Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 48. Tetanggaku Idolaku


__ADS_3

Alvaro berjalan keluar dari tempat tersebut sembari menggenggam tangan Rania. Gadis itu hanya pasrah, membiarkan Alvaro membawanya.


Alvaro melihat ada beberapa orang yang hendak masuk ke dalam ruangan tersebut, dengan segera Alvaro melepaskan jas yang ia pakai, lalu kemudian memakaikan benda tersebut ke kepala Rania mencoba menutupi wajah sedih gadis tersebut. Tangan Alvaro sedikit merangkul pundak Rania dari belakang, menuntun jalan untuk wanita itu.


Rania terkejut dengan tindakan Alvaro barusan. Gadis itu berpikir, bahwa Alvaro merupakan pria yang berbeda. Namun, kembali teringat akan ucapan Dion beberapa saat yang lalu, yang memancing traumanya kembali untuk tidak mempercayai sesuatu yang bernama cinta pada kaum pria.


"Aku akan mengantarkanmu masuk ke dalam mobil," ucap Alvaro tepat di depan telinga Rania.


Pandangan Rania gelap karena tertutup jas milik Alvaro. Aroma parfum dari jas tersebut, terendus oleh indera penciumannya, dan Rania menyukai aroma parfum itu.


Dengan lembut, Alvaro membawa Rania menuju ke mobil. Tangan pria tersebut merangkul pundaknya, seakan memberikan perlindungan pada dirinya yang terlihat rapuh saat ini.


Alvaro membuka pintu mobil, gadis itu sedikit menyingkap jas yang menutupi wajahnya, lalu kemudian masuk ke dalam kendaraan tersebut.


"Tunggulah di sini, aku akan menemui Bima terlebih dahulu," ucap Alvaro.


Rania hanya menganggukkan kepalanya pelan. Gadis tersebut memandangi pundak lebar milik Alvaro yang semakin lama semakin menjauh.


"Apakah kamu berpikir bahwa pria itu benar-benar mencintaimu? Kamu sangat bodoh jika menyangkut masalah cinta."


Kalimat yang sempat dilontarkan oleh Dion tadi kembali terngiang-ngiang di telinganya. Rania memang bodoh jika menyangkut masalah hati. Gadis itu akan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat baik dan mempertahankan sebuah hubungan dengan usahanya setengah mati.


Namun, siapkah dia jika suatu saat nanti Alvaro menjadi seperti Dion? Yang meninggalkannya setelah gadis itu menyerahkan seluruh hidupnya. Sanggupkah Rania menerima kenyataan pahit itu kembali?


Rania menatap lurus ke depan. Gadis itu melihat Alvaro yang tengah menggandeng anaknya melangkah menuju ke arahnya.


Bima masuk ke dalam menempati kursi yang ada di belakang. Dan Alvaro kembali duduk di kursi kemudi. Pria tersebut menatap Rania sejenak, memastikan apakah gadis itu baik-baik saja.


Rania tampaknya mengerti dengan kode yang diberikan oleh Alvaro. Ia mengangguk seraya mengulas senyumnya.


Saat di perjalanan, Rania tak lagi berisik seperti sebelumnya. Gadis itu lebih banyak diam dan hanya menatap lurus ke depan.


"Bu Dokter kenapa diam saja?" tanya Bima karena merasa heran, sikap Rania yang berubah tak seperti biasanya.


"Tidak apa-apa, Bima." Rania menimpali ucapan pria kecil itu seraya mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Bu Dokter kelelahan," celetuk Alvaro.


Rania mengarahkan pandangannya pada Alvaro. Gadis tersebut tersenyum samar, melirik pria yang tengah berada di balik setir. Sementara Bima mengangguk paham setelah mendengarkan ucapan dari ayahnya.


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Alvaro pun telah tiba di apartemen. Pria tersebut memberhentikan mobilnya di parkiran. Ketiganya turun dari kendaraan dan berjalan menuju lift.


Tinggg ...


Lift terbuka, mereka pun keluar dari ruangan sempit itu. Rania dan Alvaro menuju ke rumah masing-masing. Alvaro membuka pintu, membiarkan putranya masuk terlebih dahulu.


Rania masih berdiri di depan pintunya. Setelah memastikan Bima masuk, gadis itu pun menghampiri Alvaro dan memberikan jas yang ada di tangannya kepada pemiliknya.


