
Alvaro baru saja tiba di rumahnya. Ia melihat mobil pribadi milik Fahri telah terparkir di halaman rumah. Pertanda bahwa keluarganya tengah berkunjung kemari.
Pria tersebut turun dari mobilnya. Saat melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak, ia teringat bahwa hari ini mertuanya datang ke rumah.
"Astaga! Bagaimana bisa aku melupakannya begitu saja," ujar Alvaro seraya menepuk keningnya. Ia mempercepat langkahnya dan langsung masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di sana, ruang tamu tampak sangat ramai. Keluarga besar tengah berkumpul di kediaman Alvaro. Terdengar gelak tawa dari Abian, karena Bima yang selalu memperlihatkan wajah lucunya.
"Mas Varo." Rania langsung beranjak dari tempat duduknya saat melihat sang suami baru saja pulang.
Ibu hamil tersebut mengambil alih tas kerja yang di pegang Alvaro. Alvaro berjalan menuju ke arah kedua mertuanya yang tengah duduk di sofa terpisah. Pria tersebut menyalami Bu Isna dan Pak Hendrawan.
"Kapan sampainya, Pa?" tanya Alvaro.
"Tadi sore, Nak." Pak Hendrawan menimpali sembari merangkul bahu menantunya. Alvaro pun menjatuhkan bokongnya di samping Pak Hendrawan.
"Seharusnya kamu pulang lebih awal, Varo. Sudah tahu mertua akan ke rumah. Urusan pekerjaan bisa ditinggalkan yang paling penting adalah keluarga." Fahri menasehati sang anak.
"Maafkan Varo ya, Ma, Pa. karena Varo tidak menyambut kedatangan papa dan mama." Alvaro tersenyum sembari tertunduk malu. Sebenarnya bukan tak ingin menyambut kedua mertuanya datang ke rumah, melainkan pria itu lupa jika hari ini mertuanya itu akan tiba.
"Sudah, tidak apa-apa. Lagi pula tidak perlu repot-repot seperti itu. Kami bukanlah seorang petinggi yang harus diberikan sambutan yang begitu spesial, benar kan Pa?" celetuk Bu Isna menatap Pak Hendrawan. Dan lelaki yang mengenakan kacamata yang bertengger di hidungnya pun menganggukkan kepala, membenarkan ucapan sang istri.
"Papa ... papa ... lihatlah adik Abian, dia sedari tadi melihat ke arah papa," ucap Bima yang tiba-tiba.
Alvaro pun menatap ke arah keponakannya itu. Pria tersebut beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian mengambil Abian dari tangan Arumi, dengan berhati-hati menggendong putra kembarannya itu.
"Abian kenapa lihat paman sedari tadi?" tanya Alvaro sembari menatap keponakannya itu.
Abian mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu kemudian tertawa dengan memperlihatkan gigi susu yang mulai tumbuh di depannya.
Alvira melihat hal tersebut hanya tersenyum. Ia tahu, tatapan sang anak pada Alvaro seakan tengah melihat ayahnya. Anak kecil tersebut mungkin paham, selama lahir ke dunia ini, ia hanya melihat ibunya saja, tidak dengan ayahnya.
__ADS_1
Semenjak Andre ditahan, Alvira sekalipun tak pernah menengok pria tersebut. Luka hati yang dilukiskan oleh Andre terlalu dalam, hingga membuat Alvira susah untuk memaafkan pria itu. Melihat wajah Andre pun rasanya Alvira kesal dan kembali mengingat luka lama yang ia derita.
Alvaro menggendong Abian, membawa anak laki-laki tersebut ikut bersamanya untuk duduk di sofa. Sesekali ia menimang putra dari Alvira, memperlihatkan wajah lucunya yang mampu membuat Abian tergelak.
Rania melihat pemandangan tersebut. Ia tengah membayangkan jika yang Alvaro gendong adalah anaknya nanti. Anak yang saat ini masih bersemayam di perutnya, dan hanya tinggal menghitung hari menurut perkiraan dokter, anak tersebut akan lahir.
"Kenapa? Jadi tidak sabar melahirkan melihat Alvaro seperti itu?" bisik Arumi yang berada tepat di samping menantunya.
Rania mengulas senyum, lalu mengangguk. "Iya, Ma. Alvaro pasti sangat senang, jika nanti anak kami lahir. Melihat ia menggendong Abian saja, membuat hatiku terasa menghangat," tutur Rania pelan.
"Tentu saja. Alvaro akan sangat senang dengan hal itu. Bahkan saat sering bercerita dengan mama saja, ia selalu berkata bahwa kelahiran anaknya selalu dinanti-nantikan," ujar Arumi.
Setelah cukup lama menggendong Abian, Alvaro kembali memberikan bayi tersebut pada Alvira.
