucapannya itu dapat diterima oleh Rania tanpa menyinggung perasaan istrinya sedikit pun.
"Maksud Mas Varo, aku fokus jadi istri mas saja. Mengurus Mas Varo dan Bima, tidak usah bekerja lagi, begitu?" tanya Rania.
"Lebih kurangnya seperti itu, tetapi mas tidak memaksa sama sekali. Mas ingin hal itu atas kehendakmu sendiri, bukanlah paksaan dari Mas," tutur Alvaro.
"Baiklah, nanti saja aku coba pikirkan, Mas. Untuk saat ini, aku tidak bisa memberikan jawabannya," ucap Rania.
"Ingat, Mas tidak memaksamu sama sekali. Ini hanya sekedar saran dari Mas saja. Jika kamu masih tetap ingin bekerja, Mas juga mempersilakan," ujar Alvaro yang masih takut jika istrinya akan tersinggung.
"Iya, Mas. Aku mengerti." Rania tersenyum, lalu kemudian beringsut mendekat pada suaminya. Memeluk tubuh Alvaro.
"Ya sudah, kalau begitu tidurlah! Kamu pasti lelah hari ini." Alvaro mencium kening sang istri. Keduanya pun mulai memejamkan matanya, dan larut ke dalam alam mimpi.
__ADS_1
...****************...
Keesokan harinya, Rania baru saja tiba di sekolah Bima, untuk menjemput putranya. Wanita tersebut hendak singgah ke makam Diara. Tentunya ia sudah mempersiapkan kelopak bunga mawar serta air untuk menyirami makam tersebut.
Bima berlari kecil menghampirinya. Senyumnya selalu terpatri di wajah tampan si jagoan kecil itu. Mendapati hari ini bahwa ia akan pergi ke makam ibunya, tentu saja membuat Bima begitu senang.
"Kita jadi kan Ma, pergi menengok mama?" tanya Bima yang bermaksud untuk berziarah ke makam ibu kandungnya.
"Tentu saja, Nak. Mama sudah menyiapkan kelopak mawar serta air untuk ditaburkan di atas makam Mama Diara supaya terlihat cantik dan wangi," ucap Rania.
"Kartu ucapan yang Bima buat kemarin, Bima bawa kan?" tanya Rania.
"Iya, Ma." Bima memperlihatkan kartu ucapan yang ada di tangannya.
"Anak pintar! Ayo kita masuk!" ucap Rania yang langsung membawa Bima masuk ke dalam mobil. Wanita itu duduk di balik setir dan melajukan mobilnya menuju ke pemakaman umum, tempat Diara berada.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, keduanya pun tiba di tempat tujuan. Rania membantu putranya untuk turun dari mobil. Ia menggandeng tangan Bima, dan sebelahnya lagi membawa plastik yang berisi kelopak mawar dan juga air.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan pusara yang bertuliskan nama Diara. Bima langsung duduk di samping nisan tersebut sembari mengulas senyum.
"Ma, Bima datang lagi ke sini bersama Mama Rania," ucap Bima.
Anak laki-laki itu mengeluarkan kartu ucapan yang ia simpan di dalam sakunya, dan meletakkan benda tersebut di atas pusara sang ibunda.
"Selamat hari ibu, Ma. Terima kasih karena telah melahirkan Bima ke dunia ini," ucap Bima mengusap nisan ibunya.
"Maaf, karena Bima telat mengucapkannya pada mama. Tetapi, Bima akan tetap menyayangi mama, sama seperti Bima menyayangi Mama Rania," lanjut Bima.
Rania tersenyum mendengar ucapan Bima. Ia pun mengusap puncak kepala Bima dengan penuh kasih sayang.
"Mba Diara adalah ibu yang luar biasa karena telah melahirkan anak hebat seperti Bima. Aku akan menyayangi Bima sepenuh hatiku, dan membesarkan Bima dengan penuh kasih sayang," ucap Rania.
"Ma, Bima rindu sama mama. Datanglah sesekali ke mimpi Bima. Bima ingin bertemu langsung dengan mama walaupun itu hanya dalam mimpi. Bima ingin memeluk mama meskipun keesokan harinya yang Bima peluk hanyalah bantal guling saja," ujar Bima.
Rania mendengarkan hal tersebut cukup sedih. Namun, mau bagaimana lagi. Bima memang tidak pernah bertemu langsung dengan ibu kandungnya. Bahkan Bima mengenali sosok ibunya hanya dengan melihat potret yang ditunjukkan oleh Alvaro saja.
Rania mengusap punggung Bima, mencoba untuk menghibur kesedihan putranya sembari mengulas senyum. Ia meraih kantong plastik yang berisikan kelopak bunga serta air mineral yang tadi ia beli.
"Sekarang, kita taburi mama dengan kelopak mawar ya, Sayang. Supaya makam mama cantik dan wangi," ucap Rania.
Bima mengangguk, ia pun mulai menaburi pusara ibunya dengan kelopak mawar tersebut hingga semua yang ada di dalam kantung plastik itu tak tersisa. Setelah itu, Rania menyiram pusara tersebut dengan air mineral yang ia beli tadi.
"Sekarang mama sudah wangi, sudah cantik, waktunya Bima pamit pulang dulu ya, Ma."
Keduanya beranjak dari duduknya. Bima kembali menoleh sebelum ia benar-benar pergi. "Nanti Bima akan datang lagi bersama papa. Hari ini papa tidak bisa datang karena sibuk dengan urusan kantor. Mama jangan sedih ya, nanti Bima sampaikan salam mama kepada papa," ucapnya lagi.
Rania cukup terperangah dengan kalimat dewasa yang diucapkan oleh Bima. Dalam hatinya pun berkata.
"Mbak Diara, terima kasih karena telah melahirkan anak yang hebat seperti Bima."
Bersambung ....
__ADS_1