"Ini jas yang kamu pinjamkan tadi," ucap Rania seraya menyodorkan benda tersebut.


"Dan terima kasih atas semuanya," lanjut gadis itu.


Alvaro meraih jas yang ada di tangan Rania. Pria tersebut sedikit menarik kedua sudut bibirnya. "Aku juga berterima kasih karena kamu telah bersedia hadir," ujar Alvaro.


Rania menganggukkan kepalanya. Ia pun langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa berucap apapun lagi. Alvaro memandangi Rania, pria tersebut mengerti alasan bungkamnya gadis itu sedari tadi, tentu saja karena pertemuannya dengan mantan kekasihnya dulu.


....


Bu Isna tengah menikmati makan malam sembari menonton televisi. Tak lama kemudian, tetangganya datang dengan sedikit tergesa-gesa.


"Jeng, ada berita terhangat, Jeng!" Ucap wanita bertubuh gempal tersebut sembari memperlihatkan sesuatu yang ada di ponselnya.


"Berita apa?" tanya Bu Isna.


Wanita itu menyerahkan benda pipih itu kepada Bu Isna. Ia melihat foto putrinya yang tengah bersama Alvaro dan Bima. Bu Isna langsung tersedak melihat foto tersebut.


"Apakah aku tidak salah lihat?" gumam Bu Isna sembari mengusap matanya beberapa kali.


"Sepertinya tidak akan lama lagi Bu Isna mendapatkan menantu," celetuk wanita tetangga depan rumahnya yang kembali menyimpan ponselnya di dalam saku baju dasternya.


"Aku harap juga begitu. Terlalu lama aku menunggu putriku mendapatkan pasangan hingga mengatur kencan buta untuknya beberapa kali. Namun, gadis itu sedikit bebal dan selalu menolak semua pria yang sempat aku tawarkan kepadanya," ujar Bu Isna.

__ADS_1


"Semoga saja dia dan tetangganya bisa berjodoh. Sebaiknya besok aku akan berkunjung ke sana," lanjut Bu Isna penuh harap.


"Tetangga?! Mereka berdua berarti tetangga?" tanya wanita itu seraya menutup mulutnya.


"Iya. Dia dan pria itu adalah tetangga," timpal Bu Isna.


"Wah judulnya berarti tetanggaku idolaku," ujar wanita tersebut sembari menyenggol lengan Bu Isna.


"Pacar lima langkah," celetuk Bu Isna.


Kedua wanita paruh baya tersebut langsung terkekeh, lucu akan ucapan mereka sendiri.


...****************...


Keesokan harinya, Alvaro telah menyiapkan sarapan. Akhir-akhir ini pria itu memasak sarapan lebih banyak dari biasanya karena selalu mengajak Rania untuk sarapan bersama. Alvaro melepaskan apron yang ia kenakan. Lalu kemudian berjalan keluar dari rumahnya.


Kini pria tersebut sudah berada tepat di depan pintu. Ia bersiap untuk mengetuk pintu tetangganya itu. Namun, pria tersebut mengurungkan niatnya karena melihat Rania yang sudah membuka pintunya lebih dulu.


"Ada apa?" tanya Rania. Gadis itu sudah bersiap hendak berangkat bekerja.


"Aku ingin mengajakmu sarapan bersama, anggap saja pengganti ucapan terima kasihku karena kemarin kamu bersedia datang ke sekolah Bima," tutur pria tersebut mencari alasan lain.


"Terima kasih untuk sarapannya, tapi aku hari ini harus segera pergi ke klinik," ujar Rania.


"Oh iya, tidak apa-apa. Kalau begitu hati-hati di jalan," ucap Alvaro seraya tersenyum.


Rania menganggukkan kepalanya, lalu kemudian pergi dari hadapan tetangganya itu. Alvaro memandangi Rania hingga menghilang dari pandangannya. Dengan berjalan gontai, pria itu kembali masuk ke dalam rumah.


"Mana Bu Dokternya, Pa?" tanya Bima yang melihat wajah ayahnya yang sedikit masam.


"Bu Dokter sibuk, Nak. Ayo kita sarapan!" ucap Alvaro yang langsung menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di tempat tersebut.


Bersambung ...


Ada yang sarapan tapi masih lemes, kenapa tuch? 🤭😂

__ADS_1


__ADS_2