
Alvaro dan Rania tiba di rumah. Pria tersebut bergegas melepaskan sabuk pengamannya.
" Tunggu dulu!" sergahnya saat melihat Rania hendak membuka pintu mobil.
"Loh, ada apa, Mas?" tanya Rania mengerutkan keningnya.
Alvaro tak menjawab ucapan istrinya. Ia langsung keluar dari kendaraan tersebut, lalu kemudian membukakan pintu mobil untuk sang istri.
"Silahkan!" ujar Alvaro, sesaat kemudian ia pun mengulurkan tangannya.
Rania terkikik geli melihat Alvaro yang tiba-tiba saja membukakan pintu untuknya. "Kamu memperlakukan aku sudah seperti seorang putri raja saja," celetuk Rania menyambut tangan suaminya untuk turun dari kendaraan tersebut.
Alvaro meletakkan satu tangannya di atas kepala Rania, takut jika nanti kepala wanita tersebut terbentur bibir pintu mobil. Melihat perlakuan yang sedemikian manis, tentunya membuat siapapun menganggap Rania adalah wanita yang beruntung karena telah diperistri oleh pria itu.
"Kamu memang ratu di hatiku. Jadi, tak ada salahnya jika aku memberikan sedikit perlakuan manis untukmu," ucap Alvaro sembari mengembangkan senyumnya.
"Wajahku menjadi panas," ujar Rania menutupi kedua pipinya yang memerah.
Alvaro tertawa, tangannya terulur mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut. "Sudah, masuklah ke dalam. Mas mau ke kantor," ujar pria tersebut.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya, Mas." Rania meraih tangan suaminya lalu kemudian mengecupnya.
Tangan Alvaro beralih mengusap perut sang istri yang membuncit. "Anak-anak papa jangan nakal ya di dalam perut mama. Jangan buat mama kesusahan," ujar Alvaro berucap pada anaknya yang masih di dalam kandungan.
"Iya, Papa." Rania menimpali suaminya dengan menirukan suara anak kecil.
"Ya sudah, kalau begitu Mas berangkat dulu ya." Alvaro mengecup kening Rania dengan lembut.
"Iya, Mas."
Alvaro kembali masuk ke dalam mobilnya. Pria itu meneriakkan klakson sebelum benar-benar pergi meninggalkan istrinya di rumah.
Rania melambaikan tangannya, menatap mobil yang dikendarai oleh sang suami semakin lama semakin menjauh. Lalu kemudian berjalan masuk ke dalam rumah, mengusap perutnya dan mengembangkan senyum.
__ADS_1
Rania berjalan menuju ke kamar. Meletakkan sling bag di lemari koleksi tasnya. Tak lupa ia mengeluarkan ponsel yang masih berada di dalam benda tersebut. Setelah itu menuju ke tempat tidur dan merebahkan dirinya di atas tempat ternyaman itu.
"Akhirnya, keinginan Mas Varo dan Bima terwujud. Kalian ternyata ada dua di dalam perut mama," gumam Rania yang masih merasa bahagia mendengar bahwa dirinya hamil anak kembar.
Rania meraih ponsel yang tak jauh dari jangkauannya. Ia membuka galeri foto, wanita itu sempat memotret hasil dari USG tadi dan mempostingnya di akun sosial medianya dengan caption ' baby twins' disertai dengan emotikon hati.
Setelah memposting foto tersebut, Rania kembali meletakkan ponselnya. Wanita itu tersenyum sembari menatap langit-langit rumahnya.
"Tak kusangka, ternyata jalan hidupku seperti ini. Awalnya disakiti oleh seorang laki-laki, dan sekarang di ratukan oleh mantan duda anak satu. Yang dulunya dicemooh, sampai dikata mandul oleh teman-temanku dan sekarang aku hamil anak kembar. Takdir Tuhan memang tidak ada yang bisa menebaknya. Seiring berjalannya sebuah kepedihan yang menghampiri setiap langkah, selagi bisa menghadapi semuanya sampai ke garis finish, pasti akan ada hadiah yang tak ternilai harganya yang disiapkan oleh Tuhan. Dan aku merasakan hal itu," gumam Rania seraya mengusap perutnya yang buncit.
