
Rania kembali melajukan trolinya. Mata gadis itu terbelalak saat menyadari siapa yang berada di depannya.
"Astaga, kenapa aku selalu bertemu dengan pria ini," gumam Rania.
"Apakah ini yang dinamakan jodoh? Di mana pun dan kapan pun selalu bertemu dengannya."
"Rania! Sadarlah! Kata orang jaman sekarang jangan baper!" Rania menepis semua pemikiran yang ada di dalam isi kepalanya.
Rania menegakkan pandangannya. Ia mencoba bersikap biasa dan seolah tak melihat ada tetangganya yang saat ini juga berjalan ke arahnya.
Rania menghentikan langkahnya. Ia berpura-pura mengambil sesuatu dari deretan rak tersebut saat Alvaro dan Bima berada jarak berkisar tiga meter darinya.
"Bu Dokter, ..." Bima menyapa Rania sembari mengembangkan senyumnya.
Rania pun langsung menoleh ke arah sumber suara, "Eh Bima, ada di sini juga," ucap Rania membalas senyum dari pria berusia lima tahun tersebut.
"Bu Dokter? Panggil dia dengan sebutan 'mama' Nak," celetuk Alvaro sembari menaikkan alisnya sebelah.
Rania tercengang, ia langsung mengarahkan pandangannya pada pria yang pernah ia labeli 'tutup panci'.
"A-apa maksud mu?" gumam Rania pelan.
"Bukankah kamu menginginkannya, Boy?" tanya Alvaro pada putranya.
Dengan cepat Bima pun menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan ayahnya. Sementara Rania hanya bisa tercengang dengan mulut yang sedikit menganga, memandangi kedua pria tampan berbeda generasi tersebut secara bergantian.
"Tapi sepertinya mamamu ini tipe yang sedikit pemalas. Lihatlah di keranjangnya penuh dengan mie instan serta makanan ringan. Tidak ada bahan untuk sayuran ataupun daging dan bahkan buah-buahan yang ada di dalamnya," protes Alvaro menatap isi troli Rania.
Rania kembali menatap trolinya, memang benar isi dari dalam troli tersebut semuanya terisi junk food. Tidak ada makanan sehat sama sekali.
Saat pandangannya teralihkan pada isi keranjang Alvaro. Ia tertegun karena pria tersebut lebih banyak membeli bahan mentah untuk memasak serta banyak buah-buahan.
"Ke-kenapa kamu memprotesku? Terserah aku mau membeli apapun. Aku memang tidak bisa memasak, maka dari itu aku membeli semua ini untuk keperluanku. Lagi pula, kenapa kamu harus usil! Apa kamu yang akan memasakkanku setiap harinya!" ketus Rania.
"Dengan sangat senang hati. Mulai besok, mari kita sarapan bersama!" ujar Alvaro mengerlingkan matanya.
__ADS_1
Bima melihat ayahnya berbuat demikian, ikut juga mengerlingkan mata meskipun pada akhirnya kedua matanya menjadi terpejam.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, kedua pria itu pun berlalu dari hadapan Rania. Gadis itu hanya menatap tetangganya itu dengan tatapan tak percaya.
"Apa itu? Berani sekali dia memprotes belanjaan ku. Suka-suka aku ingin membeli apapun, yang membayar semua ini juga uangku bukan uangnya," gerutu Rania seraya memutar kedua bola matanya dengan malas. Wanita itu kembali mendorong keranjang belanjaannya.
Rania merasa cukup dengan belanjaannya. Ia mendorong keranjangnya yang sudah terisi penuh menuju ke kasir. Namun, saat tiba di sana, lagi-lagi dia bertemu dengan tetangganya itu.
Gadis itu tampak kebingungan, ia melihat orang-orang sekitarnya. " Perasaan, di tempat ini cukup ramai. Kenapa aku harus bertemu dia lagi dan dia lagi," gumam Rania pelan.
Saat pandangan mata mereka bertemu, Alvaro pun langsung mengerlingkan matanya, membuat Rania mendecak sebal dan ingin melemparkan makanan ringan yang ada di dalam keranjangnya itu ke wajah tampan tetangganya.
Alvaro telah selesai membayar belanjaannya. Sementara belanjaan milik Rania masih dihitung oleh kasir yang ada di meja satunya lagi.
Kasir tersebut menyebutkan total keseluruhan belanjaan Rania. Gadis itu merogoh dompetnya untuk mengambil kartu kredit, memilih melakukan transaksi pembayaran menggunakan kartu kredit.
Namun, saat Rania hendak memberikan kartu kredit miliknya, Alvaro sudah lebih dulu menyodorkan kartu kredit yang ada di tangannya pada kasir tersebut.