"Varo mandi dulu sebentar ya, Ma, Pa." Pria itu meminta izin untuk undur diri terlebih dahulu, karena mengingat dirinya yang baru saja pulang dari kantor.
"Ya sudah, mandi saja dulu sana." Arumi berucap pada putranya.
Rania yang masih memegang tas kerja Alvaro pun juga ikut beranjak dari tempat duduknya.
Rania pun mengangguk patuh. Setelah memberikan tas tersebut pada suaminya, ia kembali menempati kursi tadi.
"Jadi, kalian pindah ke kamar bawah?" tanya Arumi pada menantunya.
"Iya, Ma. Mas Varo menyuruhku untuk tidak terlalu sering naik turun tangga. Dia juga masih sedikit takut setelah kejadian Bima kemarin," jelas Rania.
"Ya, seharusnya memang begitu. Apalagi hamilanmu sudah sangat besar. Dan kamu mengandung anak kembar. Tentunya akan terasa sangat berat jika harus naik turun tangga," ucap Arumi.
"Sebenarnya Nak Varo terlalu memanjakan anak kami. Sebenarnya tidak apa-apa juga jika Rania naik turun tangga. Setidaknya ia bisa sedikit berolahraga dengan hak tersebut. Sejak hamil, Rania terlalu sering tidur. Saya takut jika nanti Rania akan sulit melahirkan, mengingat dia tidak terlalu banyak beraktivitas," papar Bu Isna yang mengkhawatirkan akan kondisi Rania.
"Sebenarnya sih memang benar. Tetapi putra kami sangat menyayangi putri Bu Isna, ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya. Melihat Bima yang sudah jatuh dari tangga kemarin, bisa saja membuat Alvaro cemas. Apalagi saat ini sang istri juga tengah hamil besar," balas Arumi.
__ADS_1
"Pokoknya kita doakan saja, semoga persalinan Rania berjalan dengan lancar," lanjut Arumi. Bu Isna dan yang lainnya pun mengangguk setuju dengan ucapan Arumi.
Mereka pun kembali membahas tentang obrolan lainnya. Hingga Alvaro yang telah selesai mandi dan mengganti baju santainya pun ikut bergabung dalan pembicaraan tersebut.
Suasana malam itu tak luput dari celotehan Bima yang terus saja bercerita tentang banyak hal. Dan semua orang menjadi pendengar setia untuk anak laki-laki tersebut. Sesekali Bima duduk di antara kedua kakeknya, lalu kemudian pindah duduk diantara kedua neneknya.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, Fahri pun mengajak Arumi pulang karena hari sudah malam. Mengingat besok Bima harus bersekolah. Apalagi Bima yang memang sudah terlihat mengantuk, sengaja ia tahan hanya karena ingin bermain dengan Abian.
"Mama dan papa pulang dulu ya, Nak. Lagi pula sudah malam. Bima juga besok harus sekolah," ucap Arumi berpamitan dengan Varo dan juga Rania.
"Bu Isna, yuk main ke tempat saya besok. Pak Hendrawan juga!" ucap Arumi mengajak kedua besannya untuk berkunjung ke rumah utama.
"Iya, Bu. Mungkin besok ya," celetuk Bu Isna.
"Iya, Bu. Kalau malam ini kan harus tidur dulu," gurau Arumi sembari menyenggol lengan Bu Isna. Arumi juga sangat senang dengan keberadaan Bu Isna. Setidaknya ia ada teman bicara seusianya.
"Yuk Pak, Buk, kami pamit dulu," ucap Fahri menyalami kedua besan tersebut.
Fahri dan yang lainnya pun berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil. Kepergian mereka diantar sampai ke depan. Bima melambaikan tangannya saat mobil tersebut mulai melaju.
"Pa, Ma, Bima mau tidur bersama dengan nenek. Tidak apa-apa kan?" tanya Bima meminta izin pada kedua orang tuanya.
"Nanti nenek dan kakek tidurnya sempit karena ada Bima," ujar Alvaro.
"Apanya yang sempit? Tempat tidur seluas itu kok dibilang sempit. Bima tidur bersama kami saja," ucap Bu Isna.
"Iya benar." Pak Hendrawan pun menambahi.
"Ya sudah kalau begitu. Bima tidurnya jangan nakal ya, Nak. Jangan lupa cuci kaki dan gosok gigi," ujar Alvaro.
"Siap Pa!" timpal Bima bersemangat. Anak laki-laki itu pun langsung menggandeng tangan kakek dan neneknya, berjalan menuju ke kamar.
__ADS_1
Rania dan Alvaro pun saling melemparkan pandangannya, lalu mengulas senyum seraya ikut melangkah masuk ke dalam rumah.
Bersambung .....