Tak lama kemudian, atensinya teralihkan pada benda pipih yang tengah berdering. Rania meraih ponselnya, memperlihatkan layar yang bertuliskan 'mama mertua'. Wanita itu pun langsung mengangkat panggilan dari ibu mertuanya.
"Halo, Ma ...."
"Sayang, mama melihat postingan di sosial mediamu tadi. Berarti kamu sekarang tengah hamil anak kembar?" tanya Arumi dari seberang telepon. Wanita itu terdengar antusias saat menanyakan hal tersebut.
"Iya, Ma." Rania menjawab sembari mengembangkan senyumnya.
"Akhirnya, mama punya cucu kembar!!" seru Arumi penuh semangat. Sudah lama ia menginginkan cucu kembar dan kali ini, keinginannya terwujud.
"Iya Ma, aku juga tidak sabar menunggu kelahiran mereka," timpal Rania.
"Kamu tidak usah melakukan aktivitas yang terlalu berat ya, Nak. Mulai sekarang, pikirkan kesehatanmu serta anakmu," ujar Arumi menasihati menantunya.
"Siap, Ma." Rania menjawab ucapan mertuanya.
"Ya sudah, kalau begitu Mama tutup teleponnya ya, Nak. Sampai jumpa nanti malam," ucap Arumi.
"Iya, Ma."
Panggilan telepon pun terputus, Rania merasa senang karena banyak yang bahagia setelah mendengar kabar bahwa ia hamil anak kembar.
Wanita itu juga memilih untuk mencari kontak ibunya, menghubungi kedua orang tuanya yang ada di kampung untuk memberitahukan kabar baik ini.
__ADS_1
"Halo, Nak." Terdengar suara Bu Isna dari seberang telepon setelah panggilan tersebut tersambung.
"Halo, Ma. Sedang apa?" tanya Rania.
"Biasa, mama sedang menemani papamu ke kebun teh. Ada apa Nak?" tanya Bu Isna.
"Tidak apa-apa, Ma. Rania hanya ingin menyampaikan kabar baik pada mama," ucapnya.
"Kabar baik? Kabar baik apa Nak?"
"Tadi aku melakukan USG dan ternyata anakku kembar," ujar Rania.
"Wah, selamat ya. Mama sangat senang mendengar kabar ini. Berarti yang Bima katakan memang benar, bahwa dia akan memiliki dua orang adik. Ternyata cucuku sudah mempunyai firasat seperti itu," tutur Bu Isna.
"Akhirnya semuanya kesampaian juga ya, Ma."
"Tentu saja, Nak. Ini adalah buah dari kesabaranmu. Kami berniat mengunjungimu, tetapi belum bisa dalam waktu yang dekat," ujar Bu Isna.
"Tidak apa-apa, Ma. Lagi pula nanti saja, temani aku setelah ada tanda-tanda mereka akan lahir," ucap Rania.
"Baiklah, nanti mama dan papa akan ke sana. Kalau begitu Mama tutup dulu teleponnya ya, Nak. Papamu sudah memanggil," kata Bu Isna
"Iya, Ma. Jaga kesehatan mama dan papa di sana," ucap Rania.
"Kamu juga ya, Nak."
Tak lama kemudian, sambungan telepon terputus. Rania merasa lega karena telah memberitahukan berita bahagia ini pada kedua orang tuannya.
Kini tinggal Bima yang tersisa, tentu saja anak sambungnya akan merasa kegirangan jika mendapatkan kabar baik ini. Apalagi Bima yang memang sudah sejak lama menginginkan seorang adik. Dan sekarang, ia langsung diberikan dua adik sekaligus untuk menemaninya di rumah.
Rania membayangkan suasana ramai saat kedua anaknya telah lahir. Bahkan ia juga berkhayal saat anak-anaknya telah dewasa. Membayangkannya saja membuat Rania benar-benar bahagia. Menua bersama Alvaro serta hidup sejahtera dengan dikaruniai beberapa anak.
Entah nantinya sang suami akan ingin minta tambah pasukan atau tidak. Namun, Rania tetap akan mewujudkan semua keinginan sang suami, meskipun itu harus mempunyai 12 orang anak.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan ngadi-ngadi ya bang, kasihan Rania ngeluarin anak sampai selusin🙈