Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 101. Hanya Menawarkan


__ADS_3

"Hufftt ... akhirnya selesai juga," ujar Rania sembari menyeka keringat yang ada di keningnya seusai membantu para pelayan ikut andil dalam membereskan barang-barangnya.


Rania berjalan menuju ke kamarnya, ia melihat Alvaro dan Bima yang tengah tertidur sembari saling memeluk.


"Sepertinya dua jagoanku juga kelelahan," gumamnya.


Rania menggeser pintu kaca yang menuju ke balkon. Wanita tersebut meletakkan tangannya di atas penyangga besi. Matanya ke sana dan kemari menatap beberapa orang yang lewat di jalanan.


"Lebih nyaman di sini," ujar Rania bermonolog.


Tak lama kemudian, Arumi mengetuk pintu. Ia melihat cucu dan anaknya yang tengah terbaring di tempat tidur. Sementara Rania, masih menikmati pemandangan sore itu dari balkon rumah.


Arumi menyusul Rania. Ia berdiri tepat di sisi menantunya. Rania yang baru sadar akan keberadaan mertuanya langsung menoleh dan mengulas senyum.


"Dalam rumah tangga, memang banyak sekali berbagai macam cobaan. Mungkin saat ini cobaan juga tengah menimpa kalian. Namun, setidaknya memberikan pelajaran untuk kedepannya, supaya tidak terlalu percaya pada orang lain terlalu mudah," ujar Arumi menasehati menantunya.


"Iya, Ma. Aku sempat tidak menyangka jika wanita itu akan berbuat demikian. Aku tahu suamiku memang tampan. Ya ... aku sempat berpikir jika ia tidak akan berbuat sampai se-nekat itu," ucap Rania.


Kabar tentang tetangganya itu memang sudah terdengar sampai ke telinga mertuanya. Namun, Arumi juga bersyukur. Dengan begitu, Alvaro lebih tergerak hatinya untuk segera membeli rumah.

__ADS_1


"Intinya, hubungan dalam rumah tangga ini, yang paling utama adalah tentang kepercayaan kalian sebagai suami istri, bukan kepercayaan dari orang-orang luar," tutur Arumi.


"Iya, Ma." Rania mengarahkan pandangannya pada ibu mertuanya, lalu kemudian mengulas senyum.


"Sekarang mama pulang dulu ya, Nak. Kasihan Alvira sendirian di rumah. Umurnya saja yang sudah tua, tapi sikapnya tetaplah seperti anak-anak, tidak ingin ditinggal sendirian," ucap Arumi.


Rania pun mengangguk. Ia mengantarkan kepulangan ibunya sampai ke depan gerbang. Rania menyalami tangan Arumi dan Fahri secara bergantian.


"Hati-hati di jalan ya, Ma." Rania tersenyum.


"Iya, Nak. Kapan-kapan mama pasti main ke sini lagi. Kalian yang rukun ya. Mama mau pamitan sama Bima dan Alvaro, tetapi orangnya masih tidur," ujar Rania terkekeh.


Perlahan mobil pun mulai melaju. Rania melambaikan tangannya hingga mobil yang dinaiki oleh mertuanya hilang dari pandangannya.


Alvaro perlahan membuka matanya. Ia melihat Bima yang tengah terlelap di sampingnya. Alvaro mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Ia tak melihat keberadaan sang istri.


"Apakah masih sibuk membereskan barang-barang?" gumam Alvaro.


Pria itu baru saja hendak turun dari tempat tidurnya. Terdengar suara pintu yang baru saja dibuka. Alvaro menatap ke sumber suara, melihat istrinya muncul dari balik pintu tersebut.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun, Mas?" tanya Rania mengulas senyumnya menatap wajah kusut suaminya yang baru saja bangun tidur.


"Iya. Kamu masih sibuk membereskan barang-barang?" tanya Alvaro.


"Tidak, Mas. Sudah selesai dari tadi," timpal Rania.


"Mama mana?" tanya Alvaro lagi.


"Mama baru saja pulang," timpal Rania yang berjalan menuju ke kamar mandi.


Saat berada di depan pintu kamar mandi, Rania kembali berbalik menatap suaminya. "Mas mau mandi?" tanya Rania.


Alvaro tertegun, ia menatap putranya yang masih terlelap di atas tempat tidur.


"Nanti saja, mas takut nanti berisik kalau sudah mandi bersama," ujar Alvaro dengan kalimat penuh arti.


"Aku hanya menawarkan Mas Varo mandi. Kalau sekiranya Mas mau mandi, aku akan mendahulukan Mas dan menunggu sampai Mas Varo selesai. Bukan mengajak mandi bersama," ucap Rania sembari mengerucutkan bibirnya.


"Oh, itu ... Mas kira kamu mau minta Mas join sama kamu ke kamar mandi," ujar Alvaro seraya mengusap tengkuknya.

__ADS_1


Rania hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena pikiran kotor sang suami. Wanita itu pun langsung kembali masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Alvaro, kembali membaringkan tubuhnya di kasur.


Bersambung ....


__ADS_2