"Bayar dengan ini saja, istriku memang selalu saja ingin membayarnya sendiri. Padahal ada suaminya di sini," celetuk Alvaro dengan santainya dan sukses membuat Rania kembali tercengang.
Namun, lagi dan lagi hal yang diluar dugaan pun kembali terjadi. Saat Bima memanggilnya.
"Mama, ..." Bima tersenyum dan berdiri di sampingnya. Pria kecil itu memegang tangan Rania, membuat gadis tersebut benar-benar terlihat seperti satu keluarga utuh.
Kini posisi Rania tersudutkan. Mas-mas penjaga kasir tersebut hanya mengulum senyumnya melihat ketiga orang yang ada di depannya.
Rania menghela napasnya, ia pasrah dianggap wanita yang telah memiliki anak satu. "Ayah dan anak sama-sama membuatku kehilangan muka," batin Rania menggerutu kesal.
Alvaro membantu membawakan belanjaan Rania. Sementara si pemilik belanjaan tersebut hanya memperlihatkan wajah masamnya menatap punggung Alvaro yang berada di depannya. Sementara tangan kanan gadis itu digandeng oleh Bima.
Alvaro berbalik, ia memberikan kode pada Rania untuk membuka kunci mobilnya. Rania pun mengambil kunci mobil yang ada di dalam sling bagnya, lalu kemudian mengarahkan smart key tersebut, dan menekan tombol pada kunci pintar yang ada di tangannya, hingga mobil itu pun tak lagi terkunci.
Alvaro memasukkan semua belanjaan Rania ke dalam bagasi mobil gadis tersebut. Rania hanya memandangi Alvaro sembari mengerucutkan bibirnya.
"Sebenarnya apa yang kalian rencanakan? Mengapa kamu selalu saja bersikap seolah-olah kita adalah sepasang suami istri," celetuk Rania yang mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi ditahannya.
__ADS_1
"Jika kamu merasa tidak nyaman karena kita tidak terikat hubungan, kalau begitu menikah saja denganku!" Dengan santainya, Alvaro berucap demikian. Pria tersebut masih sibuk memindahkan barang-barang dari troli ke dalam mobil.
Berbeda dengan Rania, gadis itu langsung membeku, napasnya tercekat dan jantungnya semakin berdebar kencang mendengar penuturan dari Alvaro yang membuat suhu tubuhnya menjadi meningkat.
"Ada apa dengan ekspresimu? Tenanglah! Aku hanya bercanda," ujar Alvaro.
Mendengar kalimat kedua yang dilontarkan oleh Alvaro, membuat Rania merasa terhempaskan seketika.
Awalnya ia sudah melayang-layang berada di atas awan, dalam hitungan detik ia kembali terjatuh di dalam lumpur yang membuatnya kotor.
"Si-siapa juga yang menganggapnya serius!" sanggah Rania sedikit terbata-bata, padahal ada sesuatu dalam dirinya yang merasa senang saat Alvaro melemparkan guyonan tersebut.
Alvaro tersenyum, ia kembali menutup bagasi mobil tersebut setelah memasukkan semua belanjaan Rania.
"Mana nomor rekening mu? Aku akan mentransfer uang yang kau bayarkan tadi," ucap Rania.
"Tidak perlu! Anggap saja kamu berhutang budi padaku. Dan suatu saat nanti, aku akan menagih hutangmu itu," ujar Alvaro diiringi dengan kekehan kecil.
Rania menanggapi ucapan Alvaro dengan mencebikkan bibirnya. Gadis itu pun masuk ke dalam mobilnya tanpa mengucapkan apapun pada tetangganya itu.
"Ada apa denganku? Mengapa aku merasa kecewa ucapan pria itu adalah sebuah guyonan semata?" gumam Rania seraya memasang sabuk pengamannya.
"Ayolah Rania, jangan baper!" Rania menyadarkan dirinya bahwa ia sama sekali tidak terbawa perasaan akan sikap yang ditunjukkan oleh Alvaro tadi.
Alvaro menatap mobil yang dikendarai oleh Rania mulai melaju ke jalanan. Pria itu tersenyum, Bima mendongak melihat wajah ayahnya.
"Papa, kenapa papa tersenyum melihat Bu Dokter?" tanya Bima dengan wajah polosnya.
"Tersenyum?" tanya Alvaro.
Bima menganggukkan kepalanya. "Biasanya papa tidak pernah tersenyum. Saat bersama Bu Guru, papa selalu saja memasang wajah masam," celetuk Bima yang menyadari ekspresi yang ditunjukkan oleh ayahnya sedari tadi.
"Tersenyum berarti tandanya ramah, Nak. Kepada tetangga, kita harus mengulas senyum," ucap Alvaro sekenanya.
Bersambung ...
__ADS_1
Pak duda kenapa senyum-senyum hayo? Ngaku aja kalo udah mulai kesemsem sama Bu Dokterš¤