Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 123. Kunjungan Mertua


__ADS_3

Setelah cukup lama dinantikan kedatangannya, akhirnya Bu Isna pun tiba di kediaman Alvaro dan juga Rania. Alvaro menyambut kedatangan mertuanya. Menyalami punggung tangan Bu Isna, begitu pula dengan Rania. Pria itu membantu mengangkat barang-barang bawaan sang mertua yang berupa sedikit oleh-oleh dari kampung.


"Papa tidak ikut, Ma?"tanya Alvaro.


"Papamu belum bisa ikut karena masih sibuk urus kebun," timpal Bu Isna.


"Ayo masuk, Ma!" ajak Rania yang langsung merangkul ibunya.


"Bagaimana dengan kehamilanmu? Kemarin tidak datang untuk ngelayat kan?" tanya Bu Isna khawatir, takut jika putrinya tidak menuruti ucapannya.


"Tidak, Ma. Mas Varo datang sendirian. Sebenarnya aku merasa tidak enak pada Juni karena bagaimana pun juga, Juni selalu siaga kalau Mas Varo ada apa-apa," ujar Rania.


"Aku sudah menjelaskannya dengan Juni, dia juga mengerti. Sekarang, yang kamu pikirkan adalah kesehatanmu terlebih dahulu," celetuk Alvaro yang juga menimpali ucapan Rania.


"Benar apa yang diucapkan oleh suamimu. Mulai sekarang, fokuslah dulu dengan kesehatanmu. Jaga bayimu dengan baik," sambung Bu Isna.


"Iya Mas, iya Ma," ucap Rania sembari mengulas senyumnya.


"Kami sudah menyiapkan makanan untuk mama. Ayo kita makan terlebih dahulu setelah itu beristirahat," ajak Rania.


Bu Isna tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Sementara Alvaro, masih mengangkut barang-barang bawaan Bu Isna yang ada di dalam mobilnya. Bu Isna dijemput oleh Pak Darman di terminal, karena ini adalah pertama kalinya beliau menginjakkan rumah baru Alvaro dan juga Rania.


"Mana Bima?" tanya Bu Isna sembari melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.


"Bima belum pulang, Ma." Rania menyentuh layar ponselnya, melihat jam yang tertera di ponsel pintarnya.


"Sebentar lagi Bima pulang," sambung Rania.


Rania melihat Pak Darman yang baru saja melewati mereka, meletakkan oleh-oleh dari Bu Isna di dapur. Rania pun langsung memanggil Pak Darman.


"Pak!"


"Iya, Nyonya." Pak Darman pun menghentikan langkah kakinya, berbalik menatap majikannya.


"Setelah ini tolong jemput Bima ya, Pak. Soalnya sebentar lagi Bima pulang sekolah," ujar Rania.


"Baik, Nyonya."


Setelah berucap demikian, Pak Darman pun langsung undur diri dari hadapan Rania untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh wanita tersebut.


Rania melanjutkan langkah kakinya, membawa sang ibunda menuju ke meja makan. Di sana, telah tersaji banyak hidangan untuk menyambut kedatangan mertuanya.

__ADS_1


"Sepertinya sedari tadi kalian benar-benar repot," ucap Bu Isna melihat hidangan yang tersaji di atas meja.


"Repot sedikit, Ma. Cicipilah dulu masakan buatan bibi di sini. Soal rasa tentunya tidak akan mengecewakan," ujar Rania.


"Berarti ini semua bukan kamu yang masak?" tanya Bu Isna menatap putrinya.


Rania memperlihatkan deretan gigi rapinya," Aku turut serta membantu, Ma. Tetapi cuma sebagai tukang cicip-cicip," jawab Rania terkekeh.


"Mulailah belajar memasak, Nak. Suami dan anakmu pasti ingin mencicipi masakanmu." Bu Isna memberikan nasihat pada Rania.


"Rania sudah mulai menguasai memasak, Ma. Meskipun hanya menguasai beberapa masakan, akan tetapi masakannya benar-benar lezat," celetuk Alvaro dari belakang. Pria itu menarik salah satu kursi yang ada di sana, ikut bergabung bersama istri dan juga mertuanya di meja makan.


"Benarkah? Bagus kalau begitu." Bu Isna sangat senang mendengar hal tersebut.


"Tetapi akhir-akhir ini aku dilarang memasak oleh Mas Varo," ujar Rania.


"Karena suamimu tidak ingin kamu kelelahan," cetus Bu Isna.


Alvaro langsung full senyum saat ibu mertuanya berpihak padanya. Sementara Rania, ia melirik sang suami sembari mengerucutkan bibirnya.


"Ayo Ma, silakan dimakan," ujar Alvaro.


Bu Isna pun menganggukkan kepalanya, lalu kemudian mulai mencicipi salah satu masakan yang tersaji di depannya.


"Nanti kamu belajar dari mereka, dilihat apa saja bumbu serta bagaimana cara memasaknya. Kunci dari keluarga yang harmonis itu adalah dari seorang wanita yang memiliki banyak kemampuan. Terutama dalam hal memasak. Misalkan kalian mempunyai masalah, terus masakan yang kamu masak terasa lezat, kalian bisa mencari jalan keluar dari permasalahan itu sembari menikmati makanan yang tersaji. Hal utama yang harus dimiliki oleh seorang wanita adalah harus pandai memasak," ujar Bu Isna panjang lebar.


