
Di kediaman Alvaro, suara tangis bayi saling bersahutan. Setelah berumur satu tahun, sering kali kedua anak kembar itu menangis jika salah satu dari mereka tidak digendong oleh Rania.
Terkadang Rania sempat kewalahan. Namun, ia tidak mengeluh, karena lelah mengurus anak adalah nikmat yang luar biasa.
"Nanti ya, Dek. Dilan sama Abang dulu, gantian Delani yang di gendong sama mama," ucap Bima yang membantu Rania mengasuh adiknya.
Bima mencari akal, ia pun memberikan mainan kepada Dilan, akan tetapi mainan itu dilempar begitu saja oleh bocah tersebut. Ia sibuk mengangkat kedua tangannya ingin minta digendong oleh Rania.
"Ma, Abang boleh tidak menggendong Dilan?" tanya Bima pada Rania.
"Jangan, Nak. Bima masih kecil," ucap Rania.
"Tapi kan Bima sekarang sudah kelas 2 SD, Ma."
"Sayang, kelas 2 SD itu masih kecil. Nanti kalau Bima sudah benar-benar besar, baru mama perbolehkan Bima menggendong adek," ucap Rania.
Tak lama setelah terjadi percakapan antara anak dan ibu tersebut, Alvaro pun datang. Pria itu baru saja masuk ke dalam kamar setelah mendengar kebisingan.
"Adek kenapa nangis, Nak?" tanya Alvaro menghampiri Dilan.
"Adek mau minta gendong sama mama, Pa. Mama gantian gentong Delani dulu," jelas Bima.
Anak laki-laki yang memiliki potongan rambut french crop tersebut melihat sang ayah menggendong adiknya. Ada rasa iri di dalam hati Bima.
__ADS_1
Bima merasa iri bukan karena kasih sayang yang diberikan oleh orang tuanya berbeda, akan tetapi hal yang membuatnya iri adalah ketika sang ayah dapat menggendong adiknya, sedangkan Bima belum diperbolehkan menggendong Dilan karena masih kecil.
"Semoga saja Bima cepat tumbuh besar, Bima ingin sekali menggendong adik," ujar Bima di dalam hati.
Kedua anak tersebut berhasil ditenangkan oleh kedua orang tuanya. Dilan dan Delani pun tertidur di pelukan Rania dan juga Alvaro.
"Dilan sudah tidur, Mas?" tanya Rania.
"Iya, sudah." Alvaro menimpali ucapan istrinya.
"Taruh saja di atas kasur, Mas."
Alvaro pun menganggukkan kepala. Ia meletakkan Dilan dengan sangat hati-hati. Rania juga meletakkan Delani di samping Dilan. Diberi bantal kecil di kedua sisi tempat tidur mereka berdua agar posisi tidurnya lebih terjaga.
"Bima sedang apa?" tanya Rania duduk di samping Bima, mengusap puncak kepala putra sulungnya dengan lembut.
"Baca buku dongeng tentang pengembala kambing dan tiga serigala, Ma." Bima menatap ibunya seraya menjelaskan judul buku yang ada di tangannya.
"Apa makna yang dapat kamu ambil dari buku tersebut, Nak?" tanya Alvaro yang juga duduk di sebelah Bima.
"Makna maksudnya apa, Ma?" ucap Bima yang langsung bertanya pada ibunya.
"Makna itu adalah pelajaran yang berharga dari buku tersebut," jelas Rania.
__ADS_1
"Oh itu. Iya, Ma. Bima mengerti. Pelajaran yang dapat diambil adalah ketika seseorang pernah berbohong, maka orang lain tidak akan pernah mempercayainya lagi," tutur Bima.
Rania tersenyum bangga menatap anaknya. "Pintar! Tidak heran jika anak mama ini mendapatkan peringkat pertama di kelas," ucap Rania.
Bima tersenyum mendapatkan pujian dari ibu sambungnya. Ia pun memeluk Rania, dengan kepala yang mendongak ke atas.
"Bima mendapatkan peringkat pertama karena bantuan mama dan papa yang sangat sabar mengajari Bima," ujar anak laki-laki tersebut.
"Papa juga ikut andil. Kenapa tidak memeluk Papa?" tanya Alvaro sengaja memperlihatkan wajah sedihnya.
Bima pun beralih memeluk Alvaro. Ketiga orang itu pun saling berpelukan satu sama lain.
"Bima sayang mama dan papa," ucap Bima.
"Adik juga, nenek juga, kakek juga, semuanya sangat Bima sayangi," lanjut anak laki-laki tersebut.
"Kalau sayang mama, Bima harus giat belajar ya, Nak. Tidak ada kata untuk malas mengikuti upacara. Bima tetap akan tetap tampan walaupun terpapar sinar matahari. Sinar matahari pagi justru mengandung vitamin D yang sangat bagus untuk tulang kita," jelas Rania.
"Iya, Ma." Bima mengangguk paham.
"Jangan seperti papamu," lanjut Rania.
Mendengar hal tersebut, Alvaro tak merespon apapun selain hanya tersenyum seraya mengusap tengkuknya.
__ADS_1
Bersambung ....