"Rania sudah berusaha keras, Bu. Dan sampai sekarang ia pun sudah menunjukkan kemajuan dalam bidang memasaknya," ucap Alvaro membela sang istri.


"Ah, kamu selalu saja memenangkan istrimu. Lihatlah putriku menjadi besar kepala," ujar Bu Isna terkekeh.


"Tidak, Ma." Rania mengajukan protesnya, akan tetapi sesaat kemudian mereka pun ikut tertawa bersama suami dan juga ibunya.


Setelah menikmati jamuan tadi, Rania pun mengajak ibunya untuk beristirahat di kamar yang telah disiapkan.


"Rumah kalian benar-benar sangat besar sekali. Berbeda dengan rumah kita yang ada di kampung. Kamu sungguh beruntung mendapatkan Alvaro. Pria itu benar-benar mencintaimu, terlihat sangat jelas bagaimana caranya memuliakan kamu," tutur Bu Isna.


"Iya, Ma. Mas Varo sangat baik padaku. Bahkan aku merasa diperlakukan dengan cara yang sangat istimewa olehnya, meskipun terkadang aku membuatnya kesal, dia sangat sabar menghadapiku," balas Rania.


"Kamu ini ...." Bu Isna mencubit pelan lengan putrinya.


"Bukankah mama sudah katakan sebelumnya, bahwa kamu harus menuruti apa yang diucapkan oleh suamimu, jangan membantah ucapannya! Bagaimana pun juga, suamimu adalah kepala keluarga, yang derajatnya sama dengan orang tuamu. Jadi, hormatilah dia seperti kamu menghormati orang tuamu sendiri," ucap Bu Isna yang selalu memberikan petuah pada putrinya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Rania pun mengizinkan masuk pada orang yang baru saja mengetuk pintu tersebut. Sesaat kemudian, Bima muncul dan langsung memanggil neneknya.


"Nenek!!" seru Bima dengan sangat antusias. Ia langsung berlari kecil dan memeluk tubuh neneknya. Anak laki-laki itu begitu senang saat mendengar kabar dari Pak Darman, bahwa neneknya datang ke rumahnya.


"Cucuku sayang," ujar Bu Isna mengusap puncak kepala Bima. Ia sangat menyukai Bima karena sikap Bima yang selalu sopan dan tidak banyak tingkah seperti anak-anak seusianya.


"Nenek tidak langsung pulang kan? Nenek akan menginap di sini kan? Menginap saja ya, Nek. Tinggal lah lebih lama lagi di sini," rengek Bima yang meminta neneknya untuk tidak segera pulang.


"Yah ... sebentar lagi nenek mau pulang," ucap Bu Isna, ia menatap Rania dengan mengedipkan sebelah matanya, memberi sinyal bahwa wanita itu hanya berpura-pura saja.


"Apakah nenek tidak menyukai Bima?" Anak laki-laki tersebut langsung memberikan pertanyaan yang cukup membuat Rania dan juga Bu Isna tercengang.


"Tidak, Sayang. Nenek sangat menyukai Bima," timpal Bu Isna.


"Kalau nenek suka, tinggal lah di sini lebih lama ya Nek?" Bima berusaha membujuk Bu Isna agar tetap tinggal di tempat itu lebih lama lagi.


Bu Isna menyerah. Ia tidak ingin membuat anak laki-laki yang baik itu bersedih. Ia pun memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


"Nenek akan menginap di sini beberapa hari, Sayang."


"Hore!! Akhirnya nenek mau menginap di sini juga. Bima sangat senang, Nek." Anak laki-laki itu memperlihatkan deretan gigi susunya, membuat Rania pun langsung gemas melihatnya.


"Ganti dulu bajunya, Nak. Lagi pula nenek mau beristirahat dulu karena telah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan," ucap Rania sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Mama istirahat saja dulu. Nanti ada apa-apa, panggil saja aku di kamar atas atau minta langsung dengan Bibi," sambung Rania yang berbicara pada ibunya.


Bu Isna menimpali ucapan putrinya dengan anggukan pelan.


"Selamat beristirahat Nenek," ucap Bima.


"Iya Sayang, terima kasih."


"Sama-sama, Nenek."


"Ayo Nak!" ajak Rania pada Bima.


Bima pun langsung menghampiri Rania dan menggandeng tangan wanita tersebut. Rania menutup pintu, membiarkan ibunya beristirahat dengan tenang tanpa diganggu.


Bu Isna mulai membaringkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit rumah, mengitari pandangannya ke sekeliling kamar.


"Syukurlah, putriku satu-satunya bernasib baik, mendapatkan pria yang begitu sempurna serta putra sambung yang juga sangat baik. Rania pasti benar-benar bahagia," gumam Bu Isna sembari mengulas senyum.

__ADS_1


Perlahan, rasa kantuk pun mulai menyerangnya. Bu Isna memejamkan matanya, dan larut ke dalam alam mimpi untuk melepaskan rasa lelah yang menyerangnya akibat perjalanan panjangnya.


Bersambung ....


__ADS_2